Tampilkan postingan dengan label BERITA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BERITA. Tampilkan semua postingan

Rabu, 18 September 2019

Perempuan Penyair Indonesia Hilda Winar Jiarahi sahabatnya Utuy Tatang Sontani di Moskow

Pada agustus 2019 Perempuan Penyair Indonesia Hilda Winar berkesempatan mendapat undangan di Rusia, Kesempatan ini ia gunakan untuk berjiarah sahabatnya penyair Indonesia Utuy Tatang Sontani di Moskow, berikut ceritanya.

Mitino

Ini pemakaman tak ada bandingannya di tanah air. Kalau kita tanya orang kampung berapa luasnya pasti dijawab segede alaihim!
Iya juga sih, dengkul saya rasa hampir copot berjalan sampai ke ujung jalan. Jauuuuuuh... mentok baru belok kanan menuju blok muslim.

A1 tempat dia berbaring, Utuy Tatang Sontani, seorang sastrawan eksil.
Utuy, karena perubahan iklim politik terpaksa jadi eksil dan terdampar di moskow.
Utuy kelahiran cianjur, seorang sastrawan ternama di masanya. Saya, yang orang minang tapi lama di bandung lalu merasa jadi orang sunda merasa punya hubungan khusus dengan Utuy maka berusaha menziarahinya. Kami sama sama orang Sunda.

Saya pergi ke Rusia di awal agustus, saat luka luka usai pilpres belum kering, hoax bertebar disana sini yang bisa saja menjadi abses dan pecah berdarah darah. Tentu ada rasa takut untuk pergi, takut tak bisa kembali.

Rg Bagus Warsono menyaksikan :

Nun jauh di sana Utuy Tatang Sontani berbaring. Tak ada satu sahabat apalagi rakyat Indonesia menjiarahinya. Jauh jarak jauh kemungkinan. Siapa peduli. Namun Allah Maha Bijaksana , batu nisan itu yg biasa dihinggapi serangga atas kemurahannya mengantarkan sahabatnya unt datang mengunjunginya. Aku lihat Kang Utuy Tatang Sontani tersenyum. Telah kedatangan orang tua Nyai sahabatnya, Hilda Winar, tertatih tatih menemukannya diantara ribuan yg berbaring. (rg bagus warsono)
Kirimkan Ini lewat Email
BlogThis!
Berbagi ke Twitter
Berbagi ke Facebook
Bagikan ke Pinterest

Rabu, 22 Agustus 2018

Aksi Yohanes (Joni), Bocah yang lahir dikala krisis fundamental nasionalisme Republik Indonesia.

Aksi Yohanes (Joni), Bocah yang lahir dikala krisis fundamental nasionalisme Republik Indonesia.

Dikala banyak antek-antek asing yang ingin memecah belah persatuan dan persatuan NKRI, bahkan ada yang berani mengibarkan bendera lain di negeri ini. Tepat tanggal 17 Agustus 2018 di Nusa Tenggara Timur bocah kecil Yohanes alias Joni membuat decak kagum akan jiwa dan naluri kebangsaan dan nasionalisme justru terdapat pada anak kecil ini. Ia mampu memecahkan permasalahan pelik dan memalukan disaat petugas Paskibra mengerek bendera Merah Putih dalam Upacara Detik-detik Proklamasi Kemerdekaan.

Sabtu, 22 Juli 2017

Pak Poniman Guru Berbakti Sepanjang Umur

Pak Poniman Guru Berbakti Sepanjang Umur

Dalam sebuah kunjungan ke SDN Juntinyuat Ii Kecamatan Juntinyuat Kabupaten Indramayu, ditemukan seorang guru yang berusia 64 tahun. Keistimewaan guru ini adalah meski sudah memasuki pensiun tetapi oleh masyarakat di desa Juntinyuat masih diharapkan untuk mengajar, juga di SDN Juntinyuan II Pak Poniman ini sangat dibutuhkan tenaganya untuk mengajar kelas VI. Guru yang sudah sepuh ini terkenal cerdas dan pintar sehingga dibutuhkan untuk tetap mengajar. Menurut Kepala sekolahnya, Pak Poniman juga berperan penting dalam sekolah tersebut dan dipasrahi pekerjaan untuk menangani administrasi kesiswaan. Penulis sempat berbincang bincang dengan guru tua ini, katanya ia tidak mengharapkan imbalan apa pun dari sekolah ini, katanya gaji pensiunnya sudah cukup untuk menopang hidupnya bersama keluarga yang hanya tinggal berdua dengan istrinya, yang juga seorang guru, karena kebetulan anak-anaknya suidah bekerja. Pak Poniman adalah sosok pengabdi pendidikan yang tidak mengenal batas pensiun. Baginya kalau masih ada umur dan tenaga ilmu itu harus dimanfaatkan.
(rg bagus, 23-07-17)

Selasa, 12 Januari 2016

4 siswa SMA Idramayu ikuti Antologi Puisi Nasional Penyair Mbeling Indonesia “Sakarepmu”.



   4 siswa SMA Idramayu , terdiri dari 1 siswa di SMAN 1 HAURGEULIS Kabupaten Indramayu dan 3 Siswa SMA NU Juntinyuat  Kabupaten Indramayu lolos seleksi dalam antologi bersama penutup tahun 2015 Penyair Mbeling Indonesia “Sakarepmu”.

   Kegitan seleksi Antologi Bersama Nasional Penyair Mbeling Indonesia diselenggarakan oleh Sanggar Sastra Meronte Jaring Indramayu asuhan penyair Rg Bagus Warsono.
   Mereka para siswa yang karya puisinya terseleksi itu adalah
1. Fitriyanti,
            siswa  di SMA NU Juntinyuat Indramayu.
2. Iis Sri Pebriyanti ,
            pelajar  di SMAN 1 HAURGEULIS Kabupaten Indramayu.
3. Nur Fajriyah,
           siswa SMA NU Juntinyuat Kelas XI IPS 1
4. Riza Umami,
            siswa SMA NU Juntinyuat Kelas XI IPA 1

Kegiatan antologi bersama nasional ini diikuti oleh 100 penyair / peserta yang turut berpartisipasi dalam pembuatan antologi.

“Merupakan suatu kebanggaan siswa dan sekolah bisa turut dalam antologi para penyair ternama. Dalam buku antologi ini tercatat nama-nama penyair terkenal seperti Slamet Widodo, Rg Bagus Warsono, Wardjito Soeharso,  Samsuri Sarman dan lain-lain” , ujar Drs. Edi Wiyatno , pengawas pendidikan menengah di Indramayu yang merasa turut bangga karena ke empat siswa tersebut dalam pembinaan di wilayah kerjanya.

Antologi Sakarepmu menurut rencana akan diluncurkan di Warung Apresiasi Bulungan Jakarta. (abd mappuji 11-1-16)

Sabtu, 07 November 2015

Anugerah Pahlawan Nasional kepada lima orang putra terbaik 2015

Presiden Joko Widodo   gelar Pamenganugerahkanhlawan Nasional kepada lima orang putra terbaik bangsa Indonesia di Istana Negara, Kamis (5/11/2015).

Kelimanya yakni almarhum Bernard Wilhem Lapian, almarhum Mas Isman, almarhum Komisaris Jenderal Polisi Dr. H. Moehammad Jasin, almarhum I Gusti Ngurah Made Agung dan almarhum Ki Bagus Hadikusumo.

Tim Komunikasi Presiden Ari Dwipayana mengatakan, pemberian gelar pahlawan ini dalam rangka memperingati Hari Pahlawan 10 November 2015 dengan tema "Semangat Kepahlawanan adalah Jiwa Ragaku".

"Pemberian gelar pahlawa ditetapkan melalui Keputusan Presiden Nomor 116/TK/Tahun 2015 tanggal 4 November 2015,"  (ayokesekolah.com)

 1. Bernard Wilhelm Lapian (lahir di Kawangkoan, 30 Juni 1892 – meninggal di Jakarta, 5 April 1977 pada umur 84 tahun) adalah seorang pejuang nasionalis berasal dari Minahasa, Sulawesi Utara. Perjuangannya dilakukan dalam pelbagai bidang dan dalam rentang waktu sejak zaman pemerintahan Hindia Belanda, pendudukan Jepang, sampai pada zaman kemerdekaan Indonesia.

Pada masa pemerintahan Hindia Belanda, di mana semua gereja Kristen berada di bawah naungan satu institusi Indische Kerk yang dikendalikan oleh pemerintah, B.W. Lapian bersama tokoh-tokoh lainnya mendeklarasikan berdikarinya Kerapatan Gereja Protestan Minahasa (KGPM) tahun 1933, yaitu suatu gereja mandiri hasil bentukan putra-putri bangsa sendiri yang tidak bernaung di dalam Indische Kerk.

Pada masa revolusi kemerdekaan B.W. Lapian sebagai pimpinan sipil saat itu berperan besar pada momen heroik Peristiwa Merah Putih 14 Februari 1946 di Manado.

