Tampilkan postingan dengan label Tadarus Puisi III. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tadarus Puisi III. Tampilkan semua postingan

Selasa, 25 Juni 2019

Tadarus Puisi Ramadhan 1440 H (2019)

Daftar Isi
Pengantar : Dalam Tadarus Puisimu ………………..6
1.Firman Wally, Bulan suci……………………………7
2.Sugeng Joko Utomo, "Mak tunggu sebentar..…….9
3.Zaeni Boli , Lailatul Qadar……………………..……15
4.Agustav Triono, Senyum Sahur……………..…..…17
5.Agus Mursalin, Tadarus Sehari Semalam……..….19
6.Muhammad Lefand, Selamat Datang ………..……24
7.Pensil Kajoe, Waktu  Ramadhan…………………...25
8.Gilang Teguh Pambudi, Yang Ditunggu……….....27
9.Anisah, Rutinitas di Bulan Suci………………..…..30
10.Dyah Setyawati, Mukena Ibu………………….….31
11. Winar Ramelan, Gema Bulan Suci…………..….32
12.Bayu Aji Anwari , Hamparan Syiri……………….33
13. Wanto Tirta, Belajar Lapar ……………………....37
14. Sarwo Darmono , Tengah Wengi ………………...41
15. Heru Mugiarso, Malam Lailatul Qodar………...43
16. Siti Khodijah Nasution,Salam Perpisahan…….44
17.Suyitno Ethex, Malam Seribu Bulan……………47
18.Syahriannur Khaidir, Tentang Hikmah………..48
19.Asro al Murthawy, Saat Ramadhan Pamit…….52
20.Suhendi RI, Wahdatul Wujud…………………....55
21.Cuk Ardi , Ramadhan ………………………….….57
22.Fahmi Wahid , Doaku Dari Tebing Batin……....58
23.Rg Bagus Warsono, Menanti di Stasiun ………..60
24.Fatiha Vi, Aku Ingin MenjumpaiMu …………….63
25.Yono DL,Kumanti Mimpi Pada Bayang-Mu…....65
26.Abay Viezcanzello, Aku dan Kau …………………67
27.M sapto Yuwono, Selepas Ramadhan……………68
28.Syaiful B. Harun, Kembali Dari Kembara……...69
29.Lela Hayati, Itikaf Ramadha…………………..…71
30.Muhammad Jayadi , Yang Kutangkap …………72
31.Sukma Putra Permana, Doa Lebaran Dari ..…..73
32.Barokah Nawawi, Ramadhan Penuh Berka..….75
33.Iwan Bonick , Ramadhan 2019……………………77
34.Puisi Zen KR. Halil, Anak Kecil; Teruntuk …….80
35.Sri Sunarti , Asa Ramadhan……………………...82
36. Riswo Mulyadi , Belajar Puasa…………………..83
37. Kaliktus Ure Maran , Kamu dan Bundaku…….84
38.Sami’an Adib, Menyelami Rahasia Puasa………86
39.Arya Setra, Malam Penghujung Ramadha……..89
40.Mim A. Mursyid, Resonasi……………………...…90
41.Supianoor, Aku dan Sang Yatim Piatu………....91
Mengenal Tokoh Tadarus Puisi Indonesia…………94
Puisi Penutup………………………………………..…100
Biodata singkat penyair………………………….…..101



















Puisi 6-9 Tadarus Puisi Ramadha 1440 h (2019)

6.
Muhammad Lefand.

Selamat Datang Bulan Ramadhan

Rajab mengabarkanmu
Sebelum sya'ban merindu
Kedatanganmu kutunggu

Marhaban ya ramadhan
Semesta raya merayakan
Kedatanganmu telah dinantikan

Seluruh badan berdoa
Berdzikir dengan cinta
Di bulanmu yang penuh cahaya

Seperti pagi dan daun
Hari-hari penuh embun
Senyum-senyum kembali rimbun

Jember, 6 Mei 2019 1 Ramadhan 1440












7.
Pensil Kajoe

Waktu  Ramadhan

Waktu Ramadhan tigapuluh hari
Seolah lama padahal begitu cepat
Diri sendiri, masih terlalu asik dengan lupa
Meski sedang puasa, tapi nafsu jalan terus

Waktu Ramadhan segera berakhir
Di pengujung baru terasa
Bulan ini benar-benar nikmat
Untuk munajat padaNya

Waktu Ramadhan bukan sekadar puasa
Menahan lapar dan dahaga itu tak aneh
Ada yang lebih lapar dan tak pernah tahu nikmatnya buka
Tajil hanya berupa mimpi

Waktu Ramadhan di mana kita
Asik terus dengan gejolak dosa
Manusia-manusia, jangan jadikan lupa
Sebagai alasan pembenaran ulahmu

Waktu Ramadhan segera berakhir
Ah menyesal kemudian tiada guna
Padahal mungkin ini waktu Ramadhan terakhir.

Tumiyang, 26052019



Pensil Kajoe

Bedug yang Ditunggu

seperti menunggu kekasih datang
berkali-kali melongok detak jam
detiknya terasa berjalan lambat
tak sabar ingin segera bertemu

segala macam makanan terhidang
tertata rapi di meja
sebagai jamuan kekasih yang akan datang
begitukah
begitukah yang kau pahami
suara bedug  begitu merdu
seperti suara kekasih, berbisik
terdengar di telinga
rindumu tertumpah
terlampiaskan.

Tumiyang, 26052019













8

Gilang Teguh Pambudi

Yang Ditunggu Waktu

siapa yang akan kau datangi
saat rindu memuncaki hati
kecuali yang tercinta saja
yang alamatnya paling surga
kepada siapa kau akan kembali
saat rindu mengenang perjalanan diri
tentu tak perlu membelah hampa dunia
mencari siapa paling rakus kuasa
hidup cuma mendermakan diri
kalau berarti kita bisa mengerti
begitulah guna pertemuan-pertemuan
menyemai keselamatan kesejahteraan
kalau kesetiaan tak ada yang menemui
tenang damailah, sampai ada yang kembali
kita teruskan saja memintal cahaya
menghangati malam
karena setiap jiwa-jiwa terkasih
seluruhnya sudah terpilih
bahkan waktu pun setia menunggu
sampai api asmara berpadu sumbu
tumpah-ruah rasa saudara
harubiru mensyukuri rindu
seluruh hati kasih berkasih
tak ada nyawa yang sia-sia
malaikat-malaikat meminang siang
meminang malam
bulan, bintang, dan matahari disulam
pada luasnya semesta sajadah
Kemayoran, 26 05 2019 Ramadan 1440-H



Catatan: malam hari puisi ini saya tulis. Pagi harinya, di kantor ada yang ngirim puluhan sajadah, spontan saya bersyukur, itu untuk sedekah Ramadan. Subhanallah. Bebinar hati menjadi saksi.


























