Tampilkan postingan dengan label ADVENTORIAL. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ADVENTORIAL. Tampilkan semua postingan

Selasa, 25 Juni 2019

Tadarus Puisi III Berbagi kebahadiaan .

Tadarus Ramadhan III
1440 H
Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia
Berbagi Kebahagiaan







Penyair :

1.Firman Wally (Tahoku, Ambon)
2.Sugeng Joko Utomo (Tasikmalaya)
3.Zaeni Boli  (Flores)
4.Agustav Triono (Banyumas)
5.Agus Mursalin (Murtirejo)
6.Muhammad Lefand (Jember)
7.Pensil Kajoe (banyumas)
8.Gilang Teguh Pambudi (Jakarta)
9.Anisah (Magelang)
10.Dyah Setyawati (Tegal)
11. Winar Ramelan (Jakarta)
12. Bayu Ahi Anwari  (Semarang)
13. Wanto Tirta (Banyumas)
14.Sarwo Darmono  (Lumajang)
15. Heru Mugiarso (Semarang)
16. Siti Khodijah Nasution (Jakarta)
17.Suyitno Ethex (Mojokerto)
18.Syahriannur Khaidir (Cikarang)
19.Asro al Murthawy (Bangko)
20.Suhendi RI (banjarnegara)
21.Cuk Ardi (Indramayu)
22.Fahmi Wahid (Barabai)
23. Rg Bagus Warsono (Indramayu)
24.Fatiha Vi (Bangko)
25.Yono  DL (Bangko)
26. Abay Viezcanzello (Sumenep)
27.M sapto Yuwono (Muaro Bungo)
28.Syaiful B. Harun (Palembang)
29.Lela Hayati (Bandung)
30. Muhammad Jayadi (Balangan)
31.Sukma Putra Permana (Jakarta)
32.Barokah Nawawi (Semarang)
33.Iwan Bonick (Bekasi)
34.Puisi Zen KR. Halil  (Sumenep)
35.Sri Sunarti (Indramayu)
36. Riswo Mulyadi (Banyumas)
37. Kaliktus Ure Maran (Flores Timur)
38.Sami'an Adib (Jember)
39.Arya Setra (Jakarta)
40.Mim A. Mursyid (Sumenep)
41.Supianoor (Tanah Bumbu)
















Rabu, 26 Oktober 2016

Sijagur

Bagi sekolah-sekolah (TK sampai perguruan tiggi), kantor pemerintahan, lembaga apa saja, atau komunitas sastra khusus di Indramayu Anda dapat memanggilku untuk bercerita/mendongeng/atau bicara sastra. atau pembelajaran sastra dengan sebelumnya satu minggu memberitahu lebih dahulu. Taripnya, gampang diatur dan tentu sambil mendapatkan bukunya.
Dalam Kurikulum 2013 ini untuk hal pembelajaran / pengayaan siswa Anda tak perlu ijin dinas memanggil siapa pun nara sumber sejauh mampu.
Dan mumpung aku lagi 'demen padamu, hub saja 085311088734 .
Dijamin Anda bertambah wawasan.

Sabtu, 07 Mei 2016

Sajak-sajak Bahari: Satu Keranjang Ikan



Nusantara itu luas namun kadang sempit oleh hati yang sempit. Karena tidak mengenal lautmu yang menjaga nusantaramu. Bahari yang luas beratus nama laut dan selat, teluk dan semenanjung. Tetapi juga tak sebatas mengenal peta, ternyata laut juga sahabat kita. Nelayan nusantara yang gagah perkasa. Penulis suguhkan bagian dalamnya laut, ditengah lautan, dan diantara sahabat nelayan.


Pengantar Antologi

   Sorotan terhadap nilai-nilai budaya kepesisiran ini tentu saja memiliki kontribusi yang sangat strategis untuk membangun masa depan bangsa yang berbasis pada potensi sumber daya bahari.
Masyarakat nelayan memiliki identitas kebudayaan yang spesifik dan terbangun melalui proses evalusi yang panjang.

Khekhasankebudayaan di atas, seperti sistem gender, relasi patron-klien, pola-pola perilaku dalam mengeksploitasi sumber daya perikanan, serta kepemimpinan sosial tumbuh karena pengaruh kondisi- kondisi dan karakteristik-karakteristik yang terdapat di lingkungannya. Sebagai bagian dari suatu masyarakat yang luas, yang sedang bergerak mengikuti arus dinamika sosial, masyarakat nelayan dan kebudayaan pesisir juga akan terkena dampaknya. Kemampuan beradaptasi dan keberhasilan menyikapi tantangan perubahan sosial sangat menentukan kelangsungan hidup dan integrasi sosial masyarakat nelayan.