Karena ketokohannya, ia pada masa kemerdekaan dipercayai untuk menjabat sebagai Gubernur Sulawesi pada tahun 1950 sampai dengan 1951, yang berkedudukan di Makassar.

2. Mayor Jenderal TNI (Purn) Mas Isman (lahir di Bondowoso, Jawa Timur, 1 Januari 1924 – meninggal di Surabaya, Jawa Timur, 12 Desember 1982 pada umur 58 tahun) adalah seorang pejuang kemerdekaan menentang pemerintahan Hindia Belanda di Jawa Timur yang diangkat sebagai Pahlawan Nasional Indonesia oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 5 November 2015.

3.Komisaris Jenderal Polisi Dr H. Mohammad Yasin yang dikenal sebagai Bapak Brimob Polri. Muhamamd Yasin menghembuskan nafas terakhir pada hari kamis tanggal 3 Mei 2012 pukul 15.30 WIB. Almarhum tutup usia dalam usia 92 tahun di RS Polri Kramat Jati.dan Almarhum dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

4.   I Gusti Ngurah Made Agung (lahir di Denpasar, Bali, 5 April 1876 – meninggal di Badung, Bali, 22 September 1906 pada umur 30 tahun) adalah seorang pejuang menentang pemerintahan Hindia Belanda di Bali yang diangkat sebagai Pahlawan Nasional Indonesia oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 5 November 2015.

5.   Ki Bagoes Hadikoesoemo atau Ki Bagus Hadikusumo (lahir di Yogyakarta, 24 November 1890 – meninggal di Jakarta, 4 November 1954 pada umur 63 tahun) adalah seorang tokoh BPUPKI. Ia dilahirkan di kampung Kauman dengan nama R. Hidayat pada 11 Rabi'ul Akhir 1308 H (24 November 1890). Ki Bagus adalah putra ketiga dari lima bersaudara Raden Kaji Lurah Hasyim, seorang abdi dalem putihan (pejabat) agama Islam di Kraton Yogyakarta.

Ia mendapat pendidikan sekolah rakyat (kini SD) dan pendidikan agama di pondok pesantren tradisional Wonokromo Yogyakarta. Kemahirannya dalam sastra Jawa, Melayu, dan Belanda didapat dari seorang yang bernama Ngabehi Sasrasoeganda, dan Ki Bagus juga belajar bahasa Inggris dari seorang tokoh Ahmadiyah yang bernama Mirza Wali Ahmad Baig.

Selanjutnya Ki Bagus pernah menjadi Ketua Majelis Tabligh (1922), Ketua Majelis Tarjih, anggota Komisi MPM Hoofdbestuur Muhammadijah (1926), dan Ketua PP Muhammadiyah (1942-1953). Ia sempat pula aktif mendirikan perkumpulan sandiwara dengan nama Setambul. Selain itu, bersama kawan-kawannya ia mendirikan klub bernama Kauman Voetbal Club (KVC), yang kelak dikenal dengan nama Persatuan Sepak Bola Hizbul Wathan (PSHW).

Pada tahun 1937, Ki Bagus diajak oleh Mas Mansoer untuk menjadi Wakil Ketua PP Muhammadiyah. Pada tahun 1942, ketika KH Mas Mansur dipaksa Jepang untuk menjadi ketua Putera (Pusat Tenaga Rakyat), Ki Bagus menggantikan posisi ketua umum yang ditinggalkannya. Posisi ini dijabat hingga tahun 1953.

Semasa menjadi pemimpin Muhammadiyah, ia termasuk dalam anggota BPUPKI dan PPKI. Ki Bagus Hadikusumo sangat besar peranannya dalam perumusan Muqadimah UUD 1945 dengan memberikan landasan ketuhanan, kemanusiaan, keberadaban, dan keadilan. Pokok-pokok pikirannya dengan memberikan landasan-landasan itu dalam Muqaddimah UUD 1945 itu disetujui oleh semua anggota PPKI.

Ki Bagus aktif membuat karya tulis, antara lain Islam Sebagai Dasar Negara dan Achlaq Pemimpin. Karya-karyanya yang lain yaitu Risalah Katresnan Djati (1935), Poestaka Hadi (1936), Poestaka Islam (1940), Poestaka Ichsan (1941), dan Poestaka Iman (1954).

Setelah meninggal, Pemerintah Republik Indonesia menetapkannya sebagai Pahlawan Perintis Kemerdekaan Nasional Indonesia.

Jumat, 09 Oktober 2015

Profil Universitas Pemenang PIMNAS-28 2015 , Universitas Brawijaya, Malang

Universitas Brawijaya (biasa disingkat UNBRA, UNIBRAW atau singkatan resmi UB) merupakan lembaga pendidikan tinggi negeri di Indonesia yang berdiri pada tahun 1963 di Kota Malang melalui Ketetapan Menteri Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan No. 1 tanggal 5 Januari 1963, kemudian disahkan oleh Keputusan Presiden no. 196 tahun 1963 yang kemudian tanggal 5 Januari ditetapkan sebagai hari lahir Universitas Brawijaya. Jumlah mahasiswa saat ini lebih dari 55 ribu orang dari berbagai strata mulai program Diploma, program Sarjana, program Magister, dan program Doktor selain program Spesialis tersebar dalam 15 Fakultas dan 2 Program pendidikan setara fakultas.

Pada tanggal 10 Januari 2009, Universitas Brawijaya mendapatkan akreditasi A dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi.Pada akreditasi selanjutnya tanggal 11 September 2014, Universitas Brawijaya kembali mendapatkan Akreditasi A.29 November 2007, UB mendapat persetujuan Dirjen Dikti untuk menjadi perguruan tinggi otonom.

Universitas Brawijaya memiliki kampus pusat yaitu di Malang (Ketawanggede, Puncak Dieng, Griyasahanta), dan cabang di Kediri, Kasembon, Jakarta, dan Probolinggo untuk pendidikan maupun penelitian. Pada tahun 2013, terdapat 143 program studi yang terdiri dari Diploma 3 (D3): 4; Diploma 4 (D4): 4; Sarjana (S1): 64; Magister (S2): 39; Doktor (S3): 14; Spesialis 1 (Sp1): 15; Profesi: 3. Jumlah mahasiswa baru tahun 2014 yaitu 13.237 mahasiswa dan total seluruh mahasiswa adalah 59.469 orang, sedangkan lulusan tahun 2014 sebanyak 8.427 mahasiswa. Untuk program beasisw Bidikmisi, UB menerima 1.500 mahasiswa pertahun dan menambah biaya Rp 200.000 perbulan dari yang diberikan oleh pemerintah. Sedangkan total beasiswa lain yaitu Rp 27,6 miliar pertahun. Saat ini ada tiga fakultas yang terakreditasi Internasional yaitu Ekonomi dan Bisnis, Teknologi Pertanian, dan Ilmu Administrasi. Sedangkan untuk semua fakultas, lembaga, dan unit telah mendapatkan sertifikat manajemen ISO. Universitas Brawijaya memiliki visi menjadi World Class Entrepreneurial University terus mengembangkan dan memperbaiki internal maupun eksternal kampus untuk mewujudkan visi tersebut.

Lahan kampus utama seluas 58 ha terletak di kawasan barat kota Malang, tepatnya di Jalan Veteran. Gedung-gedung dalam Kampus pada umumnya berarsitektur Jawa. Untuk efisiensi penggunaan lahan kampus, gedung-gedung UB kebanyakan berlantai 3 bahkan di beberapa fakultas gedungnya berlantai 7 atau lebih. Gedung kantor pusat berlantai 8 dengan bangunan yang sangat khas, saat ini menjadi maskot UB. Secara keseluruhan UB memiliki aset tanah seluas 1.813.664 m2 (181 ha). Dari luas tanah tersebut 58 ha terletak di dalam Kota Malang dan merupakan wilayah utama kegiatan universitas. Lahan seluas 73 ha merupakan lahan laboratorium dan lahan percobaan di propinsi Jawa Timur di luar kota Malang, yaitu di Cangar, Jatikerto, Dau dan Sumberpasir. Sedangkan sisanya, seluas 92 ha, terletak di Lampung dan merupakan lahan percobaan untuk bidang pertanian.[12]

Sejarah
1957-1960: Gemeentelijke Universiteit
Gedung Balaikota Malang dilihat dari Alun-alun Bundar.
Gedung Balaikota Malang dilihat dari Alun-alun Bundar.
Berawal dari Balaikota Malang, gagasan untuk pembentukan perguruan tinggi itu digulirkan. Atas prakarsa Ketua DPRD, 10 Mei 1957, diadakan pertemuan tokoh-tokoh masyarakat dan pemerintahan kota Malang, membahas rencana pembentukan sebuah universitas milik kotapraja (Gemeentelijke Universiteit).

Sebagai langkah awal, didirikan sebuah yayasan bernama Yayasan Perguruan Tinggi Malang (YPTM) dengan akte notaris nomor 48 tahun 1957, 28 Mei 1957. Yayasan ini kemudian membuka Perguruan Tinggi Hukum dan Pengetahuan Masyarakat (PTHPM), pada 1 Juli 1957. Tercatat sebanyak 104 mahasiswa perguruan tinggi ini, dan menggunakan ruang sidang Balaikota Malang sebagai tempat perkuliahannya.

