Rabu, 02 April 2014

Mengenal Raden Adjeng Kartini

RADEN ADJENG KARTINI


Raden Adjeng Kartini (lahir di Jepara, Jawa Tengah, 21 April 1879 – meninggal di Rembang, Jawa Tengah, 17 September 1904 pada umur 25 tahun) atau sebenarnya lebih tepat disebut Raden Ayu Kartini[1] adalah seorang tokoh suku Jawa dan Pahlawan Nasional Indonesia. Kartini dikenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi.
Raden Adjeng Kartini adalah seseorang dari kalangan priyayi atau kelas bangsawan Jawa, putri Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, bupati Jepara. Ia adalah putri dari istri pertama, tetapi bukan istri utama. Ibunya bernama M.A. Ngasirah, putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di Telukawur, Jepara. Dari sisi ayahnya, silsilah Kartini dapat dilacak hingga Hamengkubuwana VI.
Ayah Kartini pada mulanya adalah seorang wedana di Mayong. Peraturan kolonial waktu itu mengharuskan seorang bupati beristerikan seorang bangsawan. Karena M.A. Ngasirah bukanlah bangsawan tinggi[2], maka ayahnya menikah lagi dengan Raden Adjeng Woerjan (Moerjam), keturunan langsung Raja Madura. Setelah perkawinan itu, maka ayah Kartini diangkat menjadi bupati di Jepara menggantikan kedudukan ayah kandung R.A. Woerjan, R.A.A. Tjitrowikromo.
Kartini adalah anak ke-5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri. Dari kesemua saudara sekandung, Kartini adalah anak perempuan tertua. Kakeknya, Pangeran Ario Tjondronegoro IV, diangkat bupati dalam usia 25 tahun. Kakak Kartini, Sosrokartono, adalah seorang yang pintar dalam bidang bahasa. Sampai usia 12 tahun, Kartini diperbolehkan bersekolah di ELS (Europese Lagere School). Di sini antara lain Kartini belajar bahasa Belanda. Tetapi setelah usia 12 tahun, ia harus tinggal di rumah karena sudah bisa dipingit.
Karena Kartini bisa berbahasa Belanda, maka di rumah ia mulai belajar sendiri dan menulis surat kepada teman-teman korespondensi yang berasal dari Belanda. Salah satunya adalah Rosa Abendanon yang banyak mendukungnya. Dari buku-buku, koran, dan majalah Eropa, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir perempuan Eropa. Timbul keinginannya untuk memajukan perempuan pribumi, karena ia melihat bahwa perempuan pribumi berada pada status sosial yang rendah.V

Kartini banyak membaca surat kabar Semarang De Locomotief yang diasuh Pieter Brooshooft, ia juga menerima leestrommel (paket majalah yang diedarkan toko buku kepada langganan). Di antaranya terdapat majalah kebudayaan dan ilmu pengetahuan yang cukup berat, juga ada majalah wanita Belanda De Hollandsche Lelie. Kartini pun kemudian beberapa kali mengirimkan tulisannya dan dimuat di De Hollandsche Lelie. Dari surat-suratnya tampak Kartini membaca apa saja dengan penuh perhatian, sambil membuat catatan-catatan. Kadang-kadang Kartini menyebut salah satu karangan atau mengutip beberapa kalimat. Perhatiannya tidak hanya semata-mata soal emansipasi wanita, tapi juga masalah sosial umum. Kartini melihat perjuangan wanita agar memperoleh kebebasan, otonomi dan persamaan hukum sebagai bagian dari gerakan yang lebih luas. Di antara buku yang dibaca Kartini sebelum berumur 20, terdapat judul Max Havelaar dan Surat-Surat Cinta karya Multatuli, yang pada November 1901 sudah dibacanya dua kali. Lalu De Stille Kraacht (Kekuatan Gaib) karya Louis Coperus. Kemudian karya Van Eeden yang bermutu tinggi, karya Augusta de Witt yang sedang-sedang saja, roman-feminis karya Nyonya Goekoop de-Jong Van Beek dan sebuah roman anti-perang karangan Berta Von Suttner, Die Waffen Nieder (Letakkan Senjata). Semuanya berbahasa Belanda.
Oleh orangtuanya, Kartini disuruh menikah dengan bupati Rembang, K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, yang sudah pernah memiliki tiga istri. Kartini menikah pada tanggal 12 November 1903. Suaminya mengerti keinginan Kartini dan Kartini diberi kebebasan dan didukung mendirikan sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang, atau di sebuah bangunan yang kini digunakan sebagaiGedung Pramuka.
\


Anak pertama dan sekaligus terakhirnya, Soesalit Djojoadhiningrat, lahir pada tanggal 13 September 1904. Beberapa hari kemudian, 17 September 1904, Kartini meninggal pada usia 25 tahun. Kartini dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang.
Berkat kegigihannya Kartini, kemudian didirikan Sekolah Wanita oleh Yayasan Kartini di Semarang pada 1912, dan kemudian di Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya. Nama sekolah tersebut adalah "Sekolah Kartini". Yayasan Kartini ini didirikan oleh keluarga Van Deventer, seorang tokoh Politik Etis.
Setelah Kartini wafat, Mr. J.H. Abendanon mengumpulkan dan membukukan surat-surat yang pernah dikirimkan R.A Kartini pada teman-temannya di Eropa. Abendanon saat itu menjabat sebagai Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda. Buku itu diberi judul Door Duisternis tot Licht yang arti harfiahnya "Dari Kegelapan Menuju Cahaya". Buku kumpulan surat Kartini ini diterbitkan pada 1911. Buku ini dicetak sebanyak lima kali, dan pada cetakan terakhir terdapat tambahan surat Kartini.
Pada tahun 1922, Balai Pustaka menerbitkannya dalam bahasa Melayu dengan judul yang diterjemahkan menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang: Boeah Pikiran, yang merupakan terjemahan oleh Empat Saudara. Kemudian tahun 1938, keluarlah Habis Gelap Terbitlah Terang versi Armijn Pane seorang sastrawan Pujangga Baru. Armijn membagi buku menjadi lima bab pembahasan untuk menunjukkan perubahan cara berpikir Kartini sepanjang waktu korespondensinya. Versi ini sempat dicetak sebanyak sebelas kali. Surat-surat Kartini dalam bahasa Inggris juga pernah diterjemahkan oleh Agnes L. Symmers. Selain itu, surat-surat Kartini juga pernah diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa Jawa dan Sunda.
Terbitnya surat-surat Kartini, seorang perempuan pribumi, sangat menarik perhatian masyarakat Belanda, dan pemikiran-pemikiran Kartini mulai mengubah pandangan masyarakat Belanda terhadap perempuan pribumi di Jawa. Pemikiran-pemikiran Kartini yang tertuang dalam surat-suratnya juga menjadi inspirasi bagi tokoh-tokoh kebangkitan nasional Indonesia, antara lain W.R. Soepratman yang menciptakan lagu berjudul Ibu Kita Kartini.
Pada surat-surat Kartini tertulis pemikiran-pemikirannya tentang kondisi sosial saat itu, terutama tentang kondisi perempuan pribumi. Sebagian besar surat-suratnya berisi keluhan dan gugatan khususnya menyangkut budaya di Jawa yang dipandang sebagai penghambat kemajuan perempuan. Dia ingin wanita memiliki kebebasan menuntut ilmu dan belajar. Kartini menulis ide dan cita-citanya, seperti tertulis: Zelf-ontwikkeling dan Zelf-onderricht, Zelf- vertrouwen dan Zelf-werkzaamheid dan juga Solidariteit. Semua itu atas dasar Religieusiteit, Wijsheid en Schoonheid (yaitu Ketuhanan, Kebijaksanaan dan Keindahan), ditambah denganHumanitarianisme (peri kemanusiaan) dan Nasionalisme (cinta tanah air).
Surat-surat Kartini juga berisi harapannya untuk memperoleh pertolongan dari luar. Pada perkenalan dengan Estelle "Stella" Zeehandelaar, Kartini mengungkap keinginan untuk menjadi seperti kaum muda Eropa. Ia menggambarkan penderitaan perempuan Jawa akibat kungkungan adat, yaitu tidak bisa bebas duduk di bangku sekolah, harus dipingit, dinikahkan dengan laki-laki yang tak dikenal, dan harus bersedia dimadu.
Pandangan-pandangan kritis lain yang diungkapkan Kartini dalam surat-suratnya adalah kritik terhadap agamanya. Ia mempertanyakan mengapa kitab suci harus dilafalkan dan dihafalkan tanpa diwajibkan untuk dipahami. Ia mengungkapkan tentang pandangan bahwa dunia akan lebih damai jika tidak ada agama yang sering menjadi alasan manusia untuk berselisih, terpisah, dan saling menyakiti. "...Agama harus menjaga kita daripada berbuat dosa, tetapi berapa banyaknya dosa diperbuat orang atas nama agama itu..." Kartini mempertanyakan tentang agama yang dijadikan pembenaran bagi kaum laki-laki untuk berpoligami. Bagi Kartini, lengkap sudah penderitaan perempuan Jawa yang dunianya hanya sebatas tembok rumah.
Surat-surat Kartini banyak mengungkap tentang kendala-kendala yang harus dihadapi ketika bercita-cita menjadi perempuan Jawa yang lebih maju. Meski memiliki seorang ayah yang tergolong maju karena telah menyekolahkan anak-anak perempuannya meski hanya sampai umur 12 tahun, tetap saja pintu untuk ke sana tertutup. Kartini sangat mencintai sang ayah, namun ternyata cinta kasih terhadap sang ayah tersebut juga pada akhirnya menjadi kendala besar dalam mewujudkan cita-cita. Sang ayah dalam surat juga diungkapkan begitu mengasihi Kartini. Ia disebutkan akhirnya mengizinkan Kartini untuk belajar menjadi guru di Betawi, meski sebelumnya tak mengizinkan Kartini untuk melanjutkan studi ke Belanda ataupun untuk masuk sekolah kedokteran di Betawi.
Keinginan Kartini untuk melanjutkan studi, terutama ke Eropa, memang terungkap dalam surat-suratnya. Beberapa sahabat penanya mendukung dan berupaya mewujudkan keinginan Kartini tersebut. Ketika akhirnya Kartini membatalkan keinginan yang hampir terwujud tersebut, terungkap adanya kekecewaan dari sahabat-sahabat penanya. Niat dan rencana untuk belajar ke Belanda tersebut akhirnya beralih ke Betawi saja setelah dinasihati oleh Nyonya Abendanon bahwa itulah yang terbaik bagi Kartini dan adiknya Rukmini.
Pada pertengahan tahun 1903 saat berusia sekitar 24 tahun, niat untuk melanjutkan studi menjadi guru di Betawi pun pupus. Dalam sebuah surat kepada Nyonya Abendanon, Kartini mengungkap tidak berniat lagi karena ia sudah akan menikah. "...Singkat dan pendek saja, bahwa saya tiada hendak mempergunakan kesempatan itu lagi, karena saya sudah akan kawin..." Padahal saat itu pihak departemen pengajaran Belanda sudah membuka pintu kesempatan bagi Kartini dan Rukmini untuk belajar di Betawi.
Saat menjelang pernikahannya, terdapat perubahan penilaian Kartini soal adat Jawa. Ia menjadi lebih toleran. Ia menganggap pernikahan akan membawa keuntungan tersendiri dalam mewujudkan keinginan mendirikan sekolah bagi para perempuan bumiputra kala itu. Dalam surat-suratnya, Kartini menyebutkan bahwa sang suami tidak hanya mendukung keinginannya untuk mengembangkan ukiran Jepara dan sekolah bagi perempuanbumiputra saja, tetapi juga disebutkan agar Kartini dapat menulis sebuah buku.
Perubahan pemikiran Kartini ini menyiratkan bahwa dia sudah lebih menanggalkan egonya dan menjadi manusia yang mengutamakan transendensi, bahwa ketika Kartini hampir mendapatkan impiannya untuk bersekolah di Betawi, dia lebih memilih berkorban untuk mengikuti prinsip patriarki yang selama ini ditentangnya, yakni menikah dengan Adipati Rembang.


