Tampilkan postingan dengan label Sastra : Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastra : Artikel. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 Oktober 2019

Penyair dan Pembaca Puisi

Kita mulai dng mengasah kecerdasan. Di Lumbung Puisi Anda harus cerdas agar menjd kuat. Kecerdasan itu didapat dari membaca, pengalaman, dan logika berfikir yang juga dari membaca dan pengalaman.
Unt menjd penyair, yg pertama hiraukan dahulu masalah baca puisi, sbb pembaca puisi dan penyair memiliki perbedaan yg sangat jauh.
Ada penyair baca puisi, ada pembaca puisi membaca puisi, dan ada diluar yd disebutkan itu jg membaca puisi.
Jika memang 3 golongan pembaca puisi (pembaca puisi membaca puisi, penyair  membaca puisi, dan yg diluar yang disebutkan  membaca puisi) dalam event pertemuan sastrawan maka Anda harus paham dalam perumpamaan lain  bahwa " tidak semua juri lomba baca puisi itu pandai membaca puisi."
Jika seseorang piawai mencipta syair puisi dan sekaligus piawai membaca puisi maka ia memiliki multi talenta.
Unt membuktikan seseorang memiliki multi talenta maka kedua produk dr predikat dr subjek ke2nya diuji oleh dua ahli bidang masing2.
Sedangkan Untuk menguji sendiri sejauhmana baca puisi Anda bernas atau tdk, rekam tanpa gambar dan apresiasikan pd orang lain.
Kesimpulannya penyair tak harus piawai membaca puisi dan sebaliknya pembaca puisi tak harus seorang penyair.

Kamis, 05 Oktober 2017

Tentang pembaca dan penonton Pembacaan Cerpen oleh Rg Bagus Warsono

Tingkat kualitas penonton dalam mengapresiasi pembaca cerpen masih jauh dari harapan. Banyak sekali penampilan baca puisi terkadang hanya mendapat tepuk tangan sekadar penghargaan pada penampilannya bukan pada kualitas membaca cerpen. Bahkan banyak juga yang 'dicuekin seperti angin lalu. Dan sampai-sampai penonton lalu lalu lalang berjalan dihadapannya bahkan anehnya lagi (bila ini lomba baca cerpen, um[amanya) , jurinya malah ngobrol tapa memperhatikan si pembaca cerpen.

 Agaknya betul seperti dikatakan Heru Mugiarso, dari Universitas Negeri Semarang (UNES) yang juga seorang sastrawan, bahwa bangsa Indonesia belum pada tataran sebagai bangsa pendengar/ perenung dalam apresiasi penampilan baca cerpen. Tataran sebagai pendengar dan perenung ini memang pantas ditujukan pada bangsa ini sebab dalam berbagai hal lain, kitya slalu ketinggalan informasi dan teknologi, sebab perenungan dan mendengarkan juga merupakan daya serap iptek yang harus dimiliki bangsa ini.

 Seperti membaca puisi membaca cerpen juga memiliki nilai seni. Pembaca hendaknya berkarakter tidak hanya pada isi tetapi juga tokoh-tokoh pelaku dalam cerita pendek itu.
Sering kali kita menyaksikan beberapa pembaca cerpen terkenal melupakan karakter tokoh dalam cerpen itu. Sehingga dialognya kelihatan datar tanpa ada beda sedikitpun antara tokoh-tokoh dalam cerpen itu, apabila dalam cerpen itu terdapat beberapa tokoh utama misalnya

 Ibarat seorang 'dalang wayang, pembaca cerpen yang diharapkan harus memiliki kepiawaian seperti dialong oleh dalang wayang yang membedakan suara antara pelaku (tokoh) dalam cerita pendek itu.
Untuk membedakan itu pembaca cerpen mengenali isi cerpen dengan baik, mengenali tokoh-tokoh dalam cerpen itu. Sebab bahasa Indonesia itu sama tetapi logat kedaerahan, misalnya, membedakan seseorang dari mana berasal. Belum lagi karakter pada tokoh-tokoh dalam cerpen itu yang juga beralur pada cerita pendek yang disampaikan dalam membaca cerpen.