Sementara itu, atas inisiatif beberapa tokoh masyarakat yang lain dibentuk pula Yayasan Perguruan Tinggi Ekonomi Malang (YPTEM) dengan akte notaris nomor 26, 15 Agustus 1957, yang kemudian mendirikan Perguruan Tinggi Ekonomi Malang (PTEM). Tak jauh berbeda dengan pendahulunya, aktivitas perkuliahan PTEM juga menumpan di Balaikota Malang.

Secara resmi PTHPM diakui sebagai milik Kotaparaja Malang dengan keputusan DPRD, 19 Juni 1958. Pada dies natalis ketiga PTHPM, 1 Juli 1960, diumumkan penggunaan nama Universitas Kotapraja Malang bagi perguruan tinggi itu. Selain itu diumumkan pula rencana membuka dua fakultas baru. Rencana itu menjadi kenyataan, 15 September 1960, berdiri Fakultas Administrasi Niaga (FAN). Disusul kemudian oleh Fakultas Pertanian (FP), 10 November 1960.

1961-1964: Upaya penegerian
"Brawijaya" merupakan nama gelar raja Majapahit, yang diberikan oleh Presiden Soekarno.
"Brawijaya" merupakan nama gelar raja Majapahit, yang diberikan oleh Presiden Soekarno.
Pembiayaan menjadi kendala utama penyelenggaraan Universitas Kotapraja Malang. Meskipun diakui sebagai milik Kotapraja Malang, pembiayaan universitas ini sepenuhnya tetap menjadi beban yayasan. Oleh karena itu ditempuh usaha untuk memperoleh status universitas negeri. Sesuai UU nomor 22 tahun 1961 tentang perguruan tinggi, ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi, baik mengenai jumlah maupun jenis fakultas yang dimiliki. Untuk itu, diupayakan penggabungan dengan perguruan tinggi yang sudah ada di Malang, yakni PTEM dan STKM (Sekolah Tinggi Kedokteran Malang). PTEM sepakat dengan gagasan ini, sementara STKM masih belum dapat menerimanya.

Sebagai langkah menuju penggabungan, Universitas Kotapraja Malang berganti nama menjadi Universitas Brawijaya. Nama ini berasal dari gelar raja-raja Majapahit yang merupakan kerajaan besar di Indonesia pada abad 12 sampai 15.[14] Nama ini diberikan oleh Presiden Republik Indonesia melalui kawat nomor 258/K/61 tanggal 11 Juli 1961, dipilih dari 3 alternatif yang diajukan, yakni Tumapel, Kertanegara, dan Brawijaya. Nama itu secara resmi baru dipakai 3 Oktober 1961, setelah penggabungan Yayasan Perguruan Tinggi Malang (Universitas Kotapraja Malang) dengan Yayasan Perguruan Tinggi Ekonomi Malang (PTEM) menjadi Yayasan Universitas Malang, yang disahkan akte notaris nomor 11 tanggal 12 Oktober 1961.

Untuk memenuhi syarat penegerian, Universitas Brawijaya yang telah memiliki 4 fakultas (FHPM, FE, FAN, dan FP) membuka lagi sebuah fakultas, Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan (FKHP) pada 26 Oktober 1961.

Presiden Universitas Brawijaya, H. Doel Arnowo bersama para perintis universitas ini terus berjuang untuk mendapatkan status universitas negeri. Dalam sebuah pertemuan 7 Juli 1962, dicapai kesepakatan antara Menteri PTIP, Pangdam VIII Brawijaya, Presiden Universitas Airlangga, Presiden Universitas Brawijaya, dan Presiden Universitas Tawangalun, bahwa hanya fakultas-fakultas eksakta saja yang terlebih dulu dinegerikan. Keputusan Menteri PTIP nomor 92 tahun 1962 tanggal 1 Agustus 1962 menetapkan FP dan FKHP dinegerikan dan sekaligus menjadi bagian dari Universitas Airlangga. Keputusan ini berlaku surut mulai 1 Juli 1962.

Sementara itu di Probolinggo, 28 Oktober 1962 dibuka Perguruan Tinggi Jurusan Perikanan Laut oleh Yayasan Pendidikan Tinggi Probolinggo. Jurusan ini pada saatnya kemudian menjadi bagian dari FKHP dengan SK Menteri PTIP no 163 tahun 1963, 25 Mei 1963. Tanggal 5 Januari 1963, keluar Keputusan Menteri PTIP nomor 1 tahun 1963, tentang pendirian Universitas Negeri Brawijaya di Malang.

Gedung Fakultas Pertanian di Jl. MT. Haryono (dulu Jl. Raya Dinoyo).
Gedung Fakultas Pertanian di Jl. MT. Haryono (dulu Jl. Raya Dinoyo).
Dengan keputusan itu, ditetapkan Universitas Brawijaya di Malang terdiri dari Fakultas Ekonomi, Fakultas Hukum dan Pengetahuan Masyarakat, Fakultas Ketatanegaraan dan Ketataniagaan, Fakultas Pertanian, serta Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan. Keputusan itu pula memisahkan Fakultas Pertanian, dan Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan dari Universitas Airlangga dan memasukkannya ke dalam lingkungan Universitas Brawijaya di Malang. Selain itu, keputusan Menteri PTIP ini juga meresmikan 3 fakultas yaitu Fakultas Hukum, Fakultas Ilmu Pendidikan, dan Fakultas Ketatanegaraan di Jember sebagai bagian dari Universitas Brawijaya. Kemudian, dengan Keputusan Menteri PTIP nomor 97 tahun 1963, 15 Agustus 1963, Fakultas Ketatanegaraan dan Ketataniagaan di Kediri ditetapkan sebagai cabang dari FKK Universitas Brawijaya.

Keputusan Menteri PTIP tentang pendirian Universitas Negeri Brawijaya kemudian disahkan dengan Keputusan Presiden nomor 196 tahun 1963, 23 September 1963. Dengan itu pula ditetapkan fakultas-fakultas yang bergabung ke dalam Universitas Brawijaya, yakni FE, FHPM, FKK, FP dan FKHP di Malang, serta Fakultas Hukum, Fakultas Pertanian, Fakultas Ilmu Pendidikan, Fakultas Ilmu Sosial, dan Fakultas Kedokteran di Jember. Dalam status negeri, Universitas Brawijaya membuka Fakultas Teknik (FT) berdasarkan Keputusan Menteri PTIP nomor 167 tahun 1963, 23 Oktober 1963.[14] Pada tahun 1964, cabang di Jember memisahkan diri dan membentuk Universitas Jember (SK Menteri PTIP nomor 151 tahun 1964, 9 November 1964).

1965-1968: Kampus bergolak
Situasi negara memburuk dengan meletusnya pemberontakan G30S/PKI pada tahun 1965. Seluruh perguruan tinggi bergolak, tidak terkecuali Universitas Brawijaya. Pergolakan mencapai puncaknya 2 April 1966, seluruh aktivitas universitas ini berhenti. Dengan keputusan nomor 012/IV/66, Komandan Korem 083 selaku PU Pepelrada (Penguasa Pelaksana Perang Daerah) menetapkan sebuah presidium untuk memimpin Universitas Brawijaya, dan dekan untuk memimpin fakultas-fakultas. Keputusan itu kemudian disahkan Deputi Menteri PTIP dengan Keputusan nomor 4385 tahun 1966. Tugas utama presidium adalah normalisasi keadaan dan menggalang persatuan dan kesatuan di kalangan sivitas akademika. Presidium mulai bekerja 7 April 1966, dan membuka kembali Universitas Brawijaya 12 April 1966.

Bulan Juni 1966, Brigjen dr. Eri Soedewo ditugasi pemerintah untuk stabilisasi perguruan tinggi-perguruan tinggi di Jawa Timur. Jabatannya sebagai Koordinator Perguruan Tinggi Jawa Timur, di samping Pejabat Rektor Universitas Airlangga, Ketua Presidium IKIP Surabaya, Ketua Presidium IKIP Malang, dan Ketua Presidium Universitas Brawijaya.

