Kamis, 14 Januari 2016

Penyair Ndeso yang Menasional (4)

Penyair Ndeso yang Menasional  (4)
Rg Bagus Warsono

Indonesia kini segenggam tangan, apa yang dicita-citakan pemuda tahun 1908 dalam kongres pemuda menadi kenyataan. Kita bebas berkarya dimana saja termasuk penyair. Karena itulah dalam penyair ndeso yang menasional penulis menggunakan pemilah dengan menggunakan tempat kelahiran penyair.

Budaya menulis di Kalimantan Selatan tumbuh subur. Kreativitas tulis-menulis tumbuh dikalangan remaja. Hal demikian dikarenaka sastrawan-sastrawan yang telah sepuh mampu momong generasi muda untuk mencintai budaya luhurnya, sebut saja Arsyad Indardi dan Ibramsyah Amandit adalah sastrawan sepuh yang tidak saja masih membuahkan karya tetapi juga mampu menelorkan penyair-penyair muda berbakat.

Kalimantan pulau dengan kebudayaan tertua mewarisi pujangga-pujangga ternama hingga sampai Ali Arsy yang meduduki rating tertinggi pemberitaan sastra Indonesia sepanjang 2014-2015 dari penyair Kalimantan. Ali yang dikenal penulis produktif ini telah membuahkan karya-karya bergengsi.

Penyair top dari Kalimantan lainnya yang tidak asing lagi adalah Hudan Nur , Hudan perempuan penyair muda ini telah sukses lebih dulu justru ketika masih gadis remaja. Karya-karyanya berupa puisi, cerpen, essay dan artikel tersebar pada Untaian Mutiara RRI Nusantara, Banjarbaru Post, Banjarmasin Post, Radar Banjarmasin, Buletin Sloka Tepian, waTas Media, Buletin Rumah Sastra Bandung, Tabloid Realitas, Rakat Media, Buletin Aliance BenKilTra, Sinar Harapan, Republika, Suara Karya, Sinar Kalimantan, Radar Sulteng, Mercusuar, Media Alkhairat, Buletin Hysteria, Majalah Sastra Horison .

Mahmud Jauhari Ali, menjadi motifator pemuda lainnya untuk mempercantik Kalimantan selatan Jauhari tenar lewat Kisah Cinta Gadis Korea dan Lelaki Dayak novel yang diperhitungkan nilai sastranya.

Satu lagi dari Kalimantan tak lain adalah Kalsum Belgis dari Martapura Mungkin bila ingin tahu mantra baru Kalsum Belgis lah pemiliknya.

Benar kata penyair Dharmadi DP penyair membutuhkan proses. Jika penulis bedar adalah perjuangan untuk dapat mencapai titik kebahagiaan diri , bukan saja popularitas tetapi juga 'tempat jati diri bersemayam , kemudian ditambah pengakuan pembaca yang selanjutnya adalah pengakuan publik atas karya yang dicipta.

Perjuangan untuk dapat mencapai titik kebahagiaan diri adalah slalu dalam pencarian. Pencarian melibatkan semua pancaindera-nya untuk dapat menyimpulkan dari 'isyarat-isyarat alam kemudian 'diarsitek-i oleh diri penyair menjadi bangunan indah bahkan monumen (monumen baca) yang abadi.

Itulah penyair , pada tataran tertentu , tahapan 'sabar, 'kesabaran, dan kerendahan diri telah dimiliki, seperi Mas Dharmadi DP, sebuah ilmu yang sulit ditempel walau berguru. Karena itu penulis menaruh hormat pada Mas Dharmadi DP.

Di Kalimantan Barat ada nama-nama penyair yang dikenal cukup luas seperti Pay Jarot Sujarwo, dan Saifun Arif Kojeh . Sebelum Pay Jarot Sujarwo, dan Saifun Arif Kojeh penyair Kalimanta Barat yang belakangan sering tampil, penyair Hanna Fransisca, si 'Cantik di perantauan telah menasional lebih dulu. Sedangkan penyair di Kalimantan Tengah yang sudah cukup dikenal adalah Badar Sulaiman Usin.

Di kalimantan Timur  siapa belum kenal Zulhamdani AS yang dikenal lewat puisi Indonesia Diatas Teratai.

Ternyata dalam hal aktifitas boleh dimana saja, tak harus diibukota. Meski di daerah terpencil kalau memang prestasi itu luar biasa maka sorotan publik akan tertuju padanya.
Demikian popularitas dicari, namun kebanyakan tidak memahami popularitas itu. Popularitas lokal atau nasional, atau mendunia ditentukan oleh aktifitas seorang sastrawan. Aktifitas pada gilirannya akan membuahkan prestasi seseorang. Bagaimana bisa terkenal senusantara, menulis saja tidak, apalagi cuma ikut-ikutan.
Kemudian  bagi yang telah memiliki ciri karya sastra/seni adalah talenta tersendiri dimana orang lain belum tentu dapat melakukannya.
Setidaknya untuk menjadi Sastrawan/Seniman memiliki ke-khas-an karyanya, dari sini , publik mudah mengenali.

"Penyair Ndeso yang Menasional"(3)

"Penyair Ndeso yang Menasional"(3)

Rg Bagus Warsono


Penulis menyadari tidak semua penyair menulis bagus sepanjang hidupnya. Adakala dimasa-masa usia matang dengan berbagai pengalaman yang berliku akhirnya membuahkan tulisan yang memberi kebahagiaan bagi penulisnya maupun pembacanya, sebuah karya besar yang slalu dikenang. Tetapi ada juga semasa muda justru membuahkan karya yang monumental sehingga membawanya ke tangga populairitas. Namun bukan tidak mungkin tua atau muda memaksakan kehendak untuk segera terkenal tanpa karya yang menggerigisi.

Berkarya itu sesuai kemampuan manusia, semakin banyak penyair semakin indah negeri ini. Sajian ini hanya mengetengahkan dan menyemarakkan salah satu sudut dari luasnya dunia penyair. Mari kita tinjau di propinsi Kepulauan Riau. Suryatati A lewat "Melayukah Aku" sebuah karya yang elok sebagai penyair yang dikenal dari propinsi ini. Perempuan penyair ini juga menjadi motifator bagi perempuan penyair muda. Sedikit banyak puisi memberi pengaruh pada penyair ini yang kemudian terpilih sebagai walikota Tanjung Pinang.

Nama -nama lain di Kepulauan Riau juga banyak seperti Rida K Liamsi (Iskandar Leo), Edy Mawuntu dan Hasan Junus, Rus Abrus, Ediruslan Pe Amanriza, Syamsul Bachri Judin , Sudarno Mahyudin, BM. Syamsuddin, Abdul Kadir Ibrahim dsb.

Di Bangka Belitung adalah tempat sastrawati legendaris Hamidah, kemudian tokoh-tokoh lainnya Subron Aidit dan Andrea Heirata.Jejak tokoh sastra nasional dari Balbel ini kini mulai subur diikuti penyair-penyair muda berbakat sebut saja misalnya Sunlie Thomas Alexander . Tentu saja tidak mengikuti jenis syair para pendahulunya Justru Balbel yang merupakan negeri pulau itu malah tidak mencirikan 'laut.

Selain Isbedi di Lampung juga banyak penyair yang telah menasional seperti  Dyah Merta, Iswadi Pratama,Budi P. Hatees, Panji Utama, Udo Z. Karzi, Ahmad Yulden Erwin, Christian Heru Cahyo, dan lain-lain. Menyusul kemudian Ari Pahala Hutabarat, Budi Elpiji, Rifian A. Chepy, Dahta Gautama kemudian disusul Dina Oktaviani, Alex R. Nainggolan, Jimmy Maruli Alfian, Y. Wibowo, Nersalya Renata, dan Lupita Lukman,  dan M. Arman AZ..

Selasa, 12 Januari 2016

Hadiri Peluncuran Antologi Sakarepmu:
Sekumpulan Puisi
Sakkarepmu !
Penyair Mbeling Indonesia


Sebuah antologi sebagai sekumpulan puisi yang tanggap akan perilaku ‘sakarepmu dewasa ini, sehingga membuat penyair mbeling berbuat ‘sekarep-nya dalam memotret perkembangan Indonesia dewasa ini.
Menutup tahun 2015 sebagai tahun-tahun pancaroba negeri puisi-puisi ‘sakarepmu dalam sekumpulan puisi yangbernama Sakkarepmu ini mewarnai khasanah sastra Indonesia.
Tempat :
Warung Apresiasi Bulungan
Rabu 2 Maret 2016
Pukul 19.30 sampai selesai
Koordinator: Aloysius Slamet Widodo.
Telpon:081682482
Ket :
Mohon kesediaan Sahabat Sakarepmu diharapkan hadir dalam kegiatan peluncuran terutama bagi yang dekat Jakarta dengan menghubungi terlebih dahulu Mas Aloysius Slamet Widodo.

4 siswa SMA Idramayu ikuti Antologi Puisi Nasional Penyair Mbeling Indonesia “Sakarepmu”.



   4 siswa SMA Idramayu , terdiri dari 1 siswa di SMAN 1 HAURGEULIS Kabupaten Indramayu dan 3 Siswa SMA NU Juntinyuat  Kabupaten Indramayu lolos seleksi dalam antologi bersama penutup tahun 2015 Penyair Mbeling Indonesia “Sakarepmu”.

   Kegitan seleksi Antologi Bersama Nasional Penyair Mbeling Indonesia diselenggarakan oleh Sanggar Sastra Meronte Jaring Indramayu asuhan penyair Rg Bagus Warsono.
   Mereka para siswa yang karya puisinya terseleksi itu adalah
1. Fitriyanti,
            siswa  di SMA NU Juntinyuat Indramayu.
2. Iis Sri Pebriyanti ,
            pelajar  di SMAN 1 HAURGEULIS Kabupaten Indramayu.
3. Nur Fajriyah,
           siswa SMA NU Juntinyuat Kelas XI IPS 1
4. Riza Umami,
            siswa SMA NU Juntinyuat Kelas XI IPA 1

Kegiatan antologi bersama nasional ini diikuti oleh 100 penyair / peserta yang turut berpartisipasi dalam pembuatan antologi.

“Merupakan suatu kebanggaan siswa dan sekolah bisa turut dalam antologi para penyair ternama. Dalam buku antologi ini tercatat nama-nama penyair terkenal seperti Slamet Widodo, Rg Bagus Warsono, Wardjito Soeharso,  Samsuri Sarman dan lain-lain” , ujar Drs. Edi Wiyatno , pengawas pendidikan menengah di Indramayu yang merasa turut bangga karena ke empat siswa tersebut dalam pembinaan di wilayah kerjanya.

