Tampilkan postingan dengan label Sastra : Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastra : Puisi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 08 Juni 2019

NYANYIAN SEMESTARAYA Karya Bunergis Muryono

NYANYIAN SEMESTARAYA

Ketika semua sibuk berparadok
Aku bertahan dalam sahaja
agar legawaningtyas dadi ikhlas
Bersinar bagai Surya pada Teratai Tunjung kolamku
Aku berkisah tentang taburan bintang-bintang
Teman tiap malam selama Ramadhan
Juga di saat gelap tiba
Menyapa Bulan dari berbagai pandang.
Diam
Tanpa syair
Tidak berpuisi
Semestaraya telah mengidungkannya
Merdu
Di jiwaku
Dalam hidupku
Hingga kaca danau
Cermin laut
Percikan air menjadi biasan diri kecil ini.
Angin membelaiku
Seusap dua usap sebelum menghantar kabut jadi awan.
Burung-burung berkicau
Ayam jantan menyahut dari berbagai penjuru
Bunga-bunga bermekaran di lahan tandus
Menebar wangi dan harum dalam kemewahan busana aneka warna....
Bumi sesekali bergetar
adalah ibundaku menimang dengan kasih cinta.
"Nak...setinggi apa pun engkau berdiri...tetaplah ingat...engkau berpijak di perut ibumu. Bumi Pertiwi nan tulus hati
Harapku...tetaplah tulus bersyukur...jangan sedikit pun membuatmu angkuh.... Engkau anakku.... Anak lapang jiwa...."


 Mbahkung Buanergis Muryono Renungan Zaman 8 Juni 2019 09:35 at Titian Moksa Ashram Character Building Education Bungkulan Buleleng Bali

Senin, 01 April 2019

Untukmu Garut, oleh Rg Bagus Warsono

Garut kota di lembah Guntur dan gunung lain menjulang Cikurai dan Papandayan .Tampomas dan Tangkuban Perahu di baratmu
aku bersembunyi
di rumah2 desa yg indah dengan air cipanas garut yg hangat
membuat rangkaian rumah rumah bambu dengan pisau cukur dan selimut kulit domba
aku seakan dekat rumah
lumbung puisi
ada di mana mana
indahmu
tak akn lupa
bagi pecinta alam
sajian gaya arsitektur alam dengan sentuhan kejujuran.


Sabtu, 23 Februari 2019

Berangkat Bersama


Berangkat Bersama,

Pagi harapan
disambut rezeki dan panen hari ini
atau dilahan sebelah mulai tanam
perempuan bertenaga kekar
dengan garuk, sabit atau cangkul
mandiri sedari muda
sorot menerjang tulang
matahari tau perut lapar
kami makan bersama
dalam takaran sama
ketika takaran sehari dibagi
sepeda kami kembali
untuk dilap anak-anak kami.
(rg bagus warsono, 23-02-2019)

Minggu, 06 Januari 2019

Asyiknya Jadi Guru Desa

Asyiknya Jadi Guru Desa

Rg Bagus Warsono

Ketika orang hiruk pikuk globalisasi
aku memandang hamparan lembah hijau
Ketika jari-jari tangan berduit sibuk mengetik hp
Aku melihat tangan terampil memainkan ani-ani
Anak-anak games dikota
kami berebut bola di kehujanan
lapangan berlumpur
Dengan mengajari berhitung dan membaca gedrig
tak usah terburu-buru pintar
katanya orang pintar banyak
dokter sudah ada, tentara sudah ada
guru mencari sekolah
insinyur mencari proyek
dan bidan mencari orang melahirkan
cukup bisa menjumlah receh rupiah dan dan membaca sajak
guru kota sibuk cari uang privat muridnya sendiri
katanya bermotor ketinggalan
Guru desa miskin serasa kaya raya
ilmu sedikit berharga
salam dan sapa desa ramah setiap hari
bila bertanya apa yang yang kau punya?
aku menjawab singkat
anak-anak adalah kekayaanku
dan masyarakat adalah bajuku
aku idola mereka sederhana
dikala hari baik
ada pengalaman mengesankan
bersama mereka.
(Indramayu, 06-01-19)