Dalam rangka pengamanan seluruh kampus di Jawa Timur, Pangdam VIII/Brawijaya, 1 Agustus 1966, memberhentikan seluruh pimpinan perguruan tinggi di Jawa Timur. Sebagai pimpinan Universitas Brawijaya, dengan keputusan Pepelrada nomor 59 tahun 1966, yang kemudian disahkan oleh keputusan Direktur Jenderal Perguruan Tinggi nomor 798/I/SP/KT/67, diangkat Kolonel Moejadhie Komandan Korem 083 sebagai Rektor Universitas Brawijaya, dibantu oleh para pembantu rektor dan para dekan fakultas.[13][16]

1969-1997: Pengembangan kampus
Pimpinan Universitas Brawijaya bekerja tanpa anggaran selama setahun. Baru kemudian secara berangsur-angsur diperoleh kembali anggaran dari pemerintah. Setelah 3 tahun keadaan menjadi normal, Universitas Brawijaya melangkah memasuki masa pembangungan (Pelita I) pada tahun 1969, dipimpin oleh rektor dari kalangan sendiri, yaitu Dr Ir Moeljadi Banoewidjojo (1969-1973).[13][17]

Pembangunan fisik dilaksanakan. Gedung-gedung kuliah, laboratorium, bengkel, dan perpustakaan dibangun di kompleks Dinoyo. Secara berangsur-angsur prasarana dan sarana kampus dilengkapi. Untuk memudahkan manajemen, jurusan Perikanan Laut di Probolinggo (1972) dan cabang Fakultas Ketatanegaraan dan Ketataniagaan (FKK) di Kediri (1973) secara berangsur-angsur dipindahkan ke Malang. Sedangkan jurusan Kedokteran Hewan di Surabaya (berdiri 1970) sejak 1972 bergabung dengan Universitas Airlangga. Di bawah kepemimpinan Rektor Dardji Darmodihardjo SH (1973-1979), pembangunan fisik terus berlangsung.

Kantor Pusat dipindahkan dari Jalan Guntur 1 ke Kampus Dinoyo (1974), juga tempat perkuliahan seluruh fakultas secara berangsur-angsur dipusatkan. Jumlah staf pengajar maupun administratif bertambah dengan banyaknya pengangkatan baru. Dia juga menetapkan singkatan “Unibraw” sebagai pengganti “Unbra”. Jumlah fakultas pun bertambah dengan bergabungnya Sekolah Tinggi Kedokteran Malang (STKM) secara resmi menjadi Fakultas Kedokteran dengan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 001/O/1974, 1 Januari 1974.

Gedung Rektorat UB yang dibangun pada kepemimpinan rektor Prof. Drs. Zainal Arifin Achmady (1987-1993).
Gedung Rektorat UB yang dibangun pada kepemimpinan rektor Prof. Drs. Zainal Arifin Achmady (1987-1993).
Berdasarkan SK Presiden Nomor 59 tahun 1982 tanggal 7 September 1982 tentang struktur organisasi Universitas Brawijaya, Fakultas Perikanan (FPi) menjadi fakultas tersendiri karena sejak tahun 1977 digabung menjadi satu dengan Fakultas Peternakan dengan nama Fakultas Peternakan dan Perikanan. Sebagai catatan bahwa Fakultas Perikanan telah berdiri sejak tahun 1963 di Probolinggo yang merupakan Jurusan dari FKHP Universitas Brawijaya.

Dalam periode selanjutnya, berturut-turut di bawah kepemimpinan Rektor Prof Harsono (1979-1987), Rektor Prof ZA Achmady (1987-1994), Rektor Prof Hasyim Baisoeni (1994-1998). Terjadi perubahan nama beberapa fakultas, peningkatan beberapa jurusan menjadi fakultas, pembukaan fakultas dan program-program baru, serta pemisahan untuk mandiri program non gelar Politeknik. Selain itu banyak pembangunan fasilitas pembangunan fisik seperti gedung Rektorat berlantai 8 dan gedung Widyaloka pada masa jabatan Rektor Prof ZA Achmady, sedangkan penggunaan website resmi Universitas Brawijaya mulai diresmikan pada masa Rektor Prof Hasyim Baisoeni.[13][17]

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), diresmikan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 0371/O/1993 tanggal 21 Oktober 1993. Universitas Brawijaya menambah satu lagi fakultas yaitu Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) yang merupakan peningkatan satu dari Jurusan Teknologi Pertanian yang sebelumnya berada di Fakultas Pertanian.

1998-2005: Perguruan Tinggi Otonom
Pada masa kepemimpinan Rektor Prof Eka Afnan Troena (1998-2002) mulai menerima mahasiswa asing asal Malaysia, dimulainya era jaringan serat optik untuk pengembangan teknologi informasi (TI) di kampus dan pelaksanaan pembelajaran jarak jauh bekerjasama dengan Keio University, Jepang, serta memulai program pemberian beasiswa studi lanjut bagi staf administrasi.

Pada tahun 1999, pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 60 Tahun 1999 tentang Pendidikan Tinggi dan Nomor 61 Tahun 1999 tentang Penetapan Perguruan Tinggi Negeri Sebagai Badan Hukum. Tekad Universitas Brawijaya menjadi perguruan tinggi otonom sesuai PP 60 dan PP 61 Tahun 1999, telah di persiapkan sejak tahun 2000, dengan melakukan sosialisasi kepada sivitas akademika.

Beberapa Presiden mahasiswa perguruan tinggi menolak otonomi kampus. Presiden Mahasiswa Universitas Brawijaya, Muhammad Fadhli mengusulkan adanya SPP progresif (proporsional), jika otonomi kampus diberlakukan. Menurut Presiden Mahasiswa Universitas Brawijaya, pihaknya telah melakukan polling pendapat tentang otonomi kampus yang hasilnya 63,9% menolak penerapan otonomi kampus dan hanya 26,7% yang setuju. Otonomi kampus, yang akan diberlakukan di Universitas Brawijaya harus dikaji ulang dan dicarikan format yang paling baik dan tepat.

Pada masa Rektor Prof Bambang Guritno ini, dia mencanangkan visi menjadikan Universitas Brawijaya sebagai perguruan tinggi terkemuka melewati batas wilayah nasional, melakukan persiapan-persiapan untuk menjadi perguruan tinggi otonom, mengupayakan peningkatan kualitas dosen melalui studi lanjut, memperluas kerjasama luar negeri, mengadakan penataan jenjang karier staf administrasi, merintis pemberian subsidi biaya perjalanan haji bagi karyawan, serta menempatkan perencanaan sebagai dasar penetapan program dan kegiatan Universitas Brawijaya.

Pada tahun 2003, berdasarkan SK Rektor nomor 147/SK/2003 dibentuklah dan mulai disosialisasikan pelaksanaan Tim Evaluasi Diri (Persiapan BHMN-UB) untuk Pengembangan Otonomi dan Akuntabilitas Organisasi Universitas Brawijaya. Otonomi adalah salah satu pilar untuk menghasilkan SDM yang berkualitas berdasarkan hasil studi banding ke Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada, Institut Teknologi Bandung dan Institut Pertanian Bogor yang telah berstatus perguruan tinggi BHMN (Badan Hukum Milik Negara).

Akhirnya pada Desember 2004, diterbitkanlah keputusan Senat mengenai Otonomi Kampus Universitas Brawijaya. Dan mulai disosialisasikan bagi kalangan pejabat di lingkungan kampus dan bagi para fungsionaris mahasiswa yaitu Eksekutif Mahasiswa, Dewan Perwakilan Mahasiswa, serta Himpunan Mahasiswa Jurusan dan Program Studi mulai tahun 2005.

2006-sekarang: World Class Entrepreneurial University
Universitas Brawijaya mendapat persetujuan Dirjen Dikti untuk menjadi perguruan tinggi otonom pada tanggal 29 November 2007, walaupun pelaksanaannya harus menunggu pengesahan Undang Undang BHP. Sementara menunggu pengesahan UU-BHPMN (Badan Hukum Pendidikan Milik Negara) oleh DPR, untuk itu telah dibentuk tim penyusun proposal BLU (Badan Layanan Umum) yang diketuai oleh Prof. Dr. Sutiman B. Sumitro.

Dalam masa kepemimpinan Rektor Prof. Yogi Sugito, Universitas Brawijaya diarahkan untuk menjadi entrepreneurial university yang bertaraf internasional, dibuat logo Universitas Brawijaya, mulai diperkenalkan singkatan UB menggantikan Unibraw, diberlakukan SPP proporsional bagi mahasiswa baru, dibangun gedung Pusat Bisnis, gedung kuliah Fakultas Ekonomi, gedung Pusat Pendidikan Fakultas Kedokteran, dan monumen tugu UB, dan pembentukan Laboratorium Sentral Ilmu Hayati. Rektor ini sangat memperhatikan keindahan, keamanan, dan kenyamanan kampus.

Gedung INBIS UB di Jalan Veteran, sebagai penunjang Entrepreneurial University.
Gedung INBIS UB di Jalan Veteran, sebagai penunjang Entrepreneurial University.
Pencanangan UB menuju Entrepreneurial University (EU) disaksikan oleh Wakil Presiden Republik Indonesia pada tanggal 2 Juni 2007. Bagi UB, EU merupakan perwujudan Visi dan Misi, untuk menghasilkan lulusan yang mandiri dan berjiwa pelopor. Di dalam pelaksanaannya telah ditempuh rintisan-rintisan berbagai kegiatan dengan bantuan dana hasil kerjasama. Sebagai bagian dari langkah nyata UB menuju EU, maka dilakukan pembenahan organisasi, antara lain pembentukan UBBIPS (University of Brawijaya Business Incubator and Public Services atau Pusat Inkubator Bisnis dan Layanan Masyarakat UB). Lembaga ini keberadaannya di bawah Rektor yang berfungsi sebagai tempat pengembangan pendidikan dan latihan kewirausahaan bagi mahasiswa, dosen, pegawai, dan masyarakat, sebagai fasilitator pengembangan riset di universitas yang relevan dengan kebutuhan industri/UKM dan ekspose hasil riset potensial agar bernilai bisnis, serta mengembangkan unit bisnis akademik dan non akademik sebagai sumber pendapatan universitas untuk menunjang aktivitas pendidikan.