Habis Gelap Terbitlah Terang


Sampul buku versi Armijn Pane.
Pada 1922, oleh Empat Saudara, Door Duisternis Tot Licht disajikan dalam bahasa Melayu dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang; Boeah Pikiran. Buku ini diterbitkan oleh Balai Pustaka. Armijn Pane, salah seorang sastrawan pelopor Pujangga Baru, tercatat sebagai salah seorang penerjemah surat-surat Kartini ke dalam Habis Gelap Terbitlah Terang. Ia pun juga disebut-sebut sebagai Empat Saudara.
Pada 1938, buku Habis Gelap Terbitlah Terang diterbitkan kembali dalam format yang berbeda dengan buku-buku terjemahan dari Door Duisternis Tot Licht. Buku terjemahan Armijn Pane ini dicetak sebanyak sebelas kali. Selain itu, surat-surat Kartini juga pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa danbahasa Sunda. Armijn Pane menyajikan surat-surat Kartini dalam format berbeda dengan buku-buku sebelumnya. Ia membagi kumpulan surat-surat tersebut ke dalam lima bab pembahasan. Pembagian tersebut ia lakukan untuk menunjukkan adanya tahapan atau perubahan sikap dan pemikiran Kartini selama berkorespondensi. Pada buku versi baru tersebut, Armijn Pane juga menciutkan jumlah surat Kartini. Hanya terdapat 87 surat Kartini dalam "Habis Gelap Terbitlah Terang". Penyebab tidak dimuatnya keseluruhan surat yang ada dalam buku acuan Door Duisternis Tot Licht, adalah terdapat kemiripan pada beberapa surat. Alasan lain adalah untuk menjaga jalan cerita agar menjadi seperti roman. Menurut Armijn Pane, surat-surat Kartini dapat dibaca sebagai sebuah roman kehidupan perempuan. Ini pula yang menjadi salah satu penjelasan mengapa surat-surat tersebut ia bagi ke dalam lima bab pembahasan.
Surat-surat Kartini, Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
Surat-surat Kartini juga diterjemahkan oleh Sulastin Sutrisno. Pada mulanya Sulastin menerjemahkan Door Duisternis Tot Licht di Universitas Leiden, Belanda, saat ia melanjutkan studi di bidang sastra tahun 1972. Salah seorang dosen pembimbing di Leiden meminta Sulastin untuk menerjemahkan buku kumpulan surat Kartini tersebut. Tujuan sang dosen adalah agar Sulastin bisa menguasai bahasa Belanda dengan cukup sempurna. Kemudian, pada 1979, sebuah buku berisi terjemahan Sulastin Sutrisno versi lengkap Door Duisternis Tot Licht pun terbit.
Buku kumpulan surat versi Sulastin Sutrisno terbit dengan judul Surat-surat Kartini, Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya. Menurut Sulastin, judul terjemahan seharusnya menurut bahasa Belanda adalah: "Surat-surat Kartini, Renungan Tentang dan Untuk Bangsa Jawa". Sulastin menilai, meski tertulis Jawa, yang didamba sesungguhnya oleh Kartini adalah kemajuan seluruh bangsa Indonesia.
Buku terjemahan Sulastin malah ingin menyajikan lengkap surat-surat Kartini yang ada pada Door Duisternis Tot Licht. Selain diterbitkan dalam Surat-surat Kartini, Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya, terjemahan Sulastin Sutrisno juga dipakai dalam buku Kartini, Surat-surat kepada Ny RM Abendanon-Mandri dan Suaminya.
Letters from Kartini, An Indonesian Feminist 1900-1904
Buku lain yang berisi terjemahan surat-surat Kartini adalah Letters from Kartini, An Indonesian Feminist 1900-1904. Penerjemahnya adalah Joost Coté. Ia tidak hanya menerjemahkan surat-surat yang ada dalam Door Duisternis Tot Licht versi Abendanon. Joost Coté juga menerjemahkan seluruh surat asli Kartini pada Nyonya Abendanon-Mandri hasil temuan terakhir. Pada buku terjemahan Joost Coté, bisa ditemukan surat-surat yang tergolong sensitif dan tidak ada dalam Door Duisternis Tot Licht versi Abendanon. Menurut Joost Coté, seluruh pergulatan Kartini dan penghalangan pada dirinya sudah saatnya untuk diungkap.
Buku Letters from Kartini, An Indonesian Feminist 1900-1904 memuat 108 surat-surat Kartini kepada Nyonya Rosa Manuela Abendanon-Mandri dan suaminya JH Abendanon. Termasuk di dalamnya: 46 surat yang dibuat Rukmini, Kardinah, Kartinah, dan Soematrie.
Panggil Aku Kartini Saja

Sampul Panggil Aku Kartini Saja, dikompilasi oleh Pramoedya Ananta Toer.
Selain berupa kumpulan surat, bacaan yang lebih memusatkan pada pemikiran Kartini juga diterbitkan. Salah satunya adalah Panggil Aku Kartini Sajakarya Pramoedya Ananta Toer. Buku Panggil Aku Kartini Saja terlihat merupakan hasil dari pengumpulan data dari berbagai sumber oleh Pramoedya.
Kartini Surat-surat kepada Ny RM Abendanon-Mandri dan suaminya
Akhir tahun 1987, Sulastin Sutrisno memberi gambaran baru tentang Kartini lewat buku Kartini Surat-surat kepada Ny RM Abendanon-Mandri dan suaminya. Gambaran sebelumnya lebih banyak dibentuk dari kumpulan surat yang ditulis untuk Abendanon, diterbitkan dalam Door Duisternis Tot Licht.
Kartini dihadirkan sebagai pejuang emansipasi yang sangat maju dalam cara berpikir dibanding perempuan-perempuan Jawa pada masanya. Dalam surat tanggal 27 Oktober 1902, dikutip bahwa Kartini menulis pada Nyonya Abendanon bahwa dia telah memulai pantangan makan daging, bahkan sejak beberapa tahun sebelum surat tersebut, yang menunjukkan bahwa Kartini adalah seorang vegetarian.[3] Dalam kumpulan itu, surat-surat Kartini selalu dipotong bagian awal dan akhir. Padahal, bagian itu menunjukkan kemesraan Kartini kepada Abendanon. Banyak hal lain yang dimunculkan kembali oleh Sulastin Sutrisno.
Aku Mau ... Feminisme dan Nasionalisme. Surat-surat Kartini kepada Stella Zeehandelaar 1899-1903
Sebuah buku kumpulan surat kepada Stella Zeehandelaar periode 1899-1903 diterbitkan untuk memperingati 100 tahun wafatnya. Isinya memperlihatkan wajah lain Kartini. Koleksi surat Kartini itu dikumpulkan Dr Joost Coté, diterjemahkan dengan judul Aku Mau ... Feminisme dan Nasionalisme. Surat-surat Kartini kepada Stella Zeehandelaar 1899-1903.
"Aku Mau ..." adalah moto Kartini. Sepenggal ungkapan itu mewakili sosok yang selama ini tak pernah dilihat dan dijadikan bahan perbincangan. Kartini berbicara tentang banyak hal: sosial, budaya, agama, bahkan korups