Gilang Teguh Pambudi

Cuma Menderma
anak-anak pada jantung waktu itu
kelak juga mengerti
mengapa hidup mendetak pada takdirnya
mengapa manusia menghiba cinta?
sebab sudah putus kalimatnya
di atas perbukitan
saat Allah kasih sejuk udara
dan kita terang melihat jalan ke utara
cinta saja yang menumbuhkan
akal sehat dan daging perjalanan
rasa tanah dan kepekaan sosial
sampai ke terminal kota dan pasar
ketika keagungan Allah
menjadi syair atau lagu
yang menemani penjual sayur dan ikan
lalu di balik tembok-tembok rumah malam
seorang muda di atas sajadah
selalu menjanjikan keselamatan tetangganya
sampai hidup cuma menderma
dengan menempatkan diri
yang tidak melukai apalagi membunuh
dan dengan segala ada, segala bisa  segala doa
Kemayoran, 27 05 2019 Ramadan, 1440-H

Catatan: puisi ini saya tuntaskan siang hari di bula Ramadan. Semalam ada yang menelpon, "Kiriman sudah sampai ke runah saya, terimakasih banyak". Saya malah jadi merenung, "Ingin rasanya membagi lebaran ribuan jutaan potong, tapi orang lemah mana bisa? Semoga mereka yang kuat dan hebat bisa"

9.
Anisah

Rutinitas di Bulan Suci


Gelisahku pada pukul 1 dinihari
Kuterbangun lalu ke belakang
Itu sudah pasti
Lalu tidur lagi sambil memikirkan
Apa yang akan dihidangkan untuk makan sahur
Sesuai rencana di siang hari
Tak perlu tambahan
Biar tidak gelisah lagi
Ayo bangun suamiku
Ayo sahur anak-anakku
Semua terhidang di meja
Sayur oseng menjadi rutinitas
Bacem tahu menjadi hobi
Telur goreng itu yang murah meriah
Teh manis dan panas
itu menjadi penutup sahur kami
Hidup sederhana
Itu yang utama
Biar
Dunia tidak terbalik
            Borobudur, Mei 2019







10.

Dyah Setyawati
Mukena Ibu

lirik mataku terpaku pada jemuran baju tetangga
mukena baru sambut Ramadhan
penuh renda sana-sini
embun mata netes
melihat robek mukena ibu
penuh tambalsulam jahitan tangan
ibu yang sahaja
bening airwudhu
menajam tawadhu
ramadhan ya ramadhan
semoga sampai ke gerbang kemenangan
ibu langitkan doa sembari natap wajah buah tubuhnya
aku cuma bisa menguntit angan
kapan mukena baru bisa terbeli
ibu seribu maafku
lantaran baru bisa menuang ingin
anganku
yang berkelebat
semoga celengan recehku cepat penuh
untuk mengganti mukenamu
bidadari lah kau dimataku ibu
Asahmanah 27/05/2019.



Puisi 11-15 Tadarus Puisi Ramadhan 1440 H /2019

10.

Dyah Setyawati
Mukena Ibu

lirik mataku terpaku pada jemuran baju tetangga
mukena baru sambut Ramadhan
penuh renda sana-sini
embun mata netes
melihat robek mukena ibu
penuh tambalsulam jahitan tangan
ibu yang sahaja
bening airwudhu
menajam tawadhu
ramadhan ya ramadhan
semoga sampai ke gerbang kemenangan
ibu langitkan doa sembari natap wajah buah tubuhnya
aku cuma bisa menguntit angan
kapan mukena baru bisa terbeli
ibu seribu maafku
lantaran baru bisa menuang ingin
anganku
yang berkelebat
semoga celengan recehku cepat penuh
untuk mengganti mukenamu
bidadari lah kau dimataku ibu
Asahmanah 27/05/2019.






11.

Winar Ramelan

Gema Bulan Suci

Mendaras, menderas bagai hujan
Beningnya menembus arasy
Doa yang dilangitkan pada bulan suci
Sederas hujan yang tiba musimnya
Munajad ini ditujukan pada Engkau wahai yang dimuliakan
Sang maha pemilik kehidupan
Pemilik terang dan gelap
Yang tak henti mengulurkan tangan-tangan lembutnya
Pada bulan yang suci
Yang menghamparkan waktu
Untuk merenung dalam relung
Agar keinsyafan menaungi
Dari alpa dan goda













12.

Bayu Aji Anwari

Hamparan Syiri di Siang Ramadhan

Suara-suara dari dalam kegelapan
berdesak menuntut pemenuhan
atas apa yang ada di batok kepala
dari ujung ke ujung
diantara ubun-ubun dan kemaluan
Dia terus memaksa
terus dengan keinginan yang sama
Fikir ini muak, menatap dalil dan serapah
demikian pun bhatin,
ia marah hingga memerah darah
Tak terima menyaksikannya
bukan sepaket pasrah
seperti mereka yang berhati hamba
Engkau tertolak, kata nurani lembut
dari balik pintu yang hampir tertutup
Tunggulah hingga petang menyambut
dan menerimamu dengan senyuman
Jangan pernah lagi memaksa
sebab itu perbuatan sia-sia
dan engkau akan terus tertolak
Sadarilah,
agar waktu tak pergi menjauh
untuk membiarkanmu dalam kesendirian
Sebab ini bulan pensuciaan,
bulan dimana para hamba bermohon
mendapati fitrah dan keselamatan
Bulan percepatan dari semua urusan
serta waktu penentuan siapa sesungguhnya
pemilik taat dibenarkan
Bulan yang di sana hanya ada hamba dan Robbnya
Semarang, 29 Mei 2019































Bayu Aji Anwari

KUTEMUIMU WAHAI RAMADHAN

Dari hitungan kesembilan bulanmu
engkau hadir membawa kisah
tentang bukti hamba
hanya kepada Robb-nya semata
Begitulah ramadhan menyapa
mengabarkan tentang arti taqwa
dan ribuan keutamaan
hingga berkah yang berlimpah
Engkaulah bulan pemilik lailatul qadar
malam yang lebih utama
dari seribu bulan
: meski tak mudah untuk menemuinya
Sebab ramadhan bukan bulan biasa
ia bulan terpilih olehNYA
tempat ayatNYA pertama kali di turunkan
dalam sunyi yang tenang
dalam kebahagiaan yang membentang
dalam cahaya yang menjelang
Engkaulah wahai ramadhan
tempat hamba menggapai arsy
melesat cepat menemui sang Rahman
menyematkan taqwa
sebagai kesempurnaan kami
adalah hamba
Semarang, 27 Mei 2019





Bayu Aji Anwari

AKU KEHILANGANMU YA RAMADHAN

Sekarang ada titik bening
di sudut terluar mata
pandang hamba berkabut, meraba
waktu kian susut
Menjauh dari pandangku

Ia sang waktu menjelma bayang
melingkari ingatan indah diri hamba
tunduk pada rahman dan rakhiemNYA
dan ingatan itu pun,
penuh kudhu tadharuk menyebut asmaNYA

Selamat berpisah ramadhan,
engkau pergi menghadapNYA
dengan menggenggam rindu kami

Engkau datangi tempat
di mana kami akan kembali

Sampaikan doa dan harapan kami
: ya ramadhan

Sungguh kami ingin kembali
pada diri yang fitri
lepas segala fana
menuju keabadianMU

Semarang, 5 Juni 2019


13.

