Senin, 22 April 2013

Mengapa Sastrawan Bertambah Banyak

Daftar Sastrawan Indonesia berubah-ubah dengan mencantumkan nama sastrawan dengan selera penulisnya.
Demikian penulis / sastrawan Indonesia dari berbagai penjuru Tanah Air atas kipranya di dunia tulis menulis mengharapkan menjadi sosok yang dikenal dan dikenang di seluruh pelosok Nurantara. Padahal apa sih yang didapat dari nama sastrawan atau penyair di indonesia? Profesi ini jika menjadi profesi andalan keluarga maka tak akan bisa mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Jangankan dari profesi ini dapat meberi lebih  kebutuhan keluarga, untuk kebutuhan pribadinya pun tak sungguh memprihatinkan. 
Karenanya  tak sedikit yang memiliki profesi ganda atau banyak. Meski sastrawan tak menuntut harus hidup kecukupan, namun dengan memiliki profesi lainnya sebagai penunjang hidupnya, maka aktifitas sastra yang digelutinya lebih produktif lagi mengingan produk sastra tidak seperti ayam atau beras yang cepat laku dijual.
Demikian kenyataan mereka yang berhasil adalah mereka yang senantiasa dapat mengikuti perkembangan zaman. Sebagai contoh yang ada penyair Taufiq Ismail, Corry Layun Rampan, Soni Farid Maulana, Beni R Budiman, Beni Setia, Agus R Sarjono, Tandi Scober, mereka tidak hanya sebagai sastrawan saja tetapi mengeluti profesi lain, sehingga banyak karya dan sangat produktif.
Sebetulnya tak ada batasan jumlah sastrawan, selama dunia sastra masih tetap ada, sastrawan akan mengisi dunianya. Mereka yang menginventarisir akan slalu memantau perkembangan sastra Indonesia. Orang-orang sastra baru semakin banyak jumlanya. Ini menandakan sastra Indonesia berkembang pesat. Semua lembaga, tokoh sastrawan dapat menginventarisir sastrawan Indonesia yang terus berkembang ini. Jadi sastrawan tidak mengunci jumlah namun membuka siapapun untuk menjadi sastrawan. Sungguhpun demikian produk sastra belum dapat dijadikan lahan profesi yang menjanjikan secara umum, hanya sewaktu-waktu mendapatkan profit dari produk sastra. Kendalanya sangat banyak seperti kegemaran membaca yang kurang, promosi, daya beli masyarakat pada buku, serta intertaiment yang minim pada kegiatan sastra. Dibalik itu semua menjadi sastrawan adalah kepuasan tersendiri, seperti sastra itu sendiri yang tak dapat dinilai dengan rupiah.
(rg bagus warsono/agus warsono/masagus)

Kamis, 18 April 2013

DI SAAT KEMENDIKBUD AMBURADUL TENTANG UN SMA/MA/SMK2013 , ADA GURU MATEMATIKA JULI EKO SARWONO

Juli Eko sarwono, inspirator guru Indonesia, ia tak peduli dengan jabatan, tak peduli dengan tunjangan yang banyak dibicarakan guru (sedikit-sedikit upah, honor, atau tuntutan tunjangan) ia tetap eksis dibidangnya, komitmen terhadap pekerjaannya. Rela berkorban demi murid-muridnya. Guru yang luar bisa hebatnya akan kepentingan generasi muda. Ia sosok yang perlu diteladani.
(agus warsono, Indramayu)







JULI EKO SARWONO , PROFILE GURU TELADAN 2013

Juli Eko Sulap Matematika Jadi Menarik

GURU JULI EKO SARWONO, KREATIVITAS UNTUK MENGGUGAH SISWA SENANG MATEMATIKA

http://4.bp.blogspot.com/-nPHcon0xCkQ/UBF4C_jVowI/AAAAAAAAAHE/mc1J7bQuads/s1600/Pak+Eko+-+Jelangkung.JPG