Antologi Sakarepmu menurut rencana akan diluncurkan di Warung Apresiasi Bulungan Jakarta. (abd mappuji 11-1-16)

Kamis, 07 Januari 2016

Apa itu puisi

Berdasarkan dari bentuknya puisi dapat dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu:

Puisi Naratif , yaitu bentuk puisi yang bernarasi atau bercerita. Biasanya merupakan penjelasan panjang dari penyair tentang sebuah masalah atau tema tertentu. Puisi naratif ada yang dikemas dengan sederhana, ada juga yang sugestif dan rumit. Contohnya adalah epic, romansa, balada, dan syair.
Puisi Lirik, berbeda dengan puisi naratif yang cenderung berupa penjelasan panjang tentang tema tertentu, puisi lirik berisi luapan batin individual penyairnya. Contohnya adalah elegi, ode, dan serenade.
Puisi Deskriptif, yaitu bentuk puisi dimana penyair berperan sebagai orang yang menggambarkan sebuah kesan terhadap kejadian tertentu. Contohnya adalah satire, kritik sosial, dan puisi-puisi impresionitik.
Puisi Kamar, adalah puisi yang cocok dibacakan didalam ruangan yang pendengarnya hanya sang penyair saja dan seseorang (ruangan kecil).
Puisi Auditorium, adalah puisi yang cocok dibacakan untuk pertunjukkan dengan penonton yang banyak (ruangan besar)
Puisi Fisikal, yaitu bentuk puisi yang bersifat realistis (menggambarkan apa adanya).
Puisi Platonik, yaitu puisi yang bersifat spiritual atau kejiwaan.
Puisi Metafisikal, yaitu puisi yang bersifat filosofis dan tujuannya untuk mengajak pembaca (atau pendengarnya) untuk merenungkan tentang kehidupan dan ketuhanan.
Puisi Subyektif, bentuk puisi yang mengedepankan gagasan dan ide dalam diri sang penyair.
Puisi Obyektif, kebalikan dari puisi subyektif, dimana penyair mengedepankan perasaan di luar dirinya sendiri.
Puisi Konkret, yaitu bentuk puisi yang bersifat visual, puisi ini menjadikan typografi sebagai salah-satu hal yang penting dalam puisi.
Puisi Diafan, bentuk puisi yang sangat sedikit mengandung imajinasi. Puisi ini akan sangat mirip bahasanya dengan bahasa sehari-hari.
Puisi Gelap, yaitu puisi yang menggunakan terlalu banyak pengumpamaan dan simbol-simbol sehingga sangat sulit untuk dipahami maknanya.
Puisi Prismatis, yaitu puisi yang menyelaraskan kemampuan menciptakan majar. Dilakukan dengan menyusun pemilihan kata dan majas sedemikian rupa sehingga makna puisi tidak terlalu mudah dan tidak terlalu gelap juga untuk ditangkap oleh pembaca.
Pernasian, bentuk puisi yang mengedepankan nilai keilmuan. Karena itu, puisi bukan berasal dari proses imajinatif.
Puisi Inspiratif, bentuk puisi dimana penyair benar-benar memasuki alam imajinasinya. Suasana batin si penyair benar-benar menjadi inspirasi dari puisi inspiratif.
Puisi Demonstrasi, yaitu puisi yang memiliki gaya demonstrasi. Gaya paradoks dan ironi akan banyak digunakan dalam puisi ini, serta kata-kata yang menyulut semangat.
Puisi Pamflet, sama seperti puisi demonstrasi (dalam hal mengungkapkan protes sosial), hanya saja gaya bahasa yang digunakan adalah untuk mengungkapkan perasaan tidak puas akan keadaan. Akan terdapat banyak kata-kata tabu dalam puisi rendra yang gunanya untuk mengkritik suatu pihak.
Alegori, jenis puisi yang berisi cerita yang gunanya untuk menasehati tentang budi pekerti atau ajaran agama. Jenis puisi alegori yang terkenal adalah prable, yang dalam bahasa Indonesia berarti perumpamaan.
Akhirnya, itulah pengertian dan jenis puisi dari Om. Apa kalian sudah menemukan apa yang kalian sebut indah? Kalau belum, semoga kalian cepat menemukannya. Tentu saja dengan banyak membaca puisi dari berbagai sumber zaman, periode, atau bentuk.
Puisi Lama

Puisi lama adalah puisi yang masih terikat pada beberapa aturan, misalnya jumlah kata dalam satu baris, jumlah baris dalam satu bait, persajakannya (rima), banyak suku kata di setiap baris, dan iramanya. Biasanya berupa puisi rakyat yang disampaikan melalui cerita mulut ke mulut, atau sederhananya, puisi lama berbentuk sastra lisan.

Ada beberapa jenis dari puisi lama, antara lain:

Mantra, berbentuk perkataan atau ucapan-ucapan yang dianggap memiliki kekuatan gaib. Biasanya digunakan sebagai mendia do’a untuk meminta kesembuhan, kekuasaan, kecelakaan, dan lain-lain.
Pantun, berbentuk persajakan dengan rima a-b-a-b, tiap bait terdiri dari 4 baris, tiap baris terdiri dari 8-12 suku kata, baris 1 dan 2 sebagai sampiran, 3 dan 4 sebagai isi.
Karmina, bentuknya sama seperti pantun, hanya saja karmina lebih pendek.
Seloka, berbentuk pantun berkait.
Gurindam, berbentuk persajakan dengan rima a-a-a-a. tiab bait terdiri dari 2 baris dan biasanya berisi tentang nasihat.
Syair, sama seperti gurindam, hanya saja tiap bait terdiri dari 4 baris.\
Talibun, berbentuk pantun genap yang terdiri dari 6,8, atau 10 baris.
Puisi Baru

Puisi baru adalah bentuk puisi yang tidak terikat pada terlalu banyak aturan, sehingga lebih bebas dari puisi lama. Baik dari segi jumlah baris, suku kata, persajakan, dan lain-lain. Puisi baru biasanya ditulis dalam bentuk rapi (simetris), persajakan akhir yang teratur, beberapa masih menggunakan pola sajak pantun dan syair walaupun sudah disisipkan pola yang lain, sebagian besar terdiri dari 4 larik, tiap-tiap barisnya merupakan sebuah gatra, dan tiap gatranya terdiri atas dua kata (sebagian besar, terdiri dari 4-5 suku kata).

Puisi baru dibagi menjadi beberapa sub-bagian. Antara lain, berdasarkan isinya dan berdasarkan bentuknya.Berdasarkan isinya, puisi baru dibedakan menjadi balada, Himne, Ode, Epigram, Romance, Elegi, dan Satire. Berdasarkan bentuknya, dibedakan menjadi Distikon, Terzina, Quatrain, Quint, Sektet, Septime, Oktaf / Stanza, dan Soneta. Mengenai bentuk puisi baru ini mungkin akan Om berikan di lain waktu dalam undangan khusus ya.
A.PENGERTIAN
Puisi lama adalah puisi yang terikat oleh aturan-aturan.
Aturan- aturan itu antara lain :
1. Jumlah kata dalam 1 baris
2. Jumlah baris dalam 1 bait
3. Persajakan (rima)
4. Banyak suku kata tiap baris
5. Irama
Ciri puisi lama:
Merupakan puisi rakyat yang tak dikenal nama pengarangnya.
Disampaikan lewat mulut ke mulut, jadi merupakan sastra lisan.
Sangat terikat oleh aturan-aturan seperti jumlah baris tiap bait, jumlah suku kata maupun rima.

Contoh Puisi LAMA:
Saat di meja makan pertama:
muncul seribu bayangan duka
banyak yang berlalu, pagi itu
orang masih mabuk dengan impiannya
Dari radio keluar berita-berita basi, naiknya harga-harga
Bukan itu yang disebut perubahan!
“dimanakah sebernarnya keindahan bersemayam?”
Saat di meja makan kedua :
kesepian menekan tiba-tiba
ada jerit dari lorong tak bertepi
maka hidup hanya sebuah perjalanan lurus, tak berjiwa
bukan pengembaraan, bukan petualangan
:meneruskan yang sudah ada
padahal hidup berjalan ke depan
B. MACAM-MACAM PUISI LAMA
1. MANTRA
Mantra adalah merupakan puisi tua, keberadaannya dalam masyarakat Melayu pada mulanya bukan sebagai karya sastra, melainkan lebih banyak berkaitan dengan adat dan kepercayaan. (ucapan-ucapan yang dianggap memiliki kekuatan gaib).
CIRI - CIRI MANTRA:
a. Mengandung rima dan irama.
b. Mengandung kekuatan gaib.
Contoh:
Assalammu’alaikum putri satulung besar
Yang beralun berilir simayang
Mari kecil, kemari
Aku menyanggul rambutmu
Aku membawa sadap gading
Akan membasuh mukamu
2.GURINDAM
Gurindam adalah puisi lama yang berasal dari Tamil (India)
CIRI-CIRI GURINDAM:
a. Sajak akhir berirama a – a ; b – b; c – c dst.
b. Berasal dari Tamil (India)
c. Isinya merupakan nasihat yang cukup jelas yakni menjelaskan atau menampilkan suatui sebab akibat.
Contoh :
Kurang pikir kurang siasat (a)
Tentu dirimu akan tersesat (a)
Barang siapa tinggalkan sembahyang ( b )
Bagai rumah tiada bertiang ( b )
Jika suami tiada berhati lurus ( c )
Istri pun kelak menjadi kurus ( c )
3. SYAIR
Syair adalah puisi lama yang berasal dari Arab.
CIRI – CIRI SYAIR :
a. Setiap bait terdiri dari 4 baris
b. Setiap baris terdiri dari 8 – 12 suku kata
c. Bersajak a – a – a – a
d. Isi semua tidak ada sampiran
e. Berasal dari Arab
Contoh :
Pada zaman dahulu kala (a)
Tersebutlah sebuah cerita (a)
Sebuah negeri yang aman sentosa (a)
Dipimpin sang raja nan bijaksana (a)
Negeri bernama Pasir Luhur (a)
Tanahnya luas lagi subur (a)
Rakyat teratur hidupnya makmur (a)
Rukun raharja tiada terukur (a)
Raja bernama Darmalaksana (a)
Tampan rupawan elok parasnya (a)
Adil dan jujur penuh wibawa (a)
Gagah perkasa tiada tandingnya (a)
4.PANTUN
Pantun adalah puisi Melayu asli yang cukup mengakar dan membudaya dalam masyarakat.
CIRI – CIRI PANTUN :
1. Setiap bait terdiri 4 baris
2. Baris 1 dan 2 sebagai sampiran
3. Baris 3 dan 4 merupakan isi
4. Bersajak a – b – a – b
5. Setiap baris terdiri dari 8 – 12 suku kata
6. Umumnya terdiri dari 4 kata perbaris
7. Berasal dari Melayu (Indonesia)
Contoh :
Ada  pepaya ada mentimun (a)
Ada mangga ada salak (b)
Daripada duduk melamun (a)
Mari kita membaca sajak (b)
5.KARMINA
Karmina adalah pantun kilat seperti pantun tetapi pendek.
CIRI - CIRI KARMINA :
1. Terdiri dari 2 baris 1 bait
2. Bersajak a - a
3. Baris 1 sampiran, baris 2 isi
4. Umumnya berisi sindiran
Contoh:
*)Sudah gaharu cendana pula (a)
  Sudah tahu bertanya pula (a)

**) Dahulu parang sekarang besi (a)
     Dahulu sayang sekarang benci (a)





GURINDAM DUA BELAS

karya: Raja Ali Haji

Satu

Ini Gurindam pasal yang pertama:

Barang siapa tiada memegang agama,
Sekali-kali tiada boleh dibilangkan nama.
Barang siapa mengenal yang empat,
Maka ia itulah orang yang ma’rifat
Barang siapa mengenal Allah,
Suruh dan tegahnya tiada ia menyalah.
Barang siapa mengenal diri,
Maka telah mengenal akan Tuhan yang bahri.
Barang siapa mengenal dunia,
Tahulah ia barang yang teperdaya.
Barang siapa mengenal akhirat,
Tahulah ia dunia mudarat.

Dua

Ini Gurindam pasal yang kedua:

Barang siapa mengenal yang tersebut,
Tahulah ia makna takut.
Barang siapa meninggalkan sembahyang,
Seperti rumah tiada bertiang.
Barang siapa meninggalkan puasa,
Tidaklah mendapat dua termasa.
Barang siapa meninggalkan zakat,
Tiadalah hartanya beroleh berkat.
Barang siapa meninggalkan haji,
Tiadalah ia menyempurnakan janji.

Tiga

Ini Gurindam pasal yang ketiga:

Apabila terpelihara mata,
Sedikitlah cita-cita.
Apabila terpelihara kuping,
Khabar yang jahat tiadaiah damping.
Apabila terpelihara lidah,
Niscaya dapat daripadanya paedah.
Bersungguh-sungguh engkau memeliharakan tangan,
Daripada segala berat dan ringan.
Apabila perut terlalu penuh,
Keluarlah fi’il yang tiada senonoh.
Anggota tengah hendaklah ingat,
Di situlah banyak orang yang hilang semangat
Hendaklah peliharakan kaki,
Daripada berjaian yang membawa rugi.