Bedanya dengan pendongeng, pembaca cerpen harus sesuai naskah, sedang pendongeng bebas mengutarakan dalam kata, kalimat dan bahasa apa pun tetapi tetap pada alur cerita dongeng.
Oleh karena baca cerpen harus sesuai naskah berkenaan dengan hak cipta seseorang cerpenis, maka tanda baca cerpen memiliki nilai arti tidak nya koma (,) tetapi tanda baca lain yang merupakan kandungan arti seperi petik (') , seru (!) atau atau tanda tanya (?) dan tanda baca lainnya.

Entah kapan membaca cerpen ini menjadi suguhan intertaiment masyarakat. Sementara masih berkutat pada monoton baca dan aksi diluar yang dikehendaki naskah. Akhirnya penampilan pembacaan cerpen 'hanyalah pingisi waktu atau 'jeda acara.

Minggu, 24 September 2017

Penghargaan Sastra, Anugerah Sastra, Tanda Kehormatan sastra, atau sejenisnya.

Penghargaan Sastra, Anugerah Sastra, Tanda Kehormatan sastra, atau sejenisnya.
oleh Rg Bagus Warsono

Para penulis/penyair muda jangan merasa memandang mereka yang mendapatkan adalah sesuatu yang luarbiasa di zaman modern ini . Apapun bentuknya adalah apresiasi masyarakat terhadap sastrawan dan karyanya. Sebab penghargaan adalah evaluasi masyarakat terhadap sastrawan dan karyanya dari berbagai sudut pandang dengan pola penilaian tertentu serta kuatan eksekusi subyektif dan obyektif dari karya atau penulisnya itu.

Demikian terhadap evaluasi yang berujung kepada pemberian penghargaan, penobatan, penerimaan anugerah sastra sebetulnya diambil dari nilai-nilai sensoris yang kadang dianggap sebagai penilaian terhadap sentimen dan rasa. Sebuah penilaian estetika terhadap karya juga penulisnya pada waktu tertentu di masa itu. Estetika sendiri adalah salah satu cabang filsafat yang membahas keindahan; yang sebetulnya memerlukan kajian banding terhadap objek lain sehingga terkesan tersendiri.

Ketika anugerah sastra, tanda jasa,tanda kehormatan, tanda penghargaan dsb. diberikan dengan penilaian yang terdiri dari beberapa orang dengan methoda yang baik dan beberapa teknik penilaian yang berfariasi tetapi tanpa promosi dan publikasi yang besar maka tidak ada gaungnya di masyarakat. Sebaliknya penyelenggaraan penganugeraaan sastra yang hanya dilakukan seseorang dan sangat evesien kerja (karena penilaiannya hanya menggunakan rasa) akan tetapi gaungnya dapat dirasakan secara nasional bahkan mendunia dikarenakan dukungan permodalan dan fasilitas yang kuat.

Oleh karena pola penilaian tertentu serta kuatan eksekusi subyektif dan obyektif dari tim penilai pada karya atau penulisnya itu itu menjadikan rawan polemik sehingga bukan tidak mungkin pemberian penghargaan, pemberian anugerah sastra atau pemberian tanda kehormatan sastra dan sejenisnya hanya dianggap 'guyonan semata .

Apapun betuknya adalah pemberian apresiasi.
Jadi pada hakekatnya sebetulnya pemberian anugerah, penghargaan, tanda jasa, tanda kehormatan adalah pemberian apresiasi terhadap karya dan penciptanya atas penilaian seseorang atau lebih sekecil apa pun yang patut dihargai sebagai bentuk-bentuk penyemangat kehidupan sastra Indonesia .