Raut ceria selalu tampak pada wajah Juli Eko Sarwono (49), guru matematika SMP Negeri 19 Kabupaten Purworejo. Dengan sabar, ia berpindah dari meja kelompok satu ke kelompok lainnya. Sembari melempar dadu terbuat dari kertas, ia dengan sabar meminta muridnya melakukan uji statistik peluang munculnya angka. Dimeja lain, ia meminta murid perempuannya mempresentasikan rumus volume kerucut dengan caping kertas bekas sebagai modelnya.
Biasanya, pelajaran matematika merupakan momok bagi pelajar. Hingga sekarang, mungkin masih ada sebagian pelajar yang masih merasa dipusingkan dengan angka dan rumus. Bergelut dengan kalkulator hingga sempoa, serta menghitung berbagai fungsi dan persamaan.
Namun tidak bagi kelas yang diampu Juli Eko Sarwono. Wajah riang, penuh semangat dan serasa tanpa beban tampak pada raut murid-muridnya. "Saya mencoba membuat matematika menjadi menyenangkan, jika murid sudah suka, transfer ilmu akan mudah," ujarnya kepada KRjogja.com, sekolahnya, Selasa (31/1).

Model yang digunakan Juli sebenarnya sederhana. Ia mencoba merubah paradigma pelajaran matematika yang tidak lepas dari angka dengan memasukkan alat peraga. "Saya menyebut cara ini metode kontekstual, apa adanya," paparnya. Lanjutnya, metode tersebut terbilang jitu untuk diterapkan pada anak usia SMP. Lanjutnya, pelajar mampu mengimajinasikan rumus-rumus yang ada dalam buku dengan menerapkan langsung pada berbagai alat peraga.

Sebelum menerapkan metode tersebut, ia mengaku otoriter dalam mengajar. Selain itu, semua harus kaku diterapkan berdasarkan buku pelajaran yang digunakan. Namun, jelang kenaikan kelas, murid mengecap Juli sebagai guru galak dan mereka merasa tidak nyaman selama belajar. "Target nilai matematika terpenuhi, disisi lain, murid menganggap saya galak, mereka jadi tidak nyaman. Itu yang membuat saya berpikir untuk merubah cara mengajar siswa," katanya.

Bahkan, guru yang hanya lulusan Pendidikan Guru Sekolah Lanjutan Pertama (PGSLP) tahun 1986 itu mengaku kerap memasukkan sepeda motornya ke dalam kelas sebagai media belajar siswa. Sepeda motor itu, ia jadikan contoh ketika Juli mengajarkan tentang lingkaran dan benda tabung. "Mereka praktik sendiri, mengukur sepeda motor saya, dan akhirnya menerapkan rumus matematika untuk menghitung," ucapnya.

Mengajar dengan cara seperti Juli bukan tanpa tantangan. Saat mengawali metode itu beberapa tahun silam, rekan sekerja melayangkan protes. Setiap kali usai mengajarkan matematika, ia meminta murid menempelkan hasil perhitungan berbagai rumus di tembok kelas. Selain itu, alat peraga juga dianggap bikin sumpek dan mengotori ruang kelas. Ia juga pernah dianggap sebagai guru 'edan' lantaran cara mengajar yang dinilai aneh.

Namun, setelah metodenya berhasil mencetak nilai bagus dan kenyamanan dalam belajar, ia justru didukung teman sekerjanya. Bahkan, sekolah meminjaminya satu kelas khusus untuk laboratorium matematika. "Kelas ini khusus matematika, jadi seperti laboratorium namun sederhana. Setiap pelajaran matematika untuk kelas sembilan, diajarkan di kelas khusus ini," paparnya.

Keberhasilan cara mengajar Juli juga membuatnya menjadi pembicara pada sejumlah seminar nasional bertema pendidikan di sejumlah tempat dan stasiun televisi. Ia tidak mempersoalkan dirinya tidak pernah lulus sebagai sarjana. Ia juga mengaku tidak masalah jika belum lolos uji sertifikasi. Juli merasa cukup dengan penghasilannya sebagai guru dan berwiraswasta. Sepulang mengajar di SMP 19 Purworejo, ia berjualan bakso keliling di lingkungan rumahnya di Desa Jogonegoro Kecamatan Mertoyudan Kabupaten Magelang. "Lumayan, dapat tambahan penghasilan sedikitnya Rp 70 ribu setiap hari," ujarnya.
Dicap 'edan' ternyata tidak membuat Juli Eko Sarwono minder. Justru hal itu makin terlecut semangatnya untuk terus maju menjadi yang terbaik. Bahkan, karena kiprahnya, Juli mendapat penghargaan sebagai 'Good Practices' di bidang pendidikan oleh lembaga donatur asing Decentralized Basic Education 3 (DBE 3) - USAID.