Selasa, 30 Oktober 2018

Rg Bagus Warsono dalam Lambaian Pramugari (181 Penumpang Lion Air )

Rg Bagus Warsono

 Lambaian Pramugari (181 Penumpang Lion Air)

tersenyum menutup pintu badan pesawat
derai rambut dan dasi kecil
angin bandara hari itu
menahan jari lentikmu terbuka melambaikan salam
tangga pesawat mudur perlahan
pintu pesawat menutup diri
dengan 181 nyawa
terbang
menuju pulaumu bangka di bandara lain pangkal pinang.
Deru halus meninggalkan asap putih
lalu memudar menjadi awan kecil-kecil
181 dalam doa
memejamkan mata
sudahkah di bandara lain
Terbangmu sebentar padahal bandara masih jauh
Kau singgah di pelabuhanMu.

Rg Bagus warsono 29-Oktober 2018

Rabu, 22 Agustus 2018

Ndaru , Wanto Tirta

31. Wanto Tirta, Lahir dan besar di Desa Kracak Kecamatan Ajibarang Kabupaten Banyumas Jawa Tengah. Orang biasa saja, mengalir sampai jauh,...
Menulis puisi maupun geguritan.
Menerima penghargaan bidang sastra dari Pemkab Banyumas (2015). Penerima Nomine penghargaan Prasidatama Balai Bahasa Jawa Tengah, sebagai Tokoh Penggiat Bahasa dan Sastra Jawa (2017).
Bermain teater dan Kethoprak. Bergiat di Komunitas Orang Pinggiran Indonesia (KOPI), teater Gethek, Paguyuban Kethoprak Kusuma Laras.

Cegak Oleng , Muhmmad Muakrom

36. Muhammad Mukarom, berasal dari kota Gresik. Telah aktif di kepenulisan sejak 2016.

Yai Bengawo, Alek Brawijaya

39. Alek Brawijaya, lahir 11 mei 1992 di Teluk Kijing, Musi Banyuasin. Tulisannya pernah dimuat diberbagai media lokal dan nasional, serta tergabung dalam beberapa antologi bersamaYai 

Kemanusiaan Milik Kita , Cuk Ardi


32. Cuk Ardi, seorang penyair dalam Grup Fb Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia. Menulis di Tadarus Puisi Sedekah Puisi 2018.

Geliat Kecemasan, Muhammad Iskandar

42. Mohamad Iskandar Penulis puisi kelahiran Demak. Sedang bergiat di komunitas Competer Semarang. Puisinya termaktub di puluhan antologi bersama dalam dan luar negeri, dapat dihubungi 

Selasa, 31 Juli 2018

Tak Kulihat Lagi Becak di Kotaku Rg Bagus Warsono






Tak Kulihat Lagi Becak di Kotaku

Rg Bagus Warsono

Tak kulihat lagi becak hari ini dan di pangkalanmu
yang kini menjadi taman perempatan kota denga tugu yang memperingatimu
bahwa kau tak diperlukan lagi.
Becak kemana pergi entah mulai kapan
sejak pagi atau kau mengurung diri di halaman rumahmu
dengan tangis anaka-anak dan istri
karena bapak kehilangan gemerincing suaramu.
Mula kau dibiarkan berkarat
dan tiba-tiba banmu kempes
satu persatu baud dan mur lepas
sedang kanvas kerudung becat terbakar
menjerit hati abang becak
bersama tangis istri cdan anak-anak
Hilang bersama becak di depan sekolah
Becak pun dipaksa bermesin tempel
lalu mengganti roda-roda jari-jarimu
dan ketika kau disuruh memegang hand phone
pedal becak itu sudah tiada
diiring air mata
becak termakan sejarah
kau tetap dikenang abang becakku,

