Minggu, 29 Maret 2020

Puisi Corona , I Made Suantha Duka Itu Bernama Corona

50.I Made Suantha

Duka Itu Bernama Corona

Siapakah namamu? Terbang sangat rendah
Di udara. Kecil di luar tubuh
Namun kuasa dalam hidup
Menghantam seberat martir
Bagaimana bertahan!

Dimanakah rumahmu? Beranakpinak dalam ruang tunggu
Untuk menjadi liar : Jabat tangan
Suara yang tidak berduka
Membentangkan jarak
Bagaimana cara menakar demam!

Bersenyawa di udara. Menetak hembusan nafas
Bumi serasa sempit untuk melangkah
Tidak ada cerita bagi tempat
Untuk basabasi
Tentang cinta dan kasih yang tulus.

Hidup di tera oleh zat yang lebih halus dari angin
Covid-19. Lemah di udara
Perkasa dalam tubuh
Menghantam tanpa mampu menangkis
Oi, bagaimana cara mempergunakan tameng?

Siapakah namamu? Menolong diri sendiri
Puputan untuk tidak keras kepala
Berkerumun, membentangkan tangan
Untuk membuat jarak
Iman untuk melawan. Setia untuk berjuang
Siapa bertugas untuk menolong?
Diri sendiri.
Awal dan akhir saling silang di udara
Menusuk diamdiam
( Bagi yang tidak setia
Yang berdusta)
Virus yang menebas tanpa berduka!
Maret’ 2020



Menanam Pedih di Bening Airmata

(Burung dengan paruh terluka
 Terbang rendah di telempap tangan
 Yang tak mampu menggenggam
 Dan menggelepar hanya karena desiran angin)

Duka itu dating. Sesenyap hembusan/ tarikan nafas
Dan langsung menghujam
Tanpa peralihan musim
Tibatiba saja tubuh menjadi limbung
Karena kau beranakpinak dengan sempurna.

Siapakah kau? Wujud kasat mata
Namun mampu menanam pedih di bening airmata
(Di airmata itu kau tanam jasad
Yang tak berdosa. Rintih yang telah kehilangan sedu
Demam yang tak tertera dalam temperature
Tinggal gigil yang menahun).
Kau, makhluk tanpa silsilah. Lahir premature

Tanpa ariary + nenk moyang
Kau, makhluk yang menjadi kuasa
Karena kelengahan & keacuhtakacuhan manusia
Kekurangwaspadaan. Barangkali sedingkih angkuh.
Makhluk yang begitu perkasa dalam tubuh.

Siapakah kau?
-Corona yang mampu menipu
Dan bersenyawa dengan sempurna
Dalam setiap tarikan nafas-

Pertanyaan yang tertahan pada rasa sedih itu.
Maka, jawabannya berpeluang pada asa
Diri sendiri. Kesetiaan untuk berjarak.
Kesadaran jasmani + rokhani
Kau yang mengajari untuk berperang dengan
Diri sendiri
Berdiam diri. ( Tata laku mengolah diri )
Maret 2020






I Made Suantha,  Lahir di Sanur, 24 Juni 1967
Kumpulan puisi tunggalnya : PENIUP ANGIN (1989), TOGOG YEH (2002) dan  PASTORAL KUPUKUPU (2008).Sajaksajak juga terhimpun dalam antologi puisi a.i. Jejak Tak Berpasar (2015), Tancep Kayon (2016), CINCIN API ( 2019), TUTUR BATUR (2019), NEGERI BAHARI(2018), BANDARA DAN LABA-LABA(2019)
Tahun 1987, diundang Dewan Kesenian Jakarta dalam Forum PUISI Indonesia 1987 di Taman Ismail Marzuki.
Tahun 2008, menerima penghargaan Widya Pataka dari Gu





Puisi Corona , M. Muchdlorul Faroh Dipaksa Libur

51.M. Muchdlorul Faroh

Dipaksa Libur

dilihat sekilas kau nampak garam
pemerintahpun kau buat
ketar ketir ketakutan
wabahmu sempat getarkan dunia
sekolah sekolahpun ikut jadi dampak
kau paksa kami berpisah dengan guru
kau buat jeda antara aku dan teman bertemu
dan harus menunggu selama 2 pekan
tuk melebur rindu
pagiku sekarang hanyalah antara aku, jalan sepi, dan kopi yang mulai mendingin
sudah tak ada lagi teman yang membuat riuh
tak ada lagi guru yang bersenandung lama
dan tak ada lagi papan tulis yang belepotan oleh tinta
darimu aku harus berpisah dengan sekolah
dan dipaksa libur tuk ngangsu kaweruh






Puisi Corona, Supriyadi Bro Kasih Tuhan Pada Hambanya

52.Karya : Supriyadi Bro

Kasih Tuhan Pada Hambanya

Kasih Tuhan pada hambanya?
Sebuah tanya, kesucian membimbing diri
Berlimpah nada Tuhan mengasihi hambanya, tapi tafsir mengaburkannya
Dunia berguncang, wabah virus corona merajalela
Masihkah ada kasih Tuhan untuk hambanya?
Mari kita merenung dalam keheningan hati
Mari kita menjernihkan jiwa, menjawab tanya
Sekelebat tafsir menyisir pikir
Tuhan, inikah pesan di akhir jaman
Putaran thawab di kiblat sejenak terhentikan
Kau jauhkan hambamu dari rumah-rumahmu
Sudah sehina itukah hambamu ini?
Kuterima pesanmu, teguranmu
Kuterima caramu mengasihi hambamu, agar kembali menghamba sepenuh jiwa
Ya Rab,
Hamba-hambamu ini terlalu bebal terima nasihatmu
Kemaksiatan, kepalsuan sumpah merajalela di mana-mana
Keduniaan telah melupakan akhiratnya
Ya Rab,
Atas kuasamu, kau hentikan tempat-tempat kemaksiatan
Atas kuasamu, kau hentikan prilaku kesia-siaan
Atas kuasamu, kau ingatkan kerinduan hadir di rumah yang kau muliakan
Ya Rab,
Takdirmu saat ini adalah kasihmu,
sucikan dunia atas ulah hambamu agar terhindar dari kehancuran akhir jaman
Kasih Tuhan pada hambanya, membumi sepanjang masa

Mojokerto, 29/3/2020
52.Karya : Supriyadi Bro


GETARAN PESAN KERINDUAN
Karya : Supriyadi Bro

Pesan kerinduan menggetarkan kalbu
Menurunkan mahluknya yang kasat mata, Corona namanya
Lahir di sebuah negeri bernama Wuhan
Hadir memporak porandakan sendi kehidupan insan
Ketakutan di mana-mana
Kematian menerpa sekejab mata
Bertanya diantara pesan kerinduan
Apakah engkau rindu getaran peluk kasih hambamu, Rabb-ku ?
Rindu peluk kasih hambamu yang kini kian semu
Masjid-masjid megah dalam kesepian
Musholla bertebaran, merana dan berdebu
Ya Rabb.....
Saat hambamu tak lagi bebas bersujud di rumahmu yang suci,
Saat sekat memisah jamaah saudara seiman
Baru hamba sadar makna kehilangan dari yang ada
Betapa terasa saat semua kebebasan beribadah, kini jadi keterbatasan
Nikmat tercerabut, menggerogoti relung kedamaian
Ya Rabb,
Pesan kerinduan kasih apa yang ingin Kau sampaikan?
Atau memang sudah tak pantas,
Engkau melihat wajah kami, mendengar keluh kesah, tangis, senyum bahagia kami di rumah sucimu ?
Pesan kuterima diantara getaran rindu peluk kasihmu
Ya Rabb, kami sadar arti malas menuju masjid yang hanya beberapa langkah dengan aman dan nyaman
Ya Rabb kini kami sadar arti silahturahmi yang kini berjeruji
Ya Rabb,
Jangan Kau cabut nikmat berpuluh tahun, yang telah kami abaikan
Ya Rabb..
Hidup dan mati mahluk Corona adalah kehendakmu.
Engkau yang menghidupkan segalanya..
Engkaupun yang mematikan segalanya..
Ya Rabb
Panggil kembali corona, cukupkan tugas mereka mengingatkan kami
Ya Rabb,
Pertemukan kami dengan ramadhan penuh berkah, dikala jumpa tanpa Corona

Mojokerto, 24/3/2020

TEROR CORONA
Karya : Supriyadi Bro

Teror Corona... Corona... Corona
Bagai malaikat pencabut nyawa, mengintai berputar-putar
Bagai begal bengis siap merajam
Bagai badai dan bingar  petir mengguncang isi bumi
Bagai lava panas meluncur dari pusaranya, datang melibas jiwa raga
Peradaban berjungkir balik, mainkan atraksinya
Teror... Teror... Teror virus corona
Melumat diplomasi, ekonomi, dan birokrasi
Mencabik-cabik keimanan insan
Takut teror virus corona, sampai lupa takut Tuhan sang penciptanya
Luluh lantak rajutan humanis
Insan jadi terpojok, bersembunyi di antara keramaian
Teror virus corona menghantui rasa
Teror virus corona merambah di mana-mana, di tiap sudut dan luasnya hamparan kehidupan
Di antara keresahan jiwa mendera
Kembalilah menghamba, bersujud memohon pertolongan-Nya

Mojokerto, 9 Maret 2020

Sabtu, 28 Maret 2020

Harkoni Madura ORANG-ORANG JELATA DAN KORONA


49.Harkoni Madura

ORANG-ORANG JELATA DAN KORONA

orang-orang jelata itu
masih saja menggegas lagu
padahal dia engah dan tahu
korona mengintai sewaktu-waktu
tanpa pemberitahuan lebih dahulu

orang-orang jelata itu ibarat menyantap simalakama
lantaran dia tulang punggung keluarga
yang menanggung degup sekian jiwa
dari balita hingga manula
sebab lewat asin keringatnya
dia menebar suluh matahari dengan cinta
berpengiring kayuhan doa dan nadham airmata

orang-orang jelata itu menabuh bahasa lembah
di hatinya yang menyampir sulur-sulur ibrah
tanpa gerutu,cemas dan gundah
karena kediriannya bercokol di palung tabah
dikawal silir rancak irama burdah

Banyuates, 26 Maret 2020



Anisah Effendi CORONA VIRUS

47.Anisah Effendi

CORONA VIRUS



Sudahilah permainan ini
Berhentilah menakut-nakuti kami
Pergilah sejauh-jauhnya
Jangan dekati kami lagi

Kami tak sanggup
Kehilangan orang-orang yang kami cintai
Sungguh pilu kami rasa
Dan berat kami tanggung

Corona virus
Kami memintamu sepenuh hati sepenuh harap
Sudahilah tingkahmu yang mengesalkan itu
Enyahlah dari sini
Musnahkan saja dirimu sendiri
Tanpa membawa-bawa kami
Kau dengar itu Corona virus?