Kepala SMPN 19 Purworejo Daryanto SPd menambahkan, sekolah mendukung metode pembelajaran yang diterapkan Juli Eko Sarwono karena terbukti bisa mengangkat nilai siswa. Nilai rata-rata sudah naik dari 5,4 menjadi lebih dari 7,5 untuk mata pelajaran matematika. "Kami dukung penuh, selain kebijakan juga dengan membangun laboratorium khusus matematika," ungkapnya. (Jas)

Sumber : krjogya.com


SEBELUM AKU MATI , GESANG

Rabu, 17 April 2013

Ibu Kartini Menangis, Emansipasi Salah Arah

oleh : Agus Warsono
TEMA OBROLAN KITA ADALAH PEREMPUAN, MEMENTUM HARLAH KARTINI:
Ada satu kerendahan Kartini yakni ia menolak Beasiswa Belajar di Negeri Belanda.Ia merasa ada sesuatu ketidakmampuan dirinya. Beasiswa itu ia berikan pada seorang pemuda bernama Agus Salim. Namun Agus Salim (populair H. Agus Salim Menlu Pertama RI) menolak pemberian itu, keduanya sama-sama idealis, yang pada ukuran sekarang sulit dicari orang menolak pemberian itu.Kartini barangkali memiliki idealis itu yang sulit ditemukan perempuan Indonesia sekarang
Ketika Kartini berkunjung Ke DPRD/DPR ada kesepakatan perempuan antara 30-40 % pada komposisi keanggotaan. Begitu pula pada rekutmen PNS ada digunakan komposisi demikian. Ini berarti Kartini merasa lega, namun begitu melihat proses pencapaian dan rekrutmen itu sungguh Kartini mengharap tidak asal melengkapi genap saja
Kemajuan emansipasi disisi lain (misal kesandung perkara korupsi) perempuan tak kalah dengan pria. “Kartini -Karini” baru muncul sebut saja seperti Miranda Gultom, Melenda Dee, Engelina Sondak,adalah contoh emansipasi itu. Meki hukum tak mampu menunjukan kebenarannya, tetapi populairitas mereka sungguh membuat Kartini berdecak kagum
Satu yang membuat Kartini tak mengerti, Kenapa Ibu Ani Yudoyono sebagai Ibu Nagara demikian adanya. Bukankah ia milik Indonesia, milik rakyat semua, ibunda rakyat Indonesia. dan tentu bukan hanya milik warga Demokrat saja
Barangkali Kartini tersenyum sekarang, emansipasi mungkin terlaksana. Begitu banyak perempuan pemimpin eksekutif dan begitu banyak dari kalangan perempuan menjadi legeslatif. Namun Kartini merasa ragu karena tangga yang digunakan menuju puncak itu begitu sangat keroposnya.Tangga Ilmu Pengetahuan dan pendidikan begitu diabaikan. ( “habis terang terus gelap”) begitu katanya dalam surat-surat kartini

Kanjeng Raden Mas Tumenggung Roy Suryo Notodiprodjo

Kanjeng Raden Mas Tumenggung Roy Suryo Notodiprodjo


Nama Lengkap : Kanjeng Raden Mas Tumenggung Roy Suryo Notodiprodjo
Alias : Roy Suryo
Agama : Islam
Tempat Lahir : Yogyakarta
Tanggal Lahir : Kamis, 18 Juli 1968
Zodiac : Cancer
Hobby : Membaca | Diskusi
Warga Negara : Indonesia
Ayah : Prof. Dr. dr. KPH Soejono Prawirohadikusumo, SPs, SP. Kd.
Ibu : R Ay. Soeratmijati Notonegoro