Wanto Tirta

Belajar Lapar

betapa mahalnya lapar
harus ditebus sehari penuh
mulai terbit fajar sampai adzam maghrib tiba
bagaimana tahu indahnya lapar
sehingga perlu satu bulan untuk belajar
lapar dan haus menjadi pelajaran perjalanan menuju manusia pilihan dari jutaan manusia yang ada
dalam lapar dan haus
mengalir nikmat empati dan iman yang kuat
untuk semakin cinta kepadaNya


















Wanto Tirta

Bulan

ingin menulisi bulan yang malam ini bundar
adakah cara agar terbaca
juga tersimpan
betapa ingin melakukannya
kurasa malam tak diam
apalagi angin
terus saja bergerak
mengisi ruang-ruang kehidupan
bulan
kutatap kau dengan nyala api pengharapan
dengan cahayamu
makin meneguhkan hati
untuk tetap sabar menanti
pada titian illahi
31052019















Wanto Tirta

Catatan Sore

Sore ini di wajahmu terlihat mendung
Bergayut dari bibir yang ranum
Akankah hujan mengusap rinduku
Angin lewat
Menggugah diam
Sapa kata pada puasa
Di jelang senja
Mendung masih tertahan
Semoga lapar dahaga masih sempat menanti magrib
Saat buka puasa tiba
31052019



















Wanto Tirta

Bismillahirrahmanirrahim
Ngaturaken Sugeng Riyadi

Sedaya lepat kula nyuwun pangapura,...
Iwak teri pepete sing dawa
Iwak cucut iwak segara
Idul Fitri dina istimewa
Ana luput jaluk ngapura
Tuku lenga goreng sega
Sega sepiring lambang beras
Inyong donga kanggo Rika
Lebaran siki sehat waras
Gorengi pang-pang gurih lan enak
Enak renyah dedole murah
Rejeki gampang urip kepenak
Akeh berkah lebaran bungah
Semangat Idul Fitri
_Taqabbalallahu minna wa minkum ja'alana minal aidin wal fa’izin_
Kami sekeluarga mohon maaf lahir batin












14.

Sarwo Darmono

Tengah Wengi Ing Wulan Suci

Sumiliring bayu ing tengah wengi . Rasaning anyes adem jroning ati . Tengah wengi kang sepi . Sepi sepen sepining sepi . Para titah wis mapan ing Jagating ngimpi .
Kang ana hamung suaraning kidung kalam Ilahi . Kalam Ilahi winaca ing tengah wengi . Wancine wulan suci . Wulan kang kebak berkah Ilahi . Berkah kang para titah upadhi . Kanggo sangune bali . Bali nang alam abadi .
Tengah wengi tansah Hamemuji . Tengah wengi tansah nyawiji mring Gusti . Kanthi rasa jruning ati . Kanthi nggraita jatidiri . Kanthi Pasrah diripribadi .
Duh.. gusti Allah kang maha Suci . Nyata nyata kawula tanpa dhaya . Tanpa bisa apa apa . Kebak salah lali lan dosa . Sareng rawuhe sasi pasa . Sasi kebak Pangapura .
Kawula pasrah jiwa raga .
Nyuwun pangapura . Wonten ngarsa padhuka .

Lumajang Jumat Kliwon 10 Mei 2019 .








Sarwo Darmono

Apa Bisa Bali nang Asale

Campuhe rah bangtih . Nuwuhke rasa sejati . Nuwuhke wiji dadi . Wiji dadi kang den anti anti . Wiji dadi mijil kodrating Gusti . Wiji dadi mijil wujud jalma . Jalma kang suci . Tan ana reget jiwa raga .

Jalma suci gesang ing jagad rina wengi . Katut ombyaking kahanan . Dina dina den tapak i . Sasi sasi den lakoni . Mangsa ganti mangsa tansah mbudidaya . Mbudidhaya ngupaya boga . Mrih lestarining raga . Raga mapaning sukma .
Kagawa kahanan kang ana . J alma kang aran suci . Ilang sucine Luntur lebur . kena ombyaking rina wengi . Jalma kang asal suci . Titiwanci bakal bali . Bali marang Ilahi . Apa iya,bali kanthi suci . Apa bisa mbalik asal suci . Kabeh durung mesti . Gumantung lakuning diri pribadi .
Ing jagat rina wengi .
Lumajang Kemis pon 18 April 2019 .












15.

Heru Mugiarso

Malam Lailatul Qodar

Malam lailatul qadar diamdiam belusukan
Menyambangi gubukgubuk karton
Di bawah jembatan layang
Dilihatnya seorang duafa dengan perut lapar
Namun tetap ikhlas menadahkan tangan berdoa
Tentu Tuhan sangat mendengar doadoanya
Walau tidak langsung menjatuhkan amplop THR di hadapannya
Karena keberkahan, kita tahu, tak diukur oleh lembarlembar kertas bergambar pahlawan Indonesia

2019

Puisi 16-21 Tadarus Puisi Ramadhan 1440 H (2019)

16.

Siti Khodijah Nasution

Salam Perpisahan

Aku akan pergi
mungkin kembali
atau bisa jadi
engkau masih yang sama
Tak pernah mengasihiku
Tamu luah maghfirah
Beruntai ampunan
Akulah ramadan
Betulkah dirimu rindu?
Malam lalilatulqodar
Dapatkah menghidu
Malam seribu bulan
dari pendoa yang baru menyadari
aku sudah akan sampaikan salam perpisahan
Ramadan
Baru kusadari
engkau akan pergi
masih banyak yang tertinggal
Kiranya kasihi aku
Kekasihku
Jakarta 21 Ramadan 1440H







Siti Khodijah Nasution

Malam Agung

Berkumandang takbir
Aku menangis
Betapa lumpur
Masih
Melekat

Berkumandang takbir
Tak sesiapa
Berbaju debu
Semakin
Kecil

Berkumandang takbir
Padanya saja
Lurus
Di malam agung
Aku mengharu
Jakarta, 30 Ramadan 1440 H












Siti Khodijah Nasution

Jalan Pencarinya

Inikah tanda
Ketukan pintu terkuak
Didatangkan anak bermata sayu
Lapar terpancar


Inikah tanda
Jalan pencarinya
Rupa-rupa larat
Hampir jatuh
Mengutuk


Inikah tanda
Di titik nadir
Dihadapkan rumahnya
Aku bertahmid
Aku bertasbih
Aku bertakbir
Memeluknya dalam sujud
Tak terbangun lagi
Jakarta, 4 Juni 2019








17.