Sabtu, 10 Juni 2017

Lawan Terus

Saudaraku para penyair teruslah berkarya, Jangan takut karena kultus individu tokoh sastra, Jangan takut tidak ada pengakuan karena kelompok dan golongan tokoh sastra tertentu, Anda bisa menjadi besar ! bahkan lebih hebat dari tokoh sastra sebelumnya yang tenar karena karbitan. Banyak tokoh pengamat yang tetap independen menilai karya sastra. Publik pembaca-lah yang akan mengadili semuanya. Publik akan tetap menghargai karya Anda yang menarik dibaca. Jangan takut karena monopoli penerbitan, monopoli penayangan/penampilan media. Jangan silau karena nama. Ini negara dengan 250 juta jiwa. Sastrawan daerah perlu diakses kehadirannya. Lawan terus kebijakan pencetakan buku sastra untuk sekolah di pusat oleh kemendikbud dan segera berikan porsinya penerbitan buku-buku sastra pada pemerintah daerah yang ditulis oleh sastrawan setempat!

Kamis, 27 April 2017

Geliat Penyair Daerah

Geliat Penyair Daerah ,
oleh Rg Bagus Warsono.
Sudah terlihat penyair 'papan atas itu membuat sensasi agar menjadi perhatian 'sebuah management konflik agar menguntungkan dirinya, penyair di daerah tak usah kepencut ikut menanggapi tulisan sensasi itu, sebetulnya itu adalah kemenangan kita karena sebetulnya mereka ketakutan ditingkat grass roots mereka tidak dikenal sama sekali.
Berbagai kekhawatiran mereka karena perkembangan di masyarakat dan juga masyarakat sastra yang beralih pandangan sejak informasi global menjadi bagian kehidupan masyarakat Indonesia. Kini sudah banyak terlihat di berbagai lomba baca puisi di banyak daerah telah menempatkan karya-karya penyair daerah sebagai puisi wajib atau atau puisi pilihan dalam lomba itu. Itu bagus sekali sebagai penanaman untuk penumbuhan idola oleh generasi muda/ pelajar bagi penyair daerah.
Penyair besar Emha Ainun Nadjib saja slalu bersama masyarakat dan terkadang menolak untuk dipanggil di kalangan elit, ia tetap menjaga untuk memelihara kedekatan dengan masyarakat bawah/kecil.Begitu pula Dalang Entus Susmono meski sudah menjadi Bupati disempatkan untuk slalu dekat dengan rakyat dengan penampilan barunya Wayang Santri yang di gelar di berbagai daerah tanpa mengharap imbalan.
Dan penulis juga menaruh hormat kepada panitia event sastra jika mengundang penyair lokal sebagai pembicara atau bintang tamu, itu berarti telah menghargai kearifan lokal dan telah memandang bahwa di zaman ini, di zaman informasi global ini, orang pintar sudah banyak yang berada di daerah.Bahkan beberapa mahasiswa berbagai universitas kini telah banyak menyoroti karya penyair-penyair lokal/daerah sebagai bahan penelitian dan seminar.
Sebagai seorang penulis aku sendiri merasa kagum dengan karya-karya penyair yang dekat dengan masyarakat seperti karya Aloysius Slamet Widodo yang slalu bikin mesem, karya Handrawan Nadesul yang menghanyutkan hati, juga karya-karya mereka yang muda-muda seperti karya Sofyan RH Zaid yang menyirami kalbu, Ali Arsy yang memotret kenyataan, Eri Syofratmin yang maknanya tersembunyi, Ersa Sasmita yang lugas , Marlin Dinamikanto slalu muncul tema baru, Zaeni Boli yang pendek-pendek dan menusuk , juga karya-karya sahabat lain juga banyak yang sangat bagus.
Seperti penyair Sutarso juga telah memiliki khas yang tidak dimiliki orang lain. Ia slalu menempatkan kata "protes" dalam puisinya sebuah kata yang mula dianggap lucu padahal bentuk penyampaian khas yang akan menjadi ciri yang menguntungkan penyairnya. Juga ada pada penyair-penyair lain.
Indramayu, 26-4-2017