Indramayu, 26 Maret 2020











HANTU CORONA



Tak terbayangkan
Bencana kemanusiaan ini
Kupikir hanya ada
Dalam dongeng-dongeng
Dalam cerita-cerita

Entah itu..
Bencana banjir besar di masa Nuh
Bencana gempa di masa Luth
Bencana kekeringan di masa Yusuf
Ataupun bencana wabah penyakit di masa prabu Airlangga dalam dongeng Calon Arang

Bencana..
Kita alami juga
Hari-hari ini
Saat-saat ini

Corona mengintai kita
Corona menghantui langkah-langkah kita
Corona menyerang kehidupan kita
Indramayu, 26 maret 2020










TERSEBAB CORONA

 Duka ini begitu keras
Bagai badai menghantam pepohonan
Lalu menimpa tubuh-tubuh di jalanan

Jerit tangis
Hiruk pikuk
Beradu pilu

Anak-anak tak tahu lagi kepada siapa memanggil ayah
Karena ayah mereka telah tiada
Anak-anak tak tahu lagi kepada siapa memanggil ibu
Karena ibu mereka telah pergi

Para pedagang di pinggir jalan tak tau lagi kepada siapa jajakan dagangan
Karena pembeli tak lagi datang
Sepi

Pesta pora bubar
Dari diskotik dan klub-klub malam
Dan di kuil-kuil doa-doa tak lagi terdengar
Wajah-wajah terlihat muram
Senyap

Di rumah, orang-orang kehilangan tangan dan hangat pelukan
Di mana-mana, mata menatap kosong tak mengerti
Kapankah prahara ini berakhir
Harapan sirna
Mimpi-mimpi lenyap




Cemas hinggapi siapa saja
Corona mengambil nyawa tanpa menyapa
Hening berbisik di telingaku
Diamlah di tempatmu
Dia akan datang tanpa kau tahu
Diamlah..
Jangan sampai dia menjamahmu

Indramayu, 26 Maret 2020

Anisah Effendi, menyukai puisi sejak duduk di bangku Sekolah Dasar. Beberapa kali mengikuti antologi puisi bersama. Dua di antaranya yaitu Puisi Menolak Korupsi 5 dan Antologi Puisi 1000 Guru. Bisa ditemui di alamat: blok Lor, desa Tugu, Sliyeg, Indramayu, atau blok Kajengan, desa Danawinangun, Klangenan, Cirebon.


Arya Setra DIBALIK CORONA

46.Arya Setra

DIBALIK CORONA

Jauh dari sebrang sana
kau membawa pesan kepada dunia...
mengabarkan bahwa kau lah yg berkuasa ...
bagai sang pencabut nyawa...
Kau sungguh luar biasa
namamu dalam sekejap
menjadi trending dunia
dan momok yang sangat menakutkan
memenggal siapa saja yang lengah...
Tua,,,muda,,, laki-laki ataupun wanita
tidak ada prioritas menjadi sasaran amarahmu yang membabi buta....
Corona oh corona....
dibalik amarahmu
kau mengajarkan beberapa hal pada dunia...
kau mengajarkan arti kesehatan..
kau mengajarkan arti kebersamaan..
kau mengajarkan arti keimanan...
sehingga kita semua harus bersih-bersih dan me-lockdown diri masing-masing..
agar tidak keluar dari maqom nya...
dan selalu diam di dalam....didalam....didalam...
diri yang selama ini selalu mengembara tiada batas...
Corona oh...corona
ketakutan yang kau ciptakan...
mendorong diriku mungkin juga kita semua..untuk kembali padaNYA......
Jakarta 26 maret 2020




Sahaya Santayana SURAT JARAK JAUH

45.Sahaya Santayana

SURAT JARAK JAUH

kalimat-kalimat peringatan menggema
melalui pengeras suara di perempatan jalan
terdengar saat pagi memandang lampu perhentian
di mana kelengangan singgah di kota waktu

menulis catatan yang dipaparkan jadi puisi
di sini peraturan kian dipertimbangkan perbuatan
akan marka-marka yang membuat kita jeda
di antara sejenak yang was-was dan ragu

begitupun kebiasaan yang tak dapat ditahan
penyesuaian-penyesuaian muncul di hadapan
diri yang mempunyai pintas-pintas penerimaan

kata-kataku dihadapkan bijak yang dalam
demi jaga yang diterjemahkan keselamatanmu
yang sengaja kueja bersama kesunyianku
Tasikmalaya, 2020.














DI STASIUN SEPI

tak biasanya pemberangkatan sukar akan keramaian
selimuti suasana yang semakin murung mendung
sejumlah pembatalan-pembatalan pertemuan terpaksa
harus diurungkan sejenak waktu yang berputar

lokomotif-lokomotif datang lalu pergi menarik
gerbong yang berisi kekosongan lain dari kemarin
yang disaksikan bersama penantian di persilangan
lebih dulu pamit menuju perhentianmu

telah kubongkar barang yang sudah terkemas rapi
menyepi di kediaman hatimu yang kembali menulis puisi
khawatir menggaris pada kertas hari bersama kejadian ini

pada jadwal yang telah termaktub dan menyanubari
di satu jalur yang tak dapat kembali pada badan
adalah kalimat perpisahanku yang berkabung berulangkali
Tasikmalaya, 2020.














DISINFEKTAN HUJAN

kupandang endapan rinai-rinai
pada tanah di musim baru yang bertamu
setelah menjalar dan diarak perjalanan angin
betapa mendung mengitari selimut langkah

angka-angka yang melonjak kian hari termaktub
di kepala hingga basah bercampur keringat
sudah hafal akan menanti kembali harapan
yang berteduh di bawah jantung doamu

di mana ketakutan dan keselamatan
adalah kabar yang melayang di sudut ketegangan
apa hendak dilaku selain arif dalam ketenangan

di sini aku tak bisa menghitung rintik yang pelan
dialirkan tuhan yang jatuh membasuh usap sepenuh
serap yang dekat mendekap lalu dirapalkan bumi
Tasikmalaya, 2020.















Sahaya Santayana, Lahir di Pontianak, Kalimantan Barat, 12 Desember 1995. Menulis sejak Tahun 2014. Aktif Bergiat Satu Jam Sastra di Alun-alun Kota Tasikmalaya. Salahsatu puisinya masuk Antologi Bersama a.l : Jejak Cinta Di Bumi Raflesia, (2018), Jejak Hang Tuah Dalam Puisi, (2018), Bulu Waktu, (2018), Bulan-Bulan Dalam Sajak, (2018), Sajadah, (2019), Risalah Api, (2019), Dari Negeri Poci 9 : Pesisiran, (2019), Membaca Asap, (2019), Segara Sakti Rantau Bertuah, (2019), Antologi Sajak Juara KORSABARA, (2019), Suara dari Jiwa, (2019), Negeri Penyair, (2019), Puisi Sayur Mayur, (2020). Dan beberapa karyanya pernah dimuat Di H.U Kabar Priangan 2017, Radar Tasikmalaya 2017, H.U Rakyat Sultra 2018, Kuluwung.com 2018, Koran Merapi 2019, Magelang Ekspress 2019, Solopos 2019, Radar Banyuwangi 2019, sastra-indonesia.com 2019, tembi.net 2019, Radar Bekasi 2019, travesia.co.id 2019, kataberita.id 2020. Sekarang menetap di Kota Tasikmalaya.



Wardjito Soeharso Japa Mantra

44.Wardjito Soeharso

Japa Mantra

Bolading!
Klambi abang
Bendho gowang.
Jalitheng!
Jun jilijijethot
Wong Tapang asli
Cempe-cempe!
Undangna barat gede
Tak opahi duduh tape
Weerrr.....weeeerrrr....
Weeeeeerrrrrr....
Setan ora doyan
Penyakit ora ndulit
Wabah ora temah
Amung kersane Gusti Allah
Corona...
Minggaaaaaatttt!


Semarang, 27 Maret 2020

Eli Laraswati/Poem : Muram senja


Eli Laraswati/Poem

Muram senja

Waktu datang menghampiri, tanpa bisa berkompromi juga tidak ada waktu untuk berbenah diri.
Yang benar saja, aku berada di negeri tercinta yang dipenuhi huru-hara.
Turunkan...!
Hempaskan...!
Lengserkan...!
Dengan semangat yang membara, mereka terlihat ganas dengan celoteh yang kian lama
semakin memanas. Yang keluar hanya kata-kata yang pedas tanpa tahu batas.
Kalian!... pergunakan otak kanan dan kiri, otak kalian tumpul sekali mengurus negeriku ini?
Petinggi-petinggi tikus yang berdasi, janganlah bangga karena bisa duduk di kursi yang empuk
dan baju yang wangi juga rapi.
Virus corona menghampiri, tapi kalian semua bungkam dan tetiba menjadi tuli. Atas dasar
rakhyat kecilmu aku mengutuk kehadiran kalian untuk sadar diri.
Djakarta
15, march 202




Omni Koesnadi Tentang Corona

Omni Koesnadi

Tentang Corona


“Dirumah aja “
Sang istri mengunci mulutku
Sang anak semata wayang
Memandang sayu
“Diluar tuhan dan hantu lagi bertengkar
Nanti bapak kena sasar”

Aku yang tinggal bertiga
Di sangkar empat kali lima meter
Tanpa jendela
Sehari duapuluhempat jam
Menikmati hidup baru dunia baru
Dikota yang kau banggakan
Ketika meninggalkan desa
Yang penuh kehijauan
Dan keramahan

 Corona telah mengajarkan aku
Ketakberdayaan manusia
Dan rahasia semesta







Omni Koesnadi penikmat dan pembaca sastra .Pernah belajar di Sekolah Tinggi Publisistik.Menulis dan mengirimkan tulisannya berupa puisi,cerpen dan essay di media massa Jakarta, Bandung,Jogja dan Bali sekitar 1980an. Buku puisi tunggalnya yang terakhir "Peradaban Dasi" (1999)Kini masih bermukim di Jakarta..

Ade Sri Hayati : Keluar Mati Korona, Didalam Mati Jiwa

Ade Sri Hayati

Keluar Mati Korona, Didalam Mati Jiwa

Berdebu
Ia masih dalam tempat yang sama
Tak bergeser sedikitpun
Beroda dua
Membayang jauh pikir yang menahan rindu
Keluar mati
Didalam pun mati

Keluar jiwa melayang
Dalam bilik pun melayang
Ada apa dengan bumi
Tuhan marahkah?
Alhadist mengatakan ini pernah terjadi pada jamanya
Wabah wabah berdatangan pada negeri Syam lalu kini Indonesia
Corona, katanya

Sekeping doa mengahantarkan untuknya
Untuku? Tertelan jiwa yang terhempas rindu yang tak tahu kapan akan bertemu
Keluar mati
Didalam pun mati
Semoga corona segera usai
Agar rindu ini selesai

Indramayu, 27 Maret 2020

A. Zainuddin Kr Dari Corona Kita Menmukan Tuhan

A. Zainuddin Kr

Dari Corona Kita Menmukan Tuhan

Maka kita kosongkan gereja, klenteng, vihara
Dan masjid-masjid
Kita kunci sekolah-sekolah, perkantoran, pabrik-pabrik
Dan pertokoan
Dari corona kita kembali pada ruang-ruang sepi
Mengisoali diri
Ditengah sunyi kita bangun gereja, klenteng, vihara, masjid
Dan segala tempat peribadatan
Di dalam hati
Menekuk tengkuk menuju tawadzuk
Bersujud pada kerendahan yang sungguh

Ya, dari corona kita berpulang
Setelah berabad terpenjara pada ruang keangkuhan
Simbol-simbol
Dimana banyak tuhan menyamar
Menjelma benda-benda dan aneka rasa
Dan sujud kita hanyalah
Sujud yang pura-pura

Maka, dari corona kita membangun hati dan jiwa
Yang berabad terlantar dalam gersang
Tandus di tengah gelap
Oleh sesak berjubelnya benda-benda
Penghalang cahaya
Dari maha cahaya

Dari corona, nalar-nalar kita dirontokkan
Keangkuhan ditumbangkan
Otak kita tercuci
Hati dan jiwa tergiring menuju hakekat diri:
Bukan gereja, klenteng, vihara dan masjid-masjid
Hanya padaMu, tempat kita bersimpuh

Pekalongan, 24 Maret 2020.



