Sabtu, 12 Mei 2018

“ Mbohlah” , Sastra Latar dalam Kelesuan Kreativitas

“ Mbohlah” , Sastra Latar dalam Kelesuan Kreativitas

Seperti dikatakan Corrie Layun Rampan sastra adalah tonggak. Yakni sebuah perubahan dari sastra kemarin. Karena itu judul puisi, judul antologi atau judul kegiatan agar dapat dikenang haruslah memiliki kekuatan pertama dan belum ada sebelumnya agar memiliki pembeda dari hari kemarin. Seperti event sastra Mbohlah yang diselenggrakan oleh para  penyair Semarang patut mendapat apresiasi .
Ada kesamaan dan perbedaan antara dunia intertaint dan dunia sastra. Ahli-ahli  promosi menganggap menjual kemewahan adalah hal jitu untuk mendapatkan rating penonton. Itu di tv atau intertaint panggung. Di sastra,  buku bersampul indah belum tentu di rangsang pembaca. Begitu pula event sastra. Kenyataan banyak panggung megah tanpa penonton. Namun apa yang dilakukan para penyair Semarang yang dengan kesederhanaannya mampu membuat gebrakan kecil yang cukup berarti. Mereka menyebut sebagai sastra Pelataran. Seperti dilakukan oleh Slamet Unggul, Bayu Aji Anwari, Didiek WS, Agung Wibowo, Gunung Gus Tinoeng, Nawi Aan, Kang Ujang dengan karya berjudul “Mbohlah” sebuah musikalisasi bertahta drama monolog puisi yang apik untuk diapresiasi, yang disutradarai Lukni Maulana.
Judulnya, ‘ Embohlah  patut mendapat apresiasi dari kalangan sastra karena baru pertama dan pertama  dilakukan di dunia sastra. Mbohlah  bagi penulis sendiri memiliki makna sagat luas diera zaman now sekarang ini.  Mbohlah yang berarti :  enggak taulah atau tak ambil pusing ini sebuah satir yang bermakna luas.
Demikian seperti memilih jajanan di pasar pagi. Yang enak akan dibeli lagi pada esok harinya. Makanan itu seperti nogosari, lapis, onde, cikak, koci, dan sebagainya. Jika membuat jajanan baru tentu harus beda dari sebelumnya misalnya kue pipis isi pisang , kemudian diberi nama, apakah bertahan atau dilupakan . Namun jajanan baru tetap terkenal seperti bakwan walaupun hanya terigu dicampur sayuran kol.
Sastra demikian banyaknya, bagi penulis tak begitu sulit menentukan puisi bernas dari sekian ribu puisi. Juga menentukan buku, atau sebuah acara berkualitas. Meskipun banyak faktor mempengaruhi tetapi sudut pandang seseorang yg memiliki pemahaman cepat, akan dapat menentukan pilihannya tanpa keliru.
Namun terdapat juga peristiwa dimana ide cemerang justru hinggap pada pegiat sastra yg memiliki keterbatasan duniawi. Harapan itu pasti ada dimana stake holder sastra memiliki kejujuran pandang. Sebab ketika ada sesuatu proses ada disediakan dananya oleh lembaga atau pemerintah . Pandang memandang terhadap objek sastra sudah dikotori perasaan . Pilihan akhirnya subyektif dan ber kepentingan pribafi dan kelompok.
Menurut Buanergis Muryono, sastrawan sekaligus Seniman , mengatakan bahwa Dunia Sastra terbelenggu keangkuhan, dan jagad Entertainment mengkultuskan eforia bila di tangan tak tepat. Mapingnya nyaris fully pembohongan publik serta pengabdinya miskin riset development. Waton maton. Ini artinya kita tidak harus bermewah-mewah menyelenggarakan kegiatan sastra, sebab memelihara sastra itu dapat dengan kesederhanaan dan niat yang tulus.
(Rg Bagus Warsono, sastrawan tinggal di Indramayu, 8-5-18)