 Peringatan Hari Kartini di tahun 1953.
Ada kalangan yang meragukan kebenaran surat-surat Kartini. Ada dugaan J.H. Abendanon, Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan saat itu, merekayasa surat-surat Kartini. Kecurigaan ini timbul karena memang buku Kartini terbit saat pemerintahan kolonial Belanda menjalankan politik etis diHindia Belanda, dan Abendanon termasuk yang berkepentingan dan mendukung politik etis. Hingga saat ini pun sebagian besar naskah asli surat tak diketahui keberadaannya. Menurut almarhumah Sulastin Sutrisno, jejak keturunan J.H. Abendanon pun sukar untuk dilacak Pemerintah Belanda.
Penetapan tanggal kelahiran Kartini sebagai hari besar juga agak diperdebatkan. Pihak yang tidak begitu menyetujui, mengusulkan agar tidak hanya merayakan Hari Kartini saja, namun merayakannya sekaligus dengan Hari Ibu pada tanggal 22 Desember. Alasan mereka adalah agar tidak pilih kasih dengan pahlawan-pahlawan wanita Indonesia lainnya, karena masih ada pahlawan wanita lain yang tidak kalah hebat dengan Kartini seperti Cut Nyak Dhien, Martha Christina Tiahahu,Dewi Sartika dan lain-lain.Menurut mereka, wilayah perjuangan Kartini itu hanyalah di Jepara dan Rembang saja, Kartini juga tidak pernah memanggul senjata melawan penjajah. Sikapnya yang pro terhadap poligami juga bertentangan dengan pandangan kaum feminis tentang arti emansipasi wanita. Dan berbagai alasan lainnya. Pihak yang pro mengatakan bahwa Kartini tidak hanya seorang tokoh emansipasi wanita yang mengangkat derajat kaum wanita Indonesia saja, melainkan adalah tokoh nasional; artinya, dengan ide dan gagasan pembaruannya tersebut dia telah berjuang untuk kepentingan bangsanya. Cara pikirnya sudah melingkupi perjuangan nasional.

Kamis, 27 Maret 2014

Sri Sultan Hamangkubuwiono IX 12 Apri 2014 berusia 102 th.

Tepat Tanggal 12 April 2014 , merupakan hari ulang tahun Pahlawan Nasional kita Sri Sultan Hamangkubuwono IX yang ke 102 , ada baiknya kita mencermati sisi keteladanan Sri Sultan Hamangkubuwono IX ini:

Sri Sultan Hamengkubuwono IX adalah anak kesembilan dari Sultan Hamengkubuwono VIII dengan istri kelimanya RA Kustilah/KRA Adipati Anum Amangku Negara/Kanjeng Alit.

Ia lahir pada masa pemerintahan Belanda di Ngayogyakarta Hadiningrat (sekarang Yogyakarta) pada 12 April 1912 dengan nama Bendoro Raden Mas Dorodjatun di Ngasem.

Sebagai keturunan langsung dari Sultan, ia diangkat menjadi Raja Kesultanan Yogyakarta ke-9 mulai 18 Maret 1940 sampai menghembuskan nafas terakhirnya di usia 76 tahun pada 2 Oktober 1988 di Amerika.

Saat itu ia diberi gelar Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Sultan Hamengkubuwana Senapati-ing-Ngalaga Abdurrahman Sayidin Panatagama Khalifatullah ingkang Jumeneng Kaping Sanga.

Di bawah pimpinan Hamengkubuwono IX inilah Yogyakarta banyak mengalami perubahan. Ia sangat berani dan dengan tegas menentang kaum penjajah. Ia bersemangat memperjuangkan nasib rakyat Yogyakarta agar segera meraih otonomi sendiri.


4 tahun waktunya dihabiskan untuk bernegosiasi dengan Dr Lucien Adam selaku Diplomat Senior Belanda. Kemudian, di masa penjajahan Jepang, ia berada paling depan dalam menolak pengiriman romusha yang mengadakan proyek lokal saluran irigasi Selokan Mataram.

Hamengkubuwono IX yang jengah terhadap intimidasi haus akan kemerdekaan. Ia lantas mendorong pemerintah RI agar bisa merdeka dan memberi status Istimewa bagi Yogyakarta. Perjuangannya bersama Paku Alam IX menjadi penguasa lokal pertama yang menggabungkan diri ke Republik Indonesia pun terwujud.

Ia diangkat menjadi Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta pertama oleh Presiden Soekarno tepat di Hari Proklamasi pada 17 Agustus 1945. Jabatan itu diembannya hingga akhir hayat, yang dibantu Paku Alam VII selaku Pejabat Gubernur.

Mulai 2 Oktober 1946 sampai 27 Juni 1947, Hamengkubuwono IX dipercaya untuk menjabat sebagai Menteri Negara pada kabinet Sjahrir III. Ia diangkat lagi dalam Kabinet Amir Sjarifuddin I dan II pada 3 Juli 1947 - 11 November 1947, yang dilanjutkan hingga 28 Januari 1948.

Di masa ini, Jakarta dikuasai Belanda dalam Agresi Militer Belanda I yang dilaksanakan pada 21 Juli 1947 sampai 5 Agustus 1947, Hamengkubuwono IX mengajak Presiden untuk memimpin Indonesia dari Yogyakarta.

Jabatan di Kementerian terus dipercayakan kepadanya. Dari Menteri Pertahanan/Koordinator Keamanan Dalam Negeri pada Kabinet Hatta II (4 Agustus 1949 - 20 Desember 1949) dan Menteri Pertahanan pada masa RIS (20 Desember 1949 - 6 September 1950). Setelah itu dalam Kabinet Natsir (6 September 1950 - 27 April 1951), ia diangkat menjadi Wakil Perdana Menteri Indonesia menggantikan Abdul Hakim.

Konsentrasi Hamengkubuwono IX tidak hanya pada kesejahteraan dan ekonomi rakyat. Di bidang pendidikan, Sultan yang pernah mencicipi bangku Frobel School (setara TK) asuhan Juffrouw Willer di Bintaran Kidul, Eerste Europese Lagere School (1925), Hogere Burger School (HBS, setingkat SMP dan SMU) di Semarang dan Bandung (1931), serta Rijkuniversiteit Leiden, jurusan Indologie (ilmu tentang Indonesia) kemudian ekonomi ini juga sangat menaruh perhatian.

Ia juga disebut-sebut sebagai salah satu founding father Universitas Gadjah Mada sejak mulai pendirian Balai Perguruan Tinggi UGM pada 17 Februari 1946 sampai pendirian UGM pada 19 Desember 1949, hingga berubah menjadi Universitiet Negeri Gadjah Mada sampai menjadi Universitas Gadjah Mada di tahun 1954. Atas usahanya, ia dipilih menjadi Ketua Dewan Kurator UGM tahun 1951.

Di bidang olahraga, mantan Ketua Dewan Pariwisata Indonesia (1956), mantan delegasi Indonesia di PBB urusan pariwisata (1963 dan 1968) ini dipercaya menjadi Ketua Federasi ASEAN GAMES (1958) dan Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) pada 1968.

Pengalaman dan kecerdasannya juga dimanfaatkan secara penuh di bidang ekonomi ketika kembali di Kementerian menjadi Menteri/Ketua Badan Pemeriksa Keuangan pada 5 Juli 1959 dan Wakil Perdana Menteri Bidang Ekonomi 11 pada Maret 1966.

Jabatan itu kemudian berganti nama pada masa pemerintahan Presiden Soeharto. Ia diangkat menjadi Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI pertama masa jabatan 25 Juli 1966 - 17 Oktober 1967, yang kemudian digantikan oleg Ali Wardhana.

Hamengkubuwono IX yang juga dikenal sebagai Bapak Pramuka Indonesia dan pernah menjabat sebagai ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka (1968), dipilih untuk mendampingi Presiden Soeharto sebagai Wakil Presiden RI ke-2 menggantikan Mohammad Hatta pada 24 Maret 1973 - 23 Maret 1978. Jabatan itu dilanjutkan Adam Malik di periode berikutnya.

Dalam kehidupan pribadinya, Hamengkubuwono IX tercatat pernah 5 kali menikah. Istri pertamanya adalah BRA Pintakapurnama/KRA Pintakapurnama pada tahun 1940. Kemudian RA Siti Kustina/BRA Windyaningrum/KRA Widyaningrum/Ray Adipati Anum, putri R.W. Purwowinoto pada tahun 1943. Ketiga, Raden Gledegan Ranasaputra/KRA Astungkara, putri Raden Lurah Ranasaputra dan Sujira Sutiyati Ymi Salatun di tahun 1948. Keempat, KRA Ciptamurti, dan yang terakhir Norma Musa/KRA Nindakirana, putri Handaru Widarna di tahun 1976. Dari pernikahan itu, Hamengkubuwono IX dikaruniai 15 putra dan 7 putri.

Tepat tanggal 2 Oktober 1988 malam, Gubernur terlama yang menjabat di Indonesia (1945-1988) dan Raja Kesultanan Yogyakarta terlama (1940-1988) ini menghembuskan nafas terakhirnya di George Washington University Medical Center, Amerika.