Suyitno Ethex

Malam Seribu Bulan

Bulan
Malam seribu bulan
Hanya semalam
Malam itu sebuah malam
Tak ada di malam lain
Selain di bulan ramadan
Malam yang penuh keistimewaan
Malam yang penuh kerahmatan
Bagi yang beriman
Malam itu selalu ditunggu
Malam itu selalu diharap
Malam itu selalu dirindu
Malam itu ingin didekap
Bulan
Malam seribu bulan
Hanya semalam
Di bulan ramadan
2752019










18.

Syahriannur Khaidir

Tentang Hikmah

Dia menyapaku dalam dahaga demokrasi
Saat dalil centil politik berkumandang
Lalu benang kusut coba menekuk persada
Melilitkan petaka cinta karena coba
Kikuk karena pilah pilih wajah bertuah
Sentimentil prokontra adalah kesadaran dinamika
Ditiupkannya keindahan hijabi kesabaran
Aku terdiam dalam seteguk hikmah
Ramadhan membusungkan berkah
Torehan pasrah menuju fitrah

Sampang,  22 Mei 2019

















Syahriannur Khaidir

Daulat-Mu

Jika kemenangan itu
Hanya pembelotan atas haus dan lapar
Takkan usailah sesalku
Dalam syair cinta berselendang
Takbir Tahlil dan Tahmid
Sambil tersipu kukan merayu
Di pintupintu Ramadhan
Atas segala daulat-Mu

Sampang, 20 Mei 2019



















19.
Asro al Murthawy

Saat Ramadhan Pamit
Malam beku
detak jam melambat
ada yang begitu lekat mendekat
kaukah itu Ramadhan, mengapa tersedu sebalik pintu?
Tiada jawab. Hanya gigil raga serupa gempa
bertambah kuat

malam kian pekat
udara tak juga bergerak
seperti menunggu sesuatu
Tapi siapakah yang barusan lewat
mengedipkan cahaya lampu
membungkam gonggong anjing di kejauhan
mendiamkan riuh kokok ayam dinihari
membalutkan sepi yang kelewat sangat

malam diam
tapi sesuara siapa berbisik pelan di telinga
terdengar karib, mungkin seorang sahabat
“aku mau pergi,  jauh dan lama “

Kita pernah saling menyempurnakan rasa
berbagi setengah belah jiwa. Maka bacalah kembali
sajak-sajak yang pernah kita daraskan bersama
pada riuh masa pada hening waktu
“tunggulah, mungkin aku kan kembali
padamu pada hitungan ke tigaratus limapuluh lima
pertemuan  bulan dan matahari”
Imaji 1440 H
Asro al Murthawy

Di Atas Lembar Juz Amma
melesat dari ayat ke ayat
berkelindan  antara huruf dan mahroj
edari tetiap harakat fatah kasrah dzumah
milyaran cahaya mungkin melesap
berdenyaran meruang di kepala
aku tergeragap
lembar jiwa tak juga tersibak


selalu saja aku gagal menerjemahkan tanda
sesat di labirin logika. Kata-kata gagap
terpilin tak mampu tereja meski sepatah
tak alif tak nun tak wau
menajam mengirisi ulu hati
~ iqra bismi robbikalladziii…........~

terhampar dari juz ke juz
lembar demi lembar membentang kisah
tahun alif yang purba hingga nun di masa depan
berpusar bagai topan mengapung di lelangit dada
aku tergugu
belum terbaca tuntas alifbataku
Imaji 1440 H








20.
Suhendi RI
Wahdatul Wujud

Dari sebelum menjadi ada
Sampai segalanya ada
Dia dahulu ada
Dari sebelum terjadi
Sampai sesuatu jadi lalu menjadi
Dia telah ada, kekal dan abadi
Meniadakan yang ada
Menjadi tidak ada
Dia kuasa atas segala-galanya
Meniadakan yang tidak ada
Menjadikan sesuatu ada
Dia kuasa atas segala-galanya
Dialah awal
Dari sebelum terciptanya awal
Dialah akhir
Dari sesudah semuanya berakhir
Cikarang, 09 April 2019













Suhendi RI


Di Ambang Kepunahan

Kidung Subakhir terlantun tartil
Di tanah nusantara
Bumi berzikir, semesta bertasbih
Gunung-gunung bersujud, samudera bersholawat
Kita, sang pengendara waktu
Terpukau menatap gerbang timur
Melupakan sosok wahdatul wujud
Kunfayakun, kita mengingat-Nya
Membaca doa qunut nazilah
Mendirikan tiang agama di tengah malam
Memohon pengampunan dan kasih sayang-Nya

Cikarang, 17 Oktober 2018
















 Suhendi RI
Sabda Tanah

Sejenak memaknai kata asal
Dari sebuah nyanyian kehidupan
Masihkah lekat dalam palung ingatan
Risalah rusuk sang adam
Sebelum tinggalkan tanah pertama
Memasuki tanah kedua, kompas rusak
Jalan sunyi kehilangan arah jejak
Ada dan tiada-Mu, kembali pulang di kesunyian
Oh Tuhan, di rimba keterasingan
Jiwa jiwa terdahulu menanti kepastian
Dari kebangkitan tanah ketiga
Sambil berdendang senandung kekelaman
Rangkulah kami dalam kasihMu
Cikarang, 23 Maret 2019

















21.

Cuk Ardi

Ramadhan

tiada sasih lebih indah
selain bulan nan suci
digandakan seribu berkah
di setiap ketulusan hati

tiada saat teramat nikmat
dari bulan penuh ampunan
ditumpahkan seluruh rahmat
didetak detik yang berjalan

tiada waktu selalu dirindu
selain bulan seribu bulan
kala cahayanya telah berlalu
berharap bertemu kemudian

310519





Puisi -27-32 Tadarus puisi Ramadhan

27.

M sapto Yuwono
Selepas Ramadhan
Getaran rasa satu
Mengukur ibadah
Selembut hati

Gerakan rasa satu
Mengakar jiwa taqwa
Insani nurani jiwa

Gambaran rasa satu
Mengikat pesona bathin
Nalar raga suci

Gesekan rasa Saturday
Menjiwai jiwa patuh
Pada ingatan tubuh yang tumbuh

Selepas Ramadhan
Ukur hati
Simak jiwa
Samar insan
Ibadah tak luluh
Taqwa tak luntur

 Muara Bungo, 4 Juni 2019






28. Syaiful B. Harun.

Kembali Dari Kembara

Pernah kita kembara bersama di sebuah dunia
Menapaki jalan berhutan tipis
Di balik kabut asap pagi yang telah lalu
: Ada yang terantuk di ujung gerimis
Jatuh di dahi tinggi lantas turun berurai air mata

Di mata itu kubaca tentang doa-doa
Tertera pada kitab-kitab tua
Terhenyak dalam genggaman di bibir mata