CORONA

Corona,
Ah engkau sungguh begitu seksi, sayang
Menggoda tiap anak anak negri
Menjajah ke segenap dataran bumi
Berjuta nyawa kau tikam dalam sebaran berita
Senyum tawamu menjadikan para para limbung
Pasar pasar dan toko lengang
Setelah sesaat diserbu pengunjung
Jalan jalan sepi
Sekolah dan tempat ibadah melompong
Sedang anak anak terkurung
Dalam kardus

Corona,
Ah, karenamu
Ya, karenamu, aku pun enggan kemana
Bersemadi dalam kamar isolasi
Menulis puisi tentangmu
Sebuah senyum yang melekat
Di kancing bajuku

Corona,
Darimu banyak hal yang kita ambil
Dan olehmu, kini kita lebih banyak tahu
Tentang bagaimana mencintai hidup

Maka cukuplah sudah
Dan pulanglah, Coronaku
Berhentilah untuk terus menjelajah
Biar aku simpan melangkorimu
Di dalam saku celana
Bersama bayang bayang lembut
Remasan jemarimu berpuluh tahun lalu

Pekalongan, 18 Maret 2020

Beti Novianti : Tamu Tak Diundang

Beti Novianti

Tamu Tak Diundang

kau datang tiba-tiba
tanpa permisi
aku tak tau apa maksudmu
aku tak tau rupamu
tapi yang pasti kita sama-sama makhluk tuhan
di segala arah semesta menceritakan tentang mu
tentang duka lara
di timur,di barat, di utara, dan di selatan belahan dunia menyebutmu.
katanya namamu korona

semesta bertanya-tanya dari manakah kau wahai korona,
apakah asalmu memang dari Wuhan ataukah Tuhan?
apakah kesukaanmu tentang keresahan atau keangkuhan?
mungkin di jiwa kami tersimpan keangkuhan yang mengalir deras seperti hujan
sampai saat ini  aku tak tau apa yang kau inginkan,dan kau belum juga pulang

Mukomuko,17 Maret 2020


.Emby Bharezhy Boleng Metha : Apa Kabar Indonesia

Emby Bharezhy Boleng Metha

Apa Kabar Indonesia

ketika semua sistem dihentikan
sekolah diliburkan
pekerja dirumahkan
ibadah pun

lalu aku bertanya
kepada Ibu Pertiwi
apa kabar Indonesia
saat ini

sebab,
di media maya
di koran
di TV
dan radio
hanya ada berita Covid-19
yang menjadi momok menakutkan
bagi manusia-manusia

oh.... ternyata
Indonesia-ku sedang tidak baik-baik saja

sejatinya kita
lengah dalam mencegah
sehingga di antara kita
ada yang terkapar oleh wabah






O, Tuhan
sudahi saja penderitaan ini
sudahi saja kesedihan ini
terlalu banyak air mata yang jatuh

bukankah Engkau Maha Segalanya ?

@MataKata.MB

Agustav Triono : Dalam Cekam

37.Agustav Triono

Dalam Cekam

Dalam cekam
Derita mengancam
Lewat jendela
Kuintip masa
Berulang kejadian
Wabah duka
Ketakutan
Kecemasan
Kepanikan
Derita silih ganti
Bertubi-tubi
Orang-orang bingung
Orang-orang linglung
Orang-orang terkungkung
Dalam rumah sepi
Dalam cakap sunyi
Dalam dilema hari-hari
Virus tak terlihat
Menyebar senyap
Teror dunia
Sadarkan manusia
Dalam hening
Paling bening

Dalam cekam
Seluruh berserah
Pada Yang Maha
Wabah segeralah sirna.

Purbalingga, Maret 2020

Agustav Triono, lahir di Banyumas, 26 Agustus 1980, tinggal di Perum Puri Boja blok E 31 Bojanegara, kec. Padamara Purbalingga. Karya sastranya termuat di beberapa media massa dan buku antologi bersama.




Bambang Eka Prasetya : Berjalan di Lorong Candi Borobudur

 Bambang Eka Prasetya

Berjalan di Lorong Candi Borobudur

Walau orang muda yang saya jumpai di lantai tiga lorong satu Candi Borobudur berbalut busana gaya Jawa khas Ganjuran, saya bisa mengenali, lebih-lebih dari sorot matanya, Dia ialah Yesus orang Nasaret.

Usia saya yang saat ini enam puluh delapan tahun, lebih dari dua kali usianya yang belum tiga puluh tiga tahun, tak pernah menjadi kendala, saya masih mampu menyesuaikan langkah mengikuti jejaknya.

Ketika kami melangkah searah jarum jam sesuai tata letak relief indah Candi Borobudur, saya sempat bertanya kepada orang muda itu, modal terbaik apa yang mesti kami miliki untuk hindari paparan Corona, yang saat ini mencekam kami.

Dia menunjuk panil relief, dan berkata: "Di relief ini terkandung pesan menyelalamatkan diri." Kucermati ternyata di situ terukir gambar kerbau, kera, dan yaksa. Ya, itu "Mahisha Jataka", kisah kerbau yang sabar.

Yesus berpesan: "Belajarlah, walau dari sepanil relief, siapapun yang terbuka terhadap hal yang sederhana, seperti panil relief ini, dialah yang dipercaya Allah untuk mengabarkan hal-hal yang mulia, agar karena kesaksiannya, manusia memuliakan nama-Nya."

"Hati-hati Yesus ada Paparasi yang hendak memotret kita, nanti ketahuan khalayak bahwa kehendak Allah ternyata terukir pula di relief Candi Borobudur." Dia menjawab santai: "Biarlah, tidak apa-apa, pada zaman sekarang lebih mudah seorang Paparasi masuk lorong Candi Borobudur, dari pada Parisi masuk ke dalam Kerajaan Surga."

Magelang, Maret 2020


Bambang Eka Prasetya dilahirkan di Jombang, 5 Desember 1952 di tengah keluarga seniman ludruk Cak Ngarman dan Ning Ismi. Pendidikan formal pertama diawali di S.R. Sumobito, Kabupaten Jombang pada tahun 1959, dan lulus pada tahun 1965 di S.D. Widodaren 2 Kota Surabaya.  Saat ini tinggal di Jl. Pandansari Utara No. 24, Kelurahan Sumberrejo, Kecamatan Mertoyudan, Kabupaten Magelang 56172. Nama FB: Bambang Eka Bep.


Kamis, 26 Maret 2020

Sukma Putra Permana KARENA CORONA

Sukma Putra Permana

 KARENA CORONA

 Karena Corona, jadi berjarak pergaulan bertetangga kami. Tapi tak kan tertutup pintu silaturrahim kami.
Karena Corona, jadi terbatas hubungan pertemanan kami. Tapi tak kan terputus tali persahabatan kami.
Karena Corona, jadi renggang jalinan persaudaraan kami. Tapi tak kan terlepas ikatan kekerabatan kami.
Karena Corona, jadi terganggu kesehatan raga kami. Tapi tak kan terlewatkan upaya kami menguatkan antibodi.
Karena Corona, jadi terhalang jalan nafkah kami. Tapi tak kan terkalahkan semangat kami menjemput rizki.
Karena Corona, jadi terkunci rumah ibadah kami. Tapi tak kan pernah terlupakan sujud dan doa kami.
Karena itulah, yaa Robbi…, tolong hilangkan wabah ini dari negeri kami…

 Maret 2020

Agus Sighro Budiono 1. PMK ) Puisi Menolak Korona

35. Agus Sighro Budiono


1. PMK )
Puisi Menolak Korona

aku tulis puisi menolak korona
diantara rasa was was penuh tanda tanya
aku tulis puisi menolak korona
diantara pusaran rasa curiga
ini virus alami atau siasat perang buatan manusia
ada aroma Illuminati* dalam sebarannya
berkehendak kuasai dunia dengan tatanan baru sesuai keinginannya

korona mencipta adab tak biasa
negara negara menutup pintu kota
mengharamkan pendatang melarang keluar warga kota
menjaga jarak pada sesama
sepikan masjid, gereja, kuil, pura dan wihara
orang kaya tunjukan ketamakannya
memborong barang lambungkan harga

aku tulis puisi menolak korona
mengusir takut tajamkan waspada
bersiaga melawan sepenuh daya
bersihkan diri sucikan raga
tak henti lantunkan doa
berlindung pada Tuhan segala kuasa

Jonegoro, 19 Maret 2020

Note:
* Illuminati istilah yang banyak digunakan untuk menunjukkan organisasi persekongkolan yang dipercaya mendalangi dan mengendalikan berbagai peristiwa di dunia melalui pemerintah dan korporasi untuk mendirikan Tatanan Dunia Baru.


Saat Bumi Berlumur Tuba

Malam membujur kaku
Daun daun kelu semacam beku
Sepi mengoyak rindu
Rasa was was berirama gerutu
Kapan pagebluk segera berlalu

Di beranda rumah berteman kopi dan cigaret murahan
Aku membaca malam dalam kesendirian
Ada jejak nostalgi dan riuh gurauan
Menghias malamku yang liar berkelindan

Tapi hari ini, saat bumi berlumur tuba
Ini malam menjadi tak biasa
Berkerumun dan bercanda bisa jadi celaka

Ini masa paling aneh sepanjang sejarah
Yang berjarak akan selamat terhindar wabah
Yang bersatu tercerai tumbang rebah

Bojonegoro, 220320

Sutarno Sk Kesaksian

34.Sutarno Sk

Kesaksian

Setelah kau bajak udara
kau rampok tetangga
kau rompak samodra
dan pertama kau yang berwabah

Berdalih tak sengaja
memulai senjata biologis
sebagai pemusnah kehidupan
kau ambisius menjadi adidaya
kau rakus menjadi super power

Tidak mungkin kebocoran
padahal tahu akibat
sengaja kau produksi
sebagai pemusnah
agar semua mampus
dan kau menjadi tuhan dirimu sendiri

Kau musang berbulu tikus memang
setelah terkaman tak mampu menang
kau grogoti luar dalam rumah tetangga
sampai pisik dan jeroan pun kau obok-obok
hingga tak berdaya sekarat
hingga nyawa melayang
sementara boleh kau terbahak

Kau memang licik
kau sudah memulai perang
ala siluman bersenjata wabah
katamu beralas tak sengaja
sebagai kecelakaan
padahal kau sudah menggertak
kau sudah unjuk gigi punya pemusnah masal
tetangga sempat gagap tak siap

Kau memulai dengan untung rugi
satu wargamu kau angkat pahlawan
sebagai korban jibaku
seratus orang tetanggamu korban
kebohongan kebocoran
sepuluh orangmu mampus
seribu orang lain tak bernyawa
dan seterusnya
kau barbarian