Empat

Ini Gurindam pasal yang keempat:

Hati itu kerajaan di daiam tubuh,
Jikalau zalim segala anggotapun rubuh.
Apabila dengki sudah bertanah,
Datanglah daripadanya beberapa anak panah.
Mengumpat dan memuji hendaklah pikir,
Di situlah banyak orang yang tergelincir.
Pekerjaan marah jangan dibela,
Nanti hilang akal di kepala.
Jika sedikitpun berbuat bohong,
Boleh diumpamakan mulutnya itu pekung.
Tanda orang yang amat celaka,
Aib dirinya tiada ia sangka.
Bakhil jangan diberi singgah,
Itulah perampok yang amat gagah.
Barang siapa yang sudah besar,
Janganlah kelakuannya membuat kasar.
Barang siapa perkataan kotor,
Mulutnya itu umpama ketor.
Di mana tahu salah diri,
Jika tidak orang lain yang berperi.

Lima

Ini Gurindam pasal yang kelima:

Jika hendak mengenai orang berbangsa,
Lihat kepada budi dan bahasa,
Jika hendak mengenal orang yang berbahagia,
Sangat memeliharakan yang sia-sia.
Jika hendak mengenal orang mulia,
Lihatlah kepada kelakuan dia.
Jika hendak mengenal orang yang berilmu,
Bertanya dan belajar tiadalah jemu.
Jika hendak mengenal orang yang berakal,
Di dalam dunia mengambil bekal.
Jika hendak mengenal orang yang baik perangai,
Lihat pada ketika bercampur dengan orang ramai.

Enam

Ini Gurindam pasal yang keenam:

Cahari olehmu akan sahabat,
Yang boleh dijadikan obat.
Cahari olehmu akan guru,
Yang boleh tahukan tiap seteru.
Cahari olehmu akan isteri,
Yang boleh dimenyerahkan diri.
Cahari olehmu akan kawan,
Pilih segala orang yang setiawan.
Cahari olehmu akan ‘abdi,
Yang ada baik sedikit budi,

Tujuh

Ini Gurindam pasal yang ketujuh:

Apabila banyak berkata-kata,
Di situlah jalan masuk dusta.
Apabila banyak berlebih-lebihan suka,
Itulah landa hampirkan duka.
Apabila kita kurang siasat,
Itulah tanda pekerjaan hendak sesat.
Apabila anak tidak dilatih,
Jika besar bapanya letih.
Apabila banyak mencela orang,
Itulah tanda dirinya kurang.
Apabila orang yang banyak tidur,
Sia-sia sahajalah umur.
Apabila mendengar akan khabar,
Menerimanya itu hendaklah sabar.
Apabila menengar akan aduan,
Membicarakannya itu hendaklah cemburuan.
Apabila perkataan yang lemah-lembut,
Lekaslah segala orang mengikut.
Apabila perkataan yang amat kasar,
Lekaslah orang sekalian gusar.
Apabila pekerjaan yang amat benar,
Tidak boleh orang berbuat honar.

Delapan

Ini Gurindam pasal yang kedelapan:

Barang siapa khianat akan dirinya,
Apalagi kepada lainnya.
Kepada dirinya ia aniaya,
Orang itu jangan engkau percaya.
Lidah yang suka membenarkan dirinya,
Daripada yang lain dapat kesalahannya.
Daripada memuji diri hendaklah sabar,
Biar dan pada orang datangnya khabar.
Orang yang suka menampakkan jasa,
Setengah daripada syirik mengaku kuasa.
Kejahatan diri sembunyikan,
Kebaikan diri diamkan.
Keaiban orang jangan dibuka,
Keaiban diri hendaklah sangka.

Sembilan

Ini Gurindam pasal yang kesembilan:

Tahu pekerjaan tak baik, tetapi dikerjakan,
Bukannya manusia yaituiah syaitan.
Kejahatan seorang perempuan tua,
Itulah iblis punya penggawa.
Kepada segaia hamba-hamba raja,
Di situlah syaitan tempatnya manja.
Kebanyakan orang yang muda-muda,
Di situlah syaitan tempat bergoda.
Perkumpulan laki-laki dengan perempuan,
Di situlah syaitan punya jamuan.
Adapun orang tua yang hemat,
Syaitan tak suka membuat sahabat
Jika orang muda kuat berguru,
Dengan syaitan jadi berseteru.

Sepuluh

Ini Gurindam pasal yang kesepuluh:

Dengan bapa jangan durhaka,
Supaya Allah tidak murka.
Dengan ibu hendaklah hormat,
Supaya badan dapat selamat.
Dengan anak janganlah lalai,
Supaya boleh naik ke tengah balai.
Dengan kawan hendaklah adil,

Supaya tangannya jadi kapil.

Sebelas

Ini Gurindam pasal yang kesebelas:

Hendaklah berjasa,
Kepada yang sebangsa.
Hendaklah jadi kepala,
Buang perangai yang cela.
Hendaklah memegang amanat,
Buanglah khianat.
Hendak marah,
Dahulukan hujjah.
Hendak dimalui,
Jangan memalui.
Hendak ramai,
Murahkan perangai.

Duabelas

Ini Gurindam pasal yang kedua belas:

Raja mufakat dengan menteri,
Seperti kebun berpagarkan duri.
Betul hati kepada raja,
Tanda jadi sebarang kerja.
Hukum ‘adil atas rakyat,
Tanda raja beroleh ‘inayat.
Kasihkan orang yang berilmu,
Tanda rahmat atas dirimu.
Hormat akan orang yang pandai,
Tanda mengenal kasa dan cindai.
Ingatkan dirinya mati,
Itulah asal berbuat bakti.
Akhirat itu terlalu nyata,
Kepada hati yang tidak buta.

Tamatlah Gurindam yang duabelas pasal yaitu karangan kita Raja Ali Haji pada tahun Hijrah Nabi kita seribu dua ratus enam puluh tiga likur hari bulan Rajab Selasa jam pukul lima, Negeri Riau, Pulau Penyengat.

Sabtu, 02 Januari 2016

Penyair Ndeso yang Menasional (Bagian 2)

Penyair Ndeso yang Menasional (2)
Oleh Rg Bagus Warsono

Melekatnya penyair dan karyanya tidak sama persis dengan kepiawaian baca puisi atau banyaknya penampilan baca puisi oleh seseorang. Meski bisa saja sang penyair menjadi terkenal karena seringnya tampil baca puisi. Kepopulairan dari seringnya tampil baca puisi tidak seperti langgengnya sebuah karya cipta apalagi dibukukan. Jadi karya lebih dominan ketimbang ketenaran dari grafik penampilan baca. Kecuali talenta baca puisi itu dimiliki oleh penyair yang tidak saja memiliki karya hebat tetapi juga mampu tampil baca puisi yang memukau. Kita ambil contoh Rendra, disamping memiliki karya hebat juga baca puisinya membuat semua orang terpesona. Bahkan secara finansial honor hendra baca puisi lebih besar dari royaltinya sebuah buku antologi yang dipasarkan secara nasional. Oleh sebab itulah penulis dalam hal penyair yang menasional menitikberatkan pada karya penyair tersebut.

Diera net ini setiap orang bisa membuat daftar penyair, daftar sastrawan atau memasukannya pada situs-situs komersial dengan mengunggah data yang diinginkan. Bagi penulis itu sah-sah saja apabila si pengunggah memiliki bukti dan data yang dipegang. H B Jassin dan Korrie Layun Rampan telah memberikan contoh untuk tidak sembarang menentukan nama dalam pengelompokan penyair/sastrawan, sehingga sampai akhir hayatnya karyanya yang mengetengahkan nama penyair tetap menjadi referesi yang dipercaya. Jika Sosiawan Leak, Moh Moch Satrio Welang,Dimas Arika Mihardja, Bambang Widiatmoko, Kurniawan Junaedhiemengatakan nama penyair, itu benar dan dipercaya karena mereka adalah pelaku rekrutment puisi dari event -event nasional. Penulispun sejak 2011 memulai mendokumentasikan walau masih dalam taraf event kecil-kecilan disamping referensi lain.

Diera net juga menjadi kegelisahan para penyair muda berbakat karena simpang siurnya data yang dibuat para pengunggah daftar-daftar penyair sesuka hati. Sekali lagi bagi penulis itu sah-sah saja apabila si pengunggah memiliki bukti dan data yang dipegang dan dipertanggungawabkan. Karena telah banyak kebiasaan akademik yang ditinggalkan seperti krossing referensi, bukti yang dipegang dalam 'prasasti bentuk buku, atau media yang telah memenuhi stadar percaya. Kemudian kebiasaan baik seperti resensi dan bedah buku semakin jarang dan terakhir laporan hasil seminar yang juga jarang ada.

Sulit mengungkap semua penyair di propinsi tempat gudangnya Sastrawan, yang terkini dan menasional kita mengenal Ahmad Fuadi Abas . Tokoh ini mengingatkan sederet penyair sastrawan Sumatera Barat seperti Sutan Pamuntjak Nan Sati,Afrizal Malna, Ali Akbar Navis, Aman Datuk Madjoindo, Amran S.N., Anas Ma'ruf,Azwar Sutan Malaka, Carl Chairul, Chairul Harun, Darman Moenir, E.S. Ito, sastrawan, Hamid Jabbar, Idrus,
Irzen Hawer, Karim Halim, Leon Agusta, Lukman Ali, Marah Rusli, Motinggo Boesje, Rivai Apin, Rusli Marzuki SariaSariamin Ismail, Taufik Ismail,
Tulis Sutan Sati, Wisran Hadi, Zuber Usman, disusul kemudian penyair yang menasional terkini seperti Yusrizal K.W., penulis cerpen dan puisi;
Upita Agustine, penulis sajak; Raudal Tanjung Banua,Gus tf Sakai, penulis puisi, cerpen dan novel;Ali Akbar Navis, penulis novel;Adri Sandra, penyair, Penulis Buku Syair Terpanjang dari MURI;;Iyut Fitra, penyair Indonesia;Sastri Yunizarti Bakry, Soewardi Idris, Tamar Djaja, penulis roman;Zainuddin Tamir Koto, penulis sajak;Zelfeni Wimra, cerpenis, penyair, dan penggiat teater;Pinto Janir, penyair, penulis, wartawan, penulis lagu;Ragdi F. Daye, penulis cerpen dan puisi;Ray Rizal, sastrawan, penulis, wartawan; Umar Junus, penulis esai serta bayak lagi penyair asal Sumbar ini seperti masakan padang yang telah memberi rasa masyarakat di seluruh Tanah air. (dapat ditambahkan ......)

Sebelum menginjak ke propinsi selanjutnya penulis membuat puisi tentang dunia penyair berjudul "Dunia Penyair Itu" sedikit dapat memberi apresiasi tentang penyair , berikut puisinya:

Dunia Penyair.

Seperti tumbuhan pohon dalam hutan
Ada yang bermanfaat ada yang semak tak beguna
Ada yang tinggi rimbun dan mengayomi sesama ada yang terpencil tumbuh di atas batu.
Ada yang homogen dengan komunitasnya tersendiri ada yang unik dan langka
Ada yang sudah tua berbuah lebat dan ada yang baru tunas dengan kelopak kembang
Ada menjulang ada yang merambat mencari sandaran
Ada dirambati tumbuhan lain ada yang menjadi benalu
Ada yang beraroma khas ada yang berbau busuk bangkai
Ada yang berbunga indah namun ada yang berduri
Aku hanya tumbuhan ada di hutan penyair diantara heterogen hutan itu
Aku ingin menjadi pohon sono keling yang berguna sebagai kayu furniture Aku ingin menjadi bunga kantil dalam hutan yang mekar semerbak
Aku ingin menjadi durian menoreh yang nikmat dimakan
Atau aku menjadi rotan yang menjalar diantara semua pohon
Wanakaya, 15-7-14

Ternyata penyair itu memiliki beraneka keunikan dalam berkarya seperti juga masyarakat pada umumnya .

Ada banyak penyair dari Sumatera Selatan sepeninggal Syamsu Indra Usman (Alm) . Taufik Wijaya adalah penyair yang menasional lewat “1001 Tukang Becak Mengejarku”, kemudia ada Anwar Putra Bayu. Di deretan lain nama-nama seperti Syamsul Noor Al-Sajidi , Ade Muchklis T, Jalius Marbe, Dimas Agus Pelaz, JJ. Polong, Tommy, Toton Dai Prmana, Yunen Asmara, Zulkifli Hardy, dan Yos El Yass sudah tak asing dan melekat dengan Sumatera Selatan. Juga terdapat sederet penyair yang tidak bisa dilupakan seperti
 AL Sadjidi, Antonarasoma, Warman. P, Nurhayat Arif Permana, Ahmad Rapani Igma, Firdhamoest (M. Rahman Arpan), Ine Somad .