Sabtu, 26 November 2016

Sastrawan Tak Pernah Lelah

Demikian sangat padat beraneka kegiatan sastra di akhir 2016 ini, oleh berbagai komunitas sastra di seluruh pelosok Tanah Air. Kegiatan yang sangat bermanfaat bahkan diperlukan dikala negeri tengah dalam pancaroba.
Masyarakat sastra yang tercermin dalam karya-karya mereka mendukung kehidupan aman, demokratis serta semangat reformasi negeri. Tetapi masyarakat sastra Indonesia sadar betul bahwa benturan terhadap reformasi adalah warga negara Indonesia sendiri yang bukan tidak mau untuk reformasi tetapi ada melekat pada hati mereka sesuatu yang ingin agar apa yang dimilikinya sekarang ini tidak lepas begitu saja, seperti kekuasaan, jabatan, fasllitas, serta jaminan yang mereka slalu terima tanpa memberi imbal balik pada negeri ini.
Bahkan banyak orang diluar komunitas sastra mencibir kegiatan-kegiatan sastra sebagai kegiatan yang tak guna. Mentertawakan dan tak peduli. Ini dikarenakan tidak pahamnya wawasan serta jiwa seni dan belum melekatnya rasa nasionalism serta kesadaran bahwa penumbuhan karakter bangsa itu berawal dari membaca dan membaca.
Sentuhan-sentuhan jiwa agar menjalin kehidupan lebih baik melalui karya sastra sepertinya belum mempan untuk masuk dalam jiwa mereka yang seperti batu. Sampai-sampai tokoh-tokoh sastra mencetus dan berbuat terang-terangan tanpa dibalut dengan sindiran dalam karya-karya mereka walau tetap dalam nuansa seni. Antologi Puisi Menolak Korupsi, Memo Wakil Rakyat , Memo Presiden, Memo Anti Terorisme adalah judul yang lebih transparan agar mudah dicerna oleh siapa saja. Judul-judul yang diharapkan akan dapat langsung menyentuh dan meluluhkan hati manusia beku yang masih memiliki jiwa serakah, tamak, rakus, dan raja tega.
Kita (para seniman/sastrawan) tidak boleh putus asa untuk melawan hati manusia-manusia beku yang ingin mempertahankan jiwa kotor (rakus, serakah, tamak, dan raja tega) yang seperti tak menerima reformasi ke arah yang lebih baik negeri ini. Salut atas berbagai sahabat, yang tak dapat penulis sebutkan satu persatu, di seluruh Tanah Air ini di berbagai komunitas , akan tak pernah lelahnya perjuangan demi kehidupan Indonesia yang lebih baik melalui karya dan kegiatan sastra. (rg bagus w-26-11-2016)

