Tampilkan postingan dengan label Ayo Kesekolah : Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ayo Kesekolah : Artikel. Tampilkan semua postingan

Selasa, 02 Mei 2017

Apa Kabar Pak Menteri Kemendikbud

Masih dalam suasana Hardiknas, Mentri Kemendikbud Muhadjir Effendy dalam sambutannya masih mengetengahkan tema Karakter yaitu Penguatan Pendidikan Karakter. Sebuah program yang dituangkan dalam Surat keputusan Kemendikbud. Tentu saja tidak hanya sebagai suatu penguatan pendidikan karakter yang tidak hanya diintegrasikan pada mata pelajaran tetapi juga harus ada 'kerja di kabinet apa yang disebut 'Kabeniet Kerja itu. Yakni tidak hanya slogan verbalis semata tetapi ada bukti bahwa Kemendikbud membuat kerja baru dalam Penguatan Pendidikan Karakter itu. Sebab banyak program cuma gembar-gembornya saja implementasinya nol.

 Salah satu yang harus dilakukan oleh pemerintah dalam penguatan karakter bagi generasi muda adalah memfilter masuknya informasi global yang meracuni generasi muda itu. Tetapi bagaimana? Kerja apa? Terlebih kemendikbud cuma membuat kurikulumnya saja tanpa bisa berbuat banyak. Sehingga program pendidikan karakter hanya slogan verbalis yang dianggap angin lalu oleh masyarakat luas. Pendidikan Karakter tetep di sekolah , anak-anak terus dijejali masukan informasi dari luar tanpa filter lagi seperti permainan games dengan tema kekerasan, film porno, berita hoax dan informasi yang merusak generasi muda serta musik yang tak pantas bagi adat ketimuran.

 Bahkan kebijakan pemerintah tak lagi sejalan dengan Visi Misi Jokowi-JK yang yang digemborkan itu. Nawacita dan Trisakti hanyalah program nya saja yang baik pelaksanaannya justru berlawanan. Mobil Esemka hanya sebagai alat promosi diri, kini setelah ia berkuasa untuk merealisasikan mobil buatan sendiri itu tidak bisa direalisasikan. Apa artinya Nawacita dan Trisakti itu mana yang bigembar-gemborkan berdikari itu !
Padahal membuat mobil buatan sendiri adalah salah satu penguatan pendidikan karakter bangsa.

Rabu, 27 Juli 2016

Sekilas Literasi dalam kurikulum 2013 di Sekolah

Literasi tengah digalakan oleh kemendikbud. Kegiatan membaca, menulis, bedah buku, resensi, perpustakaan hingga mencipta menjadi sorotan utama pendidik dan peserta didik.
Bagi praktisi pendidikan yakni guru dan tenaga kependidikan yang telah terbiasa di bidang ini akan menjadi sasaran penerang bagi suksesnya pegembangan literasi di sekolah.

 Tetapi kemendikbud juga melupakan literasi yang meliputi berbagai kegiatan ke-aksaraan. Misalnya hal menulis hurup bagi peserta didik baru kelas I sekolah dasar. Dalam buku siswa kelas 1 kurikulum 2013 hasil refisi 2015 tidak memberikan petunjuk atau pelajaran tentang menulis huru (permulaan) itu. Karena itu jangan heran bila anak anak muda sekarang menulis surat asal bisa dibaca sendiri alias tidak bisa dibaca 0rang lain alias hurup-hurup dalam kata kalimat itu bukan sesuai ejaan atau tidak sesuai dengn jenis Huruf tegak bersambung yang telah ditetapkan Direktorat jendral Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan No. 094/C/Kep/I.83 tanggal 7 Juni 1983

 Kurikulum 2013 memang kurikulum yang terbaik karena dapat menjangkau pikir luas siswa dan guru. Tetapi dalam prakteknya karena budaya literasi guru masih sangat rendah dalam hitungan rata-rata guru se-Indonesia bahkan masih jauh tertinggal dengan negara kecil di asia tenggara maka pola tematik (saling mengait/dan terkait) dalam beberapa disiplin ilmu akan sulit dikembangkan guru.

 Pola pembelajaran guru dengan methoda-methoda yang menjadi kebiasaan guru bahkan menjadi 'budaya mengajar selama ini patut dicermati . Tidak serta-merta saja seenaknya harus berganti pola pembelajaran tematik. Sedangkan kebiasaan dan budaya itu memang sulit dirubah secara serentak.

 Selama ini memang pola pembelajaran clasik konvensional dimana-mana adalah terpopulair methoda ceramah, disususl methoda tanya-jawandan diskusi dan untuk pembelajaran memabaca adalah methoda ,mengeja. Dalam kurikulum 2013 tidak melarang penggunaan methoda-methoda itu. Khusus untuk methoda meng-eja seharusnya tetap dipertahankan . Sebab methoda ini dikenal ampuh dan berhasil membikin cepat peserta didik yang baru kenal sekolah dapat membaca.

Dengan tidak mengurangi hormat kepada ahli-ahli pendidikan yang turut merancang dan merevisi kurikulum 2013 saya berpendapat agar survai perlu dilakukan oleh para ahli dan bukan menerima laporan bagus saja dari mereka yang ditunjuk dan melaporkannya secara online. Atau karena memang dikejar waktu sehingga proyek cepat selesai.

 Akhirnya apa yang telah diputuskan oleh Mentri Kementrian Pendidikan berupa pedoman Literasi di sekolah kurang singkron dengan keadaan di lapangan. Indonesia memang senang serba cepat, ibarat belum masak dipohon , terpaksa dikarbit maka hasilnya yang harusnya buah mangga itu manis jadi 'kecut /asam.

Senin, 02 Mei 2016

Tak tetentu arah pendidikan kita.