Kalibata-Maret – 2020


Raden Rita Maimunah Corona Datang Dunia Senyap

33.Raden Rita Maimunah

Corona Datang Dunia Senyap

Suasana mencekam, malam semakin kelam
Tanda tanda kehidupan seperti terhenti
Virus corona menjadi momok yang menakutkan
Gemuruhnya karaoke, kamar kamar birahi
Yang biasanya ramai, Kini senyap seperti kuburan
Covid 19, corona kau telah bunuh kemesuman malam,Itulah hikmahnya
Tapi kau bunuh juga jiwa jiwa tak berdosa
Kau bunuh perekonomian sehingga pasar pasar sepi
Jalan jalan sepi, tempat wisata sepi
Lantas kita bisa apa ? jika semua adalah kehendak ALLAH
Bumi ini telah kelewat tua, Bumi ini sudah berat dengan dosa
Bukan martil yang menghancurkannya, Bukan peluru yang memporak porandakannya
Tapi virus yang disebut dengan manis “ Corona “
Yang membuat ketakutan seluruh manusia di dunia
Ia merayap dengan diam tanpa kata,Membuat manusia menjadi gila di serang ketakutan
Apakah jabatanmu dapat melenyapkan virus corona
Apakah uangmu dapat menyuruh pergi virus corona,Agar ia tidak datang
Dapatkah manusia menghentikan semua
Tidak, kecuali yang Maha Kuasa menghentikannya
Kita  seperti kehilangan kendali diri
Saat harus menapak dari waktu ke waktu, Menunggu virus itu lenyap
Dunia semakin senyap saat corona datang
Padang 25 Maret 2020


Raden Rita Maimunah, dengan no HP: 082172619207, WA 081266135861, Alamat surat menyurat, Komplek Pemda Blok F2, Sungai lareh kelurahan Lubuk Minturun, Kecamatan Koto Tangah Padang Sumatera Barat . Email maimunahraden@yahoo.co.id, masuk dalam berbagai  antologi Puisi dan antologi cerpen,  menerbitkan 2 buku antalogi Puisi tunggal  dengan nama pena yang juga sering menggunakan  nama  Raden Rita Yusri





Kurliyadi Kepadamu Corona

32.Kurliyadi

 Kepadamu Corona

Kepadamu corona
Yang tidak terlahir berjenis kelamin jantan atau betina
Selamat datang, ucapkanlah salam
Di negeri kami yang ramai dan bahagia
Yang mengandung senyum paling ramah
Untuk pendatang dan tamu tak di undang

Di televisi, koran dan kabar dari penyihir hoax
Dirimu menyerupai segala bentuk rasa takut
Mengibarkan bendera tanda merdeka
Atau kau bangga pada dirimu sendiri
Sebab adamu yang semakin menjadi duri dan api

Di negeri seberang dan kerabat
Wajahmu menghias segala ruang kosong
Seakan melumat segala hak dan kekuasaan
Bahkan adamu semakin membuat kami terusir
Dari jabat tangan, berpelukan bahkan saling lempar senyum
Hanya untuk bertanya “apa kabar?”

Dari adamu pulalah kami rasanya haram
Untuk pergi ke tempat ibadah kami sendiri
Yang selalu suci dan tidak terdapat caci maki
Apalagi iri dan dengki
Kepadamu corona,
Kami sama sekali tidak takut mati







Atau menyerah untuk terakhir kali
Tapi kami terus membenahi diri, bersatu
Mencari jalan untuk melawanmu
Sebab pada diri ini masih tumbuh belati
Yang akan mengoyak tubuhmu menjadi mati
Atau mengusirmu dengan tanpa jejak kaki lagi
2020


Suara Corona

Dari kota wuhan
Lahir sebagai awal
Beranjak dewasa sampai sekarang
Berdiri tegak di negeri-negeri tuan

Suaramu menggema
Seperti menunjukkan tanda
Bahwa adamu adalah jalan musibah
Bagi kami yang hanya manusia sahaya

Wahai corona, dalam tubuh kami
Sudah tertanam jalan perang
Kalah atau menang adalah dua mata uang
Yang sama sekali tidak kami takutkan

Mari serang, kami tidak berdiam diri
Meski ruang kami hanya sebatas pagar rumah
Dan anak-anak kami belajar tanpa sosok guru
Kami tetap siap dan setia
Dengan pedang dan pena
Dengan doa dan mencari jalan keluar
Meski nyawa taruhannya
2020
Kurliyadi lahir di kepulauan kecil gili-genting madura, bekerja sebagai pedagang kelontong (sembako) dan alumni pondok pesantren mathali’ul anwar pangarangan sumenep, menulis cerita pendek dan puisi, karyanya tersiar di beberapa media massa dan beberapa antologi sekarang berdomisili di alamat Warung Madura Zayadi Jalan pamengkang raya ( masjid jami baiturrahman) blok pahing Rt. 03 Rw. 03 kecamatan mundu ciebon Email  : kurliyadi.khuzaimah@gmail.com  nomer Rekening BRI : 093501033013532   blog : https://istanapuisikurliyadi.blogspot.co.id contact : 082215788844


Zaeni Boli Takut

31.Zaeni Boli


Takut

Orang orang dengan hati yang kacau
sedang mengintip dibalik jendela
suara anjing yang menggonggong
kini sahdu terdengar

seorang anak dan ibunya tertidur pulas
meski maut mungkin mengintai
Larantuka , 2020




Ajaib

Seperti biasa ia tak terlihat
bentuknya seperti durian
tapi bukan durian runtuh jika kita mendapatinya

engkau sedang mengecup maut
jika ia datang
Larantuka , 2020


Kurnia Kaha BILA KABAR ITU TIBA

30.Kurnia Kaha

BILA KABAR ITU TIBA

Kabar kematian itu akan tiba
Entah untukku
Atau untukmu
Tak perlu risau bila tak ada yang melayat
Sebab semua tinggal menunggu penghitungan
Antara kita dan diriNya
Doa-doa mungkin akan sampai atau
Bisa juga tak akan pernah sampai

Sebelum kabar itu tiba
Ada baiknya kita berkaca
Di ruang yang terang
Biar terlihat kedua mata,
hidung, dan mulut
Agar jelas jawabnya
Jika corona mejemput
Telah sejauh apa kita bergelut
Dan sekhusyuk apa dalam sujud-sujud
Pekalongan, 22 Maret 2020













DARURAT CORONA

Tak seperti biasanya
Pagi begitu tenang
Jalan-jalan lengang
Hanya sedikit yang melenggang

Salah satu penjual jajanan kesekolah
Belum sempat ia membuka lapaknya
Mengapa sesepi ini?
Bakulnya digendongnya lagi
Melangkah pulang
Dengan hati yang gamang
Menoleh ke pintu gerbang
“Darurat Corona Belajar Di Rumah”
Aku hilang kerja
Untuk beberapa hari yang belum pasti
Gumamnya dalam hati
Pekalongan, 18 Maret 2020


Kurnia Kaha, lahir di Batang, 30 April 1983. Penulis buku puisi “Debur-debur Rindu”  diterbitkan oleh meja tamu tahun 2019. Selain menulis puisi, Kurnia juga menulis artikel, cerpen, penelitian dan lainnya. Tulisannya telah dimuat di buku tunggal dan buku antologi bersama, surat kabar, majalah, dan jurnal penelitian. Selain menulis kegiatannya adalah mengajar di SMP N 5 Pekalongan, aktif di MGMP Bahasa Indonesia Kota Pekalongan dan penggerak Komunitas Guru Belajar. Untuk silaturahmi lebih lanjut bisa di fb: Kurnia Kaha, Instagram: @kurniakaha, dan HP 081 390 516 166.


Caridah Hartati TAMU SENJAKU; CORONA

29.Caridah Hartati

TAMU SENJAKU; CORONA

Sekejap lalu dari langit kuterima kabar; Dihantar nanar angin getir penuh khawatir. Belum lagi kopi manis kunikmati lantis. Berpilin dengan dongeng Ibu meninabobokan kesibukan. Corona dengan pongah tengah berada di beranda. Mengetuk gerbang tanpa gamang. Tak ada jeda dan gencar. Bukan untuk masuk, namun memaksaku keluar. Menitipkan luka di kepala. Sebagai kandil agar suara Tuhan lebih lantang terdengar. "Tidak hanya pada sepertiga malam", bisiknya tartil.

Beranjak pagi menemukan sepi. Kota kehilangan matahari. Malam tanpa dentuman. Sebab hening berarak di jalanan. Kecuali, di balik pintu-pintu. Lirih menyeduh kecemasan. Mengaduk derita. Memamah luka. Melarutkan segala duka. Berebut mencari cahaya justru saat membawa lentera. Berjejal spekulasi suci sekadar melegalisasi gengsi.

Siapa yang dapat melihat salah di sini? Usah menunggu dijauhi mimpi. Jika nanti saat terjaga memilih tak mendapati dipara mata rusa.
Bekasi, 24 Maret 2020






ICHABadmom*
Caridah Hartati<caridahhartati@gmail.com>

Selasa, 24 Maret 2020

MUHAMMAD JAYADI DI MASA GENTING CORONA INI

MUHAMMAD JAYADI

DI MASA GENTING CORONA INI

Rupa-rupa sore menjelang malam
Sunyi masih mengaduk kampung kami, menepuk pundak kami
Kesadaran hidup sehat masih digalakkan
Demi keselamatan, karena hidup mesti berjalan

Wabah-wabah yang datang telah merubah wajah negeri menjadi muram, suram
Namun tak henti kita panjatkan doa dan berusaha keluar dari ngerinya keadaan
Meminta jalan terbaik di sisi Tuhan
Dan yakin, badai pasti berlalu, pasti berlalu.

Halong 24 Maret 2020
BISIKKU PADA SI CORONA

Tolonglah engkau pergi, hei Corona
Kami ingin hidup damai sejahtera melalui hari
karenamu
Risau kemarau hati menjadi lebih panas lagi
Tangis-tangis menghujani bumi, akibat ulahmu ini
Ayolah, pergi dari tempat kami di bumi ini, hei Corona

Waktu kami terbuang hanya mengurusimu saja
Sedang kehidupan kami mesti berjalan sebagaimana adanya
Mencari nafkah kehidupan
Tempat-tempat ibadah kami tertutup dari segala puja-puji kepada-Nya
Akibat ulahmu juga, hei Corona

Lama aku bermenung, memanjat doa pada Ilahi
Ampuni kami, ya Allah
Tolong jauhkan bala' yang menghantam penjuru bumi ini
Dengan kuat kuasa-Mu menjaga jiwa raga kami yang lemah ini. Aamiin.

Halong 24 Maret 2020



LALU MALAM DATANG

Menemui jejak bulan
yang lama mengendap di jiwa
seiring keadaan wabah-wabah datang membuat ribut dunia

Membuka jalan ini dengan semangat
keluar dari keterpurukan nan hitam yang menggerogoti keadaan
kita, manusia lemah ini berharap pada Tuhan
berusaha juga lepas bebas dari cengkeraman virus-virus mematikan
mengikuti saran-saran pemerintah, melawan Corona
hingga tumbang dari bumi ini, lenyap dalam riwayat tak hina.

Halong 24 Maret 2020

Muhammad Jayadi lahir di Galumbang kecamatan Juai, Kab. Balangan Kalsel pada 19 Juli 1986. Menyukai sastra dan puisi sejak SMP. Bermula dari ikut lomba baca puisi, kecintaan kepada sastra tumbuh begitu saja hingga kini. Kini menetap di Halong, kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan.