Minggu, 06 November 2016

Kiprah Penyair yang Membuat Sejuk



Kiprah Penyair yang Membuat Sejuk
Bukan mengunggulkan penyair dalam mengisi Indonesia yang damai. Mungkin banyak profesi lain yang lebih memberi sentuhan untuk aman damai dan sejuk alam Indonesia ini. Tampak kegiatan sastra oleh pelakunya dirasa sebagai salah satu bentuk yang membuat Indonesia sejuk. Meski banyak tulisan mengkritik bahkan menghujat, dalam penyampaiannya slalu dalam kearifan yang santun. jadi penyair itu pelopor kesejukan kehidupan bernegara melalui bidangnya yaitu sastra.
Menaruh hormat dan salut atas upaya teman-teman penyair yang terus berkreativitas dan terus berkarya sastra. Apa pun yang diperbuat dalam kontek budaya khususnya sastra adalah cerminan bahwa masyarakat sudah tidak mempercayai lagi bentuk-bentuk rekayasa pengakuan karya satra dan pengakuan penokohan pelaku sastra baik yang dilakukan pemerintah atau kelompok yang didukung pemerintah.
Seperti tiada henti, kegiatan sastra dalam tahun 2016 ini di seluruh Indonesia silih berganti dan 95 % didanai masyarakat sastra itu sendiri. Pemerintah harus sadar akan hal ini, bahwa kegiatan baik (sejuk) dimasyarakat tanpa dibiayai pemerintah.
Keanekaragaman bentuk kegiatan sastra Indonesia khusus puisi tak hanya yang populair seperti baca/cipta puisi, peluncuran buku, atau pemberian penghargaan/penokohan saja tetapi penulis melihat kreatifitas itu slalu muncul hal-hal baru yang sangat menarik. Sebut saja misalnya ada Kemah Penyair, Wisata Penyair, Puisi Spontanitas, Saresehan Puisi, Bakti Penyair bahkan ada yang membuat rumah puisi atau rumah penyair dan sebagainya.
Sebagai seorang pelaku sastra, juga mengamati perkembangan sastra negeri ini, membaca bahwa kegiatan sastra dirasakan sebagai sarana kegiatan yang sangat baik (membentuk iklim sejuk kehidupan masyarakat) Berterima kasih sekali kepada tokoh-tokoh sastrawan Indonesia yang dengan penuh pengorbanan mengabdikan diri pada dunia satra dan tak sedikit tenaga tercurah, sebut saja misalnya mereka yang tampak memberikan siraman karya satra kepada masyarakat dan dirasakan nyata seperti Mas Dedari Rsia, Mas Bambang Eka Prasetya, Mbak Sulis Bambang, Mas Riri Satria, Mas Salimi Ahmad, Mas Aloysius Slamet Widodo, Mas Sosiawan Leak, Mas Handrawan Nadesul dan masih banyak lagi yang layak mendapat apresiasi baik dari masyarakat maupun pemerintah meskipun kebanyakan mereka tidak mengharapkan pujian.
Bukan mengunggulkan penyair dalam mengisi Indonesia yang damai. Mungkin banyak profesi lain yang lebih memberi sentuhan untuk aman damai dan sejuk alam Indonesia ini. Tampak kegiatan sastra oleh pelakunya dirasa sebagai salah satu bentuk yang membuat Indonesia sejuk. Meski banyak tulisan mengkritik bahkan menghujat, dalam penyampaiannya slalu dalam kearifan yang santun. jadi penyair itu pelopor kesejukan kehidupan bernegara melalui bidangnya yaitu sastra. (Rg Bagus Warsono 6-11-16)

Rabu, 26 Oktober 2016

Memberi Mereka (Anak-anak) Penumbuhan Karakter Bangsa Melalui Sentuhan Baca.

Anak-anak harapan kita semua di masa depan bangsa ini. Lima puluh tahun kedepan apa jadinya Indonesia ini. Sekarang saja sudah meh-meh dan nyerempet-nyerempet akan krisis karakter bangsa. Buktinya bangsa lain diagung-agungkan. Suku-suku bangsa pemilik Tanah Air ini dikesampingkan kelestarian budayanya, padahal khas Indonesia pemererat bangsa. Nasionalisme anak-anak harus ditanamkan agar Indonesia tidak berkeping-keping. Itulah sebabnya aku memberi mereka jiwa kebangsaan ini melalui sentuhan baca. Agar mereka tersenyum , gembira , dan bangga menjadi bagian Indonesia yang memiliki peran di masa depan

Minggu, 23 Oktober 2016

Kreativitas Tiada Batas

Kreavifitas tiada batas
Sastra adalah bagian dari seni manusia hidup. Seperti seni yang lainnya berkembang sepanjang zaman. dari tangan-tangan kreatif yang juga pelaku sastra kita. Mereka mencari sesuatu untuk seni yang tidak hanya sebagai hiburan semata tetapi juga memiliki nilai artistik sehingga memberi kedamaian, penyejuk dan rasa keindahan dunia ini. Sastra dengan kreatifitasnya hendak memberi keindahan dikala semrawut, memberi kesejukan dikala hati panas, memberi kecerahan dikala pikiran ruwet. Dia yang berkreativitas adalah pahlawannya dunia sastra. Dan tiada batas kreativitas dilakukan tangan-tangan seni, bersyukur ada yang memberikan kreativitas itu.
Perpaduan sastra dan teatre, sastra dan musik, sastra dan lukisan merupakan olah kreativitas yang menguntungkan keduanya untuk diapresiasi. Pemirsa tak hanya disuguhi kalimat puisi yang kadang tak dimengerti tetapi juga ketertarikan seni lainnya sehingga diterima untuk diapresiasi keduanya.
 Pentas Akhir Tahun ISI Surakarta 2012 Baca Puisi Kreatif Karya Emha Ainun Nadjib Sutradara Didik Panji