Kerjasama dilakukan dengan Badan Litbang Diknas, UB dipercaya untuk menyusun Pedoman Umum, Pedoman Khusus dan berbagai modul Inkubator Bisnis Perguruan Tinggi. Bekerja sama dengan JBIC (Japan Bank for International Cooperation) dan Waseda University, serta perguruan tinggi di negara-negara ASEAN untuk mencari dan menguji coba model Pendidikan Entrepreneurship untuk Mahasiswa Pendamping UMKM (Usaha Mikro Kecil dan Menengah) yang cocok diterapkan di kawasan ASEAN.

Atribut

Frame-UB-BT-ala-Jpg.jpg
Fakultas
Hukum  • Ekonomi dan Bisnis  • Ilmu Administrasi  • Pertanian  • Peternakan  • Teknik  • Kedokteran  • Perikanan dan Ilmu Kelautan  • Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam  • Teknologi Pertanian  • Ilmu Sosial dan Ilmu Politik  • Ilmu Budaya  • Kedokteran Hewan  • Ilmu Komputer  • Program Vokasi  • Pasca Sarjana
Penunjang
Pimpinan Univesitas

Lambang
Arca Harihara, dewa gabungan Siwa dan Wisnu sebagai penggambaran Raja Brawijaya.
Arca Harihara, dewa gabungan Siwa dan Wisnu sebagai penggambaran Raja Brawijaya.
Lambang merupakan penyederhanaan dari kenyataan yang kompleks dan bersifat abstrak. Dengan lambang, sebuah institusi memiliki identitas yang unik agar dikenali orang lain. Lambang Universitas Brawijaya berbentuk segilima dengan warna dasar hitam. Di dalamnya terdapat gambar arca Raden Wijaya (Prabu Brawijaya) berwarna kuning emas, sebagai penjelmaan Dewa Wisnu yang bertangan empat. Masing-masing tangan memegang lampu, canka atau siput, qada, dan cakra. Selain itu sebagai lambang Ciwa, Raden Wijaya mengenakan mahkota Candra Kapala. Di samping kiri dan kanan Raden Wijaya terdapat sepasang Dewa Perwara sebagai pengikut Sang Raja.

Lambang secara keseluruhan menggambarkan corak atau watak dari Universitas Brawijaya. Jiwa kepeloporan, seperti yang dimiliki oleh Raden Wijaya (Prabu Brawijaya), dilukiskan dengan warna kuning emas. Memiliki sifat abadi, dilukiskan dengan warna dasar hitam.

Menjunjung tinggi falsafah Pancasila, digambarkan dalam bentuk segilima berwarna kuning emas. Berani membongkar segala sesuatu yang tidak wajar atau tidak benar, digambarkan dalam bentuk mahkota candra kapala. Penegak tertib hukum, digambarkan dalam bentuk gada. Berani meratakan segala sesuatu yang dianggap kurang wajar atau kurang benar, digambarkan dalam bentuk senjata cakra. Segalanya dilakukan dengan kesucian yang disertai pula tugas pemelihara atau pembina sesuai dengan sifat Wisnu, yang dilambangkan dalam bentuk fanka atau siput. Percaya dan meyakini benar-benar bahwa zat hidup itu ada, yang dilukiskan dalam bentuk lampu. Dengan demikian lambang tersebut menggambarkan penjiwaan keseluruhan watak Raden Wijaya (Prabu Brawijaya) yang senantiasa dilandasi moral Pancasila.

Bendera
Setiap fakultas di Universitas Brawijaya mempunyai warna-warna tertentu sesuai dengan ciri khas masing-masing. Fakultas Hukum (FH) memiliki warna bendera merah, Fakultas Ekonomi (FE) warna bendera kuning, Fakultas Ilmu Administrasi (FIA) warna bendera abu-abu, Fakultas Pertanian (FP) warna bendera hijau muda, Fakultas Peternakan (FPet) warna bendera coklat, Fakultas Teknik (FT) warna bendera biru tua, Fakultas Kedokteran (FK) warna bendera hijau tua, Fakultas Perikanan (FPi) warna bendera biru laut, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) warna bendera biru muda, Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) warna bendera biru muda.[23][25]

Lagu
Hymne Universitas Brawijaya diciptakan oleh R. Janardhana mahasiswa Fakultas Kedokteran Hewan dan Peternakan (sekarang: Fakultas Peternakan) Universitas Brawijaya pada tahun 1963. Sedangkan Mars Universitas Brawijaya diciptakan oleh Lilik Sugiarto tahun 1990. Sampai saat ini, kedua lagu tersebut masih digunakan.

Jaket
Warna biru dipakai berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No.0602a/U/1984 tanggal 28 November 1984 tentang Pedoman Tata-Busana Akademik Perguruan Tinggi di Lingkungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, yang tertuang dalam Lampiran 1-2 tentang warna-warna Universitas/Institut Negeri di seluruh Indonesia tabel nomor 12 (Universitas Brawijaya dengan warna: Biru Turquoise). Sedangkan model yang sampai sekarang dipakai, telah disempurnakan atas kepeloporan Ir. Abdul Azis Hoesein, Dipl.HE (Ketua Dewan Mahasiswa 1970-1971) pada acara "Jaket Show" untuk memilih model desain jaket almamater.

Logo dan Moto
Logo UB
Logo UB
Logo merupakan salah satu bentuk representasi dari lembaga yang diharapkan mampu mensosialisasikan keberadaannya di tengah-tengah masyarakat. Hal ini melatarbelakangi Pusat Jaminan Mutu (PJM) Universitas Brawijaya untuk mengadakan penjaringan design logo Universitas Brawijaya yang berlangsung selama 1 bulan penuh (1-30 September 2006). Pada tanggal 21 November 2006, melalui Keputusan nomor 163/SK/2006, tanggal 14 November 2006, Rektor Prof Yogi Sugito menetapkan pemenang lomba desain logo Universitas Brawijaya. Logo ini secara filosofis memuat pesan ”Join UB, be the best” untuk jaminan mutu, dapat diubah kapan saja. Logo UB berbentuk persegi empat dengan warna blue navie dengan tuisan UB berwarna kuning emas.

Makna logo dari UB yang memiliki motto ”Join UB, be the best” adalah huruf “UB” dalam bulatan mengandung makna bahwa Universitas Brawijaya selalu dinamis keberadaannya dalam masyarakat dunia. Sayap berjumlah tiga buah mengelilingi bulatan dunia menggambarkan Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu pendidikan dan pengajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat yang bertaraf internasional. Warna emas pada huruf dan gambar bermakna kebijaksanaan dan kejayaan. Warna biru menggambarkan Universitas Brawijaya bersifat universal. Bingkai bujur sangkar sendiri bermakna keadilan.[23][28][29] Sejak peringatan Dies Natalis ke 44, Januari 2007 diperkenalkan moto Universitas Brawijaya yaitu "Join UB, be the best".

Singkatan nama
Nama "Universitas Brawijaya" diberikan oleh Presiden RI melalui surat kawat Nomor 258/K/61 tertanggal 11 Juli 1961, dipilih dari 3 nama yang diajukan Senat Universitas, yakni: Kertanegara, Tumapel, dan Brawijaya. Sejak saat itu pula dikenal nama "Unbra" sebagai singkatan nama Universitas Brawijaya. Dalam perkembangannya, sejak 1 Maret 1975 berdasarkan SK Rektor, singkatan "Unbra" tidak digunakan lagi dan diganti dengan singkatan baru, yaitu "Unibraw". Selanjutnya, sejak tahun 2006 telah disosialisasikan singkatan "UB" untuk menggantikan singkatan "Unibraw", dan disetujui Senat Universitas Brawijaya tanggal 17 Maret 2008.

Monumen Tugu UB


Monumen Tugu UB (kiri) yang berada di bunderan UB depan gedung rektorat, yang motifnya juga digunakan sebagai lampu tepi jalan dan taman kampus (kanan).
Tugu Universitas Brawijaya yang terletak di depan Gedung Rektorat dibangun mulai Desember 2007. Letaknya di pusat kampus dengan bentuk lingkaran di jalan utama. Fungsinya selain sebagai bagian keasrian kampus juga mempunyai makna pada setiap bagiannya.