Jenazahnya lalu dibawa kembali ke tanah air dan dikebumikan di kawasan pemakaman para Sultan Mataram di Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Riset dan Analisa: Yunita Rachmawati

KARIR
Kepala dan Gubernur Militer Daerah Istimewa Yogyakarta (1945)
Menteri Negara pada Kabinet Sjahrir III (2 Oktober 1946 - 27 Juni 1947)
Menteri Negara pada Kabinet Amir Sjarifuddin I dan II (3 Juli 1947 - 11 November 1947 dan 11 November 1947 - 28 Januari 1948)
Menteri Negara pada Kabinet Hatta I (29 Januari 1948 - 4 Agustus 1949)
Menteri Pertahanan/Koordinator Keamanan Dalam Negeri pada Kabinet Hatta II (4 Agustus 1949 - 20 Desember 1949)
Menteri Pertahanan pada masa RIS (20 Desember 1949 - 6 September 1950)
Wakil Perdana Menteri pada Kabinet Natsir (6 September 1950 - 27 April 1951)
Ketua Dewan Kurator Universitas Gajah Mada Yogyakarta (1951)
Ketua Dewan Pariwisata Indonesia (1956)
Ketua Sidang ke 4 ECAFE (Economic Commision for Asia and the Far East) dan Ketua Pertemuan Regional ke 11 Panitia Konsultatif Colombo Plan (1957)
Ketua Federasi ASEAN Games (1958)
Menteri/Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (5 Juli 1959)
Ketua Delegasi Indonesia dalam pertemuan PBB tentang Perjalanan dan Pariwisata (1963)
    Menteri Koordinator Pembangunan (21 Februari 1966)
Wakil Perdana Menteri Bidang Ekonomi 11 (Maret 1966)
Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka (1968)
Ketua Umum Komite Olahraga Nasional Indonesia/KONI (1968)
Ketua Delegasi Indonesia di Konferensi Pasific Area Travel Association (PATA) di California, Amerika Serikat (1968)
Wakil Presiden Indonesia (25 Maret 1973 - 23 Maret 1978)

Jumat, 14 Maret 2014

NASKAH LOMBA MATA PELAJARAN TINGKAT SD TAHUN PELAJARAN 2013/2014 KECAMATAN PASEKAN KABUPATEN INDRAMAYU Mata Pelajaran : Ilmu Pengetahuan Sosial , by Agus Warsono


NASKAH LOMBA MATA PELAJARAN  TINGKAT SD
TAHUN PELAJARAN 2013/2014
KECAMATAN PASEKAN KABUPATEN INDRAMAYU
Mata Pelajaran : Ilmu Pengetahuan Sosial
Tanggal 13 Maret 2014
Nomor Peserta : ……………………….
Nama Peserta   : ……………………....
Asal Sekolah    : ……………………….


Berilah tanda silang (X) pada huruf a,b,c  atau d pada jawaban yang benar !
I.                        
1.  Yang merupakan badan legeslatif adalah
a. DPR
b. Mahkamah Agung
c.Kementrian
d.BPK
 2.  Ing ngarso sung tulada ing madya mangunkarsa turwuri handayani
a. Semboyan Pendidikan
b.Slogan Kebersihan
c.Pepatah Jawa
d.Visi Misi sekolah

3. Salah seorang Proklamator RI
a. Muhammad Hatta
b.Muhammad Nuh
c.Muhammad Yamin, SH
d.Muhammad Nur

4.  Sistem kerja Rodi pernah dilakukan oleh Pemerintahan Penjajahan Belanda terhadap Bangsa Indonesia yakni ketika:
a.membangun bendungan Gajah Mungkur
b.membuat Pabrik Kertas
c.membangun terowongan kereta api
d. membuat jalan Anyer penarukan

5.  Pulau penghasil timah yakni
a. pulau Ternate
b.pulau Tidore
c.pulau Bintan
d.pulau Karimunjawa

6. Ibukota Jawa Timur adalah
    a. Denpasar
    b. Malang
   c. Surabaya
   d. Semarang


7..  Ir. Soekarno, Drs. Moh Hatta, Mr M Yammin, M Ahmad Subarjo, Mr. A A Maramis, Abdulkadir Muzakir, Wahid Hasim, H Agus Salim, Abikusno Cokrosuyoso.
    a. Perumus Dasar negara
    b. Panitia Kecil Persiapan Kemerdekaan
    c. Kabinet RI Pertama
    d.Tokoh Kongres Pemuda I

8.  Andong adalah alat transportasi tradisional yang masih terdapat di Indonesia. Alat transportasi ini merupakan kendaraan ditarik oleh ……
    a. Kuda
    b. Sapi
    c. Manusia
    d.gajah

9.Lebaga legeslatif yangterdapat di kota/kabupaten adalah
   a. DPR
   b. DPRD
   c. MPR
   d. BPD

10.  Sila Keadilan Sosial pada Garuda Pancasila dilambangkan dengan
a. Padi kapas
b.Kepala Banteng
c.Rantai
d.Bintang

11. Kapala Daerah yang mengepalai Kota disebut
    a. Bupati
    b. Walikota
    c. Gubernur
    d. Sultan

12. Daerah penghasil aspal terdapat di
    a. pulau Buton
    b. pulau Nusakambangan
    c. pulau Nias
   d.pulau Seribu
13.Lapangan terbang atau Bandar Udara Husain Sastranegara  terdapat di kota
    a. Jakarta
    b. Bandung
    c. Semarang
    d. Yogyakarta

14.Indonesia pernah berjaya di nevent olah raga dunia yakni di cabang olah raga bulutangkis di tahun 1970-an. Tokoh pebulutangkis  Indonesia pada masa itu adalah …..
    a. Susi Susanti
    b. Icuk Sugiarto
    c. Verawati
    d. Rudi Hartono

15. Kesaksian pengorbanan nyawa oleh pejuang kemerdekaan 1945 diabadikan dalam sebuah syair puisi berjudul “Kerawang Bekasi”. Sastrawan angkatan 1945 yang menciptakan puisi Kerawang Bekasi adalah …
    a. Arminj Pane
    b. Sanusi Pane
    c. Chairil Anwar
    d.Marah Rusli

16.Perlawanan terhadap VOC di Sulawesi selatan dipimpin oleh ...
    a. Patimura
    b.Imam Bonjol
    c.Diponegoro
    d.Teuku Umar

17.Pahlawan Pejuang emansipasi wanita Indonesia adalah
    a. R A Kartini
    b. Ibu Sud
    c. Ibu Kasur
    d.Titiek Puspa

18. Jalan bebas hambatan di kota besar disebut                                          
    a. Jalan alternatif
    b.Jalan raya
    c.Jalan setapak
    d.Jalan tol

19. Organisasi pergerakan nasional Budi Utomo didirikan oleh ...
a. Dr. Sutomo
b.Mr. Muhammad Yamin
c. Suadi suryaningrat
d.Dawues Daker

20. Penghargaan di bidang penghijauan disebut
a. Upakarti
b. Kalpataru
c. Mahayana
d. Mahaputra

21.Perlawanan terhadap Jepang oleh tentara PETA dipimpin oleh
    a. Supriyadi
    b. Jendral Sudirman
    c. Jendral Gatot Subroto
    d. Jendral Soeharto

22. Kiai Zaenal Mustafa merupakan pimpinan perlawanan terhadap Jepang di ...
    a. Indramayu
    b. Cirebon
    c.Tasikmalaya
    d. Bekasi

23.    Kerja paksa pada jaman penjajahan Jepang disebut ...
a. Rodi
b.Padat Karya
c. Tanam Paksa
d.Romusha

24.Sistem kerja paksa masa penjajahan Belanda di namakan ...
a. Rodi
b. Romusha
c. Tanam Paksa
d. Padat Karya

25.    Sebelum Kemerdekaan Indonesia dibentuk panitia kecil yang diketuai oleh ...
a. Ir. Soekarno
b. Dr. Mohammad Hatta
c. H. Agus Salim
d. AA. Maramis

26.    Patimura adalah Pahlawan Perjuangan Kemerdekaan Indonesia dari
a.Kalimantan
b.Irian
c. Maluku
d.Sulawesi


27. Yang merupakajn lembaga eksekutif adalah
a. Presiden
b.Mahkamah Agung
c.BPK
d.KPK

28.    Ir. Sokarno Prof. Supomo dan  ……………………dalam sidang pertama BPUPKI berperan dalam merumuskan dasar negara.
a. Mr Muhamad Yamin
b. H. Agus salim
c. Dr. Warjiman
d. Sugondo Joyopuspito

29.    Dua tokoh penting yang gigih mempersiapkan kemerdekaan Indonesia, sehingga dijuluki plokamator adalah                 ...                 dan                   ...
a. Ir. Soekarno dan Dr. Muhammad Hatta
b.Dr.Dawes Daker dan Ki Hajar Dewantara
c.Soeharto dan Ahmad Yani
d.Cut Nyak Dien dan Teuku Umar

30. Pahlawan Nasional yang memimpin perlawanan rakyat mengusir tentara sekutu yang bermaksud agar Belanda menjajah kembali Indonesia pada 10 Nofember 1945 di Surabaya adalah
a. Ir. Soekarno
b.Bung Tomo
c.Robert Wolter Monginsidi
d.Supriyadi

31. Batu Tulis adalah prasasti yang ditemukan di Bogor adalah peninggalan kerajaan
    a.Tarumanegara
    b.Pakuwon
    c.Pajajaran
    d.Sumedang Larang

32.Kerajaan yang terdapat di Cirebon adalah
    a. Kerajaan Kanoman
    b.Kerajaan  Pajajaran
    c.Kerajaan Sumedang Larang
    d.Kerajaan Pakuwon

33.Candi Boropbudur terletak di Kabupaten
    a. Magelang
    b. Sleman
    c. Karanganyar
    d.Klaten
34. Candi yang memiliki ukiran cerita Ramayana adalah candi
    a. Prambanan
    b.Mendut
    c.Borobudur
    d.Pawon

35.Ibukota propinsi Bali adalah
    a. Gilimanuk
    b.Denpasar
   c. Singaraja
   d.Klungkung

36. Sungai yang melintas kota Palembang adalah sungai
    a. Mahakam
    b.Musi
    c.Bengawan Solo
    d.Serayu

37. Sungai terpanjang di pulau jawa adalah
    a. Serayu
    b. Cimanuk
    c. Bengawan Solo
    d.Citarum

38. Indonesia terdapat banyak gunung berapi yang masih aktif. Gunung Kelud adalah salah satu gunung yang pada tahun 2014 meletus dan sempat membuat hujan abu di beberapa daerah. Gunung Kelud terletak di
    a. DI Yogyakarta
    b. Propinsi Jawa Tengah
    c. Propinsi Jawa Timur
    d. DI Aceh

39.Bunga Bangkai merupakan salah satu keunikan flora Indonesia, terdapat di
    a. Sumatera
    b.Jawa
    c.Bali
    d.Nusa Tenggara

40. Burung Centrawasih adalah salah satu hewan yang dilindungi , terdapat di
    a. Sumatera
    b. Kalimantan
    c.Sul;awesi
    d.Irian

II . Isilah tituk-titik di bawah ini dengan jawaban yang benar !