Mengenal Aloysius Slamet Widodo, Penyair Angkatan 2000

Aloysius Slamet Widodo, lahir di Solo, 29 Februari 1952, Penyair ini dikenal karena puisi - puisi mbeling-nya yang membuat orang tertarik untuk membaca. Karya antara lain  Potret Wajah Kita (Jakarta, 2004),Bernapas Dalam Resesi (Jakarta, 2005),Kentut (Jakarta, 2006),Selingkuh (Precil Production, Jakarta, 2007), Namaku Indonesia (Pena Kencana, Jakarta 2012). Penyair ini tinggal di Jakarta












puisinya adalah :
Slamet Widodo :
Republik Dagelan
Tersebutlah di Republik Dagelan
Dewan Perwakilan Rakyatnya Dagelan
seorang dengan rekam jejak yang kelam
bisa saja diangkat jadi ketua Dewan
ya .....namanya juga Republik Dagelan !
Ketua Dewan boleh menjual diri
manfaatkan jabatan tuk kepentingan diri
pelaku kejahatan dilindungi
pelapor kejahatan dihakimi
dituntut pencemaran nama baik ....masuk bui
ya....namanya juga Republik Dagelan!
Mahkamah Kehormatan Dewan
menjadi Mahkamah Kehormatan Dagelan
badan yang tugasnya menjaga kehormatan
boleh kehilangan kehormatanya
bila ada yang menggangu kursi
urusan etika boleh dilanggar
selama membahayakan koalisi
MKD boleh kehilangan kehormatan
selama ada rente yang didapatkan
bahkan menjadi lontepun dihalalkan
ya ....namanya juga Republik Dagelan!
Yang Mulia ............
hamba saluut keberanian Paduka
melanggar etika dengan santun didepan mata
hamba saluud keberanian paduka
mempertontonkan opera sabun dengan telanjang
hamba saluud keberanian paduka
melecehkan rakyat dengan tegas lugas dan tega
Yang Mulia ........
hamba salud keberanian paduka
berani dimaki .... berani dikutuk
berani diludahi .... berani dibajing bajingkan
tak semua orang punya mental seperti paduka
bisa ceria menutup mata
bisa tenang menulikan telinga
bisa relax mengingkari hati nurani
bisa tertawa urat malunya putus
dan wajah paduka tidak berubah
kelihatan kalem dan biasa saja
Yang Mulia adalah makluk langka
seperti bukan manusia !
Jakarta,10 Desember 2015

dari Antologie Sakarepmu

Jumat, 01 Januari 2016

"Penyair Ndeso yang Menasional" (bagian 1)

"Penyair Ndeso yang Menasional"
Rg Bagus Warsono

Menjadi penyair gak usah pergi ke kota apalagi ikutan audisi . Nulis aja di rumah sambil momong 'puthu. Bisa jadi sukses tampa disadari. Karena karya-karya yang monumental. Karena zaman bukan lagi zaman kuda gigit besi tetapi zaman 'gang kecil dibeton, zaman 'pesawat tv setebal triplex, zaman 'sepur pakai tiket , zaman pedagang sayur cantik seperti artis, zaman kopi zahe tapi gambarnya saja rasa jahe, zaman hp bukan zaman iterlokal,telegram di kantor telkom.
Jangan dikira mereka yang sukses dengan karya menasional mudah begitu saja digapai. Banyak liku berliku untuk menjadi penyair bek'en, tetapi dia tidak ndeso walau orang ndeso, tidak 'Ge eR, tapi percaya diri. jadilah apa yang diidamkan sukses cemerlang, mengapolo sampai bintang.
Dunia sastra tak mengenal batas, apalagi asal dilahirkan , kampung klutuk, kota kecil, nun jauh dari ramainya angkutan kota, penyair ndeso melabrak batas kota dan bertengger nama dan karyanya menasional .
Apalagi zamam 'modem asal baterai isi penuh jadilah bak bintang 'gubuk meceng' (sewaktu-watu terlihat, sewaktu-waktu bersinar, sewaktu-waktu ketutup mendung seperti musim hujan ini) . Tapi dia dan karyanya tidak demikian karena dia memang dari gugusan andromeda yang terus berkobar.
Bukan hanya laki-laki , perempuan ndeso juga. Orang tak menyangka, ibu yang suka mecuci baju di sungai atau yang tiap hari jualan dipasaran ternyata seorang penyair terkenal. Karyanya dihomati oleh banyak kritikus sastra, wajahnya mengisi berbagai situs baik yang amatiran maupun situs benua. Penyair ndeso kini tak lagi ndeso.
Menasional itu macam-macam seperti Tan Lioe Ie, ia menulis puisi tentang masa depan (mengikuti jejak pujangga besar Jayabaya dalam fersi lain) ada ada lagi karena karyanya yang monumetal sehingga menjulang, juga karena ketekunannya dalam komitment sebagai penyair yang memiliki jati diri dan ke-khas-an tersendiri.
Yang karena karya monumental kita mengenal Toto St Radik dengan "Indonesia setengah tiang",Kemudian Oka Rusmini karena "Putu Menolong Tuhan" , ada Nanang Suryadi karena "Negeri Menangis".
Menjadi penyair yang menasional tetep direkomendasi orang lain lebih dari seorang, lembaga dan pembaca serta pengakuan dari lembaga/ perguruan yang berkecimpung di bidang sastra, bukan oleh situs-situs yang bisa dipesan, apalagi penobatan kepanitiaan yang mendapat sponsor. Terutama sekali adalah pengadilan publik, publik (pembaca)-lah yang memutuskan vonisnya. Kini telah banyak karya sastra bagus yang perlu mendapat apresiasi . Mereka ternyata berasal dari berbagai pelosok nusantara. Penyair 'ndeso yang berkarya bukan main idahnya yang mewarnai jagat sastra Tanah Air.
Untuk memulai menyebut penyair ndeso yang menasional perlu sekali dibuat batasan apa/siapa sih penyair yang disebut menasional ? Penulis mencoba membuat batasan yang patokannya adalah karyanya bukan manusianya karena kata penyair melekat dengan karyanya itu. Lalu batasan ini penulis memberi tanda kutip 'karya yang memiliki berbagai aspek untuk dapat disebut nasional yakni: karya tersebut belum ada sebelumnya, sesuatu yang baru, unik, monumental, bermutu dan memiliki mafaat sebagai bacaan nasional (universal). Tentu saja akan mendapat bantahan dari berbagai pihak, ini dimaksudkan agar ada dasar yang bisa dipertanggung jawabkan.
Meski dari ndeso ia telah membuahkan karya monumental yakni karya yang slalu dikenang yang melekat atara karya dan penyairnya meskipun salah satunya yang disebut. Sebagai cotoh, misalnya ketika memyebut 'Kerawang-Bekasi, maka serta merta orang membayangkan pengarangnya Chairil Anwar. Atau menyebut 'Gadis Peminta-minta langsung orang mengingat Toto Sudarto Bachtiar.
Menyisir penyair ndeso yang menasional di seluruh nusatara ini tidak begitu mudah, tentu saja ada yang terlewatkan. Kita mulai dari Aceh tempat kelahiran penyair Lesik Keti Ara (LK Ara), seoranf pelopor penyair Aceh. Mereka adalah Sulaiman Juned ,Soerya Darma Isman, Moritza Thaher, Udin Pelor, Muhrain, Herman RN, Rahmi Soraya ,ZulKirbi. Sumut M Raudah Jambak.
Sedang di Sumatera Utara sebagai tempat banyak sastrawan nasional terkenal seperti Amir Hamzah, Amal Hamzah, Sanusi Pane, Armijn Pane, Bokor Hutasuhud, Hamsad Rangkuti kita dapat menyebut beberapa nama seperti : penyair Anwar bayu Putra yang terkenal berkat Ritus Pisau.
Anwar Bayu Putra
Dari Riau dan kepulauan Riau banyak sekali penyair populair saat ini, bahkan yang 'ter sulit dibedakan, tetapi ada yang bertegger papan atas seperti Sastra Riau, dan Idrus Tintin, Peraih Bintang Budaya Parama Dharma 2011 ini dikenal sebagai pembaharu seni teater Melayu khususnya di Riau. Dalam berkarya, ia sanggup menjadikan hal-hal yang tragedik menjadi komedik, disamping itu banyak lagi yang mulai bersinar terang.Sedang penyair tenar lain Hasan Junus telah meninggalkan kita semua.
.Adalah Dimas Arika Mihardja yang terkenal lewat "Sang Guru Sejati ini mampu memotifasi penyair lain di Jambi , sebut misalnya,Em Yogiswara dan Buana K. S yang mulai menjanak namanya. Disamping itu ada Ari Setya Ardhi dan Acep Syahril, penyair terkenal asal Jambi. Jambi kini mulai terlihat deras melahirkan penyair-penyair kondang
.................(bersambung)

Selasa, 29 Desember 2015

Penyair Cantik dengan Karya Cantik

Penyair Cantik dengan Karya Cantik
Rg Bagus Warsono

Cantik adalah keberuntungan, itu kata bayak orang. Bahkan menurut banyak penelitian, orang cantik bernasib baik. Bukti itu diperlihatkan gejalanya di zaman ini, karena cantik memiliki daya tarik. Penulis tidak berurusan dengan nasib manusia karena itu urusan Allah. Sekarang kita telaah apakah cantik memiliki keistimewaan lain disamping wajah? Kita buktikan keistimewaan dalam hal olah pikir terutama di karya sastra terkini apakah wanita cantik menjadi seorang penyair hanya bermodalkan wajah cantik atau berpenampilan sexi?

   Menjadi penyair sangatlah mudah, termasuk bagi perempuan yang masih muda, modalnya cuma membaca dan menulis, porsinya tentu lebih banyak membaca, membaca bacaan beraneka ragam dan jenisnya, mereka yang telah memiliki nama besar adalah perempuan-perempuan yang akrab dengan buku. Dari membaca ini wawasan dan ide kreatif baru muncul dan bagi mereka yang pandai 'membaca situasi dapat membuahkan karya hebat, bahkan luar biasa.

   Penulis tidak mengharap diakhir apresiasi tulisan ini perempuan penyair medadak merias diri semakin tambah cantik. Sebuah pembuka tulisan agar tidak menjadi malapetaka penulis, sebab bila salah kata, bisa jadi rumahku dilempar batu ibu-ibu penyair yang doeloe memang cantik karena termakan usia. Atau lebih tragisnya penulis disangka diskrimiatif. Bukan itu maksudnya tetapi lebih kepada sebuah telaah apakah penyair cantik juga berkarya sastra yang juga cantik? atau sebaliknya mereka terjun ke dunia tulis menulis hanya cari populeritas semata.

   Tentu ketika sicantik tampil, semua mata yang berada di perhelatan sastra itu tertuju pada si cantik. Terutama mata-mata laki-laki yang "ijo" ketika liat cewek cantik (penulis sih tidak, maksudnya tidak mau kalah sama yang muda). So pasti mereka bukan mengapresiasi baca puisi tetapi lebih terhadap cantiknya itu. Sebuah dukungan nilai perhatian penonton yang dapat mempengaruhi penilaian atas penampilan baca puisi. Jadi sicantik sudah unggul dalam peraihan apresiasi orang lain. Nah sampai disini jangan komen dulu ya. Mari kita buka fakta-fakta itu.

   Penyair adalah penulis yang slalu dalam 'pecarian diri dalam karyanya untuk menemukan kepuasan profesi, termasuk perempuan penyair muda nan jelita. Ketika Laksmi Pamuntjak, Dyah Merta,Ratna Ayu Budhiarti,Ayu Utami, Asma Nadia yang telah dahulu populair menemukan jati diri sebagai perempuan penyair maka pada saat itulah sebuah keberhasilan proses pencarian karya sejati ditemukan sehingga memetik baginya sebuah tangga awal keberhasilan sebagai penyair populair.