Suyitno Ethexs SATU DEPA

Suyitno Ethexs

SATU DEPA

jangan mendekat dulu
:ukur setidaknya satu depa
biar virus itu
tak meraja

:tapi
tak tapi tapian
kita harus mengikuti
anjuran

kalau kau nekat
kau sendiri kena akibat
jangan ngenyel merasa kuat
sebelum terlambat

2020

PAGEBLUK KORONA

kata orang-orang di warung
--sambil nyeruput kopi
negara kita kena baglebuk

apa itu bagebluk
mbah gono bercerita
yang pernah terjadi suatu masa
waktu dimana belum ada berita
yang cepat menyebar begitu saja

dulu sebelum ada listrik
apalagi internet segala
bila malam gelap gulita
bagebluk datang cari masa

warga resah gelisah
--ah cerita mbah gono menakutkan
kok hampir mirip dengan
virus corona

2020



Mim A Mursyid, CORONA, YA TUHAN...

26.Mim A Mursyid,

CORONA, YA TUHAN...

Heboh!
Corona tiba-tiba
Dunia geger seketika
Manusia menjalani takdir tergesa
Ratusan orang hilang nyawa,
Ribuan sisanya dada-dada kosong tanpa jiwa
Kepanikan maha perkasa.

Corona menyerang semuanya;
Kesehatan, kesadaran, hingga kewarasan
Orang-orang memborong kebutuhan pokok
Merayakan kepanikan
Harga masker naik, harga kemanusiaan jatuh
Hoax bertebaran, bau bangkai kedewasaan
Busuk menyengat hingga perasaan

Corona benar-benar menghantam karang-karang di dada
Yang bercokol, mengeras telah bertahun lamanya
Dada busung kita dihempasnya
Keras kepala kita dijambaknya
Tatap pongah kita diludahi
Bahkan kelamin dikebiri;
Tak ada kejantanan lagi
Ambruklah keangkuhan yang selama ini diusahakan.
Malu-malu aku menyapa-Mu

Tuhan,
Ya Tuhan...

Madura, 23 Maret 2020

Mim A Mursyid, santri pecinta seni asal pulau Sapudi, Sumenep. Hingga saat ini masih tinggal di Madura, kampung halamannya. Kesibukan sehari-hari selain mengajar sebagai guru honorer, ia menulis puisi dan merawat tanaman cabai di pekarangan belakang rumahnya sepenuh hati. Bisa disapa di FB: Mim A Mursyid.

Heru Mugiarso DEWI CORONA

25.Heru Mugiarso

DEWI CORONA


Dewi corona menari mengayunkan sampurnya
Siapa yang bakal terjerat dan kasmaran
Lalu menggigil memohon cinta
Dalam ampunan ajal juga kecemasan berkelindan

Di panggung orangorang menyeru
Sambil mengenakan topeng kepalsuan
Dosa masih saja dipilah dan dipilih dari rasa ragu
Tersumpal di sela gumam kematian

Dewi corona terus menari dengan pesona
Membidik lelaki yang jatuh hati dan terkesima
Orangorang terus menyimpan demam sambil menghiba
Tersaruk dan terpuruk ke sudut dunia paling lara.

2020

KOTA MATI

Pasca lockdown

Sebuah kota mendadak mati
Apakah detak jantungnya berhenti
Apakah rabunya enggan mengembang
Atau selsel otaknya malas menari?

Tapi kota hanyalah struktur paranoia
Ketika gerbangnya dijaga para hantu
Malam bertugur siang terjaga
Pada debar senarai kematian yang ditunggu.
2020
JANTUNG JOGYA

Pageblug Covid -19

Apakah Jantung Jogya berhenti berdenyut
Ketika debarnya kaubaca sebagai romansa percintaan
Antara para pelancong, penjaja nasib dan puisi elegi
Yang dinyanyikan para pengamen jalanan?


Senja adalah nostalgi
Tertulis pada ribuan tilas jejak kaki
Tapi tidak pada saat kini
Ketika udara bertuba tibatiba berubah jadi buruk mimpi


Apakah sesuatu yang viral ketika nafas mendadak tersengal?
Dan di jantung Jogya yang sibuk kau cari pada halaman peta itu
 Seolah meramal ada yang harus hilang dan terpenggal
2020

TUBUH YANG TERKUNCI

Lockdown! lockdown!.Engkau berteriak sambil mengunci
dirimu ketika jam acuh tak acuh dan pintu diketuk dari luar.

Spada, seru seseorang dari luar pintu sebelum gegar
cahaya dan tingkap membujukmu agar membuang anak kunci
ke lubang closed itu

Entah pada kemiringan berapa derajat
otakmu mulai tak beres. Ia memaksa mulutmu untuk menyanyi lagu reliji
yang mengamanatkan pesan kiamat sudah dekat.

Lockdown matamu
          .lockdown hidungmu
                          .lockdown telingamu
                                         lockdown kelaminmu.
Biarlah semua terkunci. Biarlah semua kembali pulang
ke alamat cangkangnya sendiri
setelah sekian abad berkeliaran di jalanan
dan mengaku- ngaku sebagai tuhan.
 “Bukankah orang lain adalah neraka, Tuan Sartre?”
2020.

Heru Mugiarso, lahir di Purwodadi Grobogan, 2 Juni 1961. Menulis puisi sejak masih duduk di bangku SMP.  Karya-karya berupa puisi, esai dan cerpen serta artikel di muat di berbagai media lokal dan nasional.Antologi puisi tunggal yang telah terbit : Tilas Waktu  (2011) dan Lelaki Pemanggul Puisi (2017). Novelnya bertajuk  Menjemput Fatamorgana terbit  tahun 2018. Kumpulan esainya berjudul Wacana Sastra Paragraf Budaya  ( Leutikprio , 2019)Sekitar delapan  puluhan judul buku  memuat karya-karyanya.Penghargaan yang diperoleh adalah Komunitas Sastra Indonesia Award 2003 sebagai penyair terbaik tahun 2003 Namanya tercantum dalam buku Apa dan Siapa Penyair Indonesia (2017.)Sebagai nara sumber acara sastra pada program Bianglala sastra Semarang TV.  ,Sehari-hari bekerja sebagai dosen Universitas Negeri Semarang. Alamat rumah : Jl Bukit Kelapa Sawit IV/30-31 Perum Bukit Kencana Jaya Tembalang Semarang 50271 , email :  heruemge@gmail.com   no HP/WA 081325745254

Pensil Kajoe Virus Genit

24.Pensil Kajoe

Virus Genit

 Namamu indah,
terbayang cantik rupawan wajah seorang perempuan
dengan tubuh gemulai bak gitar spanyol

kubayangkan senyum mengembang di depanku
kupanggili namamu, Corona sayang
ya sayang
oh sayang
duhai sayang
Ah sayang, sayang
bayanganku rancu
aku keliru
aku malu

Corona bukan nama perempuan berdada bola
meski namanya kini mendunia
di televisi
di radio
di koran
di warung kopi
di angkringan
di pematang sawah
semua membahas corona
lalu ada yang berseloroh
"Jenengku ana neng konora?"

Corona, si virus genit yang sangat menggoda
orang-orang terpedaya
satu persatu jatuh bertekuk lutut
di kerling mata dan senyum nakalmu.
Tumiyang, 15032020

Pensil Kajoe, lahir dan dibesarkan di Banyumas, 27 Januari. Puisi serta cerpennya sudah bertebaran di berbagai koran di tanah air. Tulisan pertamanya berupa resensi buku: Remaja Doyan Nonton, Why Not? dimuat di Suara Merdeka tahun 2003, rubrik opini: Remaja Tanpa Narkoba (Radar Banyumas, 2004). Selain itu, laki-laki berkacamata minus ini telah membukukan tulisannya ke dalam 16 buku tunggal dan lebih dari 20 buku antologi bersama. Saat ini, Kang Pensil begitu sapaan akrabnya menjadi penulis rubrik Banyumasan di Majalah Djaka Lodang, Yogyakarta.



Hasani Hamzah : MASKER DAN WAJAH KITA HARI INI

23.Hasani Hamzah :

MASKER DAN WAJAH KITA HARI INI

Adalah wajah kita hari ini, dengan mulut yang terkatup Seperti kelopak pintu tertutup
Dengan mata sayu, senyum yang getir dan bibir yang berlibur tanpa pelipur
Tangan - tangan enggan berjabat
Tuhuh - tubuh tak lagi mau dipeluk

Sejak virus covid -19 kita menghitung mundur
Empat belas hari lamanya
Para pekerja dan pengangguran sama saja
Berdiam diri dan bertanya - tanya
Kapan corona akan berlalu?
Padahal, saat kita membuka jendela dengan senyuman
Di sana di halaman buku pelajaran yang terlipat
Tumbuh lahan - lahan baru
Yang memberi harapan dan semangat
Para pekerja dan pengangguran
Akan sama - sama bekerja:
Ya! Bekerja jualan masker
Namun kesedihan dan rasa bahagia
Sangatlah wajar dan sudah menjadi bakat manusia
Karenanya tak usah kabur tak juga takabbur
Segalanya Tuhan yang mengatur

Adalah wajah kita hari ini, yang terbungkus karena virus
Murung dan bingung
Mengunci diri dalam rumah berkabut
Menunggu hari - hari yang cerah dan terbebas dari corona
Sumenep, 17/03/2020


Bangsaku Mencatat Tragedi Virus Corona

Aku tulis sajak ini, saat bangsaku mencatat tragedi
Di mana dunia membaca tentangnya
Tentang virus baru bernama corona yang mewabah
Dan membuat gundah

Sungguh tak pernah menduga sebelumnya
Dan kini orang - orang panik  dibuatnya
Sejak kali pertama di Wuhan
Lalu di negeriku sendiri
Pandemi ini tanpa kompromi membuat ngeri

Corona melejit dengan cepatnya
Corona bukan mobil mewah
Corona melaju tanpa roda

Di mana - mana
Dari kota - kota hingga desa - desa
Dari anak - anak hingga orang dewasa
Dari pejabat negara hingga rakyat jelata
Semua takut akan bahaya corona

Bagai hantu yang menjelma Tuhan------
Tuhan yang menjelma hantu
Corona merasuki jalan pikiran
Menggerogoti dan melumpuhkan sendi kehidupan
Orang - orang kalangkabutan
Saat bangsa ini diancam punah virus mematikan

Bagai keranda yang berjalan di atas pundak
Mengangkut satu persatu tanpa kehendak
Orang - orang berlari dan bersembunyi
Mengisolasi diri selama empat belas hari
Lalu merenung dalam kamar
Orang - orang tak berdaya
Sambil berdoa menurut keyakinan masing - masing
Berharap corona segera sirna
Dan kehidupan kembali berjalan normal

Saat bangsaku mencatat tragedi ini
Di mana dunia membaca tentangnya
Tentang virus yang mengancam seluruhnya
Corona menjadi pembelajaran sangat mahal
Bagi manusia untuk saling menjaga
Agar hidup tidak menjadi sia - sia

Sumenep, 16/03/2020






RINDU JALAN PULANG
(Saat Corona)

Telah lama mengelana
Jauh ke negeri sana

Tinggalkan sanak
Tinggalkan ternak

Saat dunia kini merana
Rindu pun merona

Kampungku membayang
Kususuri jalan pulang

Sumenep, 19/03/2020


Mohammad Mukarom: Abjad Corona

22.Mohammad Mukarom:

Abjad Corona

Cinta
diliburkan - bahkan masih bersemi bunga kuncup.
Onani seperti bahasa kegagalan.
 Rumah sakit semakin sakit.
Orang-orang sakit. Cinta gagal.
Onani begitu membosankan dijadikan pelampiasan.
Napas tersengal mencari jalan pulang paling nyaman.
Aduhai huru-hara wabah. Cinta yang sakit. Onani yang sakit. Napas yang sakit.
Ohhh....
Wonosobo | 2020