Puncak kepala tugu, berbentuk dasar lingkaran bermakna pusat dan wawasan yang luas, tetapi tetap fokus dan lentur. Diatasnya berbentuk bulat telungkup, bermakna fakir, tetapi tak miskin. Dipuncak sendiri berbentuk tongkat menunjukkan bahwa insan akademis pun masih membutuhkan tuntunan Tuhan Yang Maha Esa. Bentuk kepala tugu bermakna simbolik adanya tiga strata pendidikan (S1, S2, S3) di Universitas Brawijaya. Bentuk transparan, bermakna Universitas Brawijaya terbuka bagi saran dan kritik. Warna kuning bermakna jiwa kepeloporan sebagai pusat llmu, teknologi, dan seni. Sedangkan warna hitam bermakna abadi, tidak pandang suku, bangsa, negara, kebudayaan maupun agama.

Badan tugu mengesankan ilmu, tekonologi dan seni yang sederhana, kokoh dan monumental. Terdapat pula jam sebagai penunjuk waktu yang tepat berada di dada tugu sebagai pengingat bahwa warga Universitas Brawijaya harus menghargai waktu. Sedangkan bentuk kaki tugu bermakna kepeloporan perguruan tinggi yang terjaga oleh para pengampu sesuai dengan susunan simbolik yaitu spesialis dan praktisi ilmu; teknologi dan seni; ilmuwan dan peneliti; profesor dan doktor.

Dasar tugu terdiri dari kolam atas, pelataran gersang, pelataran bunga, dan kolam teratai. Kolam atas yaitu kolam air bermakna simbolik bahwa ilmu, teknologi, dan seni itu tidak terbatas dan terus berkembang, sesuai dengan kebutuhan mahasiswa dan zamannya. Pelataran gersang tetapi berpola dan bertekstur serta dikelilingi pelita, bermakna para mahasiswa dan mahasiswi dari berbagai disiplin ilmu dan pembimbingnya. Pelataran dengan hamparan bunga berwarna-warni dan bunga-bunga ini dapat diganti/disesuaikan dengan event yang sedang tejadi, bermakna para alumni dari berbagai disiplin ilmu yang selalu siap dengan berbagai tuntutan perubahan zaman. Sedangkan kolam teratai bermakna simbolik berupa harapan kepada para alumni Universitas Brawijaya. "Jadilah bunga bangsa yang lentur, anggun dan berwibawa, tenang, lestari dan menghidupi."

Arsitek bangunan dan ciri khas


Gapura gerbang UB (kiri) yang arsiteknya meniru Gapura Wringin Lawang (kanan) peninggalan kerajaan Majapahit.


Lambang kerajaan Majapahit, Surya Majapahit (kiri) yang digunakan pada motif pagar UB (kanan).
Nama dari kampus UB sangat kental dengan sejarah Indonesia, terutama kerajaan Hindu-Budha yang ada di Indonesia, oleh karena itu UB ingin hal itu melekat pada kampus sebagai ciri khas yang membedakan dengan kampus lain. Gedung-gedung fakultas dibangun dengan atap berarsitektur rumah adat jawa yaitu joglo, asrama UB juga demikian. FT-pun harus mengganti atap gedung fakultasnya pasca penyelesaian pembangunan, karena arsitek yang digunakan tidak sesuai dengan yang umumnya digunakan di kampus tersebut. Gerbang utama kampus juga tidak luput dari konsep kekhasan nama Brawijaya, dibangun dengan gapura yang meniru arsitek dari gapura Wringin Lawang, gerbang peninggalan kerajaan Majapahit yang berada di Trowulan, Mojokerto. Saat ini ada 3 gerbang utama yang dibangun dengan konsep serupa yaitu di Jalan Veteran (FK), Jalan Veteran (BNI), dan gerbang persimpangan Jl. Soekarno-Hatta – Jl. Mt. Haryono – Jl. Mayjend Panjaitan. Era kejayaan Majapahit dengan ditemukannya simbol kerajaan Majapahit yaitu Surya Majapahit pada reruntuhan kota-kota yang diduduki Majapahit juga digunakan pada motif dinding pagar Universitas Brawijaya. Ini merepresentasika bahwa UB ingin mencapai kejayaan seperti kerajaan yang pernah berkuasa di Nusantara.

Pohon buah Maja juga banyak ditanam di kampus, terutama di taman-taman dan gazebo kampus. Buah Maja sendiri berasa pahit, hal inilah yang melatarbelakangi nama kerajaan Majapahit.[33][34] Di sepanjang jalan di dalam kampus di tanam pohon kelapa sawit. Kelapa sawit adalah salah satu contoh pohon tepi jalan yang ditanam untuk menunjukkan identitas pada suatu jalur hijau jalan raya di kampus Universitas Brawijaya. Ini menyimbolkan bahwa Universitas Brawijaya berada di wilayah Indonesia yang terkenal dengan penghasilan sawitnya di daerah Sumatra dan Kalimantan. UB tidak ingin hanya membawa unsur budaya Jawa yang kuno, namun juga Indonesia yang kaya dengan hasil buminya. Hal inilah yang menjadi kunikan bagi kampus UB dan membedakan dengan kampus lainnya

Jumat, 07 Agustus 2015

Sungai Cimanuk Kering di Musim Kemarau

Sungai Cimanuk kering
Sungai besar setelah sungai Citarum dan merupakan sungai terpanjang di Jawa barat ini kering dimusim kemarau. Air dari mata air dari pegunungan Papandayan dan gunung Cikurai dari selatan Jawa Barat habis di tengah jalan. Bila terdapat air di anak-anak sungai (cabang-cabang sungai yang membelah sungai) hanyalah air pasang dari laut. Perahu nelayan kursin jenis kursin tak dapat masuk muara. Bila terlanjur berada di jalur sungai pun akan terdampar. Hanyalah perahu perahu kecil saja yang dapat keluar masuk jalur sungai. Pemandangan sungai Cimanuk sementara hanya sampah dan endapan lumpur kering. Bendungan karet tak berfungsi dan nyaris rusak oleh tumpukan sampah. Tampak dari atas bendungan karet di desa Brondong nelayan hanya menunggu air untuk bisa melaut atau masuk ke dalam jalur sungai. Masih perlu tindakan pengerukan dasar sungai agar perekonomian nelayan tidak terhambat. (rg Bagus)

Minggu, 24 Mei 2015

Jawa Tengah Raih Juara Umum di OSN 2015

Jawa Tengah berhasil mengukuhkan diri sebagai juara umum dalam Olimpiade Sains Nasional (OSN) ke 14 tahun 2015. Provinsi dengan ibu kota Semarang ini mengalahkan DKI Jakarta, Jawa Timur, dan Banten dalam perolehan medali emas.

Jawa Tengah berhasil  16 emas, 16 perak, dan 14 perunggu. Sementara DKI Jakarta berhasil mengumpulkan sembilan medali emas, Jawa Timur dan Banten masing-masing merebut lima emas. Pengumuman pemenang dan penyerahan medali ini dilakukan di Sportarium Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan, Sabtu (23/05/2015).

Usai diumumkan sebagai juara umum, perwakilan tim Jawa Tengah menerima piala bergilir yang tahun lalu dipegang oleh Provinsi DKI Jakarta. Tak hanya jenjang SMA/SMK, Provinsi Jawa Tengah juga berhasil menjadi juara umum untuk jenjang PKLK Pendidikan Menengah.

Mendikbud yang menyaksikan prosesi mengharukan perayaan kemenangan Jawa Tengah tersebut menyampaikan selamat kepada seluruh anggota kontingen Jawa Tengah. Ia berharap, dengan keberhasilan tersebut siswa siswi dari Jawa Tengah tidak cepat berpuas diri. "Selamat atas keberhasilan kalian, pertahankan, dan terus menggali kemampuan," katanya saat acara penutupan.

Salah satu peserta asal Jawa Tengah, Fatin Camilla Azhary, dari SMA N 1 Kendal, yang memenangkan medali emas dari cabang ilmu Biologi langsung melompat kegirangan saat provinsi asalnya dinobatkan sebagai juara umum. Ia mengaku sangat senang dan terharu dengan hasil kerja keras yang telah ia dilakukan bersama teman-temannya. "Senang sekali. Ini sangat luar biasa," tuturnya sambil menghapus air mata bahagia yang mengalir di pelupuk matanya.

OSN 2015 telah berlangsung sejak 19 Mei lalu. Di ajang ini, ribuan putra putri terbaik perwakilan dari seluruh provinsi telah bersaing ketat untuk mendapatkan medali yang telah disiapkan. Di tahun 2016 mendatang, ajang bergengsi ini akan dihelat di Palembang, Sumatera Selatan. Prosesi penyerahan bendera OSN pun telah dilakukan pada acara penutupan hari ini dari pemerintah daerah Provinsi DI Yogyakarta ke Provinsi Sumatera Selatan

Kamis, 05 Maret 2015

Gedung baru SMKN 2 Gedangsari, Gunungkidul, DIY Rp 14,9 miliar bantuan PT Astra International

Anies Baswedan Resmikan Gedung Baru SMKN 3 Gedangsari Gunungkidul
 Gedung baru SMKN 2 Gedangsari, Gunungkidul, DIY. Gedung ini merupakan bantuan dari PT Astra International melalui Yayasan Pendidikan Astra-Michael D Ruslim (YPA-MDR).Astra menggelontorkan dana hingga Rp 14,9 miliar untuk pembangunan gedung beserta sarana pengisinya tersebut. Mencakup ruang kantor, kelas, perpustakaan, lab bahasa dan komputer, hingga ruang unit produksi dan teaching factory.
 Anis Baswedan. Mentri Pendidikan , saat meresmikan   mengapresiasi langkah yang ditempuh Astra International untuk memajukan dunia pendidikan tanah air melalui program Corporate Social Responsibility (CSR).
 "Artinya, perusahaan ini melihat Investasi di bidang pendidikan tidak hanya menguntungkan bagi perorangan. Melainkan juga bermanfaat bagi komunitas bisnis," katanya.