Tak tetentu arah pendidikan kita.
Beberapa unsur penting nasional biasanya menjadi bobot utama arah pendidikan seperti pada masa presiden Soekarno , nasionalisme dan wawasan kebangsaan menjadi inti kurikulum saat itu, Kemudian masa Soeharto memuat bagaimana ketahanan pangan menjadi modal utama pembangunan bangsa, sedang Habibie membuat pendidikan Indonesia mampu bersaing dalam perkembangan teknologi . Di masa Gus Dur pendidikan kembali seperti apa yang didengungkan Soekarno, Megawati meneruskan sikap Gus Dur pada saat itu. Kemudian SBY memberi tekanan pada budi pekerti luhur bangsa. Sekarang zaman Jokowi pendidikan tak tentu arah karena berbagai permasalahan komplek nasional berkembang, nasionalisme, wawasan kebangsaan, ketahanan pangan, dan jumlah penduduk yang banyak serta era global yang sangat dominan sekarang. Jadi tak tetentu arah pendidikan kita

Kamis, 26 November 2015

UKG, Sarana Bercermin Guru

Tanggal 9 sampai dengan 27 November 2015 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan akan melaksanakan Uji Kompetensi Guru (UKG). UKG tahun 2015 akan diikuti oleh semua guru dalam jabatan baik guru PNS maupun bukan PNS dengan jumlah jenis soal yang akan diujikan adalah 192 mata pelajaran/guru kelas/paket keahlian/BK. UKG tahun 2015 akan dilakukan baik secara online maupun secara offline. UKG online dilaksanakan di wilayah-wilayah yang bisa mengakses internet, sedangkan UKG offline dilaksanakan di wilayah-wilayah yang sulit atau tidak memiliki akses internet seperti di daerah pedalaman atau daerah terpencil. Perolehan hasil UKG pada masing-masing guru menjadi bagian dari penilaian kinerja guru, oleh karena itu sesuai dengan prinsip profesional guru akan mengikuti UKG pada mata pelajaran sesuai dengan sertifikat pendidik dan jenjang pendidikan yang diampunya. Disamping itu, hasil UKG juga digunakan sebagai bahan pertimbangan kebijakan dalam pemberian program pembinaan dan pengembangan profesi guru serta pemberian penghargaan dan apresiasi kepada guru. Selain untuk memetakan kompetensi guru, UKG juga sebagai bentuk kontrol agar orang tua dan peserta didik mendapatkan layanan pendidikan yang berkualitas, membangun budaya mutu di kalangan guru, dan memastikan kelayakan guru dalam melaksanakan tugas sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Menjelang UKG tahun 2015, sempat muncul isu atau rumor bahwa hasil UKG akan dijadikan sebagai dasar pencabutan Tunjangan Profesi Guru (TPG), tetapi hal ini telah dibantah oleh Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan, Sumarna Surapranata yang mengatakan bahwa UKG tidak ada kaitannya dengan masalah pencabutan TPG. Sesuai dengan tujuannya, UKG hanya untuk memetakan kompetensi guru khususnya pada pedagogik dan kompetensi profesional serta sebagai dasar pembuatan kebijakan pembinaan dan pengembangan profesi guru. Rencananya, program peningkatan kompetensi guru pasca UKG dilaksanakan sesuai level berdasarkan hasil UKG. Nilai rata-rata UKG tahun sebelumnya sebesar 4,7.  Tahun ini, terget nilai rata-rata UKG sebenar 5,5 dan tahun 2019 ditargetkan nilai rata-rata UKG sebesar 8,0. Dengan demikian, guru tidak perlu khawatir jika hasil UKG-nya rendah, karena justru nantinya diprioritaskan mendapatkan pembinaan dari pemerintah. Mendikbud Anies Baswedan mengatakan bahwa UKG harus digunakan sebagai sarana “bercermin” bagi guru. Ketika seseorang bercermin di depan kaca, tentunya apa yang muncul pada cermin sesuai dengan aslinya. Artinya, hasil UKG mencerminkan kemampuan guru yang sebenarnya. Jangan sampai ada pribahasa “Buruk muka cermin dibelah,” yang artinya menyalahkan orang atau hal lain meskipun sebenarnya dia sendiri yang salah. Maksudnya, ketika nilai UKG-nya rendah, jangan sampai guru mencari-cari alasan atau menyalahkan pihak lain. Walau demikian, masih tersisa pertanyaan apakah soal-soal UKG tersebut diujicobakan terlebih dahulu? Apakah sudah dijamin vailiditas dan reliabilitasnya? Karena Penulis mendengar keluhan dari guru-guru yang mengikuti UKG tahun sebelumnya yang mengatakan bahwa bahwa soal-soal UKG ada yang kurang jelas, redaksinya terlalu panjang sementara waktu untuk mengerjakan terbatas, kurang nyambung antara soal dan pilihan jawaban, gambar yang tidak muncul di layar monitor, dan sebagainya, karena soal yang valid dan reliabel akan melahirkan hasil yang valid dan objektif juga. Untuk menjamin UKG berjalan lancar, aman, dan sukses, pemerintah harus benar-benar mempersiapkan berbagai infrastruktur penunjangnya seperti Tempat Uji Kompetensi (TUK), ketersediaan dan kelayakan komputer, akses internet yang stabil, dan operator yang bertugas melayani berbagai kebutuhan UKG di TUK. UKG adalah sarana bagi guru merefleksikan sejauhmana kompetensi yang dikuasainya. Guru tidak perlu takut atau khawatir dengan UKG. Guru juga tidak perlu malu jika nilai UKG-nya rendah, tetapi justru perlu melakukan introspeksi diri, dan menindaklanjutinya peningkatan profesionalismenya. Dengan demikian, akan terbangun pengembangan keprofesian berkelanjutan dan akan tercipta budaya mutu di kalangan guru. UKG merupakan salah satu bentuk upaya meningkatkan mutu pendidikan khususnya mutu guru, karena pemerintah menyadari peran guru sangat penting dalam sistem pendidikan nasional. Guru adalah ujung tombak dalam peningkatan mutu pendidikan. Guru yang berkualitas akan melahirkan lulusan yang berkualitas. Selamat mengikuti UKG.