Sebagaimana mayapada :
Sebuah kisah mengukuhkan harap dan damba
Sempat kita titipkan di sebuah kereta senja
Sembari sesekali memandang ke luar kaca jendela
Melayangkan kenangan di masa  kanak-kanak
Memanjat pohon mangga tetangga
Atau berlarian di tepi kubangan
Mengejar kerumunan kerbau berlarian

Mengingatmu, kini!
Aku seperti memasuki sebuah dunia :
Dengan lamur kuserahkaan kegelisahanku kepadamu
Menuliskan cinta platonik
Pada dawai-dawai kecapi dan kendang
Kerapkali regang-meregang
Membawa jantung terpacu kencang
Dan, berada di balik kabut asap senja hari ini
Sebatang pohon salam nan rimbun telah meranggas
Sekalipun kini memasuki musim penghujan
Aku tercenung tetapi terlihat juga biji-biji merah itu
Menghitam di atas tanah membasah
Tiadalah sempat kupikir sesuatu
Terhadap biji yang siap tumbuh itu
Sebab melintas unggas kecil dengan tanduk di kepalanya
Melompat-lompat pendek dan sesekali mematuki tanah gembur
Mencari serangga kecil yang lepas dari iring-iringan
Telah mengalihkan perhatianku

Membacamu, kini!
Pikiranku berkelebatan
Sesekali kupandang engkau seperti batang salam yang rimbun
Terkadang engkau kulihat pula bagaikan
Semut yang lepas dari iring-iringan

Sementara aroma tanah basah di sini
Dirindu peri-peri dari puri-puri yang tersembunyi
Seperti memanggili ke dalam perigi
Tetapi gemanya akan kembali ke dalam diri

Agar kita kembali dari kembara
Kembali ke sebuah rumah milik kita
Tempat berbagi kebahagiaan bersama
Kembali ke pangkuan bunda

Palembang, 01/06/2019
Arie Png Adadua




29.

Lela Hayati
Itikaf Ramadhan

Karpet hijau menghampar
Dzikir-dzikir bertutur
Duduk sila arah kiblat
Sepanjang malam doa serta taubat

Teraweh
Tadarus
Kitab-kitab
Air mata dosa

Khusu menikmati
Mendekap pada karimNYA
Malam sunyi
Pasrah malam mengeja

Mukena lekat
Sujud dekat
Ramadan menggeliat
Syair debu tercatat

Cahaya nan bekah
Larut kian muhasabah
Kabut hingga berembun
Kening subuh, adzan mengalun

Bandung, 03 Juni 2019



30.

Muhammad Jayadi

Yang Kutangkap di Ramadhan Ini

Semilir  ias   keindahan
menghembuskan pengertian dalam dada
pada wajah bulan mulia ini
kutatap bening nilai kasih  ias   Tuhan
karena masih kudapatkan pertemuan dengannya
ramadhan dalam lingkaran rahmat-Nya

Lalu, detik yang berlalu
berjalan dengan mengikut helaan nafas
kiranya adalah bagian kita menerapkan nilai-nilai
menabur kasih  ias   di jalan perjuangan
merobohkan segala keegoan dalam diri
karena ia adalah musuh terbesar dalam hidup ini

Setidaknya, itulah yang terbesit dalam batinku
bahwa kita harus lebih menyelami relung fikir dan zikir 
menggandeng nilai-nilai dalam harmoni kehidupan
untuk menjadi lebih mengerti apa yang sebenarnya dikehendaki Tuhan pada diri kita
dalam kehidupan ini.

Halong-Kalsel, 2 Juni 2019





31.
Sukma Putra Permana

Doa Lebaran Dari Panti Asuhan

Terima kasih, Tuhan… Ramadhan tahun ini Kau beri kami kekuatan. Berpuasa penuh satu bulan. Tahan haus dan lapar dengan kesabaran.

Terima kasih, Tuhan… Idul Fitri kali ini Kau anugrahi kami kegembiraan. Hadiah sarung, celana, dan baju lebaran. Serta sepasang sepatu sandal idaman. Yang dikumpulkan dari tangan para dermawan.

Terima kasih, Tuhan… Kau karuniai kami kebahagiaan. Berhari raya berkumpul bersama. Walau Kakak, Abang, dan Adik-adik taka ada  pertalian darah. Tapi kami semua penuh rasa persaudaraan. Menikmati lezatnya ketupat opor, sayur, dan rendang. Sumbangan dari sebuah Restoran Padang.

Tapi… maafkan kami, Tuhan… Bolehkah kami punya satu lagi permohonan? Yaitu, mesra dan hangatnya pelukan. Dari Ayah-Ibu yang selalu kami dambakan. Namun bertahun-tahun tak pernah kami rasakan. Sejak hari pertama kami ditelantarkan…



Ramadhan 1440 / Juni 2019


Sukma Putra Permana

Kopiah Butut Mbah Dolah

Hampir sembilan tahun sudah. Kopiah butut menutup kepala mbah Dolah. Kini teronggok ia di sudut. Bersama tumpukan sampah. Perlahan terbakar api yang disulut. Taka da yang peduli pada jasanya. Menemani merawat musholla. Tak lupa lantunkan merdu ajakan sholat. Untuk  siapa saja yang tergerak hatinya.

Kopiah hitam lusuh. Habis terbakar menjadi bara kemudian musnah. Bersama barang-barang tua lainnya. Dan hanya tersisa ingatan serta doa. Untuk mbah Dolah merbot musholla. Yang tutup usia di bulan puasa. Pada hari keduapuluh tiga.

Selamat jalan, mbah Dolah. Semoga kau damai dan bahagia di alam baka…

Ramadhan 1440 / Juni 2019












Puisi 25-32 Tadarus Ramadhan 1440 H Berbagi Kebahagiaan

25.
Yono DL

Kumanti Mimpi Pada Bayang-Mu

Masih lamakah musim kan tiba
tanyakau selalu pada setiap jengkal waktu
aku begitu bersemangat
menerjemahkan bayangMu
menulis dan menafsirkannya
pada jadwal mimpi

Kunantikan keajaiban itu
emua kusam bercampur pulas
siang yang kumalamkan
pekat yang kunikmatkan
membaur tercampak di dinding dinding
hati para pengharap

Oh, lama aku terlena
dalam  asyik nya bermain
saat burung layang-layang hinggap
di beranda kekar kudekap
alu menerbangkannya.
Tuhan,   aku lupa

Sanggar IMAJI
Bangko-Muara Bungo 1999-2019







Yono  DL

Di Kusam Sajadah

Di  kusam  sajadah
sungguh lekat, lengket berotasi
sepenuh malam tanpa pejam
terantuk menjelma  terang fajar

Sama kuserahkan rendah tiang
iman tunduk terduduk di kusam sajadah
terbentang semesta
tertumpah segala
muntah
membersihkan serpih-serpih debuku
untukMu
Sanggar IMAJI
Bangko-Muara Bungo 1999-2019















26.