PENDIDIKAN
  • Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Gadjah Mada
  • Magister Perilaku dan Promosi Pascasarjana UGM.
KARIR
Menteri Pemuda dan Olarhraga
Anggota DPR/MPR RI 2009-2014.
Staf Ahli Gubernur DIY Bidang Teknologi / BPTIY (mulai 1999).
Konsultan Internet & Video Teleconference Polda DIY (mulai 1999).
Widyaiswara Sistem Informasi Diklat Depdagri & Deppen (mulai 1998).
Tutor Diklat RCTI, TPI & Reguler di SAV Puskat & Mandiri (mulai 1997).
Dosen dan konsultan multimedia di ISI dan UGM.
PENGHARGAAN
  • Menerima "Golden Award Indonesian Telematika Writer" (September 2000).
  • IJTI-Award 2000" untuk bidang pendidikan (Juni 2000).
  • Dosen Teladan II Fakultas Seni Multimedia ISI Yogya (Juli 1998).
  • Juara I Lomba Foto Depparpostel Tingkat Nasional (1996).
  • Juara II Lomba Foto Rona Marina Aerobic (1995).
  • Juara II Lomba Foto Iptek Tingkat Nasional (1995).
  • Juara I Nikon Photo Contest JPVE (1995).
  • Juara I Lomba Foto Perkebunan Tingkat Nasional (1995).

Selasa, 16 April 2013

UJIAN NASIONAL SMA/MA/SMK SELALU RIBUT SETIAP TAHUN

Masalah Ujian Nasional slalu ribut setiap tahun, sebuah gambaran filosofi bagaimana mutu  generasi muda Indonesia ke depan. Pada tahun-tahun sebelumnya selalu setiap tahun diributkan mengenai ketidakjujuran peserta ujian nasional dalam mengerjakan lembar jawaban ujian nasional. Ketidak-jujuran itu bisa dilakukan oleh peserta maupun pihak penyelenggara dikarenakan keraguan, siswa ragu memberikan jawaban dan guru ragu apakah siswanya dapat lulus ujian nasional. Masalah klasik ini telah sejak dulu menjadi bahan temuan di berbagai tempat saat UN  SMA/MA/SMK namun litbang Kemendikbud tak dapat menyimpulkan solusi yang baik untuk penyelenggaraan Ujian Nasional.
     UN adalah tingkat uji yang paling tinggi dan paling istimewa bagi siswa SMA/MA/SMK di negara kita,
dimana ujian istimewa ini menentukan nasib seorang siswa setelah belajar selama 3 tahun di kelas 10, 11 dan 12. Hal demikian karena jika seorang siswa hanya memiliki raport naik kelas 11, maka raport naik kelas 11 itu tak berlaku di negara kita untuk melanjutkan keperguruan tinggi atau  melamar pekerjaan apa pun. Terkecuali memiliki ijazah jenjang tersebut. Jadi UN mengikat selama 3 tahun belajar di SMA/MA/SMK.
    Dikarenakan istimewa itulah moment UN menjadi harapan sekaligus tantangan yang harus dihadapi siswa, sebab jika gagal siswa bukan merugi 1 tahun tetapi 3 tahun. Karenanya UN menjadi perhatian serius bagi siswa dan guru. Berbagai upaya dilakukan untuk menghadapi UN seperti belajar exstra namun juga banyak siswa yang menganggap sepele UN dikarenakan mengharapkan bantuan dari pihak sekolah. Mereka yang mengangap sepele dan mengharapkan bantuan dari sekolah berkaca pada waktu yang sudah-sudah. Logikanya jika sebuah sekolah tidak berhasil dalam UN atau dalam kata lain siswanya banyak yang tidak lulus UN jangan harap tahun ajaran baru nanti mendapat siswa yang banyak.
    Dalih "nama baik" sekolah ini banyak pihak sekolah melakukan upaya demi keberhasilan siswanya mengikuti UN dengan berbagai cara baik positif maupun yang negatif. Dalih nama baik ini juga berpengaruh pada tingkat prosentase kelulusan di Dinas Pendidikan setempat yang pada ujung-ujungnya menjadi nama baik sebuah daerah. UN demikian sangat berdampak luas.
    Target kelulusan yang tinggi oleh penyelenggara di kabupaten/propinsi akan membuat kepala sekolah ketakutan akan kemampuan siswanya. Maka tidak mustahil karena menjadi permasalahan berantai di daerah akan dicari format penyelamatan siswa agar lulus UN.
   Di pihak orang tua siswa kekhawatiran akan nasib putra-putrinya juga sangat berlebihan. Apalag sebelum UN sekolah sekolah telah merencanakan arahan siswanya ke perguruan tinggi. Berbagai model penerimaan mahasiswa perguruan tinggi negeri ditawarkan untuk siswa sesuai dengan prestasinya oleh pihak sekolah. Namun UN belum tentu lulusnya. Jika sampai begini  orang tua siswa menyerahkan sepenuhnya kepada pihak sekolah. Apalagi bagi mereka yang pada tingkat kelas 10 dan 11 mendapatkan prestasi di kalasnya, maka jika gagalan UN akan dipertanyakan oleh orang tua siswa yang berprestasi itu kepada pihak sekolah dengan tuduhan macam-macam. Apalag ketika didapati siswa yang tidak serius menghadapi UN  dapat lulus dengan nilai baik.
     Sungguh UN menjadi bahan pemberitaan nasional setiap tahun. Permasalahan klasik yang tidak diatasi secara mennyeluruh oleh pemerintah dalam hal ini Kemendikbud. Masyarakat akhirnya bosan mendengar pemberitaan masalah UN. Kenyataan yang diberitakan tidak ditindaklanjuti kemudian. Seperti yang sudah -sudah yang ketahuan nyontek diberikan ujian ulang, atau ditutup pemberitaannya. Penyelenggaraan yang kurang baik nanti dievaluasi kemudian.
   Pada gilirannya mereka yang bodoh dikedokteran  karena menggunakan jalur khusus. Yang tertangkap basah ketika test masuk perguruan tinggi berbuat curang kini bangga dengan almamaternya. Anak  murni dan cerdas sama-sama berjalan saja. Yang cerdas tetapi miskin ada tempatnya ada jalurnya sendiri. Inilah Indonesia.