   Proses 'pencarian itu memberikan barbagai tawaran untuk selanjutnya ditentukan pilihan sebagai bentuk khas bagi seorang seniman sehingga melekat antara nama dan karyanya.
Kekurangan pemahaman terhadap 'membaca dalam arti luas membuat pandangan perempuan penyair muda bartahan pada posisi penggembira. Sebuah keadaan 'membaca pandangan yang keliru, padahal tokoh tokoh perempuan penyair yang telah populair itu jugu telah melakukan proses pembentukan jati diri dengan berliku. Mereka ada populair karena membuat novel atau cerpen, sehingga menguatkan sosok perempuan penyair yang tiperhitungkan di Indonesia.

   Kita mengenal  tokoh-tokoh  perempuan penyair luar negeri  sebut saja misalnya, Jackie Collins (4 October 1937 – 19 September 2015) penulis Inggris, Nimah Ismail Nawwab dari Malaysia, Ayat al Qurmezi dari Bahrain, Alejandra Pizarnik (29-4-1936 – 25-9-1972) dari Argentina, mereka memantapkan kepenyairannya lewat novel yang mejadi best seller menembus pasar dunia. Jadi dalam hal ini untuk mecapai tangga kepopulairan tidak mesti menulis puisi tetapi menulis apa saja termasuk novel dan cerpen atau esai untuk memantapkan kekuatan ‘penyatuan nama dan karya seseorang yang memiliki ke khas-an tersendiri.

   Gairah menjadi perempuan penyair semakin tampak bersemangat dalam lima tahun belakangan ini (mulai 2010) dipacu oleh facebook dan jaringan situs lain, memberikan komunikasi dan percepatan 'daya kenal. Nama dan wajah cantik mereka membuat menelan liur bagi pemirsa yang berteman (termasuk juga penulis). Namun sungguhpun demikian (sah-sah saja) terdapat sosok-sosok perempuan penyair yang enggan menampilkan wajah ayu-nya. Perempuan-perempuan penyair ini nyaris tanpa gambar wajah dan terkadang nama pun disamarkan tetapi karya mereka sangat bagus dan patut diapresiasi luas.

   Bagaimana tidak tertarik, sudah cantik penyair pula. Sebuah keunggulan budi pekerti seorang perempuan yang didambakan laki-laki bujangan (kalau penulis merasa terlambat). Sebab penyair sejati memiliki pribadi baik dan talenta yakni bersyair itu. Isi syair yang menyentuh perasaan dan wawasan membuat sebuah kepribadian yang diharapkan. Tentu maksudnya tidak demikian, jati diri perlu ditampilkan agar dapat dikenal luas sebab penyair . Karena penyair adalah publik figur , seniman dan bisa dianggap sebagai artis yang memiliki kekuatan perhatian masyarakat dan fand yang banyak.

Penulis tak dapat melontarkan nama si cantik satu per satu (dengan bukti karya puisi yang dipertanggung-jawabkan). seperti nama-nama tak asing seperti Nana Riskhi Susanti, Inggit Putria Marga, Laksmi Pamuntjak,Ayu Cipta, Nova Riyanti Yusuf, Ning Ida,Ratna Ayu Budhiarti, Sendri Yakti,Umi Azzurasantika,Asma Nadia, Dyah Merta,Retno Iswandari, Dewi ‘Dee’ Lestari,Inggit Putria Marga , Akidah Gauzillah dan lainnya (bisa ditambahkan) yang telah lebih mapan sebagai penyair.
, Jackie Collins (4 October 1937 – 19 September 2015) penulis Inggris
 Nimah Ismail Nawwab dari Malaysia

    Kemudian di jajaran cantik muda belia kita kenal Fyra Fatima, Serüni Unié, Fasha Imani Febriyanti, Yarica Eryana, Mita Supardi a.k.a., Rai Sri Artini, Melur seruni, Rizky Endang Sugiharti, Fitri Merawati, Anggi Putri W, dan banyak lagi (bisa ditambahkan karena keterbatasan wawasan dan kurang hafal dan tahu orangnya lupa namanya) mereka tubuh membuat mekarnya sastra Indonesia.

   Tak lupa, penulis juga harus mengetengahkan perempuan penyair yang tetap cantik baik orangnya maupun karyanya yang makin sangat cantik diusia yang sangat 'mantap, Namun sebelumnya mohon maaf tidak disebut dalam artikel ini , dan tentu dalam tema yang berbeda. Mereka perempuan penyair yang tetap cantik dan mantap walau sudah bercucu adalah tokoh perempuan penyair yang menjadi inspirator bagi yang muda-muda.

   Menyadari dampak yang ditimbulkan dari artikel ini pasti ada, seperti tulisan lain yang lalu-lalu, kecam, hujat dan kritik bahkan mungkin lebih parah terhadap diri penulis adalah hal biasa. Bukankah menjadi seorang penulis termasuk penyair harus siap menghadapi semua itu. Mereka yang telah mapan dan terkenal adalah mereka yang mengalami perjalanannya yang tak mudah begitu saja , sehingga karya mereka sangat cantik ditambah penulisnya pun cantik.

Indramayu, 29 Desember 2015 
rg bagus warsono kurator di HMGM.

Selasa, 15 Desember 2015

Kurikulum 2013 Tetap Bertahap Selesai Pada 2020

JAKARTA - Penerapan Kurikulum 2013 tetap dilaksanakan bertahap. Sesuai rencana, penerapan menyeluruh pengganti Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006 tersebut akan rampung pada 2020.Batas waktu penggunaan kurikulum tahun 2006 adalah paling lama sampai dengan tahun pelajaran 2019/2020
Demikia ditegaskan Mendikbud Anies Baswedan usai rapat kerja dengan Komisi X DPR RI, tadi malam. Pernyataan tersebut sekaligus bantahan atas beredarnya kabar di berbagai media sosial yaitu mulai tahun depan semua sekolah akan kembali memakai KTSP. Selanjutnya Mentri Anies Baswedan menelaska bahwa  pemerintah tidak berencana memakai kembali Kurikulum 2006. Penerapan dua kurikulum sendiri dimaksudkan sebagai transisi sebelum semua sekolah memakai Kurikulum 2013. Ketentuan ini juga sudah diatur dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 160 Tahun 2014 tentang Pemberlakuan Kurikulum Tahun 2006 dan Kurikulum 2013.

Apa itu Kurikulum

Kurikulum adalah perangkat mata pelajaran dan program pendidikan yang diberikan oleh suatu lembaga penyelenggara pendidikan yang berisi rancangan pelajaran yang akan diberikan kepada peserta pelajaran dalam satu periode jenjang pendidikan. Penyusunan perangkat mata pelajaran ini disesuaikan dengan keadaan dan kemampuan setiap jenjang pendidikan dalam penyelenggaraan pendidikan tersebut serta kebutuhan lapangan kerja.

Lama waktu dalam satu kurikulum biasanya disesuaikan dengan maksud dan tujuan dari sistem pendidikan yang dilaksanakan. Kurikulum ini dimaksudkan untuk dapat mengarahkan pendidikan menuju arah dan tujuan yang dimaksudkan dalam kegiatan pembelajaran secara menyeluruh.

Pemerintah tidak memiliki rencana untuk kembali menerapkan K-2006 secara serentak pada 2016 mendatang.

Setelah informasi pemerintah kembali akan memberlakukan K-2006 menyebar di jejaring sosial Facebook, Twitter dan media sosial lainnya,anggota DPR yang hadir rata-rata mempertanyakan hal tersebut kepada  Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan Dengar Pendapat antara Komisi X dengan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Selasa, 15 Desember 2015.
Menyikapi isu tersebut, Anies menegaskan isu tersebut tidak benar. Pemerintah tidak memiliki rencana untuk kembali menerapkan K-2006 secara serentak pada 2016 mendatang.

“Itu informasi tidak benar, saat ini informasi beredar tanpa ada akurasi dan kami akan menindak tegas penyebar informasi tersebut, akan dipidanakan,” kata Anies pada rapat dengar pendapat di Gedung Nusantara I, DPR MPR, Jakarta, Senin (14/12) petang.

Puisi Ibu di hari Ibu,by Java Atik Ibuku tercantik dan tercinta.

Tiada sekalipun kudengar suara keluh kesahmu wahai
Ibuku tercantik dan tercinta.
Aku sadar-aku sadar (sambil berteriak setengah kesurupan)
beban berat dipundakmu tidak seharusnya Ibu yang memikulnya.
Aku-akulah(teriak lagi)anakmu yang belum mampu menjadikanmu sebagai ratu.
Ibu maafkanlah anakmu ini yang belum sanggup menggendong
Ibu dan perjuanganmu yang gigih sungguh tiada tanding tiada banding.
Ibu ooh ibu(nada lirih)engkau benar-benar idolaku permata hatiku

Eri Syofratmin :Ibu tak letih

Eri Syofratmin

                                Ibu tak letih

Ibu tak letih
letihnya
kau menyulam
kepahitan hidup
demi anak-anak terkasih

Minggu, 13 Desember 2015

Puisi Ibu di Hari Ibu :Ari Casmari dalam Sapu"....nang....sapu"...nok.....

Sapu"....nang....sapu"...nok.....

nang...nok...
biarin ragaku renta....
biar usiaku lanjut...
biarpun rambutku mimutih......
tapi smangatku sll optimis...
karena di sana allah menebarkan rizqi buat hamba nya.....
kan ku sapu rizqi itu buat mempertahankan hidupku....
sapu"....nang....sapu"...nok.....

Puisi Ibu di Hari Ibu : Assa Kartika dalam Geliatmu tak kunjung redup

 Geliatmu tak kunjung redup

Menapaki sisa waktu
Dengan ayunkan seikat sapu
Aku cemburu
Pada pijar matamu
Memburu rizki tanpa rahu
milik Tuhanmu

Puisi Ibu di Hari Ibu :Sri Sunarti Poetry‎ dalam PEREMPUAN-PEREMPUAN TANGUH


Sri Sunarti Poetry‎













Perempuan-peremppuan Tangguh

perempuan -perempuan ilalang
bertelanjang kaki,menyapa pagi
menuju terjalnya pematang
bekerja membalik tanah
menjemput asa, seluas hati
perempuan-perempuan perkasa
berselendang di sudut-sudut pasar
mengangkut beban seberat harapannya
upah tak seberapa cukup baginya
menjelang subuh hingga ashar
bergulat dengan peluh dan kumuh di sepanjang
jalan yang dilaluinya
perempuan-perempuan kasih
merajut jaring,menenun, meraih mimpi
di balik tembok perababan
tetapi air susunya tetap menetes di
di bibir anak-anaknya
tak lepas dari kasih suaminya
tak ada keluh kesah
tak tergerus oleh waktu dan arus global
yang meracuni di setiap tarikan nafasnya
perempuan-perempuan di kitaran airmata
kekerasan,penyiksaan dalam rumah tangga
tetap bertahan demi alasan anak bangsa
mungkin rasa cinta yang masih tersisa
dan sejumput asa di antara kerasnya
beban hidup yang semakin menggila
mereka perempuan-perempuan tangguh
menyapa mentari hingga menjelang senja
menebar asa sepanjang masa
tak ada keluh kesah
di setiap saat selalu ada
di setiap duka melipur lara
di setiap sudut hati terselip doa
ketulusan , kejujuran ,dan kesetian
demi anak-anak tercinta
demi doa seorang perempuan
perempuan yang engkau sebut Ibu

Karya:Sri Sunarti, Des 2015

Puisi Ibu di Hari Ibu :‎ Febrianiko Satria‎ dalam Sembilu Kenangan

SEMBILU KENANGAN

Ibu adalah sembilu kenangan
tentang peluh yang diam
tentang keluh yang terpendam
tentang dekap sepanjang hayat
tentang jarum jam yang terus berdetak
tentang sejuta nafas yang terus bertumpu di punggungnya

Jambi, 12 Desember 2015

Puisi Ibu di Hari Ibu : Wardjito Soeharso dalam : Tak kenal lelah

Keringat yang deras mengucur
Lengket baju dengan kulit
Beban berat di punggung
Jalan setapak berbatu hitam
Selaras kulit tubuhmu yang legam
Semua terpancar dari wajahmu yang tegar
Sorot matamu yang tetap pendar
Kau terus saja melangkah
Tak kenal lelah
Tak mau kalah

 Ada beberapa pilihan kata Mas Wardjito Soeharso yang unggul seperti../ Lengket baju dengan kulit/... satu baris yang memiliki makna panjang. jempol tentunya ,

Puisi Ibu di Hari Ibu : Bhe She : Ingatanku hanya sepiring nasi


Matahari sinarnya jatuh di pipi
Yang kubiarkan mengeriput
Sebab lupa cara bersolek
Ingatanku hanya sepiring nasi
Untuk esok hari
Hingga keningku melintang garis
Garis nasib yang harus kujejak
Untuk selalu mengingatNYA
Karena tangis yang rutin kusampaikan..