Minggu, 02 Agustus 2015

Pendidikan Masa Pejajahan Dulu Lebih Baik dari Sekarang

Penjajah Belanda memang kejam, bengis, menindas, tak mempedulikan hak asasi, rakus, merampas , memperkosa dsb. Ada satu yang baik ditiru yaitu pola pendidikan pada masa penjajahan sangat baik dicontoh. Program beasiswa tidak setengah-setengah atau asal pura-pura memberi bantuan, tetapi beasiswa diberikan pada siswa yang cerdas dan diberikan kesempatan hingga belajar ke luarnegeri termasuk biaya hidupnya. Pola pendidikan pada masa penjajahan memang bagus, terutama sistem pengajarannya, Jangankan HIS, MULO, atau AMS yang merupakan pendidikan menengah, SR Ongko Loro (setingkat SD-lah) saja sudah pandai aljabar , maka wajar apabila pada saat itu Jendral Oerip Soemihardjo, Kepala Staf TKR kita memberikan syarat terendah yakni yang bisa baca tulis masuk Tamtama, yang SR masuk bintara, dan yang HIS masuk perwira ! Menginjak 70th merdeka aku menyaksikan ternyata bangsa kita sekarang berbalik justru berterima kasih kepada Belanda.

Belanda meningalkan bayak ilmu buat negeri ini, tidak seperti Jepang yang hingga saat ini masih saja ngobok obok duit rakyat kita. Ketika aku masih kecil tahun 70-an, doeloe, tetanggaku Pak Soegeng namanya ia biasa menghitung jarak sesungguhnya peta, mengukur tinggi pohon cemara tampa memanjat, sebuah ilmu yang mungkin harus dimiliki anak SMA/SMK padahal pak Soegeng hanyalah tamat HIS. Kemudian Pak Diro, begitu aku mengenalnya, ia pegawai kesehatan, ijasahnya hanya Sekolah Rakyat (SR) Ongko Loro , tetapi wawasan berfikirnya sunguh luar biasa, setiap pagi ia mendengarkan berita radio bukan dari RRI, tetapi mendengarkan BBC London, dan Suara Nederland atau Dodce Welles. Kemudian tetanggaku lagi namanya Pak Mulyono, ini tahun 70-an, Pak Mulyono beruntung menjadi pejabat di Depatemen PU, galaknya minta ampun, kata pegawai yang muda-muda ijazah Pak Mul hanya SMP (MULO) jaman Belanda, tetapi ia bisa mengatur anak-anak muda yang sudah bergelar insinyur! Walaupun berijasah SMP Pak Mul bisa menghitung teodolit, mengukur kecepatan angin, mengukur ketahanan fisik bangunan, suatu ilmu yang mungkin harus dimiliki oleh para insinyur yang memegang klasifikasi. Sunguh luarbiasa pendidikan jaman Penjajahan itu. Om Slamet adalah pamanku, Ia pernah jadi pegawai rendah di pelabuhan pada jaman Belanda, setelah merdeka Om saya berganti profesi, Walaupun Om saya HIS tidak tamat tetapi ia menguasai 3 bahasa asing Belanda, Inggris dan Jepang ! suatu hal yang jarang saat ini.

Anak-anak SMA sekarang boro-boro pandai bahasa Jepang , Bahasa Inggris saja masih 'pletat - pletot. Ini cerita orang tuaku doeloe ketika masih hidup, ia menceritakan bahwa peran Kepala Sekolah di pemerintahan sungguh luar biasa. Ketika murid-murid HIS tamat sekolah, kepala sekolah bisa merekomendasikan muridnya itu menjadi guru, pegawai kawedanaan, atau pegawai lainnya sesuai dengan bakat dan kemampuan muridnya. Bahkan ada juga yang direkomendasikan menjadi staf adm pabrik gula. Jika dipikir pendidikan kita merosot jauh ketimbang masa penjajahan doeloe. Anak-anak sekarang atau mungkin gurunya takut menghadapi Ujian Nasional. Sesuatu hal yang kalau dijabarkan adalah membuka aib sendiri bahwa murid dan guru tidak berhasil dalam melaksanakan kurikulum pendidikan ! Apalagi kini semarak ijazah palsu, ijazah instan, ijazah aspal, ijazah pesanan, sungguh sangat merosot pendidikan bangsa ini. Kenapa terjadi? karena sekarang jarang guru yang menjadi idola muridnya, tidak menghargai almamater, tidak menghargai guru, dan tidak mengukur kesesuaian pikir dengan ijazahnya ! Ciri orang memegang ijazah palsu adalah ketidaksesuaian ilmu yang dimilikinya dengan pola pikir yang diucapkan . Bukankah kita pernah mendengar ada anggota DPR statemennya ngawur dan kurang ilmiah, atau pernah melihat pejabat ngomongnya kaya 'bocah angon (penggembala) ! (Rg. Bagus Warsono)

Senin, 18 November 2013

Jangan pernah berfikir, anak-anak tak memiliki masa depan

Jangan pernah berfikir, anak-anak tak memiliki masa depan, di zaman penjajahan saja, yang sudah jelas orang pribumi sulit menjadi pejabat, guru tak berfikir seperti itu. Mereka justru menanamkan cita-cita setinggi bintang di langit

Jumat, 08 November 2013

RENUNGAN GURU DI HARI GURU

Kehidupan memerlukan nalar
(renungan untuk guru)

Alkisah guru bergaji besar di zaman Belanda, siapa siapa yang menjadi guru pasti hidupnya akan kecukupan dan terhormat kala itu. Setelah merdeka, guru tetap dinomor satukan, tercatat sampai dengan 1964 boleh dibilang gaji guru cukup lumayan. Gaji diterima guru dengan pangkat terendah masih mendapatkan penghasilan dengan nilai tukar emas sekitar 11 gram. Jika harga emas 300 rupiah per gram, guru pangkat terendah dengan masa kerja tahun permulaan sudah mendapat penghasilan 3.300 rupiah atau sekitar Rp 5.500.000 di masa sekarang.
Perhatikan tabel nilai tukar rupiah terhadap dolar dari tahun ke tahun