 
    

Minggu, 14 April 2013

Rasuna Said

Rasuna Said

Nama Lengkap : Rasuna Said
Alias : Hajjah Rangkayo Rasuna Said | HR Rasuna Said
Agama : Islam
Tempat Lahir : Maninjau, Agam, Sumatera Barat
Tanggal Lahir : Kamis, 15 September 1910
Zodiac : Virgo
Warga Negara : Indonesia

Anak : Auda Zaschkya Duski

Hajjah Rangkayo Rasuna Said adalah seorang pejuang kemerdekaan Indonesia yang telah menerima penghargaan sebagai pahlawan nasional Indonesia dari pemerintah. Ia merupakan pejuang yang dengan gigih memperjuangkan persamaan hak antara laki-laki dan perempuan, sama seperti perjuangan yang dilakukan oleh Ibu Kartini. HR Rasuna Said dikenal sebagai sosok yang berkemauan keras dan memiliki pengetahuan yang luas.

Pada masa kecilnya, ia telah mengenyam pendidikan Islam di pesantren. Pada saat sekolah inilah, ia pernah menjadi satu-satunya santri perempuan. Sejak saat itu, Rasuna Said sangat memperhatikan kemajuan dan pendidikan bagi kaum perempuan. Ia menilai bahwa perjuangan tersebut tidak hanya bisa dilakukan melalui jalur pendidikan, namun bisa dilakukan juga dengan perjuangan politik. Kemudian, ia memulai perjuangannya untuk membela kaum perempuan dengan bergabung di Sarekat Rakyat sebagai sekretaris cabang.

Setelah itu, ia menjadi anggota Persatuan Muslim Indonesia. Karena kemampuan dan cara pikirnya yang sangat kritis, ia sempat ditangkap dan dipenjara oleh pemerintah Belanda pada tahun 1932. Rasuna Said juga tercatat sebagai wanita pertama yang terkena hukum Speek Delict, yaitu hukum pemerintahan Belanda yang menyatakan bahwa siapapun dapat dihukum karena berbicara menentang Belanda.