Minggu, 06 Mei 2018

Puisi Indah di Indonesia Lucu

Puisi Indah di Indonesia Lucu

Ada yang sangat apik dari penyair yang juga seniman Arya Setra yang berjudul Opera Cicak.
Syahriannur Khaidir, penyair yang mulai menanjak namanya memberikan pusi yang bagus dengan judul Njentit.
Penyair muda berbakat Adelia Dwi Cahyani tampil memukau dengan berjudul Ayahku dan Mamahku.
Begitu juga Funuun A.B.M dengan puisi Negeri Tuyul menambah kelucuan Indonesia.
Penyair lain Khoerun Nisa memberi puisi apik dalam Cinta zaman New.
Di lain penyair Raditya Andung Susanto dalam judul Menonton Televisi :
Penyair Roni Nugraha Syafroni dalam puisi berjudul Racun juga menggambarkan lucunya Indonesia.
Nurholis dalam puisi  Pusingan Secangkir Kopi katanya seperti nonton jangan dilewat untuk dinikmati senyum.
Judul yang bagus juga disugugkan oleh Tarni Kusprawiro seperti Rebutan Piring.
Judul yang bagus juga disuguhkan Dicky Armando, S.E  berjudul Menukar Nasib.
Berikut Puisi pendek karya Arya Setra berjudul Opera Cicak:
//Pertunjukan opera cicak
Para pemainnya sungguh kocak
Ada peran berpura pura sakit
Ada peran teraniaya diskriminalisasi
Ada peran merasa paling hebat
Mengangap yg lain tidak ada apa apanya..
Sementara para penonton teriak menjerit karena harga-harga yang selangit
Ada pula yang mencibir karena tidak puas atas pertunjukan nya
Dan ada juga yang terdiam seakan pasrah akan akhir cerita..
Sementara diriku....
Haruskah aku tertawa, menangis atau terdiam melihat kenyataan yang ada ??? //
Syahriannur Khaidir dalam Njentit:
//.…/Indonesia kan asik
Maling ayam ditendang jungkir-balik
Koruptor dikondang banding bolak-balik
Hukum peceklik
Orang luar cekikak-cekikik//.
Adelia Dwi Cahyani dalam puisio pendek yang sederhana namun cukup membuat senyum pembacanya. Ia menulis dalam Ayahku:
//Suaminya mamaku
Ayahnya kakakku
Ayahnya adikku
/Ayahku..................
Anaknya kakekku
Anaknya nenekku
/Ayahku
Kaulah ayahku//.
Funuun A.B.M dalam  Negeri Tuyul:
//Tugas negara kini jadi bisnis keluarga
Memudahkan komunikasi, lagaknya.
Ada yang diusung jadi bupatinya
ininya jadi tangan kanannya
itunya jadi penasehatnya,
anunya jadi entah siapanya
Belum lagi lain-lainnya. ….//
Khoerun Nisa di puisinya Cinta zaman New.
//…..Cinta dalam pegangan layar
Jadikan pendamping hati
Dalam sisi keadaan
Layar yang terfokuskan
Tersenyum geli
Rasa salahmengartikan
Cinta bertemu dalam layar
Pertemuan sebelah bagian
Hanya luar yang terpandang
Dengan rayuan gombal…//
Di lain penyair Raditya Andung Susanto dalam judul Menonton Televisi :
//Bumi sudah tampak ramai
Kabarnya ;
akan ada sinetron baru
yang diputar di stasiun swasta
nasional hingga mancanegara
Ada guyonannya, seriusannya
ada juga yang cuma banyak bicara
saat adegannya…//
Penyair Roni Nugraha Syafroni dalam puisi berjudul Racun juga menggambarkan lucunya Indonesia.
//Kursi seringkali menjadi saksi,
Pada nafas-nafas deru kedudukan.
Sering bersitegang hingga renggang mati,
Tiadalah lagi puing-puing peradaban/…
…/Melingkar tiada guna,
Walau rupiah terbang melayang.
Kami di sini hanya menyeringai,
Senang senang ha ha ha .//
Demikian tampak dalam puisi Nurholis berjudul Pusingan Secangkir Kopi :
//…./Ampas kopi adalah hak wajah
Dibalurkan sebagai cat wajah ala tentara
Bukan untuk gerilya
Tapi sembunyi dari kejaran tikus-tikus penguasa/
/Cangkir kosong adalah hak sunyi
Kasihan! Kursi goyang mengayun tubuhnya sendiri
Sudah lama sekali mulut-mulut dibungkam rapat
Maka biar cangkir dibanting saja, biar ramai//
Sigar Aji Poerana dalam puisi pendek cukup membuat lucunya Indonesia. Demikian puisi Mudahnya Cari Makan dan Jabatan:
//Kau mau yang cepat?
Ada/
/Kau mau yang mudah?
Tentu ada!/
/Di negeri ini banyak yang instan
Dari mulai panganmu sehari-hari
Sampai pejabat di Senayan kini //.
Penyair Dicky Armando dalam puisi
Menukar Nasib menyuguhkan puisi yang juga lucu dan menarik:
//Jangan jadi orang miskin, Kawan!
Karena fakir dilarang sakit,
disuruh diet pula.
Jangan pula mengeluh soal listrik.
Tak sanggup bayar, cabut saja meterannya!
Perihal makanan apalagi,
daging sapi mahal, telan saja keong sawah.
Selesai urusan./…//
(Rg Bagus Warsono, penyair tinggal di Indramayu)