Berjajar di kelasnya
teman baik
arti saat
kawan 
hari libur
dan berebut ikan
pulang bersama-sama
perahu kecil sejenis
Indramayu, Juni 2015

Sebuah kelompok sosial yang kelangsungan hidupnya bergantung pada usaha pemanfaatan sumber daya kelautan dan pesisir.  Dengan memperhatikan struktur sumber daya ekonomi lingkungan yang menjadi basis kelangsungan hidup dan sebagai satuan sosial, masyarakat nelayan memiliki identitas kebudayaan yang berbeda dengan satuan-satuan sosial lainnya, seperti petani di dataran rendah, peladang di lahan kering dan dataran tinggi, kelompok masyarakat di sekitar hutan, dan satuan sosial lainnya yang hidup di daerah perkotaan.

Bagi masyarakat  nelayan, kebudayaan merupakan sistem gagasan atau sistem kognitif yang berfungsi sebagai ”pedoman kehidupan”, referensi pola-pola kelakuan sosial, serta sebagai sarana untuk menginterpretasi dan memaknai berbagai peristiwa  yang terjadi di lingkungannya (Keesing, 1989:68-69). Sebagai suatu kesatuan sosial, masyarakat nelayan hidup, tumbuh, dan berkembang di wilayah pesisir atau wilayah pantai. Dalam konstruksi sosial masyarakat di kawasan pesisir, masyarakat nelayan merupakan bagian dari konstruksi sosial tersebut, meskipun disadari bahwa tidak semua desa-desa di kawasan pesisir memiliki penduduk yang bermata- pencaharian sebagai nelayan . Walaupun demikian, di desa-desa pesisir yang sebagian besar penduduknya bermatapencaharian sebagai nelayan, petambak, atau pembudidaya perairan, kebudayaan nelayan berpengaruh besar terhadap terbentuknya identitas kebudayaan masyarakat pesisir secara keseluruhan.

Jangan melaut hari ini
alam tak bersahabat
tapi cuaca baik
kalian tak mengerti saat
ikan marah
air memerah
angin malu
awan tersipu
pura-pura dungu
jangan melaut hari ini
biduk capai menahan dingin
jaring robek sendiri
air tak lagi asin
ombak diam 
Indramayu, Juni 2015

Elaya di setiap gagasan dan praktik kebudayaan harus bersifat fungsional dalam kehidupan masyarakat. Jika tidak, kebudayaan itu akan hilang dalam waktu yang tidak lama. Kebudayaan haruslah
jadi
medung tebal
jangan melaut hari ini
membantu kemampuan survival masyarakat atau penyesuaian diri individu terhadap lingkungan kehidupannya. Sebagai suatu pedoman untuk bertindak bagi warga masyarakat, isi kebudayaan adalah rumusan dari tujuan-tujuan dan cara-cara yang digunakan untuk mencapai tujuan itu, yang disepakati secara sosial (Kluckhon, 1984:85, 91).

Perspektif antropologis untuk memahami eksistensi suatu masyarakat bertitik tolak dan berorientasi pada hasil hubungan dialektika antara manusia, lingkungan, dan kebudayaannya. Karena itu, dalam beragam lingkungan yang melingkupi kehidupan manusia,  satuan sosial yang terbentuk melalui proses demikian akan menmpilkan karakteristik budaya yang berbeda-beda.Sebuah  identitas kebudayaan masyarakat nelayan, seperti sistem gender, relasi patron-klien, pola-pola eksploitasi sumber daya perikanan, dan kepemimpinan sosial.

Baik nelayan, petambak, maupun pembudidaya perairan merupakan kelompok-kelompok sosial yang langsung berhubungan dengan pengelolaan sumber daya pesisir dan kelautan.Konstruksi masyarakat yang kehidupan sosial budayanya dipengaruhi secara signifikan oleh eksistensi kelompok-kelompok sosial yang kelangsungan hidupnya bergantung pada usaha pemanfaatan sumber daya kelautan dan pesisir. Dengan memperhatikan struktur sumber daya ekonomi lingkungan yang menjadi basis kelangsungan hidup dan sebagai satuan sosial, masyarakat nelayan memiliki identitas kebudayaan yang berbeda dengan satuan-satuan sosial lainnya, seperti petani di dataran rendah, peladang di lahan kering dan dataran tinggi, kelompok masyarakat di sekitar hutan, dan satuan sosial lainnya yang hidup di daerah perkotaan.