Pada masa penjajahan Jepang, Rasuna Said merupakan salah satu pendiri organisasi pemuda Nippon Raya. Dalam karir politiknya, HR Rasuna Said pernah menjabat sebagai DPR RIS dan kemudian menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung sejak tahun 1959 sampai meninggal. Rasuna Said diangkat sebagai salah satu pahlawan nasional berdasarkan Surat Keputusan Presiden R.I. No. 084/TK/Tahun 1974 tanggal 13 Desember 1974. Untuk mengenang jasanya dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, nama HR Rasuna Said diabadikan sebagai salah satu nama jalan protokol di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan.

sumber: merdeka.com
KARIR
  • Sekretaris Cabang Sarekat Rakyat
  • Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Serikat (DPR RIS)
  • Anggota Dewan Pertimbangan Agung
  • Dewan Perwakilan Sumatera
PENGHARGAAN
  • Pahlawan nasional berdasarkan Surat Keputusan Presiden R.I. No. 084/TK/Tahun 1974 tanggal 13 Desember 1974

Raden Adjeng Kartini

Raden Adjeng Kartini

Nama Lengkap : Raden Adjeng Kartini
Alias : No Alias
Agama : Islam
Tempat Lahir : Jepara Jawa Tengah
Tanggal Lahir : Senin, 21 April 1879
Zodiac : Taurus
Warga Negara : Indonesia

Suami : R.M.A.A. Singgih Djojo Adhiningrat
Anak : R.M Soesalit

Raden Adjeng Kartini atau Raden Ayu Kartini merupakan sosok wanita pribumi yang dilahirkan dari keturunan bangsawan anak ke 5 dari 11 bersaudara ini merupakan sosok wanita yang sangat antusias dengan pendidikan dan ilmu pengetahuan. Kartini sangat gemar membaca dan menulis,tapi sangat di sayangkan orang tuanya mengharuskan Kartini menimba ilmu hanya sampai sekolah dasar karena harus dipingit tetapi karena tekad bulat kartini untuk mencapai cita citanya, Kartini mulai mengembangkan dengan belajar menulis dan membaca bersama teman sesama perempuannya, saat itu juga Kartini juga belajar bahasa Belanda.

Kartini tidak pernah patah semangat,dengan rasa keingintahuan yang sangat besar, kartini ingin selalu membaca surat surat kabar, buku buku dan majalah eropa dari situlah terlintas ide untuk memajukan wanita wanita Indonesia dari segala keterbelakangan.ditambah dengan kemampuannya berbahasa Belanda, Kartini juga surat menyurat dengan korespondensi dari Belanda.
Sempat terjadi surat menyurat antara Kartini dan Mr.J.H Abendanon untuk pengajuan beasiswa di negeri Belanda, tetapi semua itu tidak pernah terjadi dikarenakan Kartini harus menikah pada 12 November 1903 dengan Raden Adipati Joyodiningrat yang pernah menikah 3 kali.

Perjuangan Kartini tidak berhenti setelah menikah, beruntung Kartini memiliki suami yang selalu mendukung akan cita citanya untuk memperjuangkan pendidikan dan martabat kaum perempuan, dari situlah Kartini mulai memperjuangkan untuk didirikannya sekolah Kartini pada tahun 1912 di Semarang. Pendirian sekolah wanita tersebut berlanjut di Surabaya, Jogjakarta, Malang, Madiun, Cirebon. Sekolah kartini didirikan oleh yayasan kartini, adapun yayasan Kartini sendiri didirikan oleh keluarga Van Deventer dan Tokoh Politik etis.