Nilai Tukar Rupiah dari tahun ke tahun terhadap 1 USD

Berdasarkan laporan akhir tahun sebagai berikut:
Tahun Rupiah / 1 USD
1946-1949 tidak diketahui
1949 3,8
1950 7,6
1952 11,4
1962 1.205,0
1965 2.295,0
1965 4.995,0
1964-1970 250,0
1970-1971 378,0
1971-1978 415,0
1978 625,0
1980 626,0
1985 1.110,0
1990 1.842,0
1995 2.248,0
1999 7.810,0
2000 8.396,0
2001 10.265,0
2002 9.260,0
2003 8.570,0
2004 8.985,0
2005 9.705,0
2006 9.200,0
2007 9.125,0
2008 9.666,0
2009 10.300,0
2010 8.920,0
2011 8.700,0
Dari mulai 1965 mulailah masa betapa rupiah semakin tak berharga sedangkan gaji guru tetap seperti kakek berusia 80 tahun naik tangga.
Di masa inilah guru seperti apa kata Iwan Fals "gaji guru dikebiri" . Masa berlalu 33 tahun masa orde baru berganti dengan masa reformasi. Gaji guru merangkak naik mulai tahun 2000an. Singkat cerita sampai muncul tunjangan frofesi guru sebagai amanat UU Guru dan Dosen.
Guru seharusnya makin sejahtera, namun betapa kenyataan tak seindah dengan harapan. Masih banyak guru yang gajinya minus! bahkan tunjangan frofesi yang dibayarkan tidak berbarengan dengan gaji dan melalui rekening tersendiri, ternyata sudah amblas tergadai di bank atau koperasi melalui kredit dengan jaminan tunjangan itu.
Bersambung. ........

Rabu, 02 Oktober 2013

Buku Laris Jual Dedet


Sebuah impian bagi penulis apabila karyanya menjadi buku yang laris atau boleh disebut "best seller". Di bidang penulisan sastra best seller seringnya pada jenis novel dan majalah sastra. Untuk puisi, walaupun ada juga yang sampai best seller namun sangat sedikit pada buku jenis ini. Kecuali jika dihitung penjualannya sampai sekian tahun. Buku puisi karya Chairil Anwar, misalnya, mungkin sudah dicetak ratusanribu eksemplar namun ini tidak dalam kurun sebulan atau setahun, tetap dalam puluhan tahun. Dicetaknya pun karena pengadaan buku perpustakaan sekolah. Hanya kalangan tertentu di masyarakat berkeinginan untuk memilikinya. Begitu juga buku-buku puisi Rendra, sama seperti halnya Chairil. Namun buku Kamus Bahasa Indonesia Poerwadarminta, pada masanya, memang banyak dicari oleh berbagai kalangan dan lapisan masyarakat. Sedangkan buku pelajaran dan yang sejenisnya yang digunakan sebagai buku paket pelajaran, meski dicetak jutaan eksemplar belumlah dikatakan best seller.
Kebahagiaan seorang penulis adalah apabila karyanya dibaca orang lain. Dari membaca itu pesan penulis melalui isi buku akan tersampaikan. Buku menjadi alat transfer pesan penulis pada pembacanya.
Untuk meyakinkan apakah buku itu dibaca orang, laku atau tidak, seorang penulis datang ke toko buku dimana ada terdapat buku ciptaannya dijual di toko itu sambil melihat buku-buku baru lainnya. Dan seorang penulis akan merasa bahagia ketika karyanya akhirnya diminati orang.
Sebuah perumpamaan lain, ketika seorang dosen menjual buku diktat hasil karyanya sebagai bahan diskusi kepada mahasiswanya, dan hampir semua mahasiswa ikut membelinya, apakah ini disebut laris? Lebih parah lagi ketika seorang guru sastra menyuruh siswanya menulis puisi, kemudian puisi-puisi itu dicetak menjadi buku kumpulan puisi dan setelah menjadi buku siswanya suruh membelinya dengan alasan ganti ongkos cetak, ini juga termasuk "laris" bukan?