 Kemudian baca puisi pun diberi musik agar tidak membosankan bagi pemirsanya, musik dimaksudkan untuk memberi getaran jiwa dari puisi yang bernyawa. Seakan memberi hentakan, sentuhan, dan belaian kalbu hati pemirsanya.
 Musikalisasi Puisi KS Nan Tumpah - Perempuan-perempuan Perkasa (Puisi Hartojo Andangdjaja)

 Kini Youtube memberi kesempatan bagi siapa saja untuk mengunggah kreativitas baca puisi. Dengan maksud agar orang lebih mengenalnya dan memberi hiburan serta alternatif pilihan status. Namun sayang terlalu banyak pilihan youtube sehingga status video baca puisi di youtube jarang dikunjungi pemirsa pengguna internet. Mungkin tak sebanding antara alternatif pilahan dan kesukaan masyarakat terhadap tayangan baca puisi. (rg bagus warsono 23-10-16)

Menjadi Penyair Idola



Menjadi Penyair Idola
Doeloe ketika muda-mudanya Rieke Diah Pitaloka juga Puput Novel adalah perempuan penyair yang menjadi idola masyarakat , sayang kemudian mereka beralih ke profesi lain yang lebih menjanjikan dalam segi finansial. Puput memilih menjadi artis sedang Rieke memilih menjadi politikus juga sempat menjadi artis.
Penyair muda menjadi idola masyarakat akan sangat menguntungkan karena kesempatan karier yang lebih panjang dan lebih produktif. Wiji Tukul adalah penyair di usia muda yang sudah menjadi idola karena puisi-puisinya yang berani dan dan menggigit.
Mempertahankan keunikan diri
Keunikan diri menjadi ciri khas yang tidak dimiliki orang lain. Penyair yang memiliki keistimewaan ini pastilah mudah diingat masyarakat. Keunikan diri dapat berupa ciri pada badannya baik wajah, rambut, pakaian / topi/aksesoris yang melekat pada badanya, atau benda yang slalu dibawanya (seperti kacamata, tasbih, kursi roda, dll) menjadi daya tarik tersendiri yang membuat masyarakat mudah mengingat.
Rambah dunia ini dengan puisimu
Pancaran buku/karya tulis berupa puisi tiada batas. Demikian karena aksara adalah jelajah negeri sejak doeloe. Jika mungkin tebaran karya puisimu hingga pelosok dunia. Sehingga yang tahu anda penyair itu bukan di daerahmu saja, bukan di komunitasmu saja, dan bukan dikotamu saja. Sebarkan karya Anda. (Rg Bagus Warsono, 22 Oktober 2016)

Sabtu, 13 Agustus 2016

ide konyol



 ide konyol
Terkadang ide konyol justru malah membuahkan sesuatu yang luar biasa. Tema margasatwa sebetulnya tema sesungguhnya karena tema ini jarang disentuh, belakangan justru berkembang karena ada pengembangan ide konyol itu. Seseorang sms nyindir " Mas itu antologi diganti aja namanya antologi kebon binatang. Ha ha ha itulah pengembangan yang diharapkan olehku.
Doeloe misalnya orang yang beranak banyak disebut 'anak kelinci. Belakangan muntul istilah 'gurita ekonomi dsb.

Dasar penyair itu pinter!, tema margasatwa jadi tema 'margasatwa. Ha ha ha. katanya kalau dipenggal menjadi dua kata ada marga dan satwa kalau dipisah menjadi marga satwa, wah repot aku, tapi tidak mengapa tambah seru. Itulah penyair kadang bilang A sama-sama , bukan A besar dan a kecil tetapi katanya a bagiku berarti lain , Apa itu , a berarti satuan nominal eceran, ada juga a berarti pertanyaan, a berarti orang (si a) atau a berarti keuntungan dsb. Pokoknya pancen pinter pinter semuanya.

Bahkan nama hewan sering dikeluarkan untuk mengumpat orang lain seperti ,'otak udang, otak kerbau, tai anjing, babi loe, kata kata kasar ini terkadang keluardari mereka orang-orang terhormat bahkan anggota DPR atau mentri untuk mengungkapkan kekesalan.