Indramayu, 30 Juli 2018

Becak karya Rg Bagus Warsono


Becak,

Becak berjajar menunggu penumpang,
harap rezeki di hari ini,
becak cemas hampa,
dapur istri hanya air mendidih tanpa beras.
Becak melayang,
penumpang senang,
keringat bercampur bayang sesuap nasi.
Becak melaju kencang tanpa penumpang,
gemerincing perut lapar ,
hanya sekilogram beras.Becak menanti ,
berrebut,
dan kadang semrawut,
becak digalang truk ,
dibuang laut.
Duhai teman bukankah sama dengan kita makan untuk hidup ,betapa susahnya mendapatkan makan.
Beri kesempatan rezeki, teman.
(Rg Bagus Warsono)

Sabtu, 07 April 2018

Ibu Indonesia

Ibu Indonesia

Karya Rg Bagus Warsono

Ada yang gendut ada yang lencir
ada yang ayu ada yang kemayu
ada yang tregep, gesit, dan ada yang gemulai
ada yang mesem ada yang mrengut
ada yang sehat ada yang ngreges
ada yang jorok ada yang rapih
ada yang agresif sex ada yang malu-malu kucing
ada yang mabur-mabur ada yang di rumah saja
ada yang kaya raya ada yang nestapa
ada yang bahagia ada yang nelangsa
ada yang sombong ada yang sabar
Ibu yang sabar ibu Indonesia

(rg bagus warsono, 6 April 2017)

Jumat, 30 Maret 2018

Ngiris Pulau Jawa

                                                Rg Bagus Warsono
Ngiris Pulau Jawa

Dan setiap kilometer melewati
aku disapa patok
masih jauhkan kotaku
sudah semakin jauh kota kutinggalkan
sawah menghijau
dan semilir angin lewat
jendela-jendela sepur
Aku benar-benar di Jawa
Dan gunung-gunung berhenti mengeluarkan air, dari mata airmu yang kering
Pohon-pohon jati berubah menjadi puing-puing tiang menyangga layang
daun-daunnya terhampar semen mengering
menjadi batu
dan batu menjadi akik
keras
mengeraskan hatimu
yang membutuhkan air
yang hanya menadahi hujan
setahun sekali
di Jawa,
di tanah yang diiris-iris
Esok tak lihat lagi petani,
Hamparan hanya beton bertulang
Esok tak lihat lagi hijau padi
Hanya burung-burung bermerk Jepang,
Angin tak lagi sepoy, tapi bau petralit terbakar
Sungai hanya mainan
pemborong bermata sipit
Dan danau hanya tipuan pemandangan
Jawa diiris-iris.

Maret 2018

Sabtu, 16 Desember 2017

Seabait Puisi Hilang karya Rg Bagus Warsono

Sebait Puisi Hilang

atas seleksi berlapis
memotong kata lalu kalimat
membuat puisi dari tegas menjadi pudar
dari berani menjadi sembunyi
dari lantang menjadi diam
dari menusuk menjadi tunduk
dari keras menjadi lemas
dan kini sebait hilang tanpa krana
induk mencari bait
yang tinggal sepotong
sepotong hati
sepotong kejujuran
sepotong niat baik
Sebait puisi yang hilang
terbang ataukah hinggap
atau dalam brankas terkunci
temukan bait itu
dimana disimpan

(indramayu, 14 Desember 2017)

Jumat, 08 Desember 2017

Pinsil Penghitung Hari, untukmu E-Kae Ya

Rg Bagus Warsono.