1. Yang disebut dasar negara ialah …………………………………………………
2. Kehidupan berbangsa dan bernegara diatur dalam ………………………………
3. Kepala Negara di Republik Indonesia disebut …………………………………..
4. Soesilo Bambang Yudoyono adalah Presiden RI yang ke ………………………
5. Pemilu Legislatif adalah untuk memilih wakil-wakil rakyat yang akan duduk di
……………………………………………………………………………………
6. Mentri Pendidikan RI Indonesia pada kabinet Indonesia Bersatu ( yang sekarang)
ini ialah ……………………………………………………………………………
7. KPK adalah singkatan dari ……………………………………………………….
8. Gubernur Jawa Barat yang sekarang ialah ……………………………………….
9. Ibukota Propinsi Jawa Barat ialah ………………………………………………..
10. Perguruan tinggi negeri yang mencetak sarjana pendidikan  yang terdapat di
Bandung ialah …………………………………………………………………….

Dokumen Rahasia



Rabu, 05 Maret 2014

LOMBA PENULISAN ARTIKEL DAN FEATURES BIDANG PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN

LOMBA PENULISAN ARTIKEL DAN FEATURES BIDANG PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN 2014 - Dalam rangka memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2014, Pusat Informasi dan Humas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (PIH Kemdikbud), menyelenggarakan Lomba Penulisan Artikel dan Features Bidang Pendidikan dan Kebudayaan 2014.







Tema Lomba adalah:

“Mendidik Sejak Dini, Sekolah Setinggi Mungkin, Menjangkau Lebih Luas”

Subtema:

- Pendidikan Anak Usia Dini – Satu desa Satu PAUD;
- Pendidikan Menengah Universal dan Pendidikan Tinggi, Kurikulum 2013;
- Pendirian Akademi Komunitas dan PTN Baru, Bidikmisi, BSM, BOS, BOS-SM, Afirmasi Pendidikan Tinggi (ADik) dan Afirmasi Pendidikan Menengah (ADEM).


Kriteria Lomba:

1. Penulisan artikel terbuka untuk umum sedangkan penulisan karangan khas (features) untuk wartawan media cetak.
2. Artikel dan features adalah karya asli. Panitia berhak menggugurkan pemenang apabila di kemudian hari tulisan terbukti bukan karya asli.
3. Artikel dan features belum pernah diikutsertakan dalam lomba apapun dan tidak sedang disertakan dalam lomba lainnya.
4. Artikel dan feature dimuat pada media massa cetak yang terbit di Indonesia. Kategori Artikel dimuat pada periode 1 November 2013 s.d 10 April 2014, sedangkan kategori Features dimuat pada periode 1 Januari s.d 10 April 2014.
5. Tulisan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
6. Pengiriman naskah artikel dan features dilampirkan bukti pemuatan serta fotokopi identitas, paling lambat tanggal 10 April 2014 (cap pos) dan diterima panitia paling lambat tanggal 14 April 2014, dikirim ke alamat panitia lomba: Pusat Informasi dan Humas, Gedung C lt. 4, Kemdikbud, Jl. Jenderal Sudirman, Senayan, Jakarta Pusat.
7. Peserta dapat mengirimkan maksimal 5 naskah artikel dan features.
8. Pengumuman hasil lomba melalui www.kemdikbud.go.id pada 9 Mei 2014.
9. Pemenang I, II, dan III tiap kategori berhak atas piagam penghargaan dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dan uang tunai masing-masing sebesar:
Juara I : Rp 10.000.000 (dipotong pajak)
Juara II : Rp 7.500.000 (dipotong pajak)
Juara III : Rp 5.000.000 (dipotong pajak)
10. Keputusan juri bersifat final dan tidak bisa diganggu gugat.



Jakarta, 28 Februari 2014
Panitia Lomba
Pusat Informasi dan Hubungan Masyarakat


Sumber  : Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI

Impelementasi Kurikulum 2013

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI
Tiga Hal Penting dalam Implementasi Kurikulum 2013

Jakarta, Kemdikbud --- Mendekati tahun ajaran baru, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Mohammad Nuh, menyampaikan tiga hal penting terkait impelementasi Kurikulum 2013 pada rapat kerja dengan anggota Komisi X DPR RI, di kantor DPR RI, Jakarta, Selasa (04/03/2014).

Mendikbud menuturkan, tiga hal tersebut adalah buku, pelatihan dan pendampingan, serta monitoring dan evaluasi . Ketiganya, kata dia, tidak terlepas dari sasaran yang akan mengimplementasikan Kurikulum 2013 diantaranya sekolah, guru, dan siswa. “Jumlah sekolah sasaran tingkat SD sebanyak 148.171 sekolah, SMP/SMPLB 35.597 sekolah, SMA/SMLB 12.403 sekolah, SMK 10.628 sekolah. Sehingga total sekolah sasaran sebanyak 206.799 sekolah,” terangnya.

Sasaran guru pada setiap jenjang, kata Mendikbud, jumlah guru sasaran tingkat SD sebanyak 783.935 guru, SMP/SMPLB 415.980 guru, SMA/SMLB 139.398 guru, dan SMK 85.688 guru. sehingga total seluruh guru sasaran sebanyak 1.425.001 guru.

Selanjutnya, sasaran siswa untuk tingkat SD kelas 1,2,4,5 berjumlah 17.640.917 siswa, SMP/SMPLB kelas 7 dan 8 berjumlah 7.107.950 siswa, tingkat SMA/SMLB kelas 10 dan 11 berjumlah 3.468.510 siswa, serta SMK kelas 10 dan 11 berjumlah 3.027.467 siswa. Total sasaran seluruh siswa berjumlah 31.244.844 siswa.

Jadwal (Master Schedule) tahun pelajaran baru akan dilaksanakan pada minggu kedua bulan Juli. Oleh karena itu yang paling pokok sebelum masuk minggu kedua bulan Juli yaitu pelatihan. "Kami merencanakan semua pelatihan selesai satu minggu sebelum Ramadhan, agar tidak ada keluhan beratnya menjalankan pelatihan karena ibadah puasa," tutur Mendikbud.

Mendikbud mengatakan, pada 10 Maret 2014 akan dilakukan penyegaran narasumber. Begitu penyegaran ini selesai, narasumber akan mempersiapkan dan mempelajari bahan-bahan pembelajaran untuk pelatihan instruktur nasional yang akan dimulai sekitar minggu ke 3 dan ke 4 April 2014.

“Narasumber mempersiapkan bahan sekitar 3-4 minggu, Ketika instruktur nasional ini selesai, maka pelatihan guru sasaran bisa segera di mulai pada awal Mei. Dihitung-hitung dengan empat angkatan dan terdistribusi dibeberapa region itu bisa diselesaikan pada minggu ketiga bulan Juni,” katanya. 

Sabtu, 01 Maret 2014

LUKISAN DI ATAS UANG KOIN/ BLENDONG OLEH Jacqueline Lou Skaggs

Seniman asal Amerika, Jacqueline Lou Skaggs menggunakan uang koin penny sebagai kanvas untuk lukisan-lukisan miniaturnya. Detail rumit yang membutuhkan keahlian tinggi ini membuat hasil karyanya unik dan penuh inspirasi.
Jacqueline membuat koin berseri yang ia beri nama  Tondi Observations, menciptakan 12 lukisan wajah-wajah presiden dan gedung-gedung bersejarah.










Senin, 24 Februari 2014

PUISI MENOLAK KORUPSI Jilid 3 (Karya Pelajar).

salam,

kawan-kawan, berikut saya informasikan nama-nama pelajar yang puisinya lolos seleksi untuk Penerbitan Buku PUISI MENOLAK KORUPSI Jilid 3 (Karya Pelajar).

bagi yang lolos seleksi mohon secepatnya melengkapi persyaratan berupa foto close up, serta informasi detil soal tempat/tanggal lahir, sekolah, alamat rumah, alamat email, akun fb & no hp (dikirim ke email: sosiawan.leak@yahoo.com atau inbox fb: Leak Sosiawan).

salam hangat, doa kuat!