Selasa, 16 April 2013

UJIAN NASIONAL SMA/MA/SMK SELALU RIBUT SETIAP TAHUN

Masalah Ujian Nasional slalu ribut setiap tahun, sebuah gambaran filosofi bagaimana mutu  generasi muda Indonesia ke depan. Pada tahun-tahun sebelumnya selalu setiap tahun diributkan mengenai ketidakjujuran peserta ujian nasional dalam mengerjakan lembar jawaban ujian nasional. Ketidak-jujuran itu bisa dilakukan oleh peserta maupun pihak penyelenggara dikarenakan keraguan, siswa ragu memberikan jawaban dan guru ragu apakah siswanya dapat lulus ujian nasional. Masalah klasik ini telah sejak dulu menjadi bahan temuan di berbagai tempat saat UN  SMA/MA/SMK namun litbang Kemendikbud tak dapat menyimpulkan solusi yang baik untuk penyelenggaraan Ujian Nasional.
     UN adalah tingkat uji yang paling tinggi dan paling istimewa bagi siswa SMA/MA/SMK di negara kita,
dimana ujian istimewa ini menentukan nasib seorang siswa setelah belajar selama 3 tahun di kelas 10, 11 dan 12. Hal demikian karena jika seorang siswa hanya memiliki raport naik kelas 11, maka raport naik kelas 11 itu tak berlaku di negara kita untuk melanjutkan keperguruan tinggi atau  melamar pekerjaan apa pun. Terkecuali memiliki ijazah jenjang tersebut. Jadi UN mengikat selama 3 tahun belajar di SMA/MA/SMK.
    Dikarenakan istimewa itulah moment UN menjadi harapan sekaligus tantangan yang harus dihadapi siswa, sebab jika gagal siswa bukan merugi 1 tahun tetapi 3 tahun. Karenanya UN menjadi perhatian serius bagi siswa dan guru. Berbagai upaya dilakukan untuk menghadapi UN seperti belajar exstra namun juga banyak siswa yang menganggap sepele UN dikarenakan mengharapkan bantuan dari pihak sekolah. Mereka yang mengangap sepele dan mengharapkan bantuan dari sekolah berkaca pada waktu yang sudah-sudah. Logikanya jika sebuah sekolah tidak berhasil dalam UN atau dalam kata lain siswanya banyak yang tidak lulus UN jangan harap tahun ajaran baru nanti mendapat siswa yang banyak.
    Dalih "nama baik" sekolah ini banyak pihak sekolah melakukan upaya demi keberhasilan siswanya mengikuti UN dengan berbagai cara baik positif maupun yang negatif. Dalih nama baik ini juga berpengaruh pada tingkat prosentase kelulusan di Dinas Pendidikan setempat yang pada ujung-ujungnya menjadi nama baik sebuah daerah. UN demikian sangat berdampak luas.
    Target kelulusan yang tinggi oleh penyelenggara di kabupaten/propinsi akan membuat kepala sekolah ketakutan akan kemampuan siswanya. Maka tidak mustahil karena menjadi permasalahan berantai di daerah akan dicari format penyelamatan siswa agar lulus UN.
   Di pihak orang tua siswa kekhawatiran akan nasib putra-putrinya juga sangat berlebihan. Apalag sebelum UN sekolah sekolah telah merencanakan arahan siswanya ke perguruan tinggi. Berbagai model penerimaan mahasiswa perguruan tinggi negeri ditawarkan untuk siswa sesuai dengan prestasinya oleh pihak sekolah. Namun UN belum tentu lulusnya. Jika sampai begini  orang tua siswa menyerahkan sepenuhnya kepada pihak sekolah. Apalagi bagi mereka yang pada tingkat kelas 10 dan 11 mendapatkan prestasi di kalasnya, maka jika gagalan UN akan dipertanyakan oleh orang tua siswa yang berprestasi itu kepada pihak sekolah dengan tuduhan macam-macam. Apalag ketika didapati siswa yang tidak serius menghadapi UN  dapat lulus dengan nilai baik.
     Sungguh UN menjadi bahan pemberitaan nasional setiap tahun. Permasalahan klasik yang tidak diatasi secara mennyeluruh oleh pemerintah dalam hal ini Kemendikbud. Masyarakat akhirnya bosan mendengar pemberitaan masalah UN. Kenyataan yang diberitakan tidak ditindaklanjuti kemudian. Seperti yang sudah -sudah yang ketahuan nyontek diberikan ujian ulang, atau ditutup pemberitaannya. Penyelenggaraan yang kurang baik nanti dievaluasi kemudian.
   Pada gilirannya mereka yang bodoh dikedokteran  karena menggunakan jalur khusus. Yang tertangkap basah ketika test masuk perguruan tinggi berbuat curang kini bangga dengan almamaternya. Anak  murni dan cerdas sama-sama berjalan saja. Yang cerdas tetapi miskin ada tempatnya ada jalurnya sendiri. Inilah Indonesia.

 
    

Selasa, 05 Juni 2012

ANALISIS HASIL EVALUASI KENAPA GURU SUNGKAN MEMBUATNYA

oleh : masagus, guru sekolah dasar di Indramayu

Pada akhir tahun pembelajaran, evaluasi belajar siswa dilaksanakan. Contoh kecilnya adalah penilaian pada UKK (ujian kenaikan kelas). Saat inilah guru dapat melakukan nilai akhir siswa untuk menentukan seorang siswa dapat naik kelas atau tidak. Namun saat penilaian ini guru sering mengabaikan melaksanakan perbaikan pada siswa yang membutuhkan perbaikan.
    Dengan alasan sudah memenuhi kreteria naik kelas, atau sudah mencapai standar nilai minimal naik kelas, maka sudah saja guru melewatkan perbaikan. Belum lagi tampak guru sudah diadapkan pada pengisian  laporan pendidikan siswa (raport). Dan mungkin ada yang cepat-cepat ingin menyelesaikan semua tugas karena libur panjang di depan mata.
   Perbaikan atas evaluasi siswa penting dilakukan karena didalamnya terdapat kajian soal, yang mempelajari bobot soal satu per satu atas soal yang sudah dikerjakan siswa. Bisa saja soal dibuat oleh lain guru atau memesan di percetakan, atau dibuat di dalam gugus, sehingga boleh jadi belum atau terlewat diberikan pembelajarannya oleh guru bersangkutan.
   Untuk melaksanakan perbaikan diperlukan dimulai dari analisis hasil evaluasi siswa. Yang pertama diperatikan adalah meneliti lembar soal dengan melihat jumla soal, dari mulai model soal (pilian anda,isian,esai ,dsb.) ,bobot soal, dan tentu saja jumlah peserta yangmelaksanakan evaluasi itu (siswa).
   Analisis butir soal padukan dengan kompetensi yang ada di kurikulum sesuai denan kelasnya. Model soal mulailah dengan jumlah model yang ada dan yang lebih mudah dahulu, kemudian hitung jumla item soalnya. Sedang bobot soal biasa diberikan pada bentuk soal isian dan esai (uraian).
   Tentukan bobot sesuai dengan kehendak guru, yang penting jumlah bobot dari bobot mudah sampai sukar berjumlah 10 (jika menggunakan puluhan) atau 100 (jika menggunakan ratusan). Umpamanya soal mudah diberi bobot 1, soal sedang diberi bobot 2 dan soal sulit diberi bobot 3 atau 4. Jumlah kan bobot soal itu dari seluruh soal yang diberikan. Maka tidak menutup kemungkinan bobot soal dari seluruh soal, jumlahnya akan melebihi jumlah soal.
   Dari sini saja guru dapat menyimpulkan perolehan nilai siswa belum tentu memenuhi kompetansi yang diajarkan. Nilai kecil bukan berarti siswa tidak naik kelas, nilai besar bukan berarti telah memenuhi kreteria ketuntasan minimal (KKM).
   Di sinilah pentingnya analisis asil evaluasi, yang merupakan salah satu tugas guru yang harus dilaksanakan. Selanjutnya guru tinggal mengitung apakah siswa perlu melakukan perbaikan atau tidak. Jika dikehendaki melakukan perbaikan secara klasikal,misalnya, gunakan bahwa apabila 70 % jumlah bobot belum dicapai oleh 50 % jumlah siswa dalam 1 mata uji. Dan jika dikehendaki perbaikan secara satu persatu siswa,misalnya, gunakan bahwa apabila 70 % jumlah bobot belum dicapai oleh perolehan nilai siswa individu. Dari olah nilai itu  didapat  rata-rata kompetensi siswa dalam satu kelas di satu mata pelajaran.
    Ternyata menganalisis tidak begitu susah dilakukan. (bersambung).