Arad dan Kursin sama saja
Aku perahu arad yang kecil bermesin kecil
Aku perahu kursin sepuluh badanmu bermesin ganda
bagi puluhan awak kapal di kursin
dan bagi beberapa awak di arad
Jika kau tiga bulan pulang
aku pagi pergi petang kembali
rejezi dibagi-bagi
kau kembali dengan sepikulan ikan
aku hanya menukar seekor ikan dengan sepiring nasi.
arad dan kursin sama saja
Rg Bagus Warsono,10-5-2015

Bagi masyarakat nelayan, kebudayaan merupakan sistem gagasan atau sistem kognitif yang berfungsi sebagai ”pedoman kehidupan”, referensi pola-pola kelakuan sosial, serta sebagai sarana untuk menginterpretasi dan memaknai berbagai peristiwa yang terjadi di lingkungannya (Keesing, 1989:68-69). Perspektif antropologis untuk memahami eksistensi suatu masyarakat bertitik tolak dan berorientasi pada hasil hubungan dialektika antara manusia, lingkungan, dan kebudayaannya. Karena itu, dalam beragam lingkungan yang melingkupi kehidupan manusia, satuan sosial yang terbentuk melalui proses demikian akan menampilkan karakteristik budaya yang berbeda-beda. Dengan demikian, sebagai upaya memahami masyarakat nelayanberikut ini akan dideskripsikan beberapa aspek antropologis yang dipandang penting sebagai pembangun identitas kebudayaan masyarakat nelayan, seperti sistem gender, relasi patron-klien, pola-pola eksploitasi sumber daya perikanan, dan kepemimpinan sosial.

Kampung muara di bibir pantai
air anta tempat kakap bersarang
pemancing datang tiap malam
ikan tak pernah habis
udang bertelur menetas tiap malam
Kampung muara sungai
berciri nyiur menjulang
dan pohonan rimbun
ijinkan melewati muaramu tenang
agar ikan sesuai harapan
Kampung muara sungai
saksi perahu kami , along atau hanya dapat lawuhan
Indramayu, Juni 2015

Perilaku eksploitatif yang tak terkendali berimplikasi luas terhadap kelangkaan sumberdaya perikanan kemiskinan nelayan. Di samping itu, kompetisi antarnelayan dalam sumber daya perikanan terus meningkat, sehingga berpotensi menimbulkan konflik secara eksplosif di berbagai wilayah perairan, khususnya di kawasan yang menghadapi kondisi overfishing (tangkap lebih). Kelangkaan atau semakin berkurangnya sumber daya perikanan, khususnya di perairan pantai, dan kondisi overfishing, yang disebabkan oleh beberapa hal penting, yaitu: eksploitasi berlebihan dan kerusakan ekosistem pesisir-laut.Kegiatan eksploitasi sumber daya perikanan tidak disertai dengan kesadaran dan visi kelestarian atau keberlanjutan dalam mengelola lingkungan pesisir-laut, sehingga terjadi ketimpangan.

Kegagalan pembangunan pedesaan di wilayah kabupaten/kota pesisir, sehingga meningkatkan tekanan penduduk terhadap sumber daya laut dan kompetisi semakin meningkat.Salah satu ciri perilaku sosial dari masyarakat pesisir yang terkait dengan sikap temperamental dan harga diri tersebut dapat disimak dalam pernyataan antropolog Belanda di bawah ini (Boelaars, 1984:62)
Orang pesisir memiliki rasa harga diri yang amat tinggi dan sangat peka. Perasaan itu bersumber pada kesadaran mereka bahwa pola hidup pesisir memang pantas mendapat penghargaan yang tinggi”.
Sebagian nilai-nilai perilaku sosial di atas merupakan modal sosial yang sangat berharga jika didayagunakan untuk membangun masyarakat nelayan atau masyarakat pesisir . Di Indonesia masih banyak nelayan yang menggunakan peralatan yang sederhana dalam menangkap ikan.
Sebagai suatu kesatuan sosial, masyarakat nelayan hidup, tumbuh, dan berkembang di wilayah pesisir atau wilayah pantai.
Dalam konstruksi sosial masyarakat di kawasan pesisir, masyarakat nelayan merupakan bagian dari konstruksi sosial tersebut, meskipun disadari bahwa tidak semua desa-desa di kawasan pesisir memiliki penduduk yang bermatapencaharian sebagai nelayan. Walaupun demikian, di desa-desa pesisir yang sebagian besar penduduknya bermatapencaharian sebagai nelayan, petambak, atau pembudidaya perairan, kebudayaan nelayan berpengaruh besar terhadap terbentuknya identitas kebudayaan masyarakat pesisir secara keseluruhan (Ginkel, 2007).Nelayan adalah istilah bagi orang-orang yang sehari-harinya bekerja menangkap ikan atau hewan laut lainnya yang hidup di dasar,maupun permukaan perairan.Perairan yang menjadi daerah aktivitas nelayan ini dapat merupakan perairan payau maupun laut.
Nurochman Sudibyo YS, sastrawan tinggal di Tegal