Mohammad Mukarom, penulis asal Gresik-Jatim. Membuahkan karya puisi, cerpen, dan esai. Telah menekuni dunia kepenulisan sejak 2015 dibawah asuhan Pak A’yat Kholili-Madura. Aktif di COMPETER (Community Pena Terbang) dan Kelas Puisi Bekasi yang digagas oleh Pak Budi Setiawan. Buku perdananya berjudul RIHLATULILLAH (Sekumpulan Kisah Inspiratif Hafidz Qur’an) telah terbit dan cetak 2018 lalu.Mari menjalin silaturrahim | WA : 085843131913. FB : Mohammad Mukarom

Asih Minanti Rahayu, Baiti Jannati

21.Asih Minanti Rahayu,

Baiti Jannati

Baiti Jannati,
Rumahku surgaku,
Tempat bernaung keluarga,
Anak, ayah dan Ibu,
Tempat bercengkrama di dunia,
Dan pusat-pusat cahaya semesta,

Baiti Jannati,
Hari-hari ini,
Ramai berbondong-bondong,
Orang-orang kembali,
Pada baiti jannati,
Harap-harap surga,
Pada tali kasih keluarga,

Baiti Jannati,
Karena corona virus merajalela,
Kita berdiam di rumah saja,
Kita bak suluk bersama-sama,
Fokus di rumah dan ibadah semata,
Menjauhkan diri dari hiruk pikuk dunia,
Memperbanyak dzikir dan shalawat saja,
Menyambungkan hati pada Yang Kuasa,
Menyambungkan ruhani pada Nabi kita,

Kita berjihad fisabilillah,
Dalam kerangka baiti jannati,
Yang semula Duha di kantor,
hanya dua rakaat,
Di rumah bisa merasakan,
Syahdunya Duha 12 rakaat,

Yang semula shalat di kantor,
tergesa-gesa,
Kita di rumah,
lebih khusuk terasa...

Sedang murid-muridku,
Sedang berjuang dengan sapu,
dengan wajan di dapur,
dengan tanamannya,
dan dengan binatang peliharaannya,
Sesuai perintah Sang Guru,
dan Pendampingan Orang Tua selalu,

Dalam hidup selalu ada ruang,
Dan bumi Allah luas dimana-mana,
Tidak menyempitkan dada,

Oh, baiti jannati,
Suluk bersama-sama,
dengan keluarga dirumah saja,
Makan seadanya,
Menghentikan hura-hura,
Hening Cipta.

Catatan:
Suluk adalah tradisi Islam dalam aliran tarekat, biasanya berdiam di rumah untuk beribadah menjauhkan diri dari dunia.



Marlin Dinamikanto : Lelaki Tua yang Bertanya

20.Marlin Dinamikanto :
Lelaki Tua yang Bertanya
1/Rona Corona
Melepuh di setiap kota
Lumpuh
Tak ada daya

getir menggigit
Lelaki tua yang bertanya
Kepada dirinya
Adakah Corona
Membuatnya merana

Lelaki tua itu
Memang sebatang kara
Ada tak ada Corona
Hidupnya sudah merana

2/Trotoar terlihat asing
Lumpuh segala pikiran
Lelaki tua itu memandang
Kota yang hilang
Tidak menyisakan botol Aqua
Di karung rombeng miliknya

Rona Corona
Mewabah di pikirannya
Menginfeksi jiwanya
Ketika botolbotol Aqua
Tak lagi didapatnya

Kota menjadi asing baginya
Pertanyaan yang tak terjawab
Adakah Corona
Bergegas membunuhnya
Depok, 18 Maret 2020

RINDU LESUNG PIPITMU

Lesung Pipitmu
Hilang dari stasiun kereta
Setelah Corona
Membungkam pandang
Setiaku menunggu di peron
Melihat gigimu yang putih
Menyembul bibir merah jambu
Tak ada lagi itu

Rona merah pipimu
Terbalut kain tebal
Ditambah kaca mata dan topi
Sungguh, kau seperti memedi
Tak lagi terlihat anggun
Dan membuatku tertegun

Engkau mungkin Corona itu
Terdengar merdu menakutkan
Saat kau bertanya jam berapa
Dari masker yang membalut
Wajah yang tak lagi indah
Menerkam bola mataku

Buang masker jingga itu
Aku rindu lesung pipitmu
Juga gigi putihmu
Di stasiun kereta itu
Depok, 18 Maret 2020





Siswo Nurwahyudi : (1) RASA BERSALAH TAK BERSALAH

19.Siswo Nurwahyudi :

 (1)
RASA BERSALAH TAK BERSALAH

nun di sana, penyair maya lantang berteriak
: hei..., sajak-sajakmu merah bergincu
itu penghianatan pada dunia yang berduka

aku di sini
memandangnya sepi
hatiku padam
pikiranku hitam

lubang pantatku berpuisi
bersiul nyaring pada dunia
: corona, i love you so much

Bojonegoro, 16/03/2020


(2)
TAK APA, SUMPAH

tak apa
sementara tak ada pesta
bagiku bukan bencana

kalaupun corona merebut semua pesta
juga tak apa, sumpah
bagiku, Tuhan boleh apa-apa semau-Nya

Bojonegoro, 16/03/2020



(3)
CORONA, I LOVE U

sejantan apa dirimu?
sebetina kelelakianku kah?
sungguh, aku mericintaimu
andai saja Tuhan sudi ijinkan
sedia aku bertukar tempat denganmu
atau kita bercumbu berdua
lalu, lahir berjuta anak-anak kita
berbiak lagi, bermiliar-miliar lagi
menghujam bagai peluru para serdadu
melumat segala jiwa yang kotor
ya, yang kotor-kotor saja
seperti berpesta di istana para raja
kita berdansa di atas bangkai mereka
kemudian melaporkan kerja kita pada-Nya
tak peduli surga bukan lagi milik kita
Bojonegoro, 20/03/2020








Siswo Nurwahyudi, Lahir: Bojonegoro, 01 Agustus 1965
Tinggal di Bojonegoro
Alamat: Sinar Merah blogspot.com
E-mail: siswo.nurwahyudi@gmail.com

Sugeng Joko Utomo : Pada Sunyi Kata

18.Sugeng Joko Utomo :

Pada Sunyi Kata

Tempat ibadah sepi
Sekolah sepi
Pasar sepi
Mall sepi
Terminal sepi
Kemana mereka
Takut corona?

Rapat kantor ditiadakan
Transaksi fisik bank ditiadakan
Pesiar dibatalkan
Kongkow-kongkow dibubarkan
Masker dikenakan
Sanitizer dihamburkan
Kenapa semua
Takut corona?

Mari tinggal di rumah
Seraya khusu' ibadah
Bertakdzim pada Allah
Sumber segala berkah
Corona itu isyarat
Agar kita lekas bertaubat
Memohon penuh khidmat
Agar Dia melimpahkan berkat

Tak perlu saling mengolok
Tak elok saling memojok
Kita hadapi bersama
Bergandeng tangan sepenuh jiwa
Mumpung masih diberi kesempatan
Bertemu jalan kebenaran

Demikian sabda Tuhan
Dalam jernih pikir kita sarikan
Lantas diwartakan
Menebar kebajikan
Lupakan hiruk-pikuk dunia
Dalam sunyi memadahkan puji-puja
Berpasrah diri pada Yang Kuasa


Tasikmalaya, 18 Maret 2020

Anisah Virus Corona

17.Anisah

Virus Corona

Seorang wanita membawa suaminya
Dari rumah sakit satu ke remah sakit lain
Tapi
Semua menolaknya
Di rumah sakit banyak pasien bergelimpangan
Tak ada yang mengurus
Pedih melihat itu
Walau di negeri lain
Tapi
Imereka juga makhluk Allah
Jangan engkau makan kelelawar, tikus dan ular
Itu sumber virus corona
Hindari semaksimalmungkin
Makanlah gurami, tawes, ayam, sapi
Itul
lebih
menyehatkan
dan
halal

Magelang, Maret 2020











Pembelajaran Online

Virus corona  menjadikan siswa diliburkan
Atau belajar di rumah
Guru di sekolah menyiapkan materi
yang akan diupload
Guru serentak menyiapkan materi
Aneka jenis materi disiapkan
Agar siswa paham dan mengerti
Di pagi ini
Masih ada 22 siswa dari 36 siswa yang belum membuka HP-nya
Itu menjadi PR buat guru tuk menindaklanjutinya
Semoga Corona segera reda
Dan siswa bisa ke sekolah lagi

Magelang, Maret 2020


CUCI TANGAN

Selesai fingerprint cuci tangan
Selesai belanja cuci tangan
Habis pegang uang cuci tangan
Sembarang pegang cuci tangan
Bersalaman?
Libur
Cukup
Sembah kalbu
Dag dag
Adu sikut
Itulah akibat corona
Semua serba takut
Tuk beracengkerama seperti biasa
Dekat-dekat takut
Magelang, Maret 2020

Sulistyo : CORONA

16.Sulistyo :

CORONA
Dunia sekarat
Dihajar virus laknat!!

Jakarta,  07.03.2020

PANIC BUYING
Takut kelaparan
berebut memborong makanan
Takut mati karena perut tidak diisi nasi

Virus mematikan menjadi momok menakutkan
Mengusik manusia-manusia yang takut kelaparan
Memenuhi keranjang belanjaan dengan berbagai jenis makanan

Apakah kalau perutmu kenyang pasti dijamin aman dari kematian?
Apakah kalau semua jenis makanan memenuhi lemari penyimpanan kau tak akan luput dari ajal?

Corona mentertawakan kita
Menganggap nyawa ada di tangannya
Corona hilir mudik mencari mangsa
Menerkam siapapun tak perduli siapa
Tak juga kalian yang memborong berkarung makanan karena takut kelaparan

Corona bangga dan menepuk dada
Melihat kita ketakutan kehilangan nyawa!