sosiawan leak
Koordinator Gerakan Puisi Menolak Korupsi

Daftar pelajar yang karyanya lolos seleksi Penerbitan Buku Puisi Menolak Korupsi Jilid 3
1. A. Habiburrahman (Sumenep)
2. A. Kafi Febrian (Sumenep)
3. Abdul Azis Pane (Deli Serdang)
4. Abi Ortega (Pangkalan Kerinci, Riau)
5. Aeni Krismonika (Purbalingga)
6. Afifatus Sa’diah (Jember)
7. Agil Vina Febriana (Salatiga)
8. Agri Satrio Adi Nugroho (Sukoharjo)
9. Ahmad Alfi (Surakarta)
10. Ahmad Khoirur Roziq (Kediri)
11. Ahmad Latief Ansory (Palembang)
12. Ahmad Saugi Andrian P. (Tangerang)
13. Ahnafudin Toha (Semarang)
14. Ahshalia Ayu Aghnia (Pekalongan)
15. Aida Kurniasih (Banyumas)
16. Aisyah Rachma (Surabaya)
17. Aji Rahmat Imanudin (Bojonegoro)
18. Aji Tanda
19. Alanwari (Bogor)
20. Alfianingsih (Purbalingga)
21. Alimatus Saadiyah (Ngawi)
22. Amalia Nurus Syifa (Banyumas)
23. Amazona Mega Ramadhanty (Cilacap)
24. Amir F. A. (Sumenep)
25. Anastasia Sita Wulandari (Gunung Kidul)
26. Andi Wijaksono (Purbalingga)
27. Andika (Banyumas)
28. Andrian Eka Saputra (Boyolali)
29. Andy Putra Ramadhan (Semarang)
30. Angga Anggriawan (Ciamis)
31. Angga Tri Andriyono (Banyumas)
32. Anis Ilahy Nafsi (Ngawi)
33. Anisa Wulansari (Balikpapan)
34. Annas Tunggal (Ngawi)
35. Anurul Islami (Banyumas)
36. Ardiyah (Banjarnegara)
37. Arif Budiman (Lamongan)
38. Arifah Hasin Haluqi (Banyumas)
39. Arina Sabila Najah (Pasuruan)
40. Asmoro Al-fahrabi (Pasuruan)
41. Assa Levina (Banyumas)
42. Astiwi Safitri (Pinrang, Sulsel)
43. Audi Ariaji Harahap (Medan)
44. Aulia Nur Fadilah (Banyumas)
45. Aulia Qurrotu Aini (Karanganyar)
46. Aulia Widyanagara (Bojonegoro)
47. Avivatus Sa'diyah (Jember)
48. Ayu Ana Widiastutik (Sumenep)
49. Ayunda Bilqish Alfiatussyifa (Bojonegoro)
50. Badruz Zaman (Sumenep)
51. Bella Fitriana Handayani (Bekasi)
52. Bima Sarutobi
53. Catur Hari Mukti (Sragen)
54. Chaoril Imam (Surakarta)
55. Chandra Adhi Susanto (Ngawi)
56. Charis (Banyumas)
57. Chatarina Dewi Anggraeni (Purworejo)
58. Daniswari Anggadewi (Surakarta)
59. Daviatul Umam el-S (Sumenep)
60. David Rizaldi (Sragen)
61. Dedy Yusuf Evendi (Pasuruan)
62. Della Oktaviani Sorongan (Bekasi)
63. Desiya Nailil Muna (Kudus)
64. Deva Lili Fiana (Banyumas)
65. Devi Anggereni (Purbalingga)
66. Dewi Lestari (Kudus)
67. Dewi Munfachiroh (Pasuruan)
68. Dewi Nafiah (Banyumas)
69. Dewi R. (Banyumas)
70. Dewi Retno Putri Pradana (Jember)
71. Dewi Sulistyowati (Salatiga)
72. Dewinta  P. (Banyumas)
73. Dhia Asa Imtinan (Pekalongan)
74. Diah Pratiwi (Banyumas)
75. Dian Ilmi (Pekalongan)
76. Dian Novita Arum Sari (Nganjuk)
77. Diana Khasna Nisrina (Batang)
78. Diantini
79. Dika Bhakti (Bojonegoro)
80. Dina (Banyumas)
81. Dwi Ari Sulistiyani (Banyumas)
82. Dwi Ayu Wandirah (Purbalingga)
83. Dwi Roro Asih (Banyumas)
84. Dwiana Nur Rizki Hanifah (Banyumas)
85. Eka Ervina Ari Ardana (Nganjuk)
86. Ela Fuji Lestari (Semarang)
87. Elis Alvirawati (Sragen)
88. Elisabeth Sabrina P.S. (Banyumas)
89. Ervina Ruth Priya Sambada (Boyolali)
90. Estri Tirta Titis Pinasthi (Ngawi)
91. Evadatul Khusnah
92. Evi Oktaviani (Banyumas)
93. Fahri (Banyumas)
94. Faiqotul Himmah (Pasuruan)
95. Faiza Ainia (Banyumas)
96. Fajar Aji Pamungkas (Banyumas)
97. Fathan Dikha Muttaqin (Tulungagung)
98. Fatimatul Chabibah (Pasuruan)
99. Febri Yani Rustanti
100. Filujeng Nur Rochma (Ngawi)
101. Firdha Avivia P. K. (Sragen)
102. Fitri Kurniawati (Ngawi)
103. Fitri Riyanti (Banyumas)
104. Fridolfna Nahong (Manggarai, NTT)
105. Galuh Prima Sabarina (Banyumas)
106. Galuh Rahma (Ngawi)
107. Garita Esa M. (Banyumas)
108. Gilbertus Luki Targau (Manggarai, NTT)
109. Hafid Rois Al Ahsan (Sragen)
110. Hanida Salsabila (Banyumas)
111. Hanifah Annuru Masruroh (Nganjuk)
112. Hansen Sunaryangga (Brebes)
113. Hanu Neda Septian (Banyumas)
114. Harrits Rizqi Budiman (Malang)
115. Hasna Rosikhatun Nasika (Kediri)
116. Helda Kristi Seimahuira (Ambon)
117. Hendi Aryo Bastian (Banyumas)
118. Heni Puspitasari (Gunung Kidul)
119. Hestina PH (Banyumas)
120. Hidayah Sumiyani (Tuban)
121. Hilmun Al Ghumaydha (Ngawi)
122. Husein (Banyumas)
123. Ibnu Akthailan (Banyumas)
124. Ifa Nur Cahyani (Banyumas)
125. Iffah Mahiratun Nisa (Sragen)
126. Iin Yulita Sari (Ngawi)
127. Ike Silviaranchi (Banyumas)
128. Irma Oktiyar Diani (Banyumas)
129. Irma Yusianti (Banyumas)
130. Ismailia (Pasuruan)
131. Ismiyatul Faizah (Ngawi)
132. Istiqlal Fauzan Hidayat (Tegal)
133. Itsna Agustin Nur R. (Banyumas)
134. Izra (Banyumas)
135. Jauharie Maulidie (Sumenep)
136. Kartika Rahmarani (Banjarnegara)
137. Kartika Rochmawati (Ngawi)
138. Khansa Salsabilla A. (Banyuwangi)
139. Khollatul Jalilah (Sumenep)
140. Khusnul Ihda Muslikah (Trenggalek)
141. Kiki Novitasari (Pasuruan)
142. Kuni Zakiyah Rahmadhani (Banyuwangi)
143. Laila Nailu Rahmatika (Ngawi)
144. Laila Nur Ainiyah (Nganjuk)
145. Laila Nur Azizah (Banyumas)
146. Legita (Banyumas)
147. Lina Alfiani (Ciamis)
148. Linda Purwanti (Purbalingga)
149. Linda Puspita Dewi (Sragen)
150. Lisa Aryati (Banjarnegara)
151. Livia Arizka (Banjarnegara)
152. Lucky Windya Mawarni (Ngawi)
153. Lukiyati Ningsih (Mojokerto)
154. Lum'atun Nikmah (Pati)
155. Lusi Sukmawati (Pekalongan)
156. Luthfiyah Amani (Banyumas)
157. M. Ridho Ilahi (Palembang)
158. M. Rofil Zainuri (Sumenep)
159. M. Sirojuddin (Pasuruan)
160. Ma’ruf  Wahyudin (Blora)
161. Malik Susanto (Pekalongan)
162. Marisa Nurhayati (Magelang)
163. Martinus Tundu (Manggarai, NTT)
164. Matahari Adi. S. B. (Jombang)
165. Maulida Solekhah (Nganjuk)
166. Maulina Fikriyah (Pasuruan)
167. Mega Fitria Trisnasari (Ngawi)
168. Mentari Cesari Pangestika (Purbalingga)
169. Mey Nur Hikmah (Banyumas)
170. Miftahul Khoiriyah (Nganjuk)
171. Minati Dwi Vinasih (Sragen)
172. Mirna Nuraisyah (Ciamis)
173. Mirnawati (Banyumas)
174. Moh. Syarif Muzammil (Sumenep)
175. Moh. Yasid (Sumenep)
176. Mohammad Ahlisil Haq (Gresik)
177. Mohammad Kholili (Sumenep)
178. Mufti Aji Panuntun (Banyumas)
179. Muhamad Fathan Mubin (Serang)
180. Muhammad As’ad (Pasuruan)
181. Muhammad Baghiz Arom-rom (Banyumas)
182. Muhammad Habibullah (Pasuruan)
183. Muhammad Hafeedz Amar Rishka (Indramayu)
184. Muhammad Irfan Aziz (Pasuruan)
185. Muhammad Juroimi (Pasuruan)
186. Muhammad Rifqi Saifudin (Barito Kuala, Kalsel)
187. Muhammad Zha’farudin Pudya Wardana (Malang)
188. Muliyana Nurjanah (Purbalingga)
189. Nabila (Martapura)
190. Nabila Bunga Ratu Piara Dicinta (Banyumas)
191. Nabila Ramadhani Zain (Banyumas)
192. Nahdliyah Furri Utami (Tegal)
193. Naila Salsabila (Sragen)
194. Nailil (Banyumas)
195. Nara Latif (Banjarnegara)
196. Nely Rosyalina Agustin (Banyumas)
197. Nida Nurunnisa (Ciamis)
198. Nisrina Yusha S. (Banyumas)
199. Niswatul Badiah (Pasuruan)
200. Nita Kamila (Jepara)
201. Nofika Rahmayani (Nganjuk)
202. Novalia Meta F (Purbalingga)
203. Novi Justika Harini (Ngawi)
204. Novi Setyowati (Wonosobo)
205. Nur Lailatul Rahni (Deli Serdang)
206. Nur Laili Indah Sari (Banyumas)
207. Nur Silvi Nafsila (Banyumas)
208. Nur Widowati (Cirebon)
209. Nurfita Dwi Lestari (Jepara)
210. Nursandrawali Gosul (Bantaeng, Sulsel)
211. Nurul Fajariyana (Banyumas)
212. Nurul Fajri Khoirunnisa (Magelang)
213. Nurul Hayati (Banyumas)
214. Nurul Hidayah (Sragen)
215. Nurul Miftah Awaliyah (Banyumas)
216. Nurul Rahmawati (Ngawi)
217. Pandi Zakaria (Brebes)
218. Penti Aprianti (Ciamis)
219. Pradiana Setianingrum (Semarang)
220. Puri  Elviana (Bandung)
221. Putri Ageng Pinareng
222. Putri Agus Yuli Yanti (Nganjuk)
223. Putri Dikha Syahirah (Tulungagung)
224. Putri Handika (Banyumas)
225. Putri Kartika Sari (Kediri)
226. Qistia Ummah Khasanah (Tuban)
227. Rahma Mamlu’atul Maula (Kediri)
228. Rahmawatun S. (Sukoharjo)
229. Ratna Ulfa Artati (Pekalongan)
230. Recha Melia (Purworejo)
231. Restu Ade Kurniawan (Pati)
232. Reza Siskana Lia (Jepara)
233. Reza Sulkhaerah A. Semmagga (Barru)
234. Ririn D. U.
235. Rischa Setyaningrum (Ngawi)
236. Riski Mei Yana Suci (Purbalingga)
237. Risqiana Imarotul Ainiyah (Nganjuk)
238. Rizka Melyana (Purbalingga)
239. Rizka Novita Wardani (Ngawi)
240. Rizki Dwi Utami (Bogor)
241. Robi Husnimubaroq (Sumedang)
242. Robiyatun (Sragen)
243. Roro Ajeng Olga Dewi Wulan (Ngawi)
244. Rosyidatul Auliya (Pasuruan)
245. Sari Nurfatwa Hakim (Ciamis)
246. Satrio Dwi Sanjaya (Malang)
247. Sausan Syah Muz’shofiyya (Nganjuk)
248. Septi Tri R. (Banyumas)
249. Shella (Jepara)
250. Shielvia (Banyumas)
251. Sigit Nur Pratama (Banyumas)
252. Silvy Damayanti (Ciamis)
253. Sindi Violinda (Medan)
254. Siti Mazroatul H. (Rembang)
255. Siti Nailah (Sumenep)
256. Siti Nur Afifah (Ngawi)
257. Sonya Novisca Wijaya (Palembang)
258. Sri Bulan Cahya Hartati Ningsih (Kediri)
259. Suci Triana Putri (Bantaeng, Sulsel)
260. Sucirahmawati (Banyumas)
261. Sufyan Tsauri (Sumenep)
262. Sugiati Surya Dewi (Pasuruan)
263. Sukma Ningrum Dian Anggraeni (Purworejo)
264. Sulaiman Alfian (Pasuruan)
265. Syaiful Azhar (Sragen)
266. Syaiful Bachri (Sumenep)
267. Syifa Mutiara Salsabila (Banyumas)
268. Tarisa Fika Rahayu (Banyumas)
269. Taufik Ardiansyah (Ciamis)
270. Thania (Salatiga)
271. Titin Trianti (Bojonegoro)
272. Tri Widya Putri Lestari (Purbalingga)
273. Ulfah Nurul Hidayah (Banyumas)
274. Umi Nafisah (Banjarnegara)
275. Ummamul Fatina (Ngawi)
276. Uuli Kufita Imtikhana (Kudus)
277. Vivi Yantri Halimatus Sa'diyah (Banyumas)
278. Wahyu Tri S (Ngawi)
279. Wida Marliana (Banjarnegara)
280. Widad T. A. (Banyumas)
281. Winda Nursita (Banyumas)
282. Windani Afni Nurlaeli (Banyumas)
283. Wisma Nantha (Purworejo)
284. Wiwit Prihatini (Banyumas)
285. Yuli Setiawati (Jakarta Timur)
286. Yunisma Sulala (Banyuwangi)
287. YunitaLuthfiani (Kudus)
288. Yusrina Nur (Pekalongan)
289. Yutik Ayatun Khasanah (Sragen)
290. Yutri Linoku Liyu (Bandung)
291. Zain Rochmatiningsih (Tulungagung)