Puisi Abay Viezcanzello

Aku dan Kau Adalah Keriangan

Tiada yang perlu kau kenal sebagai duka
Manakala dadamu sesak oleh luka.
Aku akan setia menyajikanmu teduh
Sampai kau mampu membunuh segala keluh.

Dan seterusnya, aku akan senantiasa riang
Menjelma wadah
Apabila airmatamu tumpah.
Sebab, aku  ias    adalah sepasang keriangan
Tempat terkubur segala yang bernama kesedihan.

Matanair Rubaru, 2019
















27.

M sapto Yuwono
Selepas Ramadhan
Getaran rasa satu
Mengukur ibadah
Selembut hati

Gerakan rasa satu
Mengakar jiwa taqwa
Insani nurani jiwa

Gambaran rasa satu
Mengikat pesona bathin
Nalar raga suci

Gesekan rasa Saturday
Menjiwai jiwa patuh
Pada ingatan tubuh yang tumbuh

Selepas Ramadhan
Ukur hati
Simak jiwa
Samar insan
Ibadah tak luluh
Taqwa tak luntur

 Muara Bungo, 4 Juni 2019






28. Syaiful B. Harun.

Kembali Dari Kembara

Pernah kita kembara bersama di sebuah dunia
Menapaki jalan berhutan tipis
Di balik kabut asap pagi yang telah lalu
: Ada yang terantuk di ujung gerimis
Jatuh di dahi tinggi lantas turun berurai air mata

Di mata itu kubaca tentang doa-doa
Tertera pada kitab-kitab tua
Terhenyak dalam genggaman di bibir mata

Sebagaimana mayapada :
Sebuah kisah mengukuhkan harap dan damba
Sempat kita titipkan di sebuah kereta senja
Sembari sesekali memandang ke luar kaca jendela
Melayangkan kenangan di masa  kanak-kanak
Memanjat pohon mangga tetangga
Atau berlarian di tepi kubangan
Mengejar kerumunan kerbau berlarian

Mengingatmu, kini!
Aku seperti memasuki sebuah dunia :
Dengan lamur kuserahkaan kegelisahanku kepadamu
Menuliskan cinta platonik
Pada dawai-dawai kecapi dan kendang
Kerapkali regang-meregang
Membawa jantung terpacu kencang
Dan, berada di balik kabut asap senja hari ini
Sebatang pohon salam nan rimbun telah meranggas
Sekalipun kini memasuki musim penghujan
Aku tercenung tetapi terlihat juga biji-biji merah itu
Menghitam di atas tanah membasah
Tiadalah sempat kupikir sesuatu
Terhadap biji yang siap tumbuh itu
Sebab melintas unggas kecil dengan tanduk di kepalanya
Melompat-lompat pendek dan sesekali mematuki tanah gembur
Mencari serangga kecil yang lepas dari iring-iringan
Telah mengalihkan perhatianku

Membacamu, kini!
Pikiranku berkelebatan
Sesekali kupandang engkau seperti batang salam yang rimbun
Terkadang engkau kulihat pula bagaikan
Semut yang lepas dari iring-iringan

Sementara aroma tanah basah di sini
Dirindu peri-peri dari puri-puri yang tersembunyi
Seperti memanggili ke dalam perigi
Tetapi gemanya akan kembali ke dalam diri

Agar kita kembali dari kembara
Kembali ke sebuah rumah milik kita
Tempat berbagi kebahagiaan bersama
Kembali ke pangkuan bunda

Palembang, 01/06/2019
Arie Png Adadua




29.

Lela Hayati
Itikaf Ramadhan

Karpet hijau menghampar
Dzikir-dzikir bertutur
Duduk sila arah kiblat
Sepanjang malam doa serta taubat

Teraweh
Tadarus
Kitab-kitab
Air mata dosa

Khusu menikmati
Mendekap pada karimNYA
Malam sunyi
Pasrah malam mengeja

Mukena lekat
Sujud dekat
Ramadan menggeliat
Syair debu tercatat

Cahaya nan bekah
Larut kian muhasabah
Kabut hingga berembun
Kening subuh, adzan mengalun

Bandung, 03 Juni 2019



30.

Muhammad Jayadi

Yang Kutangkap di Ramadhan Ini

Semilir  ias   keindahan
menghembuskan pengertian dalam dada
pada wajah bulan mulia ini
kutatap bening nilai kasih  ias   Tuhan
karena masih kudapatkan pertemuan dengannya
ramadhan dalam lingkaran rahmat-Nya

Lalu, detik yang berlalu
berjalan dengan mengikut helaan nafas
kiranya adalah bagian kita menerapkan nilai-nilai
menabur kasih  ias   di jalan perjuangan
merobohkan segala keegoan dalam diri
karena ia adalah musuh terbesar dalam hidup ini

Setidaknya, itulah yang terbesit dalam batinku
bahwa kita harus lebih menyelami relung fikir dan zikir 
menggandeng nilai-nilai dalam harmoni kehidupan
untuk menjadi lebih mengerti apa yang sebenarnya dikehendaki Tuhan pada diri kita
dalam kehidupan ini.

Halong-Kalsel, 2 Juni 2019





31.
Sukma Putra Permana

Doa Lebaran Dari Panti Asuhan

Terima kasih, Tuhan… Ramadhan tahun ini Kau beri kami kekuatan. Berpuasa penuh satu bulan. Tahan haus dan lapar dengan kesabaran.

Terima kasih, Tuhan… Idul Fitri kali ini Kau anugrahi kami kegembiraan. Hadiah sarung, celana, dan baju lebaran. Serta sepasang sepatu sandal idaman. Yang dikumpulkan dari tangan para dermawan.

Terima kasih, Tuhan… Kau karuniai kami kebahagiaan. Berhari raya berkumpul bersama. Walau Kakak, Abang, dan Adik-adik taka ada  pertalian darah. Tapi kami semua penuh rasa persaudaraan. Menikmati lezatnya ketupat opor, sayur, dan rendang. Sumbangan dari sebuah Restoran Padang.

Tapi… maafkan kami, Tuhan… Bolehkah kami punya satu lagi permohonan? Yaitu, mesra dan hangatnya pelukan. Dari Ayah-Ibu yang selalu kami dambakan. Namun bertahun-tahun tak pernah kami rasakan. Sejak hari pertama kami ditelantarkan…



Ramadhan 1440 / Juni 2019


Sukma Putra Permana

Kopiah Butut Mbah Dolah

Hampir sembilan tahun sudah. Kopiah butut menutup kepala mbah Dolah. Kini teronggok ia di sudut. Bersama tumpukan sampah. Perlahan terbakar api yang disulut. Taka da yang peduli pada jasanya. Menemani merawat musholla. Tak lupa lantunkan merdu ajakan sholat. Untuk  siapa saja yang tergerak hatinya.

Kopiah hitam lusuh. Habis terbakar menjadi bara kemudian musnah. Bersama barang-barang tua lainnya. Dan hanya tersisa ingatan serta doa. Untuk mbah Dolah merbot musholla. Yang tutup usia di bulan puasa. Pada hari keduapuluh tiga.