Jakarta,  03.03.2020


MASKER
    (kepada corona)

Aku tak habis pikir
Kenapa masker mendadak menyingkir
Padahal kemarin di etalase masih terparkir

Penjual masker mematok harga tinggi
Nurani mati terkubur materi
Corona datang masker menghilang

Corona makin Gelap mata
Menantang kepongahan manusia
Merobek dunia merenggut nyawa

Masker menjadi lebih berharga dari segenggam permata
Hingga tak lagi teronggok di etalase kaca
Dia tersembunyi menghuni brankas berlapis baja

Jakarta,  29.02.2020

Sudarmono : Jejak Mu Corona

15.Sudarmono :

Jejak Mu Corona

Virus itu melegenda
menjadi kehampaan manusia
menabur dirinya sendiri
pada nafsu segala nafasnya
untuk menguasai duniawi
melupakan Sang Pencipta

Virus itu mewabah
pada lekuk hati yang gundah
goyangkan iman hingga resah
sebab perang negara adu kuasa
membayang di pelupuk mata
mengguncang perekonomian dunia

Hilanglah panik segala panik
kabur bersama mereka yang unik
corona covid 19 adalah belantara etnik
mengunggah viral di tubir media sosial
kesombongan manusia yang tak sesal
bercermin pada dirinya sendiri
dan mampus itu rahasia Illahi

Tambun Utara, 16 Maret 2020

Dhea Lingkar : Indahnya Kebesaran-Mu

14.Dhea Lingkar :

Indahnya Kebesaran-Mu

Kebesaran-MU membuat kami tersadar akan kekuasaan-MU
Corona mengaum....
Corona menjerit ke seluruh penjuru dunia
Wahai Pencipta Alam...
Kekaguman sulit untuk kami pendam
Dari pagi hingga malam
Pesonanya tak pernah padam
Corona bagaikan desiran angin yang menusuk jiwa raga kami...
Hanya sedikit...
Ya...Sedikit tergores kau hempaskan...
Dengan sekajap mata kau jadikan menghilang satu persatu
Hingga ribuan
Inilah...
Keserakahan manusia yang selalu menyombongkan dirinya..
Manusia licik berterbangan mencari hakikat dan keegoisan hidup...
Tapi sayang...
Mereka lupa
Engakaulah Sang Pencipta segala nya tanpa susah payah
Corona teguran kecil yang kau beri
Agar kami tsenantiasa bertaubat dan berserah diri
Hanya pada-MU
Pemilik semesta Alam
Surabaya,15 Maret 2020




Aditya Mahdi F : 3-4-5

13.Aditya Mahdi F :

3-4-5

Disuatu tempat yang tak dapat dijangkau oleh mata kasat
Selang beberapa waktu setelah tahun kabisat
Terdapat beberapa mikroorganisme sedang bercengkrama dalam senyap dan gelap
Membicarakan virus baru yang sedang melesat

Icd 10 A98 menyatakan perasaan dengki terhadap virus ini
Saudara nya A91 dan A90 mendengarkan secara hati-hati
A98 mengatakan ia lebih mematikan daripada pemain baru ini
Ia juga mengakui bahwa dirinyalah yang patut untuk ditakuti

A91 tak mau tunduk
Ia mengatakan bahwa dirinyalah yang paling terkutuk
Tak terhitung berapa homo sapiens yang nyawanya ia buat di ujung tanduk
Ia menyatakannya tanpa ada rasa takut

Saudara kembarnya, A90 juga tak mau kalah
Ia mendebat keduanya, akulah yang terparah
Sudah berapa nyawa yang ia buat menyerah
Dan ia hanya mengandalkan aliran darah tanpa mengenal daerah

Namun, ke 3 bersaudara ini menyatakan gagasan yang sama.
Virus baru covid-19 tak ubahnya dengan mereka.
Tak lebih baik dari mereka.
Tapi mengapa, namanya melanglang buana senatero dunia.

Covid-19 mendengarkan
Berkata dalam hati memelas bahwa itu tak perlu dipamerkan
Ia tak sanggup hidup walau hanya sepekan
Tapi ia juga sadar dirinya berteman dengan kematian

Mereka ber 4 sadar ada 1 virus lagi yang sangat mematikan
Ia menyebabkan hal yang lebih buruk ketimbang kematian
Ia meruntuhkan harmoni, cinta, dan kebersamaan
Mereka mengenalnya sebagai virus kebencian.

Depok, 14 Maret 2020: 3

Yublina Fay : Siapakah Kamu?

12.Yublina Fay :

Siapakah Kamu?

Caramu menyebar laksana
Ombak mnerjang karang
Runtuhkan iman di dada
Orang-orang beriman
Naluri keyakinan menghilang bagai
Angin lalu tak berjejak

Corona sapaanmu di telinga
Orang-orang gemetaran mendengar namamu
Resah dan gelisah mulai menafsirkan segala laku
Orang-orang yang takut pada kematian sebelum kematian datang
Nafas akan terasa sesak meski kau belum juga menyerang
Akankah kau terus menyeramkan dan menakutkan seperti sekarang ini?

Cobalah sudahi semua ini
Otoritasmu tak lagi bertujuan
Runtuhkan kepanikan yang sedang merajai
Oh… corona
Namamu saja menggetarkan seluruh negeri
Akankan kau terus menjajah tubuh-tubuh tak berdaya ini?

Corona
Otakmu sungguh tak lagi terjamah
Ruas jarakmu telah memisahkan raga meski berdekatan
Oh corona…
Nyatakan keakrabanmu pada lembaran usang kehidupan ini
Agar kekejamanmu usai sudah digiring waktu



Sebab Ceritamu telah merenggut rasa percaya diri aku, dia dan mereka
Ocehanmu telah memekakan telinga aku, dia dan mereka
Rayumu juga telah menjerumuskan aku, dia dan mereka
Oleh hadirmu aku, dia dan mereka menjadi paranoid
‘Nyahlah kau dari kebisingan dan hingar bingar kehidupan ini
Aku, dia dan mereka yakin, kau hanya hama di musim sepi ini

Rinhat, 15 Maret 2020

Rg Bagus Warsono 14 hari bersama corona

11.Rg Bagus Warsono

14 hari bersama corona

dirumah sepi
serumah tapi bersembunyi
dalam siang
ketika malam tidur
corona menari

14 hari bersama corona
di rumah sepi
kaukah itu
memanggil mengajak
membuka pintu
gelas panas air berasap
corona menikmati

Dikesunyian hari hari di 14 hari
corona menemani
teman bukan kekasih
bukan kekasih tapi mau tidur bersama
telanjang dalam kesepian
corona
dalam hari yang menggila
siang dan malam sama saja
apa maumu?
sambil mengusung dada
besar
yang ditempelkan didadaku
jangan
jangan hari ini
14 hari masih ada waktu.

indramayu, 20 maret 2014

Muhammad Lefand : Guru dan Corona

10.Muhammad Lefand :

Guru dan Corona


Musim masih penghujan
Libur belum waktunya
Masih menunggu lebaran
Dan ujian sekolah tiba
Namun tanggal 16 sampai
29 maret 2020 libur
Tak ada keramaian
Guru di sekolah kesepian
Katanya corona mengancam
Mencekam semua kota

Guru dan corona
Seperti pasangan mesra
Guru kadang disalahkan
Persis seperti corona
Bedanya, corona lebih
Didengarkan daripada
Seorang guru yang bicara
Sungguh aku iri pada corona
Karena tak ada yang berani
Kepadanya, meski ksatria perkasa
Jember, 2020









MASA DEPAN KORONA DI KOTA-KOTA

Masa depan korona di kota-kota
Sebagai artis virus yang naik daun
Seorang atau dua orang terkena
Heboh di mana-mana tanpa ampun

Akulah corona dari negeri Wuhan
Awalnya hanya virus pada kelelawar
Di pasar kumuh aku menularkan
Kepada manusia tanpa bisa ditawar

Sekarang tak ada kota yang tak tertekan
Aku sangat terkenal di seluruh dunia
Tiap negara saling melarang kunjungan
Aku tetap menular dengan semestinya

Jember, 2020

CORONA

Corona mengaum
Orang-orang besar ketakutan
Orang-orang kecil tetap bekerja
Yang mecak tetap mecak
Yang ngojek tetap ngojek
Yang ngamen tetap ngamen
Yang nyayur tetap nyayur
Yang nguli tetap nguli
Di pasar tetap riuh tapi tidak di pasar Wuhan
Di desa tetap santai tapi tidak di kota besar
Yang bertani tetap bertani
Yang membajak tetap membajak
Yang manen tetap manen
Yang ngarit tetap ngarit
Yang nyangkul tetap nyangkul

Aditya Mahdi F: Hai

9.Aditya Mahdi F:

Hai

Kepada seluruh mahkluk
Izinkan aku mengenalkan diriku yang terkutuk
Dengan rasa hormat yang buruk
Inilah aku, sang penakluk yang teruk

Corona
Aku tercipta dari tangan-tangan manusia
Tanpa adanya sosok ayah dan bunda
Tapi memiliki banyak saudara senyawa

Ketika musibah menimpa di suatu kota
Lalu muruah mereka berubah menjadi wabah
Dari ujung langit hingga dasar lembah
Tanpa peduli apa yang mereka sembah

Aku mengalir bebas dengan seleksi alam
Menjadi pemisah takdir, keras dan kejam
Perjalananku menjadi kisah kelam
Dari pagi hingga datangnya malam

Hai, manusia
Sejatinya aku tercipta oleh mereka
Tanpa rasa dengan asa
Dengan masa hingga nanti binasa

Aku kecil, satukan semua yang ada !
Politik, ekonomi, sosial, dan budaya.
Kurasuki mereka semua !
Tanpa mengenal suku, ras, dan agama.

tanpa akal pun aku bisa mengguncang dunia dan sejatinya aku diciptakan oleh akal
Tidak kekal, apalagi mulia, ku berjalan hingga mereka semua kesal
Wihara, candi, katedral, maupun istiklal
Aku tak terbendung dengan hal mistikal

Atas kuasa tuhan dan seleksi alam
Perjalananku akan kulanjutkan
Eksistensi ku akan sedikit bertahan
Dan ini dimulai dari kota Wuhan

Sekali lagi, hai kawan-kawan
Covid-19 siap melayani nyonya dan tuan
Selama tuhan mengizinkan
Aku akan terus berjalan

Depok, 20 Maret 2020

Irna Ernawati : Ku Halang Kau Menghadang

8.Irna Ernawati :

Ku Halang Kau Menghadang

Seperti abu tak tampak
Namun kala memdekat terperangkap
Bisakah menjauh sedikit saja
Agar dapat tenang walau sesingkat itu
Apalah daya ku halang kau tetap menghadang
Hingga lumpuh negriku karena kau
Kita sama sama ciptaan tuhan
Mengapa begitu kejam
Niatmu apa balas dendam
Lantas aku harus apa
Bersujud pada mu mohon ampun
Tapi kau makhluk tuhan
Liahtlah negriku
Membisu bahkan mati karenamu
Tapi kembali lagi pada diri ini
Yang lengah dan terlena
Tak pantas menyalahkan sesama ciptaannya
Anggap saja sapaan sang pencipta
Agar sama sama tak lupa akan dosa

Roymon Lemosol : Ketika Corona Datang

7.Roymon Lemosol :

Ketika Corona Datang

corona datang
kucuci tangan
segera sesudah makan
hal yang tak pernah kulakukan
sepanjang perjalanan kehidupan

corona datang
dipaksanya aku blusukan
ke sekolahan
kantor-kantor pemerintahan
dan rumah-rumah peribadahan

tak dapat kusangkal
betapa corona telah mengubah tatanan kehidupan
dari kebersaman jadi kesendirian
keramaian jadi kesunyian
persekutuan jadi perseteruan
dari berjabat tangan ketika salam-salaman
jadi sikut-sikutan
bahkan tak jarang sepak-sepakan

corona
agen pembawa perubahan
begitulah terpaksa aku menyebutnya

Ambon, 21 Maret 2020





7.Roymon Lemosol, kelahiran Lumoli, Kabupaten Seram Bagian Barat, Maluku, 24 Agustus 1971. Puisi-puisinya pernah terbuplikasi di halaman sejumlah media cetak lokal maupun nasional, antara lain Majalah Fuly, Asau, Lombok Post, Suara NTB, Banjarmasin Post, Riau Post, Koran Seputar Indonesia, Media Indonesia dll. Sebagian lagi termaktub dalam 45 buku antolgi bersama. Puisinya yang berjudul “Pulang” meraih Anugerah Puisi Pilihan, Gerakan Akbar 1000 Guru Asean Menulis Puisi 2018. Buku kumpulan puisinya, Sebilah Luka Dari Negeri Malam (Akar Hujan, 2015), Jejak Cinta Di Negeri Raja-raja (Teras Budaya, 2019). Roymon dapat dihubungi melali HP/WA: 085243130770 e-mail pazaluei@yahoo.co.id