Kartini meninggal Selang beberapa hari setelah melahirkan anak pertama bernama R.M Soesalit pada 13 September 1904, tepatnya 4 hari setelah kelahiran R.M Soesalit, saat itu usia Kartini masih telatif muda di usia 25 tahun.
Setelah kematian Kartini, seorang Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda Mr.J.H Abendanon mulai membukukan surat menyurat kartini dengan teman temannya di eropa dengan judul  “DOOR DUISTERNIS TOT LICHT” yang artinya “Habis Gelap Terbitlah Terang”.
Raden Ajeng Kartini sendiri adalah pahlawan yang mengambil tempat tersendiri di hati kita dengan segala cita-cita, tekad, dan perbuatannya. Ide-ide besarnya telah mampu menggerakkan dan mengilhami perjuangan kaumnya dari kebodohan yang tidak disadari pada masa lalu. Dengan keberanian dan pengorbanan yang tulus, dia mampu menggugah kaumnya dari belenggu diskriminasi.
sumber : merdeka.com
PENGHARGAAN
  • Tanggal 2 Mei 1964, yang menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan
  • Setiap tanggal 21 April, untuk diperingati setiap tahun sebagai hari besar yang kemudian dikenal sebagai Hari Kartini
  • Namanya dijadikan nama jalan di beberapa kota di Belanda. Seperti di Utrecht, Venlo, Amsterdam, Haarlem

Dewi Sartika


Dewi Sartika
Nama Lengkap : Dewi Sartika
Alias : No Alias
Tempat Lahir : Cinean
Tanggal Lahir : Kamis, 4 Desember 1884
Zodiac : Sagittarius
Warga Negara : Indonesia

Suami : Raden Kanduruan Agah Suriawinata

Dewi Sartika lahir dari pasangan ningrat Nyi Raden Rajapermas dan Raden Somanagara dengan didikan beraneka ragam budaya, dari didikan budaya sunda hingga didikan barat.
Kegemarannya dalam belajar mengajar dalam hal membaca dan menulis sudah terlihat sejak kecil dengan mempraktikkan bersama anak anak pembantu di kepatihan,Papan bilik kandang kereta, arang, dan pecahan genting dijadikannya alat bantu belajar.
Semakin banyak ilmu yang di gali di masa dewasanya, Dewi Sartika semakin gencar dalam mewujudkan cita citanya dengan bantuan Pamannya Bupati Martanagara untuk mewujudkan cita citanya,salah satu langkah awal dengan mendirikan sekolah di tahun 1902 yang mana di awali dengan pendidikan keterampilan Merenda, memasak, jahit-menjahit, membaca, menulis dan sebagainya, menjadi materi pelajaran saat itu.
Berkembanglah pula ide untuk membuka sekolah perempuan atau Sakola Istri pertama se-Hindia-Belanda pada tahun 16 Januari 1904 setelah Konsultasi dengan Bupati R.A. Martenagara.Keberhasilan sekolah perempuan Dwi Sartka bisa mencetak lulusan lulusan perempuan bermartabat yang haknya sama dengan kedudukan laki laki.
Sekolah perempuan semakin berkembang dengan pergantian nama menjadi Sekolah Keutamaan Perempuan ( sakolah kautamaan istri ) di tahun ke 10 ( 1914 ),dan di saat perjalanan itu pula menikahlah Dewi sartika dengan Raden Kanduruan Agah Suriawinata di tahun 1906,yang mana pasangan Dewi Sartika adalah suami yang memiliki visi misi yang sama dalam memperjuangkan pendidikan, semakin berkembangnya sekolah perempuan yang didirikan Dewi Sartika, di tahun ke 25 pada bulan september 1929, diadakanlah peringatan pendirian sekolah yang mana sekaligus berganti nama menjadi Sakola Raden Dewi.
Dengan keberhasilan perjuangan Dwi Sartika,tercetuslah seorang anak bangsa tokoh pejuang wanita dari bandung yang membela hak kaum wanita dalam urusan pendidikan.
Dewi wafat pada 11 September 1947. Sebelumnya Dewi Sartika ikut mengungsi bersama-sama para pejuang yang terus melakukan perlawanan untuk mempertahankan kemerdekaan dan disaat itu Setelah terjadi Agresi militer Belanda tahun 1947.

Riset dan analisa oleh Eko Setiawan
sumber merdeka.com
PENGHARGAAN
  •  Pahlawan Nasional berdasarkan SK Presiden RI no 152/1966