Bukan Menertawai Negeri Sendiri, Cuma Kegugu

Bukan Menertawai Negeri Sendiri,
Cuma Kegugu

   Penyair Lumbung Puisi Jilid VI diwarnai dengan penyair-penyair kawakan dan juga mereka yang berusia muda. Tema Indonesia Lucu yang sengaja mengangkat puisi dengan pembangkit apresiasi  ekspresi pembaca senyum, tertawa, gembira tetapi juga kegugu ini mendapat sambutan hangat dari para penyair ternama dan juga yang baru muncul di dunia kepenyairan.
   Puisi dengan tema lucu memang tak sekedar asal membuat puisi tetapi bagaimana membuat puisi itu membangkitkan tertawa sungguh bukan hal yang gampang.
   Tampaknya itulah yang membuat antologi ini penuh tantangan. Ternyata membuat puisi dengan tema lucu memerlukan kepiawaian seorang penyair dalam meramu kata-kata.
   Penyair-penyair tak asing seperti Aloysius Slamet Widodo,  Wadie Maharief, Soekoso DM, Wage Teguh Wijono, Bunergis Maryono, Syahriannur Khaidir, Arya Setra, Gilang Teguh Pambudi, Masimus A. L. Sawung, Iwan Bonich, Wardjito Soeharso, RB Edi Pramono, Bambang Widiatmoko, Arya Setra, Dewa Sahadewa, Sarwo Darmono,Wahyudi Abdurrahman Zaenal, Tajuddin Nur Ganie, Sri Sunarti,Tarni Kasanpawiro, dan lain-lain menurunkan puisi-puisi yang patut mendapat apresiasi gemuyu nasional.
   Disamping itu,  penyair lainnya juga tak kalah dalam mencipta. Bahkan ada diantaranya yang mampu nenyuguhkan puisi tidak saja sesuai tema tetapi juga sangat lucu dan memberikan kekuatan terhadap antologi ini yang benar-benar Indonesia Lucu. Mari kita lihat beberapa culikan karya mereka. Ternyata penyair Indonesia itu mampu mencipta segala tema.
    Kita mulai dari Plonco Karya Wadie maharief:
Kita kenal sejak masuk SMA
Kita sama-sama diplonco
Aku diberi nama oleh senior; Kambing
Kau diberi nama; Melati
teman-teman lain ada yang diberi nama kelinci.
tupai, monyet, soka, kamboja, melur
nama-nama dipampangkan di dada
plonco yang meriah
meski sering dibuat susah dan payah
minta tandatangan dilempar sana-sini
tetap tabah....//

Aloysius Slamet Widodo, penyair dari Jakarta menampilkan Puisi Irit Kata :
1.
Puisi Malam Pertama
 “Aduh”
2.
Puisi Tengah Malam
 “Sate”
3.
Puisi Pagi Buta
 “Bruuut”
4.
Puisi Diatas Jamban
 “Plung”
5.
Puisi Istri Untuk Suami
 “Mas …permintaanku hanya satu
……..semuanya !”....//

Sedang Soekoso DM mengatakan dalam puisinya bahwa kini di Indonesia seperti :Kontes Kentut, berikut cuplikannya:
cerrrt cerrt cert! – di kamar mandi keluarnya seret                                                                                                 : ssst, rejeki bakal mampet
thut thut thuuut! – di tempat umum aromanya kecut                                                                         : huss, dompetnya makin butut
pruup pruup pruup! – di kantorkantor amisnya terhirup                                                                                   : dhuh, jelas ada yang dikorup
kentut ooh kentut!                                                                                                                        sosok tanpa wujud bisa bikin cemberut                                                                                                                                                                                          – kalau tak keluar bisa bikin sakit perut                                                                           
bless bless bless – di pasar baunya makin bikin gemes                                                                       : whess ewhes, nasibnya bakal ambles....//
Di puisi selanjutnya dalam Di Negeri Dagelan:
di negeri dagelan orangorang berjingkrak di altar licin                                                                              sebebasbebasnya mereka menginjakinjak aturan main                                                                                                                                       tanpa rasa salah kala menyerobot antrian dan lampu merah                                                                                                                   di tiap tikungan orang mengangkat diri jadi pak-ogah  *)                                                                                                                   bertangan dingin menyogok punggawa negeri menikahi rasuah....//

