Tampilkan postingan dengan label Kita Dijajah Lagi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kita Dijajah Lagi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 01 September 2017

Sokanindya Pratiwi Wening dalam Kita Dijajah Lahi : Pilu

 
 
Pilu

merindu kampung kelahiran
kusempatkan pulang walau sebentar
besok idul adha
silaturahim ke kerabat bunda
pun menikmati jajanan khasnya

penat badan tak kurasa
kususur jalanan kota
yang kurasa aku ada di tempat berbeda
wajah kota demikian meriah
penuh polesan namun tak lagi ramah

tak kutemu gerobak mi rebus tambi
atau sate padang bang kumis
tak kusua jua bandrek si agam
yang rasanya ngangeni, 
mau lagi - mau lagi

berganti gedung angkuh
menjual aneka kuliner pun kopi
dengan label luar neg'ri
dipenuhi anak negeri 
yang  bangga membeli gengsi

siapa yang tak kenal kopi siantar
kini dijual di pinggir trotoar
di bawah tenda dingin dengan lampu remang
aromanya yang dulu dirindu
serasa cuma menambah pilu

kotaku berubah
tak lagi ada gedung tua
warisan penjajah dulu kala
yang tertinggal cuma kita
yang tak merasa terus dijajah,
merasa bahagia
dan kaya...?!

Pematang Siantar, 31/08/2017

Wirol O. Haurissa dalam Kita Dijajag Lagi : Remi



attrydos
REMI

untuk tahun-tahun umurmu
pertama-pertama langit merah
tak jua memutihkn tangismu
tadinya menyenangkan berkata merdeka
tapi di ujungnya rasanya
tetap di bawah tiang bendeara

hormat grak

tidak tegap-tegap
dari beribu-ribu tahun lalu
semenjak nelayan mendayung perahu
membentuk indonesia
dan berciri seperti film inda  

hidup lama
masuk istana dan bertarung
dengan nyawa-nyawa
layu uyu-uyu  

dari situ, dunia ini memang lebih gila dari pikiran
lebih-lebih berisi banyak isyarat

di ruang besi yang menggunakan sandi
bersembunyi rezim pemburu
dengan keinginan kaya ditutup jendela emas
dan bunga-bunga mawar besar

aku sebenarnya bingung
antara mencintai dan berkelahi
semua seperti bermusuhan
termasuk negaramu terhadap kau
ya kau, iya kau



Surabaya, 17 Agustus 2017 

Wirol O. Haurissa (attrydos) lahir di Ambon Maluku, 1 September 1988. Sarjana Sains Teologi, Fakultas Filsafat Teologi di Universitas Kristen Indonesia Maluku. Dan study Magister Ilmu Susastra, Universitas Kristen Petra, Surabaya. Sesehari menulis puisi, cerita pendek dan skrip teater, mendirikan Bengkel Sastra Batu Karang, menjalani pementasan-pementasan independen teater dan sastra di kota Ambon, kota Depok, Surabaya dan kota Salatiga. Puisi dan esai tersebar di media online. Beberapa puisi termuat dalam Antologi Penyair Maluku Biarakan Kami Bakale, Revolusi cendrawasih, Mata Aru, Pemberontakan Dari Timur, Sastra Kepulauan VIII, SekarpeMu, Surat Cinta Untuk Makassar dan Bilingual Short Fiction by The Infernon - Love to Whom It may Concern ajd Other Stories . Pernah menjadi juara satu lomba Menulis dan Baca Puisi Universitas Swasta Wilayah XII Maluku, Maluku Utara, Papua dan Papua Barat di Ternate. Pernah menjadi juri Lomba Baca Puisi Pelajar SMP sepulau Ambon dalam memperingati Hari Ulang Tahun Merah Saga. Pernah menjadi Fasilitator Pelatihan Cipta dan Baca Puisi Perdamaian di Pusat Studi Perdamaian, Pascasarjana Teologi UKIM Ambon.