Selamat jalan, mbah Dolah. Semoga kau damai dan bahagia di alam baka…

Ramadhan 1440 / Juni 2019












Puisi 32-36 Tadarus Puisi Ramadhan 1440 H/2019

32.
Barokah Nawawi

Ramadhan Penuh Berkah


Taka da hidangan yang lebih nikmat
Selain buka bersama di bulan Ramadhan
Anak-anak, remaja, tua muda, laki-laki dan wanita
Berkelompok bangun salaturahmi di surau-surau dan masjid
Mendengarkan dengan khidmat tausiah para ustadz
Disampingnya merebak aroma harum ayam panggang, sayur dan nasi hangat
Yang menambah semangat.

Taka ada ibadah sholat yang lebih nikmat
Selain tarawih di bulan Ramadhan
Berjamaah khusuk memohon ampunan kepada Ilahi Robbi
Yang di tiap rakaatnya semakin mendekatkan kita
Kepada cinta Nya yang sempurna.

Taka ada iktikaf yang lebih khusuk
Selain di malam-malam akhir Ramadhan
Berharap berjumpa dengan malam yang paling mulia
Malam dimana Engkau curahkan hujan rahmat dan ampunan
Engkau kabulkan doa hambaMu yang bersimpuh dalam sujud panjangnya
Dan Engkau bebaskan dia dari siksa api neraka.

Wahai Sang Maha Pengampun
Semoga Kau terima ibadahku meski tak sempurna
Karena kusadar diriku memang tak sepadan
Jiwa rapuhku masih sering tergelincir kilau dunia
Yang membelenggu jiwa.































33.
Iwan Bonick

Ramadhan 2019
Ramadhan kali ini begitu terasa
Tiap waktu
Setiap saat
Ada saja hasut juga hasat
Hingga tak tau
Mana benar
Mana salah
Dan kita pun
Membenarkan juga menyalahkan

Ramadhan kali ini begitu resah
Wajah wajah penuh amarah
Terlihat jelas dengan kebenciannya
Tak terpikirkan kedamain
Dan kita resah
Merindukan kedamaian

Ramadhan kali ini begitu gelisah
Mereka nodai bulan sucinya menyakiti
Untuk ambisi
Saling menyakiti
Dan kita menyaksikannya
Demi gengsi

Ramadhan tetaplah Ramadhan

Ramadhan yang dirindu
Ramadhan yang dinanti
Kp Teluk Angsan Bekasi Ramadhan 2019

Iwan Bonick

Pada satu malam Ramadhan

Wajah wajah penuh tanya
Menanti jawaban pertanyaannya
Tanya di jawab
Menjawab  ias 
Tanya bertanya
Jawab menjawab

Pada satu malam Ramadhan
Wajah wajah penuh harap
Menanti harapan
Harapan dinanti
Nanti menanti
Harap berharap

Pada satu malam Ramadhan
Wajah wajah penuh gembira
Bersama bergembira
Gembira bersama
Bersama sama
Gembira bergembira

Pada satu malam Ramadhan
Wajah wajah penuh kesedihan
Sedih berpisah
Sedih berjumpa
Sedih di tinggalkan
Sedih merindukan
Sedih yang dinantikan


Sedih akan tanya
Sedih akan harapan
Sedih akan bahagia
Sedih akan kesedihan

Kp Teluk Bekasi Ramdhan 2019




























34.
Puisi Zen KR. Halil 
Anak Kecil
; Teruntuk Ahmad Subairi

Lihatlah, Kawan!
Anak-anak kecil itu
Sepanjang siang menyemai riang
Dengan layang-layang
Atau berkejaran di jalan-jalan tiada ketakutan.
Oh! Betapa tanpa dosa mereka
Bersama-sama memakan senja
Dan mengakhirinya dengan luka
Dalam tangis yang pecah
Di peluk orang tua mereka.

Sungguh! Mereka tiada mengerti
Bagaimana sebenarnya memaknai sepi
Seperti matahari yang setia menyendiri
Sepanjang pagi, siang, atau bahkan sore hari.
Lalu, di malam hari ia lebih memilih untuk bersembunyi.

Anak-anak kecil itu, Kawan
Yang teramat senang memburu penat
Dan geram pada seluruh yang membungkam.

Anak-anak kecil itu, Kawan
Memaknai tawa sebagai cinta
Memaknai airmata sebagai tanda
Bahwa mereka telah suntuk memeluk kantuk.
Mereka yang matanya senantiasa berbinar-binar
Benar-benar tak tahu cara membunuh rindu
Selain dengan tangis menderu-deru
Dan aku yakin, kau belum tahu maksud semua itu.

Anak-anak kecil itu pula, Kawan
Selalu mengajariku
Bagaimana cara berubah
Menjadi air mengalir di sungaimu
Menjadi batu-batu bisu di otakmu
Atau menjadi udara
Yang bebas mengembara kemana saja.
Dan selagi tangan-tanganku mampu
Mereka takkan berhenti menyuruhku
Untuk memetik seluruh bintang di dalam kepalamu.

Lalu, di suatu malam
Kudengar mereka bergumam
“ Jadilah seperti kami
Sepanjang hari, hidup begitu puisi.”

Annuqayah, 14 Maret 2019















35.Sri Sunarti

Asa Ramadhan

lantunan azan berkumandang khidmat
sejumput kurma menemani penuh nikmat
di antara rasa syukur menyeruak di hati
dan lantunan zikir setiap hari

orang-orang  bergegas menuju surau
gemericik tetes sisa air wudhu
menembus hingga dasar qolbu
tadarus dan bersujud menuju ridho-Mu

ya Ramadhan,
malam-malam-Mu akan berakhir
berebut meraih  Lailatul Qodar
di sepanjang perjalanan usia
akankah  kita bertemu di Ramadhan tahun depan

ya Ramadhan,
janganlah engkau berlalu meninggalkan kami
karena akan selalu merasa kehilangan dan tetap di hati
andai Engkau ijinkan ,kutukar dengan seribu bulan
dan kan kupersembahkan berlipat kali qatam Al-quran


Indramayu , 2019




36.
Riswo Mulyadi

Belajar Puasa

anak-anak belajar mengenal  ias  melalui lambung
meremas-remas perut
menahan perih
sebelum kenyang dengan segala menu
racikan dunia
penggoda selera

anak-anak belajar menjelajah rasa
mencari cahaya yang diceritakan ayah bundanya
tentang kasih  ias 
tentang ampunan
tentang pembebasan

anak-anak belajar mengenal sorga dari perih lambungnya
pancaran lapar si papa
mengenali rasa di luar dirinya
cinta  ias 
kepedulian yang mati di jaman ini

anak-anak belajar puasa
menahan diri
rasa yang belum begitu dimengerti

Karanganjog, 31 Mei 2019



Puisi karya 37-41 Tadarus Puisi 1440 H (2019) Berbagi Kebahagiaan

37.
Kaliktus Ure Maran
Kamu dan Bundaku

Aku menemukannya
Aku bangga pada-Mu Ibu
ketika kawanku
si dia berjilbab merah
seingatku lima menit yang lalu
mereka tak ragu
bersila dan mengabadikan, cantiknya
 sejenak ku tercengang, namun itu nyata adanya
“ohh.. mungkin?”
ku menyebutnya
“berbuka dipelukan Bundaku”