Kamis, 20 Februari 2014

Puisi-puisi Julia Hartini (12)

Kepada Kita

kepada kita yang menyatu sungguh
pada udara yang kita kasihi
mengental dalam ruang

hidup yang basah mendekat
menyuburkan tanah meski berbeda
tetapi langit-langit tetap sama

manakalah di antara kita terperenyak
selalu ada yang memberi tangan
menempelkan pada jemari yang lain
begitu seterusnya

ruang semesta, Februari 2014

Punyaku juga

kita tak saling berhadapan
tapi dahagamu
punyaku juga

lambung yang pedih
menyebabkan tubuh meluruh
mengigaukan rasa sakit
di dadaku

berkali-kali kau meminum air mata
kemudian aku 
melipat cemas
di antara doa-doa 

ruang semesta, Februari 2014

Abu itu mengabarkan Tentangmu

langit menghitam, murung dan hening
tapi siang masih terik
panas yang menguliti mata hati

abu tengah mengabarkan tentangmu
di jauh kilometer sana yang mengaduh
menyimpan sakit berkawan debu
gunung yang begitu kalut

tenanglah, 
di negeri kita ini
tak ada sedih yang sendiri
sebab siapapun yang menangis
akan dibasuh dengan jemari yang manis

kita eja yang pilu 
hingga segala haru terusap waktu


ruang semesta, Februari 2014


 Biodata Penulis

Julia Hartini, lahir di Bandung 19 Juli 1992, Mahasiswa  Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Tergabung dalam Unit Pers Mahasiswa UPI 2010-sekarang.  Sekarang pun aktif bersastra bersama ASAS (Arena Studi Apresiasi Sastra) UPI dan  Komunitas Penulis Perempuan Indonesia. 
Puisi-puisinya masuk dalam media massa seperti Harian Umum Pikiran Rakyat, Metro Riau, Radar Banten. Selain di media massa, puisi-puisinya juga masuk dalam antologi puisi seperti Tifa Nusantara (2013), Indonesia di Titik 13 (2013), Saksi Ibu Melihat Reformasi (2013) , Habis Gelap Terbitlah Sajak (2013), Situ Waktu (2011). 
Selain menulis puisi, penulis pun diundang dalam Pertemuan Penyair Lintas Daerah yang diadakan Dewan Kesenian Pemalang dan Pekalongan (2013), Pertemuan Penyair Nusantara yang diadakan Dewan Kesenian Tangerang (2013), dan Jambore Nasional Bahasa dan Sastra (2011) yang diadakan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.  
Sekarang penulis sedang berproses dan berjuang dalam dunia tulis-menulis agar karyanya yang lahir bisa diapresiasi pembaca. 

Segera terbit " Jangan Jadi Sastrawan" Karya Rg. Bagus Warsono


Skeeter Davis -- The End Of The World

Skeeter Davis -- The End Of The World

Jumat, 14 Februari 2014

Roni Nugraha Syafroni (11)

SEMBOYAN
Sadar akan ragam yang berada di sekitar badan,
lalui dengan ikhlas tanpa beban.
Berusaha seragam agar tiada lagi desing senapan,
itulah sebab agar negara mapan.

Pesan mengajari agar menjaga apa yang dipunya,
jangan nanti menyela tetangga sendiri.
Terang matahari muncul dalam kesenduan tiada tara,
jika tak taat menjaga indahnya mimpi.

Sering banyak teman bertanya-tanya pudarnya sinar,
membuat semua orang bergandeng bergetar.
Berbahagia bak pejuang dahulu tak gentar,
hadapi rongrongan musuh yang ingin masuk pagar.

Semboyan ini tampak tak berguna dan usang,
tapi ada secercah keyakinan tak akan dibuang.
Terus dihayati diamalkan hingga usia petang,
agar berguna teruntuk generasi mendatang.

TIADA TARA
Gugusan pulau terbentang dari barat hingga timur,
baik kecil maupun besar tiada beda jua.
Dipikir satu juga pulau-pulau membentuk garis bujur.
Tugu Khatulistiwa ciri khas identitas keluarga kita.

Terkandung berbagai macam manfaat,
bukan untuk dihabiskan dalam waktu singkat.
Terus digunakan bukan untuk sesaat,
menjaga jalan masyarakat agar tak tersesat.

Apa daya banyak raga dari ‘saudara-saudara’,
coba menjamah mengeruk terus hingga kerak terdalam.
Banyak daya yang dapat hentikan perlakuan mereka,
terkecuali memang menginginkan hal buruk kelam.

Pemandangan tiada tara,
terbentang dari Sabang-Merauke,
Dari Pulau Myangas-Pulau Rote,
kekayaan negara Indonesia.

TAK PADAM
Semangat bersama dirasa gampang pudar,
jelas bukan tujuan bersama agar tak sekarat.
Harusnya dapatlah jua semua tempat bersandar,
tidak gampang pun susah asal ada niat.

Bergembira menanti keajaiban sebuah berita,
membuat hati senang dibuatnya.
Karena kesedihan sedang menerpa,
diharap ada secercah harapan menyapa.

Gerimis jadilah hujan semalam,
timbullah lengkungan pelangi.
Itulah mimpi yang tersulam,
menjaga diri tak dihinggapi.

Bersama berusaha hilangkan beda,
mudah-mudahan Tuhan mendengar.
Tangan hati ini tak berhenti berdoa,
tak lebih hanya untuk hentikan mereka berkoar.

DERMAGA
Ombak bernyanyi dalam ingatan,
kian mendekat juga bersemi.
Menanti di tepian kebahagiaan,
tiada bersedih berduka di hati.

Biarlah mereka mendengar khusyu,
tiupan angin dedaunan berguguran.
Berputar melawan kencangnya waktu,
pasir berputar bergilir berpapasan.

Cakrawala berlabuh di dermaga indah,
ciptakan kenangan berpaut rindu.
Siapapun akan ingin kembali dengan mudah,
menuju sinar sukma yang telah lama berlalu.

Lelah ini telah pula berlabuh,
hangatnya garis pantai cemerlang.
Semilir angin menjauhkan peluh,
sedih sendu janganlah terbit sekarang.