Salimi Ahmad dalam Kita Dijajah Lagi : Dijajah (Lagi)


Salimi Ahmad
DIJAJAH (lagi)

jika kukatakan, langit sedang hitam sekarang, kau percaya?
"aku percaya"
jika kukatakan, langit sedang hitam dan di tengah angkasa raya, bunga-bunga sedang berpesta pora bermain kembang api, kau percaya?
"sangat percaya"
dari bunga-bunga yang meletakkan kembang itu, muncul kebakaran, dan seluruh api itu turun ke bumi, dan anak-anak bersorak kegirangan. Kau percaya?
"sungguh aku akan mempercayai ksta-katamu"
anak-anak yang bersorak kegirangan itu, kemudian membawa kebakaran itu keliling kota, dan di tiap-tiap persimpangan jalan, mereka menangis serentak, bersama-sama, menciptakan orkestrasi yang membuat orang-orang yang menonton, menampung airmatanya, dan membuangnya ke tengah laut. Tahukah kau, apa yang terjadi setelah itu?
"aku tunggu kisahnya selanjutnya, karena aku percaya ceritamu"
kapal-kapal asing berdatangan, ikan dan tripang bergerombol berenang, terumbu karang memecahkan dirinya, bangkai kapal yang tenggelam tiba-tiba terbang bersama seluruh isinya, angin tertawa, ombak melena, dan langit ikut memejamkan matanya yang sudah hitam. Kau percaya?
"sekali lagi kujelaskan dengan pasti, aku percaya, karena kau telah mengatakannya"
jika bukan aku yang mengatakannya, kau masih tetap percaya?
"aku akan mencari penjajah baru, yang tak bisa kupercaya bahwa kata-katanya akan berwarna lebih merah, yang terbuat dari bibir yang dipenuhi muslihat."
siapa mereka itu?
"para koruptor yang mengaku-ngaku sebagai korban tipu dayanya sendiri"

Jakarta, 21 Agustus 2017.

Kamis, 31 Agustus 2017

Marsetio Hariadi dalam Kita Dijajah lagi : Pertemuan Malam Tadi


PERTEMUAN MALAM TADI

dalam mimpiku malam lalu
kau yang kusayang
memeluk dan membelai-belai rambut ini
aku sedang lelah
termenung di pintu kaca

mari mendeskripsikan kita dan keadaan
teriakan yang terdengar sendu dan ikhlas di tiap-tiap kamar bersalin
generasi baru dan suci dilahirkan
bapak dan keberanian
jiwa-jiwa jujur dimatikan mendahului kuasa Tuhan
menanti, mendoakan, dan memandang lama-lama pigora foto keluarga
memejamkan mata, menyanyikan lagu perjuangan dengan khusyuk dan bersedih hatinya
Jumat dan Minggu manggut-manggut setuju untuk tidak mencuri, merampok, memfitnah, iri dengki, memerkosa, dan minum alkohol
menyebut nama Tuhan
dalam sunyi yang bergemuruh
dalam gemuruh yang kosong
berdiri menunggu di pinggir jalan bertahun lamanya
menuntut keadilan dan pengakuan negara atas kejahatan yang sempurna
induk kucing memperhatikan lama-lama anaknya yang dilindas mobil
roda-roda saling menyentak meminta jalan
knalpot meraung-raung sampai dini hari
tertawa-tawa menghina diri sendiri
tenggelam dalam maya, tidur kehabisan tenaga dalam nyata
menghafalkan buku sejarah, lagu cinta dan bangun kesiangan
mencari jati diri
genteng gerabah pontang-panting oleh puting beliung atau alat berat
oleh tanah longsor, banjir, atau sepatu lars
memekakkan telinga
bocah-bocah menangis takut
menyelamatkan karung beras dan kardus mi instan adalah kewajiban
membaca kitab, menambal atap yang bocor, menanak nasi, menidurkan bayi, lalu merencanakan bunuh diri
kerbau dan caping melenguh dan mengeluh
besok hijau padi digantikan abu-abu pagar
tiap batang rokok yang disulut adalah akhir kerja di bawah terik matahari
lampu karaoke, botol bir, dan keringat perempuan menderita menghiasi penat penghitungan angka-angka
putra-putrinya menginjak tanah negeri dan hormat pada bendera Merah Putih
Melantunkan Indonesia Raya di senin pagi

air mata adalah fitrah manusia
kita tidak pernah merencanakan tangisan

kapan kita terakhir kali
menangis duka untuk orang lain?

kau lontarkan senyum padaku malam tadi
mencita-citakan harapan
dan masa depan kemanusiaan

***
Marsetio Hariadi, Malam 26 April 2017
Untuk Adik-adikku Teater Rumpun Padi
Marsetio Hariadi, 23 tahun, berdomisili di Surabaya, minat belajar menulis dan membacakan puisi sejak tahun 2015.
-Antologi Puisi Sakkarepmu: Penyair Mbeling Indonesia, 2015, Sibuku, Jogjakarta
-Juara III Penulisan Puisi kategori Umum, Festival Sastra UGM 2017