 Puisi yg dibuat spontanitas menunjukan kemahiran berbahasa dari olah pikir yg sangat cepat yang dapat langsung direkam dalam bahasa tulis, Bhe She cukup piawai

Jumat, 27 November 2015

Tegal patut dibanggakan sebagai gudang sastrawan Indonesia

Hasil gambar untuk teko kuningan talang tegal
‘Tegal pancen laka-laka ‘ itulah barangkali sebutan untuk daerah satu ini. Tegal memang menyimpan banyak potensi seni budaya. Kehadirannya tidak saja meramaikan dunia seni budaya tetapi juga telah mewarnai  seni budaya  Indonesia. Masyarakat  tegal demikian diakui sebagai masyarakat yang kreatif dan penuh karya cipta. Tidak saja dunia industry teknik sederhana tetapi juga di dunia seni budaya. Khusus seni sastra, Tegal patut  dibanggakan sebagai gudang sastrawan Indonesia dewasa Ini. Sastrawan-sastrawan Tegal kehadirannya telah mampu menunjukan eksistensinya sebagai sastrawan yang mampu ‘bertarung’ di dunia sastra Indonesia, dimana dewasa ini telah tumbuh ratusan bahkan ribuan sastrawan-sastrawan Indonesia atau disebut sastrawan nusantara.
Tegal sepertinya tak mau kalah dengan daerah lain, sastrawan Tegal telah mampu menasional. Kesan ini bukan berarti seperti kebanyakan sastrawan menulis buku, mereka telah berjuang dalam kariernya sebagai sastrawan dengan liku kehidupan  dan caranya tersendiri  yang berbeda-beda. 

Kamis, 26 November 2015

UKG, Sarana Bercermin Guru

Tanggal 9 sampai dengan 27 November 2015 Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan akan melaksanakan Uji Kompetensi Guru (UKG). UKG tahun 2015 akan diikuti oleh semua guru dalam jabatan baik guru PNS maupun bukan PNS dengan jumlah jenis soal yang akan diujikan adalah 192 mata pelajaran/guru kelas/paket keahlian/BK. UKG tahun 2015 akan dilakukan baik secara online maupun secara offline. UKG online dilaksanakan di wilayah-wilayah yang bisa mengakses internet, sedangkan UKG offline dilaksanakan di wilayah-wilayah yang sulit atau tidak memiliki akses internet seperti di daerah pedalaman atau daerah terpencil. Perolehan hasil UKG pada masing-masing guru menjadi bagian dari penilaian kinerja guru, oleh karena itu sesuai dengan prinsip profesional guru akan mengikuti UKG pada mata pelajaran sesuai dengan sertifikat pendidik dan jenjang pendidikan yang diampunya. Disamping itu, hasil UKG juga digunakan sebagai bahan pertimbangan kebijakan dalam pemberian program pembinaan dan pengembangan profesi guru serta pemberian penghargaan dan apresiasi kepada guru. Selain untuk memetakan kompetensi guru, UKG juga sebagai bentuk kontrol agar orang tua dan peserta didik mendapatkan layanan pendidikan yang berkualitas, membangun budaya mutu di kalangan guru, dan memastikan kelayakan guru dalam melaksanakan tugas sesuai dengan standar yang telah ditetapkan. Menjelang UKG tahun 2015, sempat muncul isu atau rumor bahwa hasil UKG akan dijadikan sebagai dasar pencabutan Tunjangan Profesi Guru (TPG), tetapi hal ini telah dibantah oleh Dirjen Guru dan Tenaga Kependidikan, Sumarna Surapranata yang mengatakan bahwa UKG tidak ada kaitannya dengan masalah pencabutan TPG. Sesuai dengan tujuannya, UKG hanya untuk memetakan kompetensi guru khususnya pada pedagogik dan kompetensi profesional serta sebagai dasar pembuatan kebijakan pembinaan dan pengembangan profesi guru. Rencananya, program peningkatan kompetensi guru pasca UKG dilaksanakan sesuai level berdasarkan hasil UKG. Nilai rata-rata UKG tahun sebelumnya sebesar 4,7.  Tahun ini, terget nilai rata-rata UKG sebenar 5,5 dan tahun 2019 ditargetkan nilai rata-rata UKG sebesar 8,0. Dengan demikian, guru tidak perlu khawatir jika hasil UKG-nya rendah, karena justru nantinya diprioritaskan mendapatkan pembinaan dari pemerintah. Mendikbud Anies Baswedan mengatakan bahwa UKG harus digunakan sebagai sarana “bercermin” bagi guru. Ketika seseorang bercermin di depan kaca, tentunya apa yang muncul pada cermin sesuai dengan aslinya. Artinya, hasil UKG mencerminkan kemampuan guru yang sebenarnya. Jangan sampai ada pribahasa “Buruk muka cermin dibelah,” yang artinya menyalahkan orang atau hal lain meskipun sebenarnya dia sendiri yang salah. Maksudnya, ketika nilai UKG-nya rendah, jangan sampai guru mencari-cari alasan atau menyalahkan pihak lain. Walau demikian, masih tersisa pertanyaan apakah soal-soal UKG tersebut diujicobakan terlebih dahulu? Apakah sudah dijamin vailiditas dan reliabilitasnya? Karena Penulis mendengar keluhan dari guru-guru yang mengikuti UKG tahun sebelumnya yang mengatakan bahwa bahwa soal-soal UKG ada yang kurang jelas, redaksinya terlalu panjang sementara waktu untuk mengerjakan terbatas, kurang nyambung antara soal dan pilihan jawaban, gambar yang tidak muncul di layar monitor, dan sebagainya, karena soal yang valid dan reliabel akan melahirkan hasil yang valid dan objektif juga. Untuk menjamin UKG berjalan lancar, aman, dan sukses, pemerintah harus benar-benar mempersiapkan berbagai infrastruktur penunjangnya seperti Tempat Uji Kompetensi (TUK), ketersediaan dan kelayakan komputer, akses internet yang stabil, dan operator yang bertugas melayani berbagai kebutuhan UKG di TUK. UKG adalah sarana bagi guru merefleksikan sejauhmana kompetensi yang dikuasainya. Guru tidak perlu takut atau khawatir dengan UKG. Guru juga tidak perlu malu jika nilai UKG-nya rendah, tetapi justru perlu melakukan introspeksi diri, dan menindaklanjutinya peningkatan profesionalismenya. Dengan demikian, akan terbangun pengembangan keprofesian berkelanjutan dan akan tercipta budaya mutu di kalangan guru. UKG merupakan salah satu bentuk upaya meningkatkan mutu pendidikan khususnya mutu guru, karena pemerintah menyadari peran guru sangat penting dalam sistem pendidikan nasional. Guru adalah ujung tombak dalam peningkatan mutu pendidikan. Guru yang berkualitas akan melahirkan lulusan yang berkualitas. Selamat mengikuti UKG.

Selasa, 24 November 2015

Meriah Peringatan Hari Guru ke-70 tahun 2015 di Kabupaten Indramayu



Salah satu rangkaian kegiatan HUT PGRI ke-70 PD II PGRI Kabupaten Indramayu adalah gerak jalan santai yang diikuti sekitar 20.000 keluarga besar PGRI Kab. Indramayu pada 21 Nofember 2015. Tampak kedua dari kanan Hj Anna Shopanah Bupati Indramayu memberikan selamat jalan kepada peserta jalan santai, didampingi Ketua DP II PGRI Indramayu, Dr. H Suhaeli , Kepala Sub Dinas Pendidikan Dasar, Drs. H Jahirin, dan Sekretaris Dinas Pendidikan Kab. Indramayu, Dra. Hj Sri Bekti , MSi. (foto rg bagus warsono)