TEGAP
Biru laut mengingatkan ihwal cinta bersemi,
siapa pun tampak ingin menghancurkan.
Tapi tidak dapat karena tidak sendiri kami,
bersatu padu walau beda menghalau kekacauan.

Melayang cemaskan suasana di sana,
tak percaya pada sesiapun jua.
Terbitlah banyak curiga,
yang dari hasil bertanya.

Selama badan ini masih tegap,
hadapi semua masalah pengap.
Memahami situasi gagap,
tanpa hilang akal merayap.

Sentuhan kasih pada keabadian,
mata terpejam rasakan kekuatan.
Hati wujudkan sebuah kepercayaan,
dalam rasa berputar keniscayaan.

Ledeng-Lembang, Februari 2014
BIODATA PENGARANG
No. KTP : 3277010304870013
Golongan Darah : A
Nama Lengkap : Roni Nugraha Syafroni
Nama Panggilan : Roni
Jenis Kelamin : Pria
Agama : Islam
Kebangsaan : Indonesia
Suku Bangsa : Sunda
Tempat dan Tanggal Lahir : Bengkulu, 3 April 1987
Status : Alumnus Program Studi
  Pendidikan Bahasa Indonesia
 Sekolah Pascasarjana
 Universitas Pendidikan Indonesia tahun 2012
Alamat Lengkap : Jl. Trowulan 2, No. L 30, Komp. Pharmindo,
 RT/RW 003/021, Kel. Melong,
  Kec. Cimahi Selatan, Kota Cimahi 40534,
  Prov. Jawa Barat, Indonesia

ANAK GUNUNG KELUD ITU BERASAP, SEMAKIN PANAS DAN KEMUDIAN MENGELUARKAN BARA API




G. Kelud meletus 13 Pebruari 2014

DANAU KAWAH GUNUNG KELUD ITU KINI MENJADI ANAK GUNUNG , SEBUAH FENOMENA ALAM INDONESIA




GUNUNG KELUD DENGAN DANAU KAWAH



Gunung Kelud (sering disalahtuliskan menjadi Kelut yang berarti "sapu" dalam bahasa Jawa; dalam bahasa Belanda disebut Klut, Cloot, Kloet, atau Kloete) adalah sebuah gunung berapi di Provinsi Jawa Timur, Indonesia, yang masih aktif. Gunung ini berada di perbatasan antara Kabupaten Kediri, Kabupaten Blitar, dan Kabupaten Malang , kira-kira 27 km sebelah timur pusat Kota Kediri.
Gunung api ini termasuk dalam tipe stratovulkan dengan karakteristik letusan eksplosif. Seperti banyak gunung api lainnya di Pulau Jawa, Gunung Kelud terbentuk akibat proses subduksi lempeng benua Indo-Australia terhadap lempeng Eurasia. Sejak tahun 1300 Masehi, gunung ini tercatat aktif meletus dengan rentang jarak waktu yang relatif pendek (9-25 tahun), menjadikannya sebagai gunung api yang berbahaya bagi manusia.
Kekhasan gunung api ini adalah adanya danau kawah (hingga akhir tahun 2007) yang membuat lahar letusan sangat cair dan membahayakan penduduk sekitarnya. Akibat aktivitas tahun 2007 yang memunculkan kubah lava, danau kawah nyaris sirna dan tersisa semacam kubangan air.
Puncak-puncak yang ada sekarang merupakan sisa dari letusan besar masa lalu yang meruntuhkan bagian puncak purba. Dinding di sisi barat daya runtuh terbuka sehingga kompleks kawah membuka ke arah itu. Puncak Kelud adalah yang tertinggi, berposisi agak di timur laut kawah. Puncak-puncak lainnya adalah Puncak Gajahmungkur di sisi barat dan Puncak Sumbing di sisi selatan.
Sejak abad ke-15, Gunung Kelud telah memakan korban lebih dari 15.000 jiwa. Letusan gunung ini pada tahun 1586 merenggut korban lebih dari 10.000 jiwa. Sebuah sistem untuk mengalihkan aliran lahar telah dibuat secara ekstensif pada tahun 1926 dan masih berfungsi hingga kini setelah letusan pada tahun 1919 memakan korban hingga ribuan jiwa akibat banjir lahar dingin menyapu pemukiman penduduk.
Pada abad ke-20, Gunung Kelud tercatat meletus pada tahun 1901, 1919 (1 Mei), 1951, 1966, dan 1990. Tahun 2007 gunung ini kembali meningkat aktivitasnya. Pola ini membawa para ahli gunung api pada siklus 15 tahunan bagi letusan gunung ini.
Letusan 1919
Letusan ini termasuk yang paling mematikan karena menelan korban 5.160 jiwa , merusak sampai 15.000 ha lahan produktif karena aliran lahar mencapai 38 km, meskipun di Kali Badak telah dibangun bendung penahan lahar pada tahun 1905. Selain itu Hugo Cool pada tahun 1907 juga ditugaskan melakukan penggalian saluran melalui pematang atau dinding kawah bagian barat. Usaha itu berhasil mengeluarkan air 4,3 juta meter kubik.
Karena letusan inilah kemudian dibangun sistem saluran terowongan pembuangan air danau kawah, dan selesai pada tahun 1926. Secara keseluruhan dibangun tujuh terowongan. Pada masa setelah kemerdekaan dibangun terowongan baru setelah letusan tahun 1966, 45 meter di bawah terowongan lama. Terowongan yang selesai tahun 1967 itu diberi nama Terowongan Ampera. Saluran ini berfungsi mempertahankan volume danau kawah agar tetap 2,5 juta meter kubik.
Letusan 1990
Letusan 1990 berlangsung selama 45 hari, yaitu 10 Februari 1990 hingga 13 Maret 1990. Pada letusan ini, Gunung Kelud memuntahkan 57,3 juta meter kubik material vulkanik. Lahar dingin menjalar sampai 24 kilometer dari danau kawah melalui 11 sungai yang berhulu di gunung itu.
Letusan ini sempat menutup terowongan Ampera dengan material vulkanik. Proses normalisasi baru selesai 1994.
Letusan 2007
Aktivitas gunung ini meningkat pada akhir September 2007 dan masih terus berlanjut hingga November tahun yang sama, ditandai dengan meningkatnya suhu air danau kawah, peningkatan kegempaan tremor, serta perubahan warna danau kawah dari kehijauan menjadi putih keruh. Status "awas" (tertinggi) dikeluarkan oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi sejak 16 Oktober 2007 yang berimplikasi penduduk dalam radius 10 km dari gunung (lebih kurang 135.000 jiwa) yang tinggal di lereng gunung tersebut harus mengungsi. Namun letusan tidak terjadi.
Setelah sempat agak mereda, aktivitas Gunung Kelud kembali meningkat sejak 30 Oktober 2007 dengan peningkatan pesat suhu air danau kawah dan kegempaan vulkanik dangkal. Pada tanggal 3 November 2007 sekitar pukul 16.00 suhu air danau melebihi 74 derajat Celsius, jauh di atas normal gejala letusan sebesar 40 derajat Celsius, sehingga menyebabkan alat pengukur suhu rusak. Getaran gempa tremor dengan amplitudo besar (lebih dari 35mm) menyebabkan petugas pengawas harus mengungsi, namun kembali tidak terjadi letusan.
Akibat aktivitas tinggi tersebut terjadi gejala unik dalam sejarah Kelud dengan munculnya asap tebal putih dari tengah danau kawah diikuti dengan kubah lava dari tengah-tengah danau kawah sejak tanggal 5 November 2007 dan terus "tumbuh" hingga berukuran selebar 100 m. Para ahli menganggap kubah lava inilah yang menyumbat saluran magma sehingga letusan tidak segera terjadi. Energi untuk letusan dipakai untuk mendorong kubah lava sisa letusan tahun 1990.
Sejak peristiwa tersebut aktivitas pelepasan energi semakin berkurang dan pada tanggal 8 November 2007 status Gunung Kelud diturunkan menjadi "siaga" (tingkat 3).
Danau kawah Gunung Kelud praktis "hilang" karena kemunculan kubah lava yang besar. Yang tersisa hanyalah kolam kecil berisi air keruh berwarna kecoklatan di sisi selatan kubah lava.
Kaitan sejarah dan budaya
Gunung ini tercatat dalam naskah-naskah periode klasik Indonesia seperti Pararaton dan Perjalanan Bujangga Manik sebagai Gunung Ka(m)pud dan menjadi objek pemujaan. Tokoh Dewi Kili Suci dan Anglingdarma dikaitkan dengan gunung ini.

Obyek wisata Gunung Kelud
Gunung Kelud 2012. Kubah lava 2007 tampak di tengah, dengan latar belakang Puncak Kelud. Di sebelah kiri adalah bagian dari Puncak Gajahmungkur.
Menuju kawasan puncak Gunung Kelud sejak tahun 2004 hubungan jalan darat telah diperbaiki untuk mempermudah para wisatawan serta penduduk. Gunung Kelud telah menjadi obyek wisata Kabupaten Kediri dengan atraksi utama adalah kubah lava. Di puncak Gajahmungkur dibangun gardu pandang dengan tangga terbuat dari semen. Pada malam akhir pekan, kubah lava diberi penerangan lampu berwarna-warni. Selain itu, telah disediakan pula jalur panjat tebing di puncak Sumbing, pemandian air panas, serta flying fox.
Tindakan Kabupaten Kediri membangun kawasan wisata ini mendapat protes dari Kabupaten Blitar, yang menganggap wilayah puncak Kelud merupakan wilayahnya. Sengketa wilayah ini terutama meruncing setelah turunnya Surat Keputusan Gubernur Jawa Timur Nomor 188/113/KPTS/013/2012 yang menyatakan bahwa kawasan puncak Kelud merupakan wilayah Kabupaten Kediri.