Minggu, 08 Februari 2015

Kompetensi Guru , Problem Penerapan Kurtilas

Sekolah yang telah memberlakukan Kurikulum 2013 selama tiga semester, dinilainya sudah tidak memiliki masalah lagi terkait dengan pelaksanaannya. Namun sekolah yang merasa masih belum siap melaksanakan kurikulum baru itu, maka mereka bisa kembali menggunakan Kurikulum 2006.
Sekolah yang sudah menerapkan Kurikulum 2013, bisa melaporkan ke Kemendikbud agar dapat tercatat di Data Pokok Pendidikan Siswa. Sampai saat ini, sekolah yang sudah melaksanakan kurikulum baru itu sekitar 16.000 sekolah. Dari sejumlah itu, 622 sekolah ditunjuk Kemendikbud, namun sekitar 10.000 sekolah dari mulai SD-SMA termasuk yang menjalankannya secara mandiri.
Dengan demikian, simpulnya, sisanya masih menggunakan Kurikulum 2006 alias masih menggunakan kurikulum lama.
Demi mencapai target penggunaan Kurikulum 2013 untuk semua sekolah pada 2018, kata Ramon, maka guru harus disiapkan. Problem dalam pelaksanaan kurikulum baru itu diakui terutama ada pada kompetensi guru. Dia yakin dari sisi infrastruktur, mestinya tak mampu menghalangi penerapan kurikulum baru itu.
 Kepala Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Ramon Mohandas mengatakan untuk sekolah yang sudah memberlakukan Kurikulum 2013 selama tiga semester, maka boleh terus melanjutkan memberlakukan kurikulum baru itu. “Namun untuk sekolah yang masih memberlakukan kurikulum selama satu semester, maka akan kembali menggunakan Kurikulum 2006.

Selasa, 27 Januari 2015

Gebrakan Mentri Anies Baswedan

  Anies Baswedan  menjelaskan bahwa kurikulum yang diinisiasi pada era M Nuh itu sudah diterapkan di 6.221 sekolah pada Juli 2013. Implementasi secara menyeluruh dilakukan pada Juli 2014. Saat mulai menjabat, Anies lalu menemukan sejumlah masalah.

"Setelah diterapkan di seluruh sekolah, muncul permasalahan yaitu keterlambatan buku dan penyiapan guru yang belum tuntas. Jadi guru belum dibekali. Bukan guru tidak siap, tapi kami yang belum mempersiapkan guru," ucap Anies.

Sebelum purnatugas, M Nuh telah menerbitkan Permen no 159 yang menugaskan kepada tim evaluasi kurikulum untuk mengevaluasi Kurikulum 2013. Anies pun menjalankan permen itu dan beberapa sekolah menjadi ujicoba implementasi kurikulum.

"Sekolah yang sudah jalankan 3 semester jadi sekolah uji coba. Tidak ada kewajiban, kalau tidak bersedia boleh langsung KPSP (kurikulum sebelumnya)," jelas penggagas Gerakan Indonesia Mengajar ini.

Gebrakan selanjutnya yang dijelaskan oleh Menteri Anies adalah terkait Ujian Nasional (UN). Di tahun 2015 ini, UN tetap dijalankan namun bukan jadi satu-satunya penentu kelulusan siswa.

"Perubahan yang kita lakukan dengan mengurangi tekanan kepada siswa. Pisahkan UN dari kelulusan sekolah. Yang kurang, bisa mengulang ujian," ujar mantan Rektor Universitas Paramadina ini.

Kurtilas Dihentikan !

Nasib kurikulum 2013 terjawab sudah.  Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan memutuskan untuk menghentikan pelaksanaan kurikulum 2013 di seluruh Indonesia.
"Saya memutuskan menghentikan kurikulum 2013 di sekolah-sekolah pada tahun pelajaran 2014-2015 dan sekolah kembali ke kurikulum 2006,"kata Anies saat konfrensi pers di Kantor Kemendikbud, Jakarta, Jumat (5/12/2014).
Anies menyatakan, evaluasi keputusan kurikulum 2013 telah dikaji oleh Tim Evaluasi Impelementasi Kurikulum 2013. Tim ini telah membuat kajian mengenai penerapan kurikulum 2013 yang sudah berjalan dan menyusun rekomendasi tentang penerapan kurikulum ke depannya.

Sabtu, 06 Desember 2014

Guru Juga Harus Rajin

"Guru tidak hanya berperan sebagai pendidik bagi peserta didik. Guru mempunyai peran lebih untuk memberikan interaksi yang luar biasa bagi bangsa.
Jadi yang harus rajin bukan murid saja tetapi juga guru. Bagaimanapun murid bisa rajin jika gurunya tidak rajin," demikian dikatakan mentri Pendidikan dasar dan Menengah, dan Kebudayaan Anis baswedan di jakarta 6 desemberv 2014.

Minggu, 26 Oktober 2014

Mentri Kebudayaan dan Pendidikan Dasar dan Menengajh kita juga guru



Anies Baswedan juga guru

Selamat datang Bapak Anies Baswedan di Kementrian Kebudayaaan dan Pendidikan dasar dan Menengah



Biografi Anies Baswedan

Indonesia selayaknya bangga memiliki figur intelektual muda seperti Anies Baswedan. Terhitung 15 Mei 2007 lalu, sosok pakar kelahiran Kuningan, Jawa Barat ini telah dipercaya mengampu jabatan Rektor Universitas Paramadina dalam usia 38 tahun; angka yang sekaligus mencatatkan sejarah tersendiri sebagai pejabat Rektor termuda di Indonesia.

Bagi Baswedan, usia dan kepakaran memang tidak perlu berjalan sejajar. Menyelesaikan pendidikan tingkat sarjana di Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada. Pada usia 36 tahun, gelar Doktor dalam Ilmu Politik dari Northern Illinois University sudah disandang, demikian juga gelar Master dari School of Public Policy, University of Maryland beberapa tahun sebelumnya.

Pendiri gerakan Indonesia Mengajar ini juga berhasil menyandang segudang penghargaan tingkat dunia. Majalah Foreign Policy terbitan Amerika Serikat menyebut nama Anies Baswedan sebagai salah satu dari 100 Tokoh Intelektual Publik Dunia pada 2008 lalu. Setahun berikutnya, giliran lembaga World Economic Forum (WEF) menyebut pakar, pengamat dan peneliti muda kelahiran 1969 ini sebagai satu dari Pemimpin Muda Dunia Global pada 2009.

Tidak cukup itu, pada 2010 lalu, Anies Baswedan bahkan memenangi 3 penghargaan internasional sekaligus, masing-masing dari Majalah Foresight terbitan Jepang yang menamai sosoknya sebagai satu dari '20 Pemimpin Masa Depan Dunia', lembaga International Policy Studies (IIPS) Jepang yang menganugerahi Nakasone Yasuhiro Awards dan lembaga Royal Islamic Strategic Studies Centre yang bermarkas di Yordania turut menyebut Baswedan sebagai '500 Muslim Paling Berpengaruh di Dunia'.

Tidak heran juga, bergudang pengalaman dan tingginya kinerja intelektualitas yang dibuktikan peneliti utama dari Lembaga Survey Indonesia ini membuat figur Anies Baswedan kerap diundang ke berbagai pertemuan nasional dan internasional. Berpegang teguh pada pendirian politiknya sendiri, tidak memihak kekuatan politik tertentu, tak urung netralitas tersebut embuat sosoknya dianggap paling tepat bertindak selaku moderator dalam acara Debat Calon Presiden 2009.

Pada akhir 2009, Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono, bahkan menunjukkan kepercayaan dengan memilih Anies menjadi anggota Tim-8 dalam kasus dugaan pidana terhadap pimpinan KPK saat itu, Bibit dan Chandra. Ide dan sosok Anies Baswedan juga akrab dikenali melalui program siar stasiun Metro TV, Save our Nation. Selain itu dia juga didapuk menjadi Ketua Komite Etik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Anies mengikuti konvensi calon presiden Partai Demokrat. Ia memenuhi undangan konvensi karena bercita-cita melunasi janji kemerdekaan. Bagi Anies, konvensi itu merupakan sebuah panggilan tanggung jawab dan sebuah kehormatan.