Kamis, 19 November 2015

Mengenal Tokoh Penyair Sakarepmu


 Samsuni Sarman

Dewa Putu Sahadewa


 Agus Chaerudin

 Eddy Mns Soemanto

 Wardjito Soeharso
 Heru Mugiarso

 Sofyan Rh Zaid

 Budhi Setyawan

 Ardi Susanti
Salimi Ahmad

Rg Bagus Warsono

Selamat Jalan Korrie Layun Rampan , Sastrawan Indonesia Produktif


Korrie Layun Rampan dilahirkan di Samarinda, Kalimantan Timur, 17 Agustus 1953 – 19 Nofember 2015  Ayahnya bernama Paulus Rampan dan ibunya bernama Martha Renihay- Edau Rampan. Korrie telah menikah dengan Hernawati K.L. Rampan, S.Pd. Dari pernikahannya itu Korrie dikarunia enam orang anak.
Alamat : Karang Rejo, RT III Kampung Sendawar Kecamatan Barong Tongkok Kabupaten Kutai Barat Kalimantan Timur 75576 Kotak Pos 99 Barong Tongkok.
Telepon : 081520936757
Faksimile : (0545) 41278, 41501
Semasa muda, Korrie lama tinggal di Yogyakarta. Di kota itu pula ia berkuliah. Sambil kuliah, ia aktif dalam kegiatan sastra. Ia bergabung dengan Persada Studi Klub-- sebuah klub sastra-- yang diasuh penyair Umbu Landu Paranggi. Di dalam grup ini telah lahir sejumlah sastrawan ternama, seperti Emha Ainun Nadjib, Linus Suryadi A.G., Achmad Munif, Arwan Tuti Artha, Suyono Achmad Suhadi, R.S. Rudhatan, Ragil Suwarna Pragolapati, Teguh Ranusastra Asmara, Iman Budhi Santosa, Suminto A. Sayuti, Naning Indratni, Sri Setya Rahayu Suhardi, Slamet Riyadi, Sutirman Eka Ardhana, B. Priyono Sudiono, Saiff Bakham, Agus Dermawan T., Slamet Kuntohaditomo, Yudhistira A.N.M. Massardi, Darwis Khudori, Jabrohim, Sujarwanto, Gunoto Saparie, dan Joko S, Passandaran.
Pengalaman bekerja Korrie dimulai ketika pada 1978 ia bekerja di Jakarta sebagai wartawan dan editor buku untuk sejumlah penerbit. Kemudian, ia menjadi penyiar di RRI dan TVRI Studio Pusat, Jakarta, mengajar, dan menjabat Direktur Keuangan merangkap Redaktur Pelaksana Majalah Sarinah, Jakarta. Sejak Maret 2001 menjadi Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi Koran Sentawar Pos yang terbit di Barong Tongkok, Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur. Di samping itu, ia juga mengajar di Universitas Sendawar, Melak, Kutai Barat, Kalimantan Timur.
Dalam Pemilu 2004 ia sempat duduk sebagai anggota Panwaslu Kabupaten Kutai Barat, tetapi kemudian mengundurkan diri karena mengikuti pencalegan. Oleh konstituen, ia dipercayakan mewakili rakyat di DPRD Kabupaten Kutai Barat periode 2004-2009. Di legeslatif itu Korrie menjabat sebagai Ketua Komisi I. Meskipun telah menjadi angota DPRD, Korrie tetap aktif menulis karena tugasnya sebagai jurnalis dan duta budaya. Pekerjaan itu pula yang menjadikan Korri kini bolak-balik Kutai Barat--Jakarta. Bahkan, ia sering berkeliling ke berbagai daerah di tanah air dan melawat ke berbagai negara di dunia.
Sebagai sastrawan, Korrie dikenal sebagai sastrawan yang kreatif. Berbagai karya telah ditulisnya, seperti novel, cerpen, puisi, cerita anak, dan esai. Ia juga menerjemahkan sekitar seratus judul buku cerita anak dan puluhan judul cerita pendek dari para cerpenis dunia, seperti Leo Tolstoy, Knut Hamsun, Anton Chekov, O'Henry, dan Luigi Pirandello.
Novelnya, antara lain, Upacara dan Api Awan Asap meraih hadiah Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta, 1976 dan 1998. Beberapa cerpen, esai, resensi buku, cerita film, dan karya jurnalistiknya mendapat hadiah dari berbagai sayembara. Beberapa cerita anak yang ditulisnya ada yang mendapat hadiah Yayasan Buku Utama, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, yaitu Cuaca di Atas Gunung dan Lembah (1985) dan Manusia Langit (1997). Selain itu, sejumlah bukunya dijadikan bacaan utama dan referensi di tingkat SD, SLTP, SMU, dan perguruan tinggi.
KARYA:
a. Novel
1. Upacara, Pustaka Jaya, 1976
2. Api Awan Asap, Grasindo, 1999
3. Wanita di Jantung Jakarta, Grasindo, 2000
4. Perawan, Balai Pustaka, 2000
5. Bunga, Grasindo, 2002
6. Lingkaran Kabut, Grasindo, 2002
7. Sendawar, diterbitkan sebagai cerber di Tabloid Nova, 2003
b.Cerpen
1. Malam Putih, PD Mataram, 1978, Balai Pustaka, 1981
2. Kekasih, Nusa Indah, 1982
3. Perjalanan Guru Sejarah, Bahtera, 1983
4. Matahari Makin Memanjang, Bahtera, 1985
5. Perhiasan Bumi, Bahtera, 1985
6. Perhiasan Bulan, Nusa Indah, 1988
7. Ratapan, Balai Pustaka, 1989
8. Perhiasan Matahari, Balai Pustaka, 1991
9. Hitam, Balai Pustaka, 1993
10. Tak Alang Kepalang, Balai Pustaka, 1993
11. Rawa, Indonesia Tera, 2000
12. Tarian Gantar, Indonesia Tera, 2002
13. Tamiang Layang, Lagu dari Negeri Cahaya, Balai Pustaka, 2002
14. Acuh Tak Acuh, Jendela, 2003
15. Wahai, Gramedia, 2003
16. Riam, Gita Nagari, 2003
17. Perjalanan ke Negeri Damai, Grasindo, 2003
18. Teluk Wengkay, Kompas, 2003
19. Percintaan Angin, Gramedia, 2003
20. Melintasi Malam, Gramedia, 2003
21. Sayu, Grasindo, 2004
22. Wanita Konglomerat, Balai Pustaka, 2005
23. Nyanyian Lara, Balai Pustaka, 2005
24. Rindu, Mahatari, 2005
25. Kayu Naga, Grasindo, 2005
26. Bentas Babay, Grasindo
27. Penari dari Rinding, Grasindo
28. Dongeng Angin Belalang, Grasindo
29. Kejam, Grasindo
30. Daun-Daun Bulan Mei, Kompas
31. Senyum yang Kekal, Kompas
c. Kumpulan Puisi
1. Matahari Pingsan di Ubun-Ubun, Walikota Samarinda, 1974
2. Putih! Putih! Putih! (bersama Gunoto Saparie) Yogyakarta, 1976
3. Sawan, Yayasan Indonesia, 1978
4. Suara Kesunyian, Budaya Jaya, 1981
5. Nyanyian Kekasih, Nur Cahaya, 1981
6. Nyanyian Ibadah, PD Lukman, 1985
7. Undangan Sahabat Rohani, Yogya, 1991
d. Esai dan Kritik Sastra
1. Puisi Indonesia Kini: Sebuah Perkenalan, Nur Cahaya, 1980
2. Cerita Pendek Indonesia Mutakhir: Sebuah Pembicaraan, Nur Cahaya, 1982
3. Perjalanan Sastra Indonesia, Gunung Jati, 1983
4. Suara Pancaran Sastra, Yayasan Arus, 1984
5. Kesusastraan Tanpa Kehadiran Sastra, Yayasan Arus, 1984
6. Puisi Indonesia Hari Ini: Sebuah Kritik, Yayasan Arus, 1984
7. Jejak Langkah Sastra Indonesia, Nusa Indah, 1986
8. Apresiasi Cerita Pendek 1, Cerpenis Wanita, Nusa Indah, 1991
9. Apresiasi Cerita Pendek 2, Cerpenis Pria, Nusa Indah, 1991
10. Wanita Penyair Indonesia, Balai Pustaka, 1997
11. Tokoh-Tokoh Cerita Pendek Dunia, Grasindo, 2005
e. Antologi yang memuat karya Korrie
1. Bulaksumur-Malioboro ( Halim HD, ed), Dema UGM, 1975
2. Laut Biru Langit Biru ( Ajip Rosidi, ed), Pustaka Jaya, 1977
3. Cerpen Indonesia Mutakhir ( Pamusuk Eneste, ed), Gramedia, 1983
4. Cerita Pendek Indonesia IV (Satyagraha Hoerip, ed), Gramedia, 1986
5. Tonggak 4 (Linus Suryadi A.G., ed), Gramedia, 1987
6. Cerpen-Cerpen Nusantara ( Suratman Markasan, ed) Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur, 1992
7. Wanita Budaya Sastra (I.B. Putra Yadnya, ed), Udayana, 1992
8. Limau Walikota (M. Shoim Anwar, ed), Gaya Masa, 1993
9. Trisno Sumardjo Pejuang Kesenian Indonesia ( Korrie Layun Rampan,ed), Yayasan Arus, 1985
10. Iwan Simatupang Pembaharu Sastra Indonesia (Korrie Layun Rampan, ed), Yayasan Arus, 1985
11. Dari Negeri Poci 2 ( F. Rahardi), 1994
12. Trotoar (Wowok Hesti Prabowo, dkk., ed), KSI, 1996
13. Antologi Puisi Indonesia 1997(Slamet Sukirnanto, dkk., ed), Angkasa, 1997
14. Jakarta dalam Puisi Mutakhir (Korrie Layun Rampan, dkk., ed), Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, 2000
15. Sumber Terpilih Sejarah Sastra Indonesia Abad XX ( E.Ulrich Kratz, ed), KPG, 2000
16. Nyanyian Integrasi Bangsa (Korrie Layun Rampan, ed), Balai Pustaka, 2000
17. Dari Fansuri ke Handayani (Taufiq Ismail, dkk., ed), Horison, 2001
18. Pembisik ( Ahmadun Yosi Herfanda, ed), Republika, 2002
19. Horison Sastra Indonesia 2 Kitab Cerita Pendek ( Taufiq Ismail, ed), Horison, 2002
20. Dua Kelamin bagi Midin ( Seno Gumira Ajidarma, ed), Kompas, 2003
21. Matahari Sabana ( Korrie Layun Rampan, ed), Nur Cahaya
22. Angkatan Sastra Sesudah Angkatan 66 (Angkatan 70 Atawa Angkatan 80) dalam Sastra Indonesia
f. Antologi Sastra (Nonkarya)
1. Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia, Grasindo, 2000
2. Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia (Buku II), Grasindo
3. Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia (Buku III), Grasindo
4. Kembang Mayang, Klub Cinta Baca Indonesia, 2000
5. Dunia Perempuan: Antologi Cerita Pendek Wanita Cerpenis Indonesia, Bentang, 2002
6. Ungu: Antologi Puisi Wanita Penyair Indonesia, Indonesia Tera
g. Buku Teks dan Kamus
1. Dasar-Dasar Penulisan Cerita Pendek, Nusa Indah, 1995
2. Aliran Jenis Cerita Pendek, Nusa Indah, 1995, Balai Pustaka, 1999
3. A.B.J. Tengker (biografi), Sinar Harapan, 1999
4. Leksikon Susastra Indonesia, Balai Pustaka, 2000
5. Sejarah Sentawar (studi sejarah lokal), Pemkab Kubar, 2002
6. Lamin Ditinjau dari Sudut Sosiologi dan Antropologi Budaya (kajian sosiologis dan antropologis), Pemkab Kubar, 2003
7. Sejarah Perjuangan Rakyat Kutai Barat, Pemkab Kubar
h. Cerita Anak (Prosa dan Puisi)
1. Pengembaraan Tonsa si Posa, Sinar Harapan, 1981
2. Nyanyian Tanah Air, Cypress, 1981
3. Nyanyian Nusantara, Bahtera Jaya,
4. Lagu Rumpun Bambu, Cypress, 1983
5. Sungai, Cypress, 1985
6. Pohon-Pohon Raksasa di Rimba Raya, Cypress, 1985
7. Cuaca di Atas Gunung dan Lembah, Cypress, 1985
8. Tokoh-Tokoh Terkemuka dari Kalimantan, 1994
9. Nyanyian Pohon Palma, 1994
10. Namaku Paku, 1994
11. Pohon-Pohon Raksasa di Rimba Nusantara, Balai Pustaka, 1995
12. Mulawarman dan 29 Tokoh Terkemuka Kalimantan, 1996
13. Aku untuk Hiasan, 1996
14. Keluarga Kura-Kura dan Penyu, 1996
15. Manusia Langit, Balai Pustaka, 1997
16. Namaku Kakatua, 1996
17. Namaku Ikan, 1996
18. Namaku Udang, 1996
19. Asal-Usul Api, Pusat Bahasa, 2002
20. Asal-Usul Pesut, Balai Pustaka, 2005
21. Kerapu dan 29 Jenis Ikan Laut Lainnya
22. Namaku Ular
23. Liur Emas
24. Lagu Semanis Madu
25. Namaku Rusa
26. Bertamasya ke Batavia
27. Namaku Burung
28. Namaku Ikan Hias
29. Namaku Durian
30. Durian Raja Segala Buah

Sekumpulan puisi SAKAREPMU 100 PENYAIR INDONESIA



Sekumpulan puisi SAKAREPMU
100 PENYAIR INDONESIA
Sebuah antologi sebagai sekumpulan puisi yang tanggap akan perilaku ‘sakarepmu dewasa ini, sehingga membuat 100 penyair mbeling berbuat ‘sekarep-nya dalam memotret perkembangan Indonesia dewasa ini.
Menutup tahun 2015 sebagai tahun-tahun pancaroba negeri puisi-puisi Sakarepmu akan mewarnai khasanah sastra Indonesia.
Membaca Indonesia saat inilah 10 penyair yang mbeling lewat puisi-puisinya akan membidani sekumpulan puisi sakarepmu.
Sakarepmu akan dibuka selama 15 hari dari 20 Nofember 2015 sampai (Deadline) 5 Desember 2015 dan diumumkan pada 15 Desember 2015
Seleksi Ketat
Panitia akan menunjuk penyair senior untuk menyeleksi 100 puisi mbeling dari 100 penyair mbeling.
Naskah bebas genre , tetapi tidak menunjukan unsur menyinggung pertentangan agama, ras , golongan, suku, serta unsur hujatan pada pribadi / lembaga , pendek kata kesemuanya harus masuk dalam koridor Pancasila dan UUD 1945.
Panitia hanya menerima 100 puisi terbaik dari 100 penyair mbeling.
Sakarepmu akan dikata-pengatari oleh tokoh mbeling Sosiawan Leak dan dikometari penyair yang ditunjuk oleh bidan Sakarepmu.
Bagaimana Cara Ikut?
Gratis tidak ada biaya pendaftaran.
Kirim satu puisi terbaik saja ke gus.warsono@gmail.com berikut biografi singkat dan alamat pengiriman buku bila dinyatakan lolos seleksi.
Tidak ada tanya jawab setelah pengumuman.
Wajib
Peserta yang dimuat dalam antologi Sekarepmu mendapat 1 buah buku gratis dan pengiriman bukunya dengan biaya dari peserta.
Apabila peserta lolos seleksi menginginkan buku lebih dari satu dapat dipesankan pada penerbit sesuai harga penerbit setelah buku diluncurkan. Panitia tidak menjual buku.
Hal hal lain berkenaan dengan Sekarepmu dapat ditanyakan Sakarepmu .
Terima kasih
Salam Sakarepmu

Sabtu, 07 November 2015

Puisi puisi Kereta Api Rg Bagus Warsono

Rg Bagus Warsono

Kereta Api Tua

Kereta api tua berjalan perlahan
Meniti rel panjang melingkar desa
Membelah pesawahan
Menembus hutan
Menyusuri lereng gunung
Menyebrang sungai
Hingga ke kota tujuan
Kereta api tua setia
Mengantar rakyat sampai tujuan
Bilakah kereta api tua lelah
Karena perjalanan panjangmu
Semoga tetap sehat selalu
Agar kami slalu bersamamu
Sepanjang usiamu.