Selanjutnya Syahriannur Khaidir penyair asal Sampit semakin unik :
Njentit
Tilik-menilik
Sidik-menyidik
Utak-atik
Makar di tiang listrik
Pejabat nyentrik
Kartu elektrik
Meja hijau pelik
Hakim bisik-bisik
Pembela usak-usik
Palu tarik-menarik....//

Wage Tegoeh Wijono penyair asal Banyumas menampilkan Utang
utang itu
kekasihku
mengantarkan daya beli tetap terjaga
sekalipun mengurangi jatah harian
mingguan
atau bulanan
dan utang negara?...//

Penyair selanjutnya Buanergis Muryono menulis
Pagi-pagi Sudah Macul:
Pagi-pagi sudah macul
Nandur Sledri
Ora dadi Puisi
Sing mrambat suket
Eri lan ilalang
Kuguntingi
Agar tumbuh
Bukan puisi
Hanya huruf-huruf terkumpul
Berjumpalitan
Menusuk mata
Berjumpalitan dibaca
Akrobat kata-kata....//

Puisi berikutnya Kuatrin Kualat dari Bambang Widiatmoko:
Di selembar e-ktp
Tertulis namaku
Tapi lebih dikenal namamu
Setya Novanto.

Arya Setra, tak kalah membuat tertawa selanjutnya ia menulis Opera Cicak :
Pertunjukan opera cicak
Para pemainnya sungguh kocak
Ada peran berpura pura sakit
Ada peran teraniaya diskriminalisasi
Ada peran merasa paling hebat
Mengangap yg lain tidak ada apa apanya..
Sementara para penonton teriak menjerit karena harga-harga yang selangit

Dari Semarang Anggoro Soeprapto menulis negeri ini sebagai Negeri Asem Kranji
Di negeri Asem Kranji
Tokoh masyarakat bernama Karno Karni
Membuat siaran di televisi sendiri
Mengundang teman-teman sendiri
Ngulemi para relasi sendiri
Membuat topik sendiri
Mengulas acara sendiri
Pidato sendiri-sendiri....//

Dewa Sahadewa dari Kupang menampilkan
Cinta Satu Minggu dalam antologi ini:
Senin cinta bersemi melebihi semua taman
warna bunga seolah mengundang
lebah madu dan kupu-kupu bermain.
Selasa kutulis puisi
kupilih kata paling mesra
kukirim dengan berbagai media
berharap kau semakin merasa.
Rebo katamu aku kepo
kutanya kau ada di mana sama siapa
katamu tak perlu tahu
ya aku rapopo....//

Tajuddin Noor Ganie, memandang lucu Indonesia dalam kacamata yang dialami di negerinya sendiri, seperti: Kasus Batubara
Di sebuah provinsi di Indonesia
(Namanya sengaja disamarkan)
Tambang Batubara terbentang beratus hektar luasnya
Atas nama batubara, tanah dikeruk sedalam-dalamnya
Setiap hari armada truk gajah membawanya
ke pelabuhan penumpukan
Setiap hari tongkang-tongkang raksasanya
membawanya milir di sungai
Pelan tapi pasti batubara diantarkan
ke alamat konsumen entah di mana
Berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan
tongkang ditarik tugboat
Mula-mula melintasi sungai, dan laut
di wilayah negara sendiri,
Kemudian melintasi wilayah laut negara tetangga,
Namun, lucunya aktifitas itu
Tak bermakna social financial bagi warga provinsi
Buktinya, listrik masih nyala bergilir dari hari ke hari
Padahal provinsi ini adalah lumbung batubara
Bahan bakar pembangkit listrik itu sendiri....//

Gilang Teguh Pambudi penyair dari Bandung berbicara : Sajak di Atas Meja
aku lihat dia
ketawa Indonesia
pecah
airmata dangdutnya
sampai ketahuan juga
sesungguhnya dia
sedang tidak bisa ketawa....//

Penyair lain dari Bekasi Iwan Bonick menulis :
Pagi Hari Aku Baca Koran Bekas
Sambil duduk di bale teras tetangga
Ada berita dengan tulisan besar
Pejabat pemerintah tertangkap tangan
menerima suap
Siang hari selesai makan siang
Kiriman rantang
Aku dengar berita di radio
Pejabat pemerintah kena razia pekat
di hotel berbintang
Malam hari melepas lelah
Duduk bersila
Diruangan tanpa jendela
Melihat kabar berita televisi
Pejabat pemerintah tertangkap sedang pesta narkoba...//