Last update 1 September 2013 pukul 18:31
Riset dan analisis: Teylita - Mochamad Nasrul Chotib
PENDIDIKAN
  • Fakultas Ekonomi, Universitas Gajah Mada
  • Gelar Master dari School of Public Policy,Universitas Maryland
  • Gelar Doktor Ilmu Politik  Northern Illinois University
KARIR
  • (1994 - 1996) Pusat Antar Universitas, UGM
  • (2000) Peneliti, Pusat Penelitian, Evaluasi dan Kajian Kebijakan, Northern Illinois University
  • (2005 - 2007) Peneliti Utama, Lembaga Survei Indonesia
  • (2006 - 2007) Kemitraan untuk Reformasi Tata Kelola Pemerintahan
  • (2006 - 2007) National Advisor, bidang desentralisasi dan otonomi daerah, Kemitraan bagi Pembaruan Tata Pemerintahan
  • (sejak 2007) Rektor Universitas Paramadina
  • Moderator, dalam acara debat calon presiden 2009
  • (2009) Anggota, Tim-8 dalam kasus dugaan pidana pimpinan KPK yaitu Bibit dan Chandra
  • (2010) Presenter, program Save Our Nation, Metro TV
  • (2010) Presenter, Young Global Leaders Summit, Tanzania, Afrika 
  • Pendiri gerakan Indonesia Mengajar   
PENGHARGAAN
  • (1987) AFS Intercultural Program, Milwaukee High School, Wisconsin, AS
  • (1993) JAL Scholarship
  • (1997-1998) Fulbright Scholarship
  • (1998) William P Cole III Fellowship, Universitas Maryland
  • (1998) ASEAN Students Assistance Awards Program
  • (1999-2003) Indonesian Cultural Foundation Scholarship
  • (2004-2005) Gerald Maryanov Fellow, Northern Illinois University
  • (2005) William P. Cole III Fellow di Maryland School of Public Policy, ICF Scholarship, dan ASEAN Student Award
  • (2008) 100 Intelektual Publik Dunia versi Foreign Policy
  • (2009) Young Global Leaders versi Economic Forum
  • (2010) 20 Pemimpin Masa Depan Dunia versi majalah Foresight
  • (2010) Nakasone Yasuhiro Awards oleh International Policy Studies (IIPS)
  • (2010) 500 Muslim Paling Berpengaruh di Dunia versi Royal Islamic Strategic Studies Centre

Sabtu, 18 Oktober 2014

 Istana Negara dan Istana Merdeka yang berada di satu kompleks di Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta, merupakan dua buah bangunan utama yang luasnya 6,8 hektare (1 hektare = 1 hektometer persegi = 10000 meter persegi) dan terletak di antara Jalan Medan Merdeka Utara dan Jalan Veteran, serta dikelilingi oleh sejumlah bangunan yang sering digunakan sebagai tempat kegiatan kenegaraan.

Dua bangunan utama adalah Istana Merdeka yang menghadap ke Taman Monumen Nasional (Monas)(Jalan Medan Merdeka Utara) dan Istana Negara yang menghadap ke Sungai Ciliwung (Jalan Veteran). Sejajar dengan Istana Negara ada pula Bina Graha. Sedangkan di sayap barat antara Istana Negara dan Istana Merdeka, ada Wisma Negara.

COLLECTIE TROPENMUSEUM Het paleis van de gouverneur-generaal in Rijswijk Batavia TMnr 60043591.jpg
Pada awalnya di kompleks Istana di Jakarta ini hanya terdapat satu bangunan, yaitu Istana Negara. Gedung yang mulai dibangun 1796 pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Pieter Gerardus van Overstraten dan selesai 1804 pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Johannes Siberg ini semula merupakan rumah peristirahatan luar kota milik pengusaha Belanda, J A Van Braam. Kala itu kawasan yang belakangan dikenal dengan nama Harmoni memang merupakan lokasi paling bergengsi di Batavia Baru.

Pada tahun 1820 rumah peristirahatan van Braam ini disewa dan kemudian dibeli (1821) oleh pemerintah kolonial untuk digunakan sebagai pusat kegiatan pemerintahan serta tempat tinggal para gubernur jenderal bila berurusan di Batavia (Jakarta). Para gubernur jenderal waktu itu kebanyakan memang memilih tinggal di Istana Bogor yang lebih sejuk. Tetapi kadang-kadang mereka harus turun ke Batavia, khususnya untuk menghadiri pertemuan Dewan Hindia, setiap Rabu.

Rumah van Braam dipilih untuk kepala koloni, karena Istana Daendels di Lapangan Banteng belum selesai. Tapi setelah diselesaikan pun gedung itu hanya dipergunakan untuk kantor pemerintah.

Selama masa pemerintahan Hindia Belanda, beberapa peristiwa penting terjadi di gedung yang dikenal sebagai Istana Rijswijk (namun resminya disebut Hotel van den Gouverneur-Generaal, untuk menghindari kata Istana) ini. Di antaranya menjadi saksi ketika sistem tanam paksa atau cultuur stelsel ditetapkan Gubernur Jenderal Graaf van den Bosch. Lalu penandatanganan Persetujuan Linggarjati pada 25 Maret 1947, yang pihak Indonesia diwakili oleh Sutan Syahrir dan pihak Belanda diwakili oleh H.J. van Mook.

Pada mulanya bangunan seluas 3.375 m2 berarsitektur gaya Yunani Kuno ini bertingkat dua. Tapi pada 1848 bagian atasnya dibongkar; dan bagian depan lantai bawah dibuat lebih besar untuk memberi kesan lebih resmi. Bentuk bangunan hasil perubahan 1848 inilah yang bertahan sampai sekarang tanpa ada perubahan yang berarti.

Sebagai pusat kegiatan pemerintahan negara, saat ini Istana Negara menjadi tempat penyelenggaraan acara-acara yang bersifat kenegaraan, antara lain pelantikan pejabat-pejabat tinggi negara, pembukaan musyawarah dan rapat kerja nasional, kongres bersifat nasional dan internasional, dan jamuan kenegaraan.

Karena Istana Rijswijk mulai sesak, pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal J.W. van Lansberge tahun 1873 dibangunlah istana baru pada kaveling yang sama, yang waktu itu dikenal dengan nama Istana Gambir. Istana yang diarsiteki Drossares pada awal masa pemerintahan RI sempat menjadi saksi sejarah penandatanganan naskah pengakuan kedaulatan Republik Indonesia Serikat (RIS) oleh Pemerintah Belanda pada 27 Desember 1949. Waktu itu RI diwakili oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX, sedangkan kerajaan Belanda diwakili A.H.J Lovinnk, wakil tinggi mahkota Belanda di Indonesia.

Dalam upacara yang mengharukan itu bendera Belanda diturunkan dan Bendera Indonesia dinaikkan ke langit biru. Ratusan ribu orang memenuhi tanah lapangan dan tangga-tangga gedung ini diam mematung dan meneteskan air mata ketika bendera Merah Putih dinaikkan. Tetapi, ketika Sang Merah Putih menjulang ke atas dan berkibar, meledaklah kegembiraan mereka dan terdengar teriakan: Merdeka! Merdeka! Sejak saat itu Istana Gambir dinamakan Istana Merdeka.

Sehari setelah pengakuan kedaulatan oleh kerajaan Belanda, pada 28 Desember 1949 Presiden Soekarno beserta keluarganya tiba dari Yogyakarta dan untuk pertama kalinya mendiami Istana Merdeka. Peringatan Hari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus di Istana Merdeka pertama kali diadakan pada 1950.

Sejak masa pemerintahan Belanda dan Jepang sampai masa pemerintahan Republik Indonesia, sudah lebih dari 20 kepala pemerintahan dan kepala negara yang menggunakan Istana Merdeka sebagai kediaman resmi dan pusat kegiatan pemerintahan negara.

Sebagai pusat pemerintahan negara, kini Istana Merdeka digunakan untuk penyelenggaraan acara-acara kenegaraan, antara lain Peringatan Detik-detik Proklamasi, upacara penyambutan tamu negara, penyerahan surat-surat kepercayaan duta besar negara sahabat, dan pelantikan perwira muda (TNI dan Polri).

Bangunan seluas 2.400 m2 itu terbagi dalam beberapa ruang. Yakni serambi depan, ruang kredensial, ruang tamu/ruang jamuan, ruang resepsi, ruang bendera pusaka dan teks proklamasi. Kemudian ruang kerja, ruang tidur, ruang keluarga/istirahat, dan pantry (dapur).

Sepeninggal Presiden Soekarno, tidak ada lagi presiden yang tinggal di sini, kecuali Presiden Abdurrahman Wahid dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Presiden Soeharto yang menggantikan Soekarno memilih tinggal di Jalan Cendana. Tapi Soeharto tetap berkantor di gedung ini dengan men-set up sebuah ruang kerja bernuansa penuh ukir-ukiran khas Jepara, sehingga disebut sebagai Ruang Jepara serta lebih banyak berkantor di Bina Graha.