Tiba-tiba mereka diusik
oleh botol plastik milik Bapak
dia diusir
aku marah
namun, kupikir
jangan rumitkan pandanganmu
ku tepuk bahunya
“haii.. kawan”
jangan resah
mungkin dia sedang mabuk
ku tau senyum itu kembali
sambil ku buka pintu pagar
“silahkan..”
“masuklah dalam hati kita”
Ibuku menunggu sapamu kawan

Larantuka, 2019
Kaliktus Ure Maran

Enam jam dibawa lentera

Bagaimana ku menyatukan hati kita?
Aku takut kita saling cemburu selepas maghrib
padahal jari kita sama saat menunduk
memintah cinta di bawa lentera
yang terangnya seperti bulan
hingga terangnya pun aku tahu
engkau ada disisiku, sayang
kita saling menghitung
detak perut ketika lapar
dan harum menggoda warung depan jalan
jangan padamkan lentera
ketika sore belum tiba

Larantuka, 2019















38.

Sami’an Adib

Menyelami Rahasia Puasa
di antara fajar dan ambang maghrib
ada kejujuran yang tak pernah raib
setiap diri sabar memelihara diri
agar terhindar dari iri dan dengki
kelak berharap meraih kemenangan
menjadi satu dari sekian insan pilihan

di antara lapar dan dahaga
konon ada semerbak aroma  ias
setiap orang tiada henti mencari
gerangan di mana bidadari sembunyi
belum seorang pun yang menemukan
meski denyut kerinduan tak tertahankan

di antara letih dan tabah
konon ada sebongkah berkah
banyak orang yang masih tekun berburu
meski jalan yang ditempuh penuh liku
entah sesiapa berhasil merengkuhnya
hingga kini abadi sebagai rahasia

di antara bening embun dan hening
ada ketulusan dari jiwa-jiwa yang tenang
mereka tidak mengharap kenikmatan semata
juga tidak takut terperangkap dalam kubang derita
hanya ridho ilahi yang mereka dambakan
hiasan terindah saat menebar senyum kegembiraan
Jember, Juni 2019

Sami’an Adib

Kidung Kerinduan
: ayah

Telah kami tenun serat-serat kasih
menjadi helai-helai kerinduan, Ayah
ijinkan kami membawanya sebagai oleh-oleh
untuk kita gelar sebagai panggung melantunkan madah
:kidung kagum pada Sang Khaliq Yang Mahaindah

Ayah, jarak yang merentangkan dua Ramadhan
telah menorehkan rangkaian kronika keharuan dan keriangan
sesekali kukabarkan celoteh cucu-cucumu penuh keceriaan
meski kami sadar rindumu tak mungkin tertunaikan
tapi, setidaknya ungkapan kasih tetap terjalin

Ramadhan kali ini kami akan pulang, Ayah
biarkan kami (aku, menantumu, dan cucu-cucumu) bersimpuh
pada kedua kakimu yang kian hari kian merapuh
kami pendam cita agar seluruh ridhomu luruh
sebagai bekal terbaik untuk terus melangkah

Ayah, maafkan bila celoteh cucu-cucumu menimbulkan keriuhan
sejatinya mereka hanya menumpahkan segala keriangan
setelah menemukan suasana baru yang penuh keakraban
seakan terbebas dari jebakan mesin mainan
yang nyaris menjauhkan mereka dari jalan Tuhan

Bukan takjil kelapa muda yang kami rindukan, Ayah
tapi lembut belaian tanganmu yang penuh kasih
juga doa-doa tulus dalam setangkup tanganmu yang tengadah
demi hidup kami berlimpah berkah
terbebas dari jerat melankolia keluh kesah

Jember, Juni 2019
























39.
Arya Setra

Malam Penghujung Ramadhan

Gemuruh takbir dari tiap sudut
MengagungkanMU menyayat kalbu.
Gemeretak beduk bertalu membuat hati pilu,
Pilu karena rasa rindu akan diri MU setelah satu bulan berperang melawan nafsu..
Wahai kekasihku akankah aku meraih kemenangan
Atas RidhoMU..?
Akankah aku mendapat tempat bersama orang2 yg KAU rahmati dan KAU cintai ??
Aku hanya  ias sujud dan tunduk padaMU.
Aku tidak berani berharap akan SorgaMU
Dan aku tIdak akan pernah takut atas nerakaMU
Asal aku berada dalam Ridho dan Rahmat MU….
Ya Rabb ku maafkan atas ocehan sang pungguk yang sedang merindukan indahnya rembulan …

4 Juni 2019












40.

Mim A. Mursyid
Resonasi


Barangkali
Nikmat paling surga
Adalah menjadi
Delapan tangga nada;

Kubawa engkau
Ke puncak pejam paling tajam
Semesta bunyi gemuruh dalam ruh
Kita pun manunggal sebagai rindu.

Madura, 2019

















41.
Supianoor
Aku dan Sang Yatim Piatu

Hanya beberapa lembar rupiah lusuh
yang dapat kuulurkaan padamu sang yatim piatu
yang malang
Denan tangan gemetar dan mata berbibar
kau sambut dengan pandangan tajam raut genbira
kau raih tanganku
kau cium seperti kau sedaang berhalusinasi
itu adalah tangan orang tuamu
yang sudah puluhan tahun tak kau dapatkan
kau tersenyum dengan mata sendu tanpa irama
seperti senyum untuk orang tuamu
yang telah berlalu puluhan tahun yang lalu

Hanya usapan lembut di ubun-ubunmu
menyertai renyuhan hatiku untukmu
semoga ini dapat membangkitkan ingaatanmu
akaan usapaan orang tuamu sepuluh tahun yang lalu
semoga usapan lembut ini
mampu pula mengikis sedikit kesedihanmu
daalam menjalani kehidupanmu
untuk menyongsong masa depan yang lebih baik

Tanah bumbu 2019







Supianoor

Takbirmu di Hari Lebaran

Ketika lebaran tiba
Dengan penuh semangat
Kau berperanserta kumandangkan takbir dan tahmit
Dengan khusu dan kadang tersenyum semringah
Kau mampu melebur dan berbaur dalam alam gembira
Tak tampak kau memikul beban hidup
Walaupun hidup dalam naungan asrama yatim piatu
Makan bukan masakan ibumu
Minum bukan air rebusan orang tuamu
Namun senyum itu masih bisa kau lakukan
Di tengah-tengah rasa rindu akan kehangatan masa lalu
2019