Masimus A. L. Sawung penyair asal Maumere berscerita tentang Cinta Pembantu
Kulitku begitu terasing dari jemari ibunda
Keningku kering menunggu kecupan basa bibirnya
Tak ada bisikan cinta pada telingaku.
Ibundaku pergi, sebelum sempat kata selamat pagi terucap.
Bibirku kaku mengeja kata mama,
Sebab saat aku tercipta bersama pagi ibunda telah hanyut bersama
Deru mesin ibukota....//

Heru Mugiarso penyair asal Semarang mencatat
Ironi dalam Amplop Riswah
Ia mengemasi sujud dan doanya untuk Tuhan
ia menadahkan tangannya bagi lidah dan perutnya 
beberapa lembar uang bergambar dunia
terselip di kocek
lalai ayat-ayat kitab suci yang dihafal 
dan digumamkannya....//

Sahabat Penyair dari Flores Zaeni Boli menulis Kopi Dingin :
yang keras roti roti
roti milik kami
dan angin pun pergi
pergi mencari nasibnya sendiri
Ruth berceritalah pada kami
mengapa bendera harus di beri air seni
lalu kau tinggal pergi ....//

Kemudian, Wahyudi Abdurrahman Zaenal dari Pontianak mencatat Mbeling
Mereka itu lupa kalau polahya kayak tikus
Blusukan mencari ruang yang banyak upeti berbungkus
Edan memang, lahan-lahan sempit pun sekarang diperebutkan (poli)tikus
Lemot gaya otak picik lihai mainkan jurus
Ingin kaya ikuti jejak para tikus….

Wardjito Soeharso dari Semarang menegaskan
Jika Duit Sama dengan Kekuasaan, Maka …
Jika duit sama dengan kekuasaan
Punya duit punya kekuasaan
Punya kekuasaan punya duit
Tak berduit tak berkuasa
Tak berkuasa tak berduit
Orang berduit tentu berkuasa
Orang berkuasa tentu berduit
Orang tak berduit tentu tak berkuasa
Orang tak berkuasa tentu tak berduit....//

RB. Edi Pramono mencatat kelucuan lain di negeri ini berjudul Impor Lucu
alangkah lucunya negri ini,
aih, entahlah lucu atau ngeri
setelah berbagai subsidi dicabuti
tax amnesty malah menyasar rakyat kecil dalam negri
ada wacana impor guru besar untuk perguruan tinggi
impor sapi ditambahi
impor uang semakin tinggi
impor beras saat panen raya terjadi
impor garam tiba-tiba sudah terjadi
di Madura, garam lokal bergunung menunggu pembeli
sekarang impor perdana cangkul untuk petani
haiyaa, jangan jangan sebentar lagi akan impor ideologi
hihihihihi....//
Menyinggung soal impor,  Sri Sunarti dari Indramayu yang  juga menulis : Negeri Impor
terik menerpa jalanan tak bertepi
di antara ayunan langkah laki-laki bertelanjang dada
menuju pematang menjemput asa
di antara tumpukan jerami yang terangkum
di setiap musim tiba
tapi semua melimpah di negeri  subur penuh hasil bumi
sementara ia tak kuasa melawan regulasi impor beras
yang menggilasnya
di jargon negeri kaya swasembada pangan....//

    Akhirnya betapa Lucunya Indonesia ini, rupa-rupa lucu dalam kaca mata penyair yang memang merupakan alat rekam kehidupan di Indonesia dalam seni bahasa.
    Tentu masih banyak lain penyair menulis bagus puisi di antologi ini, dan tak dapat disoroti satu persatu. Akhirnya dari Kebumen penyair Tarni Kasanpawiro menulis : Berebut Piring, dan Sarwo Darmono dalam geguritannyamenuloi Lha...Piye leh ra Lucu,  untuk menutup pengantar ini:
Jari saling tuding
Gigi menjelma taring
Semua terlihat miring
Saling berebut paling....//
(Tarni kasanprawiro)

Sarwo Darmono:
Lha… Piye Leh ra Lucu , Sing Blaka malah ora dipercaya
Sing Blaka dikuya  kuya ,  Sing Blaka dianggep Cidro
Sing Blaka dianggep Mung Golek Asmo
Embuh Ora Weruh , Iki Lucu apa ora
Isone mung ngguyu , Ngguyu sing ora Mutu
Semoga pembaca budiman terhibur dengan antologi ini.
 (Rg Bagus Warsono,Kurator di HMGM Indramayu,2018)