    

Minggu, 13 Mei 2012

TABUNGAN SEKOLAH, DILEMATIKA DI SEKOLAH , PERLUKAH DITIADAKAN ?

oleh: Agus warsono
Marilah kita tanamkan pengertian bahwa sekolah bukan lembaga keuangan tetapi lembaga pendidikan. Tabungan siswa sekolah dasar adalah hal umum yang terjadi di sekolah dasar (bagi yang menyelenggarakan). Dimaksudkan agar siswa memahami hidup sederana, hidup hemat, kecil menabung besar beruntung dan sebagainya. Pendek kata tabungan siswa diselenggarakan oleh sekolah dalam rangka pendidikan siswa.
   Namun apa dikata, jadilah siswa berlomba menabung dan kadang didukung orang tua siswa. Sebab di akhir taun pelajaran tabungan itu akan dapat di tarik selurunya oleh siswa yang menabung. Kegembiraan anak, siswa sekolah dasar tampak bila penyelenggara (guru) yang menyimpan tabungan itu membagikan di akhir tahun.
   Diantara kegembiraan itu bukan hal baru bila ada penyelenggara  tabungan sekolah (guru)  yang kebingungan di akir tahun, pasalanya uang tabungan siswa yang dihimpunnya telah dipinjam, dan saatnya diberikan pada siswa uang tabungan siswa itu belum dikembalikan.
   

Jumat, 13 April 2012

KARTINI MERATAP, PEREMPUAN KINI LAIN DENGAN YANG DIPERJUANGKAN

TEMA OBROLAN KITA ADALAH PEREMPUAN, MEMENTUM HARLAH KARTINI: 
Ada satu kerendahan Kartini yakni ia menolak Beasiswa Belajar di Negeri Belanda.Ia merasa ada sesuatu ketidakmampuan dirinya. Beasiswa itu ia berikan pada seorang pemuda bernama Agus Salim. Namun Agus Salim (populair H. Agus Salim Menlu Pertama RI) menolak pemberian itu, keduanya sama-sama idealis, yang pada ukuran sekarang sulit dicari orang menolak pemberian itu.Kartini barangkali memiliki idealis itu yang sulit ditemukan perempuan Indonesia sekarang
Ketika Kartini berkunjung Ke DPRD/DPR ada kesepakatan perempuan antara 30-40 % pada komposisi keanggotaan. Begitu pula pada rekutmen PNS ada digunakan komposisi demikian. Ini berarti Kartini merasa lega, namun begitu melihat proses pencapaian dan rekrutmen itu sungguh Kartini mengharap tidak asal melengkapi genap saja
Kemajuan emansipasi disisi lain (misal kesandung perkara korupsi) perempuan tak kalah dengan pria. "Kartini -Karini" baru muncul sebut saja seperti Miranda Gultom, Melenda Dee, Engelina Sondak,adalah contoh emansipasi itu. Meki hukum tak mampu menunjukan kebenarannya, tetapi populairitas mereka sungguh membuat Kartini berdecak kagum
Satu yang membuat Kartini tak mengerti, Kenapa Ibu Ani Yudoyono sebagai Ibu Nagara demikian adanya. Bukankah ia milik Indonesia, milik rakyat semua, ibunda rakyat Indonesia. dan tentu bukan hanya milik warga Demokrat saja
Barangkali Kartini tersenyum sekarang, emansipasi mungkin terlaksana. Begitu banyak perempuan pemimpin eksekutif dan begitu banyak dari kalangan perempuan menjadi legeslatif. Namun Kartini merasa ragu karena tangga yang digunakan menuju puncak itu begitu sangat keroposnya.Tangga Ilmu Pengetahuan dan pendidikan begitu diabaikan. ( "habis terang terus gelap") begitu katanya dalam surat-surat kartini

Sabtu, 19 November 2011

Pengintegrasian Perubahan Iklim ke dalam Kurikulum disikapi 2 SD di Kec. Pasekan

Pembelajaran sistem Kurikulu KTSP ( 2006 ) tampak yarat dengan matan baru. Sebelumnya masukan baru berupa Muatan Pendidikan Karakter, disusul dengan mutan Pendidkan Linkungan hidup dan kini pendidikan Perubahan Iklim.
Kurikulum yang menerima perubahan dinamika zaman dan alam ini menjadikan guru harus tanggap terhadap perkembangan dan situasi alam baik di negara kita, inyternasional atau pun dunia.
Perubahan iklim dewasa ini sangat terasa sekali memiliki dampak yang apabila tidak di antispasi bahkan dipahami sejak dini berdampak pada situasi alam di masa datang. Guru dengan kemapuannya diharapka dapat memberikan muatan pada generasi penerus agar dapat memahami peubahan alam . Petrubahan iklim sangatpenting artinya untuk dijadikan bahan masukan pada mata pelajaran tertentu di Seklah dasar. Untuk itu 2 sekolah di Kecamatan Pasekan, SDN Pasekan I dan SDN Pasekan II pada 19 Nofember bertempat di SDN Pasekan II kecamatan Pasekan berlangsung kegiatan Penyampaian hasil Pendidikan dan Pelatihan Pengintegrasian Perubahan Iklim dalam Kurikulum/Pembelajaran di Sekolah Dasar.
Kartinah, SPd. SD , yang telah mengikiti TOT ditingkat Kabupaten langsung memberikan "getok tular" pada dua SD yang berdekatan ini. Kegiatan penyampaian hasil diklat oleh guru ke teman guru lain patut mendapat penghargaan dan menjadi agar ditiru oleh guru di daerah lain.

Jumat, 12 Agustus 2011

Dasar Pertimbangan Mutasi Kepala Sekolah

1. Promosi
2. Kemauan Sendiri
3. Tempat kediaman
4. Penilaian Kinerja Kepala Sekolah
5. Prestasi
6. klasifikasi sekolah (akreditasi)
7. klasifikasi pendidikan Kepala Sekolah
8. Kasus yang telah diputuskan oleh lembaga berwenang memutuskan bersalah atau tidak.
9. Negara memerlukan secara khusus.