Akbar Yayuk Amirotin Terjajah di Tengah Kemerdekaan





Akbar Yayuk Amirotin
Terjajah di Tengah Kemerdekaan

Masih pantaskah kita teriak merdeka melihat bobroknya hukum di negeri ini?
Masih lantangkah kita berseru merdeka dengan pincangnya keadilan di negeri ini?
Masih banggakah kita menjadi bangsa merdeka melihat kebodohaan, kemiskinan, bahkan kemerosotan moral melanda ibu pertiwi?
Sudah layakkah kita merdeka sementara korupsi, kolusi, dan nepotisme bebas berkeliaran mendominasi berita di televisi?
Tawuran pelajar masih saja terdengar
Penegakan hukum mulai samar
Penjajahan moral kian gencar norma agama memudar
Pemimpin bangsa korupsi demi kepuasan pribadi 


Jutaan anak putus sekolah oleh biaya pendidikan tinggi
Kemerosotan moral ‘tak hanya dialami para generasi tapi juga pemimpin negeri
Akan dibawa ke mana negeri ini jika keadilan tergadai uang jadi pemegang kekuasaan tertinggi
Hukum ‘tak lagi mengayomi...maling teriak maling!
Rakyat jelata tertindas, jutaan aspirasi cemerlang kandas
Berulang tanya terlintas, kapan pembodohan terentas?


Akbar Yayuk Amirotin  lahir di Blitar pada 25 Juni 1986  atau Yayuk Amirotin. Ia adalah putri dari seorang ibu yang bernama Suwani. Ia tinggal di Dusun Krajan RT 21 RW 06 Pagerwojo Kesamben Blitar  Jawa Timur.



Osratus dalam Kita Dijajah Lagi KEJUJURANKU DIOPLOS, PROTESKU MENEROBOS






Osratus
KEJUJURANKU DIOPLOS, PROTESKU MENEROBOS

“Mata jewawut.telinga jambu. jiwa jeruk purut. hati labu. Kautumbuk
satu per satu dengan alu kepalsuan dirimu, di lumpang batu jati diri terserang flu.
Saringan bolong.gelas bodong. sendok bengkok. botol plastik.
kauatur di meja dapur, mirip pionpion catur hilang nyali
mengaku siap tempur.Blendermemblender hak asasi kaulakukan dengan dalih
‘menjunjung tinggi nilai kemanusiaan’.gelasgelas kehausan,
kauberi minum dengan sarat syarat.Empat gelas jus itu,kaumasukkan ke botol.
kaukocokkocok.Dengan senyum sinis dibuat paling manis,
kauberikan sebotol jus oplosan itu padaku. kutenggak sampai habis.
Mengapa di dalam kepalaku seperti ada bulus, diriku?
juga, seperti ada bunglon. kadal. trenggiling. landak.badak.
Mengapa pula di subur tuturku ada emas imitasi mengaku emas murni?
Inikah,cara baru yang kaubuat untuk menjajahku? Granat dan bayonet
tidak lagi kau pakai untuk menakutiku dalam ketakutanmu.
Kerja rodi dan tanam paksa tidak lagi kau gunakan untuk membohongiku.
adu domba, tidak lagi kau gunakan untuk memecahbelah keutuhan kejujuranku.
Kali ini, kau jajah aku dengan mengoplos kejujuranku.
Kejujuranku, kaukuasi. aku, kautangkap dengan segudang harapan palsu.
aku, kauasingkan di dalam tipumuslihatmu yang
mengobokobok rasa damai hatiku. Di pengasingan ini,
akan kukembalikan kejujuranku yang terhempas. Di pengasingan ini,
aku berjanji akan merebut kembali kejujuranku yang kaurampas.”
Sausapor, 30 Agustus 2017





Osratus merupakan nama pena dari Sutar sonama sebenarnya. Lahir di Purba lingga (Jawa Tengah), 08 Maret 1965.Pindah ke Sorong (Papua Barat), tahun 1981.Menulis puisi sejak 1981. Puisinya dibukukukan dalam antologi bersama di dalam negeri maupun di luar negeri. Pernah menjadi staf pegajar di STKIP Muhammadiyah Sorong (2006 – 2010). Sekarang, menjabat sebagai Kepala Bidang Pencatatan Sipil pada Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Tambrauw. Alamat: Jalan Basuki Rahmat Km. 7 (Kompleks Kantor Transmigrasi lama), Kota Sorong, Provinsi Papua Barat.