Minggu, 27 Oktober 2013

IKUTI DOKUMENTASI PUISI PEREMPUAN INDONESIA

RALAT PEMBERITAHUAN : 
1. Karena tidak bersifat lomba, puisi tidak diseleksi.
2. Penyeleksi diganti menjadi pemberi kata pengantar/esai.
3. Penyelenggaraan adalah murni kegiatan sastra.
4. Pengiriman naskah dapat melalui Grup facebook Sastrawan 
Indonesia ini.
5. Tujuan pembuatan buku ini adalah untuk dokumentasi biasa 
dan menghindari kepentingan yang bersifat pribadi , narsis, 
atau politik dan menjunjung kreatifitas berpuisi.

IKUTI DOKUMENTASI PUISI PEREMPUAN INDONESIA
Sumbangsih puisi untuk Indonesia
KABAR GEMBIRA UNTUK PEREMPUAN PENYAIR INDONESIA

MENYAMBUT HARI IBU 22 DESEMBER 2013
HIMPUNAN MASYARAKAT GEMAR MEMBACA (HMGM) INDONESIA
MENYELENGGARAKAN DOKUMENTASI PUISI PEREMPUAN PENYAIR INDONESIA
DOKUMENTASI PUISI UNTUK ANTOLOGI PUISI “IBU INDONESIA”
BERTEMA:
“SAKSI IBU MELIHAT INDONESIA DI ERA REFORMASI”
Sarat Peserta :
Penyair adalah berjenis kelamin perempuan
Kirimkan 1-5 buah puisi terbaru sesuai tema pada : agus.warsono@ymail.com/gus.warsono@gmail.com/grup facebook Sastrawan Indonesia ini berikut biodata singkat serta fotho, dan alamat tempat tinggal dapat melaui email di atas.
Puisi diterima akan ditampilkan dalam grup facebook Sastrawan Indonesia
Puisi harus masuk paling lambat 1 Desember 2013
Panitia menunjuk untuk memberi kata pengantar/esai menyoroti isi buku terdiri dari 2 sastrawan 2 sastrawati terkenal yang akan ditunjuk HMGM Indonesia
Puisi diterima (laik terbit) menjadi isi buku antologi Ibu Indonesia
Pengumuman puisi laik terbit tanggal 10 Desember 2013 melaluiwww.ayokesekolah.com dan majalahsuluh.blogspot.com
Peserta dengan puisi yang menjadi isi buku akan dikirim 2 buah buku antologi puisi tersebut kealamat peserta fia pos tertanggal 22 Desember 2013.
Buku antologi puisi ini tidak diperjual-belikan tetapi untuk dokumentasi Penyair Perempuan Indonesia di Perpustakaan HMGM Indonesia yang beralamat di Jl. Alamanda Merah No. 6 Perumahan Citra Dharma Ayu (Sanggar Sastra Meronte Jaring} Indramayu-45211
Peluncuran buku akan dilaksanaan secara sederhana dan ditentukan waktunya kemudian. (mengingat anggaran untuk peluncuran buku tidak disediakan)
Kabar kegiatan ini selanjutnya akan disampaikan secara berkala melalui grup facebook Sastrawan Indonesia.
Peserta tidak dikenakan biaya apa pun (GRATIS)
Panitia menerima sumbangsih berupa saran (bukan kritik) untuk lebih sempurnanya kegiatan ini, serta menerima sumbangan dari donatur dalam bentuk apa pun untuk acara launching buku agar menarik.
Panitia : ANTOLOGI PUISI SAKSI IBU MELIHAT INDONESIA DI ERA REFORMASI “IBU INDONESIA”
Koordinator
Rg. Bagus Warsono, SPd.MSi.

Senin, 26 November 2012

BERITA DUKA CITA


TELAH PULANG KE RAHMATULLAH :

 BAPAK KOMAYA SUMANTRI (MAMA)

26 NOVEMBER 2012

PENSIUNAN PENGAWAS SD DI UPTD PENDIDIKAN KEC/KAB. INDRAMAYU DAN KETUA PENGAWAS KPRI MERDEKA KEC.INDRAMAYU, BALONGAN DAN PASEKAN DALAM USIA 64 TAHUN

Segenap Pengurus, Pengawas, Anggota KPRI Merdeka serta Pembina Koperasi KPRI Merdeka Kecamatan Indramayu, Balongan dan Pasekan , turut berduka cita serta kepada keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan kekuatan.