Asep Muhlis : Dari Corona Atawa Mahkota

6.Asep Muhlis :

Dari Corona Atawa Mahkota


Andai suatu saat tak dapat berjabat tangan
ketahuilah, aku telah lebih dulu
menjabat lirikan dan senyummu

Dan kerlingmu menggelayut
kadang berkepak, kadang menukik
berkelindan di dada dan ingatan
aku bertahan dalam kepayahan
yang kusesap tak bersudah

Walau suatu saat tak dapat menggam tanganku
bukankah kita telah saling menggenggam rindu
dengan sangat hati-hati
agar tak retak selamanya

Maafkan aku,
dulu sering tak lekas cuci muka,
setiap usai bertandang ke rumahmu
lantaran takut bayang wajahmu
hanyut oleh air bermuatan nafsu
maka biarlah mengendap
bersama garam susah-payahku

Tak perlu aneh, kini orang-orang
memberi nama badai, jasad renik jahat,
atau penyakit dengan nama yang indah
lebih puitis dari penyair
mungkin karena kini
penyair kurang doyan bahasa bunga


Entahlah, mari kita rajin mencuci tangan
agar tak ada selera untuk mengutip
berkumur untuk tak terpapar kenyinyiran
membasuh muka dari memandang yang tak senonoh

Serupa mahkota bunga yang ditopang kelopak
kau adalah keindahan
dan aku harus sanggup melindungi

Serang, 13 Maret 2020


Ninja Ngantor

Senin dini hari, gigil menyergap
di depan meja penerima tamu, dua orang petugas
menyergap setiap pegawai yang datang
menodongkan alat pengukur suhu tubuh
sinar merah berkedip di jidat.
Beruntung, alat pencatat kehadiran elektronik
dengan mendekatkan retina mata dan wajah,
andai harus menempelkan sidik jari
boleh jadi akan pada menghindar, menjauh,
layaknya bertemu orang berpenyakit kudis

Kesibukan menyergap, semua jadwal berubah
kegiatan baru lebih deras, lebih cepat
dengan resiko sulit diduga
blangko teknik tersaji, masih kosong
kerentanan bagai mengusir gerombolan lebah
ini hari pertama maklumat diberlakukan
kalender saat itu menunjukan 16 Maret 2020.
Entah hari beku, entah hari  mendidih, entah hari limbung
pase baru yang belum dialami sebelumnya

Dikeluarkan botol antiseptik
masker diwajah belum dibuka
hidup serupa bajingan
selalu siap senjata dan penutup wajah.

Batuk ditakuti, bersin ditakuti,
tombol lift dicurigai, tarikan pintu dicurigai,
kran air diwaspadai, pipa pegangan di selasar diprasagkai.
Layaknya pasangan yang telah tersakiti
semua prilaku dan bahasa tubuh dicurigai
bahkan semua benda diwaspadai.
hidup yang aneh telah dimulai
menjadi intelejen dadakan, tanpa analisa.

 (Oh..bukan, bukan begitu,
kehati-hatian yang ketat memang begitu konsekwensinya)

Pikiran terus berlari, membayangkan keadaan di luar kantor
mungkin bangku taman akan dicurigai,
kursi tunggu diwaspadai,

peralatan makan di restoran ditakuti, kursi bioskop ditakuti
virus corona yang sangat kecil dan tak terlihat
lebih menakutkan dari gendoruwo yg konon raksasa

Kepanikan yang serius
membuat logika tak jalan,
keakraban rontok, keyakinan terlupakan.
Lantas, dilihat lagi botol hand sanitizer
diraba lagi masker di wajah
kalender di atas meja nampak lesu.

(Di sisi lain pikiran menjadi jinak dan lindap ;
"mari kita junjung kehati-hatian,
hanya pengorbanan kecil, berupa menahan diri" )

Sejurus kemudian, ada iri yang mendadak terbit
melihat seseorang  sering mendatangi kran air
berwudhu dengan seksama
mampu menyisihkan dua rakaat ke dua rakaat
sebelum kerja, pada jam kerja, bahkan pada hening malam
ia nampak begitu tenang, anteng
melakukan yang disukainya.
Ia selalu menyempurnakan wudhunya
memelihara wudhu dari waktu ke waktu
dari kegiatan ke kegiatan

Ternyata air tidak hanya memadamkan api
tapi mampu memadamkan kobaran gelisah
dan kecemasan
Ialah air ajaib yang diberkati
Serang, 17 Maret 2020

Keterangan ;
anteng=(Bahasa Daerah; Sunda) = tenang, asik
antiseptik=(Inggris ; antiseptic ) ; senyawa kimia yang digunakan untuyk membunuh atau menghambat pertumbuhan mikroorganisma pada jaringan yang hidup, seperti pada kulit, rongga mulut
hand sanitizer =pembersih tangan, cairan atau pasta yang umumnya untuk mengurangi zat/jasad renik penyebab penyakit




Asep Muhlis, lahir di Ciamis- Jawa Barat, 21 Januari 1963
Pernah belajar di IKIP Bandung
Tinggal di Kota Serang – Banten
Puisinya dimuat dalam ;
Antologi puisi bersama MENYERUAK, penerbit D3M Kail, Jakarta, 2018
Antologi puisi bersama DARI NEGERI BAHARI , penerbit Kosa Kata Kita (KKK), Jakarta, 2018
Antologi puisi bersama CINTAMU KUJAGA, penerbit D3M Kail, Jakarta, 2018
Antologi puisi bersama REMAH RINDU, penerbit D3M Kail, Jakarta, 2019
Kumpulan Pentigraf WANITA GURU BANGSA, penerbit D3M Kail, Jakarta 2019
Antologi puisi bersama KOMANDAN, penerbit D3M Kail, Jakarta, 2019
Antologi puisi bersama NEGERI PENYAIR, Forum Silaturahmi Penyair Lintas Daerah Nusantara, Jogjakarta, 2019
Antologi Puisi Gila Penyair Indonesia WONG KENTHIR, Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia Edisi Spesial, penerbit Penebar Media Utama, Yogyakarta, 2020

Arif Abdil Bar, : Aku , Kau & Corona

5.Arif Abdil Bar, :

Aku , Kau & Corona


Jalani hari di dalam
Seakan selalu malam
Membuat hati terbenam
Sosokmu kian temaram
Akibat Corona yang mencekam

Namun aku menyadari itu hanya awan hitam
Namun aku menyadari kau terasa kelam
Akibat Corona yang mencekam

Tapi senyummu tetap tajam
Bersinar bak bohlam
Disana aku bersemayam
Kau usir Corona dan semacam
Ahirnya ku katakan pada Corona, wassalam,
Padamu welcome...

Probolinggo, 21/03/2020

Maya Ofifa Kristianti : Mestinya malam ini

4.Maya Ofifa Kristianti :

Mestinya malam ini


Mestinya malam ini
Aku mengunjungimu
Di bumi mina tani, bukit gunung wungkal, di rumahmu yang kini

Mestinya malam ini
Ku tabur mawar di peraduanmu
Ku lafadzkan ayat alquran
Ku senandungkan dzikir
Ku peluk nisanmu, sambil mengenang masa dulu

Papa, negeri kita sedang terkena bencana
Ada virus baru yang bernama corona, yang bisa menyerang siapa saja, tanpa pilih nama

Maafkan papa
Kami tak bisa ke mana
Bukan karena kami takut corona
Tetapi lebih karena waspada

Mestinya malam ini
Aku mengunjungimu, tidak lewat online seperti yang pemerintah mau.


Maya Ofifa, Ibu rumah tangga
Senang membaca puisi. Dari semarang.


.Sutarso : Protes di Darurat Corona

3.Sutarso :

Protes di Darurat Corona


"Daripada panik,
 tidak lebih baik piknik
 dengan
 bermungkinmungkin
 mesti kemungkinannya
 jauh dari mungkin?
 Bukankah mungkin
 dan tidak mungkin
 punya nasibnya
 masing masing, diriku?
 Mungkin juga, yang di
 bawah ini mungkin:
 Mungkin,
 kita pernah bilang, 'Dia
 tidak tidur' tapi kita
 kucingkucingan di
 hadapan-Nya?
 Mungkin,
 kita pernah bersumpah
 'pantang ngadali teman
 padahal menipu teman jadi
 komoditi andalan?
 Mungkin,
 kita pandai teriakkan hidup
 bersih, kedodoran di
 perilaku bersih.
 Mungkin,
 kita ingin sehat tapi pola
 hidup kita tidak sehat.
 Mungkin,  kita suka
 menasehati
 tapi tidak suka dinasehati.
 Mungkin,
 kita pernah mengaku sakit
 tapi tidak berpenyakit.
 Mungkin,
 kita bilang 'enak
 tinggal di  rumah sendiri'
 nyatanya betah
 di penginapan mewah.
 Mungkin,
 anak kita belajarnya
 garuk kepala terus
 tapi harus
 nilai raportnya bagus.
 Mungkin,
 ada di antara kita
 yang bicara keras hubungan antar lawan jenis mesti ada batas
dia sendiri di luar batas?
Sausapor, 14 Maret 2020


M. Muchdlorul Faroh : Dipaksa Libur

2.M. Muchdlorul Faroh :

Dipaksa Libur


dilihat sekilas kau nampak garam
pemerintahpun kau buat
ketar ketir ketakutan
wabahmu sempat getarkan dunia
sekolah sekolahpun ikut jadi dampak
kau paksa kami berpisah dengan guru
kau buat jeda antara aku dan teman bertemu
dan harus menunggu selama 2 pekan
tuk melebur rindu
pagiku sekarang hanyalah antara aku, jalan sepi, dan kopi yang mulai mendingin
sudah tak ada lagi teman yang membuat riuh
tak ada lagi guru yang bersenandung lama
dan tak ada lagi papan tulis yang belepotan oleh tinta
darimu aku harus berpisah dengan sekolah
dan dipaksa libur tuk ngangsu kaweruh

Supianoor : Semua Siaga Semua Berjaga

1. Supianoor :

Semua Siaga Semua Berjaga

Bermula di Wuhan negerinya tirai bambu
Ratusan bahkan ribuan orang tergelapar tak sadarkan diri
Suhu badan meningkat bahkan banyak  yang wafat
Kemudian menyebar dan beterbangan ke penuru dunia
Eropa,asia,aprika tak luput dari serangannya
Tak terkecuali nusantara kita Indonesia tercinta

Semua rakyat siaga
Dari Presiden hingga rakyat jelata
Mulai istana hingga emper rumahan
Mereka diskusi  tentang wabah yang satu ini
Dari Jakarta hingga pelosok negeri
Semua siaga semua beraga
Dengan peralatan dengan gaya kehidupan
Tanah Bumbu, Maret 2019





1.Supianoor dilahirkan di Kusan Hulu, sebuah kecamatan yang berada di pelosok Kalimantan Selatan pada tanggal 1 Juli 1969. Puisi-puisinya terdapat dalam antologi bersama Buitenzorg Bogor Dalam Puisi Penyair Nusantara (2017), Berbagi Kebahagiaan (2019), Surak Sumampai (2019)Sekarang bertugas sebagai Kepala SMPN 4 Kusan Hulu. Bisa dihubungi di no Hp/WA 081348562835 atau E-mail smpn2kusanHulu@yahoo.com

Lumbung Puisi Mencatat Peristita Negeri ini yang terserang Corona melalui Antologi Puisi Karya Penyair Indonesia