Selasa, 28 Juni 2011

KEBIJAKAN BBM NAIK: YANG MISKIN TETAP MISKIN

NEGARA APA INI? ORANG MISKIN GA BOLEH BERUBAH MEMPERBAIKI NASIBNYA?

1.
Demikian komentar seorang pedagang keliling yang tiap hari berkeliling menawarkan tempe produksi tradisionalnya. Bermula atas keinginan cita-citanya untuk merubah nasibnya agar rambahan jangkauan pemasaran lebih luas sampai ke luar kecamatan. Tak mungkin harus mengayuh sepeda. Karena itu ia mengumpulkan uang sehari sepuluh ribu rupiah dari hasil penjualan tempe setiap harinya. Ia pun tak juluk-muluk untuk membeli chas sepeda motor baru tetapi yang ia beli seken yang 50%. Namun belum lagi dagangan berkembang, harga BBM naik mencekik perut penjual tempe keliling itu. Katanya, Apakah kita tak boleh berubah? harus tetap miskin?

2.
Suatu hari seorang buruh nelayan ingin merubah nasib karena tuntutan keluarga. Ia ingin punya perahu untuk menangkap ikan di tepian laut. Ia membeli perahu kecil dari hasil menjaul tanah perarangan rumah. Agar ia tak lagi sebagai buruh nelayan yang diatur oleh majikan.Meski kecil tapi perahu sendiri katanya. Ikan yang didapat pun sebatas ikan kecil dan penghasilanpun kecil. Namun setelah BBM naik ia bingung. Perahu kecilnya tak lagi melaut, karena hasil ikannya tak cukup beli solar. Katanya benar kata majikannya, Orang miskin tetap miskin!

3.
Seorang tukang tambal ban mengeluh, penghasilannya yang pas-pasan harus dikurangi oleh harga BBM naik.Jadilah tambal bannya tutup. Pasalnya mesin disel untuk penyimpan tabung angin tak lagi bisa hidup karena mahalnya bensin. Kalau pake pompa tangan banyak konsumen yang enggan datang ke tempatnya karena kurang cepat pelayanan. Masa aku harus jadi gelandangan katanya, sambil memegang pompa tangan . Ia pun hanya menerima seribu rupiah untuk isi angin ban sepeda motor.

Sekelumit contoh diatas, tak usah di hiraukan oleh para pengambil kebijakan naiknya BBM yang tamak. Bukankah tak ada orang disebut kaya kalau tak ada porang miskin, jadi biarlah mereka miskin terus katanya...

Rabu, 22 Juni 2011

INDRAMAYU BUTUH SMP NEGERI YANG BETUL-BETUL GRATIS, ANGKA MELANJUTKA TINGGI TAPI SETELAH ITU SISWA TAK MASUK SEKOLAH KARENA HARUS BELI BUKU

INDRAMAYU, angka melanjutkan dari SD ke SMPN sangat tinggi, bahkan hampi seratus prosen, tapi guru sekolah dasar mengharapkan di tahun pelajaran 2011/2012 yad. siswa kelas 7 baru, tidak dibebani biaya yang tinggi untuk pembelian buku atau uang gedung. Meski buku pelajaran guna pegangan sebagai pengayaan siswa merupakan tanggung jawab orang tua siswa, tapi dapat merupakan beban siswa tidak mampu.
Banyak SMPN menawarkan penerimaan siswa baru dengan menyebut tidak memungut uang gedung, DSP bulanan, uang pendaftaran, namun ketika anak-anak duduk di SMP negeri selang beberapa bulan mulailah pihak sekolah menjual buku melalui koperasi sekolah, meski tidak merupakan keharusan tatapi berdampak pada psikologis siswa tidak mampu. Jadilah tak jarang siswa tidak berangkat-berangkat sekolah dan akhirnuya terancam DO.
Kejadian yang klasik ini, perlu dikaji agar pemerintah memperhatikan pada siswa tidak mampu di awal tahun pelajaran.
Jika dimungkinkan minimal di setiap kemcamatan memiliki sekolah negeri yang betul-betul menyelenggrakan sekolah gratis. Namun ini berlawanan dengan konsep umum bahwa "pendidikan itu mahal", atau konsep umum lainnya "tak ada yang tidak pakai uang". Kedua konsep umum ini memang ada benarnya, namun penduduk Indonesia itu heterogen, tak bisa dikatakan mampu semuanya. Bukankah tak ada orang disebut kaya jika tak ada orang miskin, tak ada orang disebut mampu jika tak ada orang tidak mampu. Indi berarti ada diantara saudara kita yang sangat membutuhkan.
Jika demikian tidaklah harus dipukul rata semua siswa baru SMP. Apalagi sampai melakukan tindakaan tegas bahwa kalau mau sekolah di sini harus menanggung resikonya.
Dialektika ini diharapkan dapat direspon oleh pemerintah agar memberi perhatian kepada siswa dari keluarga tidak mampu.
Kegairahan masyarakat yang tinggi disebabkan oleh semangat pemerintah kabupaten indramayu untuk memajukan pendidikan masyarakat tentu harus di upayakan berbagai hambatan seperti siswa baru dari keluarga tidak mampu. Mudah-mudahan tahun pelajaran 2011/2012 ini saudara-saudara kita yang tidak mampu dapat duduk tenang belajar di sekolah. Tentu ada kearifan diantara praktisi pendidikan.