25.Kereta Tebu

Memasuki kebun menghilang di rimbunnya daun tebu
Hanya terdengar irama lori kecil
dinanti petani di tengah tumpukan tebu menggunung
dan rangkaian gerbong barang
menyambut tebu sebagai tumpangan

Kereta tebu datang
Syarat tebu di gerbong barang
Berat menggandeng gerbong lainnya
Perlahan tetapi pasti
Mengantar tebu petani
di pabrik gula.

Kereta dan tebu
Semakin tua semakin manis
Rg Bagus Warsono



Lori Kecil Sahabat Tani

Hari ini belum juga lewat
Seperti hari lalu aku menunggu
Lama tak melewati kampung tempat tinggalku
Menunggu Bapak ikut ke kota
Kapan lori kecil hadir menemani petani
Ataukah kau sakit
Duhai Si Kecil pemberani

Rg Bagus Warsono

5 Putra Terbaik Dianugerahi Pahlawa Nasional


Bernard Wilhem Lapian



Ki Bagus Hadikusumo.


Mas Isman



Presiden Joko Widodo  menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada lima orang putra terbaik bangsa Indonesia di Istana Negara, Kamis (5/11/2015).

Kelimanya yakni almarhum Bernard Wilhem Lapian, almarhum Mas Isman, almarhum Komisaris Mas Isman, almarhum I Gusti Ngurah Made Agung dan almarhum Ki Bagus Hadikusumo.

Anugerah Pahlawan Nasional kepada lima orang putra terbaik 2015

Presiden Joko Widodo   gelar Pamenganugerahkanhlawan Nasional kepada lima orang putra terbaik bangsa Indonesia di Istana Negara, Kamis (5/11/2015).

Kelimanya yakni almarhum Bernard Wilhem Lapian, almarhum Mas Isman, almarhum Komisaris Jenderal Polisi Dr. H. Moehammad Jasin, almarhum I Gusti Ngurah Made Agung dan almarhum Ki Bagus Hadikusumo.

Tim Komunikasi Presiden Ari Dwipayana mengatakan, pemberian gelar pahlawan ini dalam rangka memperingati Hari Pahlawan 10 November 2015 dengan tema "Semangat Kepahlawanan adalah Jiwa Ragaku".

"Pemberian gelar pahlawa ditetapkan melalui Keputusan Presiden Nomor 116/TK/Tahun 2015 tanggal 4 November 2015,"  (ayokesekolah.com)

 1. Bernard Wilhelm Lapian (lahir di Kawangkoan, 30 Juni 1892 – meninggal di Jakarta, 5 April 1977 pada umur 84 tahun) adalah seorang pejuang nasionalis berasal dari Minahasa, Sulawesi Utara. Perjuangannya dilakukan dalam pelbagai bidang dan dalam rentang waktu sejak zaman pemerintahan Hindia Belanda, pendudukan Jepang, sampai pada zaman kemerdekaan Indonesia.

Pada masa pemerintahan Hindia Belanda, di mana semua gereja Kristen berada di bawah naungan satu institusi Indische Kerk yang dikendalikan oleh pemerintah, B.W. Lapian bersama tokoh-tokoh lainnya mendeklarasikan berdikarinya Kerapatan Gereja Protestan Minahasa (KGPM) tahun 1933, yaitu suatu gereja mandiri hasil bentukan putra-putri bangsa sendiri yang tidak bernaung di dalam Indische Kerk.

Pada masa revolusi kemerdekaan B.W. Lapian sebagai pimpinan sipil saat itu berperan besar pada momen heroik Peristiwa Merah Putih 14 Februari 1946 di Manado.

Karena ketokohannya, ia pada masa kemerdekaan dipercayai untuk menjabat sebagai Gubernur Sulawesi pada tahun 1950 sampai dengan 1951, yang berkedudukan di Makassar.

2. Mayor Jenderal TNI (Purn) Mas Isman (lahir di Bondowoso, Jawa Timur, 1 Januari 1924 – meninggal di Surabaya, Jawa Timur, 12 Desember 1982 pada umur 58 tahun) adalah seorang pejuang kemerdekaan menentang pemerintahan Hindia Belanda di Jawa Timur yang diangkat sebagai Pahlawan Nasional Indonesia oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 5 November 2015.

3.Komisaris Jenderal Polisi Dr H. Mohammad Yasin yang dikenal sebagai Bapak Brimob Polri. Muhamamd Yasin menghembuskan nafas terakhir pada hari kamis tanggal 3 Mei 2012 pukul 15.30 WIB. Almarhum tutup usia dalam usia 92 tahun di RS Polri Kramat Jati.dan Almarhum dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

4.   I Gusti Ngurah Made Agung (lahir di Denpasar, Bali, 5 April 1876 – meninggal di Badung, Bali, 22 September 1906 pada umur 30 tahun) adalah seorang pejuang menentang pemerintahan Hindia Belanda di Bali yang diangkat sebagai Pahlawan Nasional Indonesia oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 5 November 2015.

5.   Ki Bagoes Hadikoesoemo atau Ki Bagus Hadikusumo (lahir di Yogyakarta, 24 November 1890 – meninggal di Jakarta, 4 November 1954 pada umur 63 tahun) adalah seorang tokoh BPUPKI. Ia dilahirkan di kampung Kauman dengan nama R. Hidayat pada 11 Rabi'ul Akhir 1308 H (24 November 1890). Ki Bagus adalah putra ketiga dari lima bersaudara Raden Kaji Lurah Hasyim, seorang abdi dalem putihan (pejabat) agama Islam di Kraton Yogyakarta.

Ia mendapat pendidikan sekolah rakyat (kini SD) dan pendidikan agama di pondok pesantren tradisional Wonokromo Yogyakarta. Kemahirannya dalam sastra Jawa, Melayu, dan Belanda didapat dari seorang yang bernama Ngabehi Sasrasoeganda, dan Ki Bagus juga belajar bahasa Inggris dari seorang tokoh Ahmadiyah yang bernama Mirza Wali Ahmad Baig.

Selanjutnya Ki Bagus pernah menjadi Ketua Majelis Tabligh (1922), Ketua Majelis Tarjih, anggota Komisi MPM Hoofdbestuur Muhammadijah (1926), dan Ketua PP Muhammadiyah (1942-1953). Ia sempat pula aktif mendirikan perkumpulan sandiwara dengan nama Setambul. Selain itu, bersama kawan-kawannya ia mendirikan klub bernama Kauman Voetbal Club (KVC), yang kelak dikenal dengan nama Persatuan Sepak Bola Hizbul Wathan (PSHW).

Pada tahun 1937, Ki Bagus diajak oleh Mas Mansoer untuk menjadi Wakil Ketua PP Muhammadiyah. Pada tahun 1942, ketika KH Mas Mansur dipaksa Jepang untuk menjadi ketua Putera (Pusat Tenaga Rakyat), Ki Bagus menggantikan posisi ketua umum yang ditinggalkannya. Posisi ini dijabat hingga tahun 1953.

Semasa menjadi pemimpin Muhammadiyah, ia termasuk dalam anggota BPUPKI dan PPKI. Ki Bagus Hadikusumo sangat besar peranannya dalam perumusan Muqadimah UUD 1945 dengan memberikan landasan ketuhanan, kemanusiaan, keberadaban, dan keadilan. Pokok-pokok pikirannya dengan memberikan landasan-landasan itu dalam Muqaddimah UUD 1945 itu disetujui oleh semua anggota PPKI.

Ki Bagus aktif membuat karya tulis, antara lain Islam Sebagai Dasar Negara dan Achlaq Pemimpin. Karya-karyanya yang lain yaitu Risalah Katresnan Djati (1935), Poestaka Hadi (1936), Poestaka Islam (1940), Poestaka Ichsan (1941), dan Poestaka Iman (1954).

Setelah meninggal, Pemerintah Republik Indonesia menetapkannya sebagai Pahlawan Perintis Kemerdekaan Nasional Indonesia.

Jumat, 06 November 2015

Hadir Mengisi Perpustakaan Anda : Kopral Dali sms saja 081320598325

Kopral Dali lebih tenar ketimbang komandannya. Di masa perjuangan kemerdekaan Indonesia,  di Indramayu  dulu Dali demikian populair. Tidak saja dilingkungan TNI tetapi di masyarakat  kota kecil Indramayu pasti mengenalnya. Kopral cerdas dan pemberani ini pantas diketahui oleh kita semua ceritanya. Semoga buku ini menjadi teman generasi muda khususnya di kabupaten Indramayu dan Indonesia pada umumnya. Sehingga kita dapat  menghargai jasa dan pengorbanan para pahlawan , seperti Kopral Dali yang satu ini. 


   Dali kian bersinar di kesatuan Macan Indramayu. Keberhasilanya merebut senjata api dan makin bayaknya pemuda yang bergabung di kesatuan tentara makin berpegaruhlah Dali sebagai praurit yang ditakuti baik lawan maupun kawan.

   Nama Kopral Dali  akhirnya banyak dikenal tidak saja di kesatuannya Macan Indramayu dibawah pempia Letnan Sujogo, tetapi juga dikesatuan lainya di Indramayu dibawah komando Kapten Sentot.


Selasa, 03 November 2015

Ahmad Syubbanuddin Alwy Cirebon, Jawa Barat, 26 Agustus 1962-2 Nofember 2015.

Selamat jalan penyair dan Budayawan Cirebon (Raja Penyair Indonesia)
Ahmad Syubbanuddin Alwy

Setelah 19 tahun Raja peyair itu merindukan “pertemuan, akhirya 2 Nofember 2015 peyair besar itu memenuhi undangan-nya. Ahmad Syubbanuddin Alwy Cirebon, Jawa Barat, 26 Agustus 1962-2 Nofember 2015. Semoga Allah menempatkan budayawan muslim ini disisi-Mu , di surgamu-Mu , ya Allah. Amien.  (Rg Bagus Warsono)

Berikut sajak ‘kerinduan dari penyair Ahmad Syubbanuddin Alwy :

Air Mata Kepedihan

-kisah senja
Medekati malam yang asing terasa perih
Seperti sepeggal kisah kehidupan, robek-robek dan gelisah
Dikejauhan gerimis rintik-rintik basah
Angin rucig berjutaian juga  lebab gerah
Inikah penyebrangan dalam lautan luas?
Bagaimanapun labirin kehidupan ada ujungnya
Tapi aneh Van Ggh terdampar dan Bethoven diliputi kesedihan
Semua seperti sandiwara , megisyaratkan getar bathin yang menderita
Langit bongkah,  sunyi dan berterbangan
Adakah harapan datang menyulam kembali serpihan hati?
Dari jabag bayi jalan-jalan memajang mecari-Mu hampa
Mugkin sudah saatnya aku meghadapmu dengan bertapa!
Cirebon 1996

Diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh pengarangnya sendiri dari Bayu Mata Perih 2

Ahmad Syubbanuddin Alwy lahir di Cirebon 26 Agustus 1962. Penyair yang pernah menjadi dosen Komunikasi Agama di STIKOM Bandung ini sempat tercatat sebagai wartawan Pikiran Rakyat edisi Cirebon. Ia juga dikenal sebagai penggerak pemuda Nahdhlatul Ulama dan koordinator Koalisi Sastrawan Pesantren.