Entah siapa yang pertama menyebut, perilaku manusia dengan sebutan 'kumpul kebo kenapa tidak 'bebek jantan padahal bebek 100 jantannya cuma seekor. Kurang setuju juga ketika memberi ungkapan gadis muda montok dengan sebutan 'ayam sayur.

Sebaliknya ada ungkapan hewan tetapi disukai masyarakat seperti 'Kecil-kecil kuda kuningan, 'Maung Bandung, "Ayam Kinantan, 'Banteng Ketaton, Cendrawasih dari Timur, dan tidak untuk ;Kucing Belang.



Banyak margasatwa kita yang punah. Ketika kapal kapal asing yang nyolong ikan ditembak ditenggelamkan, Anda tidak tahu berbagai jenis kera dari rumpun yang sama Sumatra/Kalimantan di colong juga. Apa yang ditembak apa yang ditenggelamkan. Sebab malingnya tidak kemana-mana masih berada di luar negeri. Orang kitalah yang memperkaya diri.
Beberapa tahun lalu ada bangkai kawanan gajah, tetapi gadingnya sudah tak menempel di kepalanya.

Lalu burung-burung luar negeri yang mungkin bawa penyakit datang dari celah-celah pagar negeri , mengisi sangkar-sangkar hobies burung berkicau.
Dan sungguh luar biasa lagi, ada orang pekerjaannya melawan maut, memburu buaya ganas di sungai-sungai buas.

Sejak doeloe nama hewan menjadi nama kiasan untuk menamai manusia seperti contohnya 'lintah darat (rentenir), 'kuda hitam (sosok tak diduga), 'anjing menggonggong (mereka yang suka usil), 'macan tua ( tokoh tua) , macan ompong (tokoh yang sudah tak punya taring lagi) , 'kupu-kupu malam (lonte) , ular kepala dua (mata-mata) , kura-kura dalam perahu, katak dalam tempurung dan sebagainya. Ini artinya manusia menamai perilaku manusia lagi dengan perumpamaan hewan. Jadi bukan sekarang saja tetapi sejak dulu.

Ternyata margasatwa (binatang) kita penuh filosofi, kelakuan binatang kadang cermin buat falsafah hidup. Bukan berarti lebih baik binatang dari manusia, tetapi manusialah yang mirip perilaku binatang. Atau bisa juga binatang lebih baik perilakunya ketimbang segelintir manusia yang kadang tak memiliki norma. Tetapi pernyataan ini jangan ditafsirkan demikian sebab puisi adalah gambaran , sebuah gambaran yang memiliki ragam apresiasi. Boleh jadi apresiasi itu berbeda dari sebuah puisi. Makna yang sama arti pun berbeda bila dipadukan dengan kata lain, bukan. Nah kalau begitu puisi adalah permainan kata-kata.

Jika puisi adalah permainan kata-kata maka tak perlu mempercayai puisi. Memang. Bukankah puisi itu seni? dan dinikmati? . Jangan salah juga bila apresiasi juga menimbulkan kepercayaan terhadap puisi. Buktinya banyak puisi yang memberikan kenyataan zaman. Sebab penyair menuangkan isi hati dari semua pancaindera yang dirasakan.

Sebegitu dasyatnya puisi melahirkan berbagai tafsir dan perumpamaan. Tetapi sebagai manusia tetap puisi tak perlu didewakan atau dipuja. Puisi adalah puisi yang memiliki jiwa, seni, dan juga hidup.

Dasar penyair itu pinter!, tema margasatwa jadi tema 'margasatwa. Ha ha ha. katanya kalau dipenggal menjadi dua kata ada marga dan satwa kalau dipisah menjadi marga satwa, wah repot aku, tapi tidak mengapa tambah seru. Itulah penyair kadang bilang A sama-sama , bukan A besar dan a kecil tetapi katanya a bagiku berarti lain , Apa itu , a berarti satuan nominal eceran, ada juga a berarti pertanyaan, a berarti orang (si a) atau a berarti keuntungan dsb. Pokoknya pancen pinter pinter semuanya.