Rabu, 15 Juni 2011

SEKOLAH MENDAPAT BOS HARUS MENYELENGGARAKAN PENDIDIKAN GRATIS

gambar google
Masyarakat Bingung Kenapa Masih Ada Uang Gedung

Mingguan Potlot, 15 Juni 2011

Sekolah-sekolah mendapat Bantuan Oprasional Sekolah (BOS)diharapkan untuk menyelenggrakan sekolah gratis dengan pangecualian pada sekolah Berstandar Internasional, Nasional, dan Unggulan saja yang dapat menarik sumbangan orang tua tetapi hanya kekurangannya saja dari BOS yang diterima.
Sementara ini baru jenjang SD/MI dan SMP MTs saja yang menerima Bos. Untuk tingkat SMA/SMK belum menerima dana BOS sehingga masih memungut sumbangan dari orang tua siswa.
Di tingkat SD dirasakan oleh masyarakat telah betul-betul gratis, tetapi di tingkat SMP masih terdapat sekolah yang memungut sumbangan dari orang tua siswa. Dalam tahun pelajaran 2011/2012 nanti masyarakat mengharap agar SMP pun benar-benar gratis, karena SMP menerima dana BOS.
Kecuali sekolah-sekolah yang disebutkan di atas, SMP yang tidak memiliki predikat Standar Internasional, maupun Nasional atau Unggulan , atau disebut SMP biasa diharapkan tidak meminta sumbangan dari orang tua siswa dalam penerimaan Siswa Baru tahun ini.
DI SMP/MTS mendapat BOS lebih besar dari SD/MI dalam perhitungan per siswa. Namun banyak pihak SMP tanpa predikat itu merasa ada ketimpangan apabila seklahnya berada di kota. Kecemburuan pun terjadi kenapa sama-sama SMP di kota, SMP biasda tidak dapat menerima sumbangan orang tua siswa, apalagi uang gedung. Dasar inilah yang mengakibatkan banyak sekolah SMP biasa tetap menerima sumbangan dari orang tua siswa. Jadilah hampir sekolah SMP di kota terpaksa harus meminta sumbangan dari orang tua siswanya. Akhirmnya anak lulus SD ada terpaksa tidak bersekolah karena takut mahal biaya sekolah sekoah di SMP.

Jumat, 10 Juni 2011

Tabungan Siswa, pendidikan menabung atau dana talangan kecil bagi guru yang membutuhkan

Dilematika:

Sebuah klasik yang menjadi pembicaraan orang banyak menyoroti guru. Yakni pendidikan menabung bagi siswa dimulai dengan cara hidup berhemat dengan menyisihkan bekal sekolah dari orang tua untuk ditabungkan di sekolah melalui guru. Di Indramayu merupakan tradisi bagi siswa sekolah dasar. Menabung hampir merata dilakukan oleh sekolah-sekolah dasar di Indramayu. Bertujuan agar murid dapat hidup berhemat dan mengerti tentang penggunaan uang. Mulia-lah para guru , mereka tak hanya mendidik agar siswa memiliki ilmu, namun kemuliaan guru itu dapat dirusak oleh hal sepele yakni bila guru dimana memahami tabungan siswa.
Guru dengan mendidik hidup berhemat bagi siswa itu terkadang tak dapat disangkal, guru pun bernasib tak ubahnya manusia biasa yang memiliki kekurangan.

Senin, 02 Mei 2011

Kompetensi Guru Tercermin dari Prestasi Siswanya

Sederhana bila mengukur tingkat kompetensi guru dilhat dari Prestasi siswanya. Pernyataan ini cukup mendasar melihat kenyatan yang ada guru kini dengan semakin membaiknya kesejahteraan yang diterima seharusnya meningkat mutu pengajaranya bukan malah "melempem". Pada gilirannya peningkatan mutu pengajaran akan menghasilkan peningkatan prestasi siswa didiknya. Namun kenyataan seperti peningkatan kualifikasi npendidikan guru SD dari Diploma II menjadi S1 malah mutu pengajarannya makin rendah. Hal ionilah yang menjadi penafsiran sementara bahwa siswa yang berprestasi adalah cerminan kompetensi guru. Pendapat ini dikkuatkan dengan biala sebuah sekolah miskin prestasi. Pertanyaannya apakah sebab karena guru atau siswa.

Jumat, 29 April 2011

APA PERLU JIWA INTERPREUNER DIMILIKI KEPALA SEKOLAH DASAR?

Jiwa interpreuner (jiwa usaha) apa dibutuhkan kepala sekolah? Demikian beberapa pertanyaan menanggapi kesulitan dana oprasional apabila Bantuan Oprasional Sekolah(BOS) terlambat datang. Inilah suatu dilema ketika di sekolah dasar dan Sekolah Menengah Pertama menjadi lembaga pendidikan gratis bagi masyarakat. Ketetapan Pemerintah tidak adanya pungutan biasa pendidikan di SD dan SMP berdasar pada UU tentang Wajib Belajar, secara teknis oprasional lembaga pendidikan , Kepala Sekolah menjalankan roda pendidikan hanya bersandar pada BOS. Namun demikian bagaimana jika BOS itu sendiri terlambat sampai di sekolah? Apakah pihak sekolah perlu menggalang dana lain dari masyarakat. Umpamanya dengan melakukan usaha kop[erasi sekolah sebagaimana dituntut pemimpin lembaga diharapkan memiliki jiwa usaha? Apabila ini dilakukan maka yang menjadi sasaran adalah siswa (orang tua siswa) yang berlawanan dengan kebijakan sekolah gratis di SD dan SMP.
Memang tidak sedikit sekolah-sekolah mengadakan kebutuhan peserta didiknya dengan pengadaan pemenuhan kebutuhan peserta didik melalui koperasi sekolah, seperti pengadaan buku pelajaran, baju seragam yang biasanya dijual pada awal tahun ajaran atau awal semester. Tentu saja ini menjadi perdebatan dikalangan masyarakat mengapa sekolah gratis tetapi tetap saja menjual buku? zNamun perlu masyarakat m,engetahui bahwa BOS sebagai belanjka inves pendidikan di sekolah belum atau telah mencukupi kebutuhan suatu sekolah. jadi marilah kita masyarakat dan pendidik memiliki saling pengertian akan hal dana BOS itu. Bukankah tanggung jawab pendidikan tidak hanya terletak pada pemerintah saja tetapi juga rakyat haris peduli terhadap pendidikan bangsa. Karena itu wajar apabila kepala sekolah yang memiliki jiwa usaha melakukan upaya usaha untuk memenuhi kebutuhan sekolah yang jauh dari cukup. Tetapi tentu tidak dapat dipukul rata, bagaimana jika sekolahitu di desa di lingkungan masyarakat pedesaan yang masyarakatnya menengah ke bawah. Nah.