 Untukmu pinsil penghitung hari

mengitung tali hari-harimu
menyamakan palu vonis dan remisi hatimu
tanda mata pordeo
mencari celah putih tembok yang penuh tali hari
oleh orang-rang yang singgah di hotelmu sekarang
pinsilmu membekas memutuskan arang pinsil hitam
menusuk tembok lembab
tali sepuluh disilang
menjelang sebelas
tali duapuluh silang
menjelang duapuluh satu
sebagai pengganti mainanmu
waktu diluar kau menghitung uang
seenaknya
dengan kaki diatas meja
meja diatas tumpukan uang
selapis diatasnya atap rumah
kau tak gunakan pinsil untuk menghitung
karena satu bernilai sejuta
A kau artikan semilyar
sehingga tak pelu lagi pinsil tanda
sebab satuan berarti jutaan
Kini,
dalam dalam kandang jeruji
kau tak perlu lagi semua itu
recehpun tak guna
sebab abang bakso tak hendak lewat di sesl-sel bui pordeo
kau memegang pinsil
mencari celah-celah tembok yang nyaris dipenuhi goresan
pinsil pinsil tanpa mata arang.
 Rg Bagus Warsono, 4-12-17

Sabtu, 14 Oktober 2017

Kepada Kau Penyair karya Rg Bagus Warsono

Kepada Mas Yono Buanergis Muryono, Aloysius Slamet Widodo dan Handrawan Nadesul

                                                               Kepada Kau Penyair

Dalam bayanganku di pundaknya
telah ada ciri-cri penyair besar pada dirimu
Pancaran sinar candra mawa
yang melindungimu dari mara bayahaya mengikuti kemana pergi
Kekuatan bathin yang melekat dalam jiwa kepenyairan
terpancar lewat raut pesona
Goresan penanya adalah aliran listrik otak
dan hati yang ditoreh jari tanganmu bersih
Mereka bicara dalam sabda aksara hati,
petuah manfaat alam
Kekuatan imajener penyair merangkum khayal
memutuskan mufakat
Buah karya ikhlas memberi

(rg bagus warsono 14-10-17)

Sabtu, 22 Juli 2017

Aku kecil karya Rg Bagus Warsono

Aku Kecil                              Rg Bagus Warsono

Aku kecil
Aku kecil dan ibu
kecil aku berterima kasih
aku kecil ibu

Selasa, 20 Juni 2017

Mudik Sebisa-bisa , puisi Rg Bagus Warsono

Mudik

Seperti tahun-tahun sebelumnya dan tahun ini
kami harus pulang di rumah kampung tempat orang tua dan mertua
berada diantara sanak
bertemu selamat bercerita hidup
bahwa sehat dan sakit
hidup dan mati
sedih dan bahagia
melarat dan kaya raya
kumpul keluarga besar
Mudik ke Jawa bukan dekat atau jauh
hanya karena tebal dan tipis dompet
Jakarta hanya pengharapan
di rumah menanti keselamatan
Seperti tahun-tahun sebelumnya dan tahun ini
mudik keluarga
sebisa-bisa. (rg bagus warsono, 19-06-17)

Kamis, 08 Juni 2017

Mengenang Soekarno dengan Puisi-Puisi Si Bung karya Rg Bagus Warsono


Jangan Kunjungi Nisanku

Kau berdoa untukku namun kau
mengotori batu nisanku dengan abu rokok
melumurinya dengan tahi kerbau
dan menginjak-injak bumiku yang damai dengan kakimu
yang najis.
Sementara burung walet di Pantai Kidul menghargaiku
dan kera-kera hutan menjauh merasa ia tak pantas berada
bumiku damai
Padahal aku tak melarang
Sementra pengemis, gelandangan, dan petani
mengirim doa dengan tulus
tanpa doa-doa yang direkayasa
Yang hanya menutup bejat pejabat kita
Jangan kau kunjungi nisanku
Jika kau tak hendak melihatku
Karena aku sesungguhnya
Sudah tak berada di sana
Ketika orang-orang sepertimu datang di tempatku.
Rg Bagus Warson, 1993